Pengagum Rahasia Senja

Pengagum Rahasia Senja
SA Swalayan


__ADS_3

Sebelum pulang ke kediaman eyang yang berada di pusat kota Jogjakarta. Andra bersama dengan Senja, Bayu juga bayi yang merupakan anak Lukman yang kini tengah berada di pangkuan Senja, singgah terlebih dahulu di SA swalayan.


Tujuannya adalah membelikan segala keperluan bayi mungil berjenis kelamin laki-laki itu. Itung-itung belajar mempersiapkan keperluan bayi juga.


Sampai di dalam swalayan, ketiga orang itu hanya celingukan karena tak tau harus membeli apa saja. Bayu si asisten semua ide mencoba mencari tahu melalui ponselnya. Lelaki itu membuka Google, dan menuliskan 'keperluan bayi baru lahir' disana.


Muncullah sederet benda-benda yang di perlukan, lalu ia segera bergegas mengambil troli belanja dan menuju tempat dimana perlengkapan bayi berada.


"1.Popok, 2. Gurita, 3. Kaus/baju, 4. Celana, 5. Selimut, 6.Handuk, 7. Perlengkapan mandi, dan masih banyak lagi yang lainnya, " gumam Bayu membaca daftar yang ada di layar benda pipih di tangannya.


"Buset, banyak banget ya kebutuhan bayik sekecil itu aja, "


"Itu belum seberapa, Kak Bay. Masih ada tempat tidur, stroller, dan lain sebagainya. Setau aku sih gitu, " sahut Senja.


"Tapi kembali lagi ke keadaan orangtuanya sih, kalau aku sama Ria dulu yang penting punya baju aja udah alhamdulillah. Tidur ya jadi satu sama ibu, sama bapak, " ucap Senja terkekeh.


"Kita sama kali, Nja. Malahan, mungkin keadaan kamu masih lebih beruntung daripada aku. Yang baru lahir aja udah disuapin kelapa muda biar kenyang dan gak nangis, " balas Bayu.


Andra dan Senja tertawa miris mendengar perkataan Bayu.


"Bukan itu aja, boro-boro punya baju bayi. Yang ada nih ya, aku di pakein kain jarik punya simbok yang di bagi-bagi jadi beberapa bagian, terus di bedong aja tanpa pake baju, "


"Hah? Yang bener, Bay? Sadis banget, " komentar Andra.


Bayu mendengus, "iya, katanya dulu disana belum ada pakaian bayi, kalaupun ada masih jarang-jarang, dan harganya pasti mahal. Emak smaa simbok mana punya uang buat beliin, buat makan aja susah, "


"Tapi sekarang, saat aku udah punya cukup uang buat beliin makanan enak buat simbok dan emak, mereka udah gak bisa ikut nikmatin. Emak udah bahagia di alam sana. Sedangkan simbok, dimana simbok sekarang, Mbok? " batin Bayu sedih.


Bayu bercerita sambil mengambil beberapa lembar baju bayi dan meletakkan nya di dalam troli yang ia dorong. Matanya berkaca-kaca memandangi pakaian yang hanya berukuran satu per enam nya pakaian yang ia kenakan saat ini.


Sebegitu miris kehidupannya dulu, bahkan hanya untuk membelikan pakaian bayi untuknya yang harganya tidak seberapa saja keluarganya tidak mampu.


"Yaudah, kan lo dulu belum pernah tuh pake baju bayi, Bay. Sekarang lo beli aja seberapa banyak yang lo mau, gue deh yang bayarin," ucap Andra yang mendapat lirikan tajam dari Bayu.


"Mana muat gue, Bos, "


"Yaudah sih, makanya jangan ngiri lagi sama bayi ini, "

__ADS_1


"Gue nggak ngiri, Bos. Cuman ngomong aja, cerita. Bagaimana beruntungnya kalian dibanding gue yang anak gunung ini, "


"Anak gunung? " Senja bertanya dengan alis terangkat.


Bayu mengangguk, " kenapa heran gitu? "


"Gunungkidul? Jogja lantai dua? "


"Iya, kenapa sih? "


"Deket gak sama rumahnya Mbak Juli? Rumahnya deket pantai gitu? Masih sekitar setengah jam sih ke pantainya, "


"Itu sih jauh, Nja. Kalau dulu tempat tinggal ku nih ya, baru keluar rumah aja udah keliatan tuh pantai, "


"Waaah.. asyik dong, jadi anak pantai? "


"Darimana asyiknya? Yang ada gak pernah bisa tidur nyenyak, gara-gara takut kalau tiba-tiba ada tsunami, "


Senja meneguk ludah, "iya juga sih ya, "


"Tapi emang ada serunya sih. Kalo pengen makan ikan, seafood gitu gak perlu beli. Tinggal nyari aja sendiri, "


Saking serunya Bayu dan Senja mengobrol, tau-tau troli yang di pegang Bayu tadi sudah penuh dengan perlengkapan bayi. Rupanya Andra dengan cepat bergerak mencari apa saja yang sudah tertera dalam ponsel Bayu tadi.


"Udah cukup 'kan? Yuk, Dek. Bay, bayar! " Andra bertanya lalu menggandeng Senja yang menggendong bayi Lukman.


"Kok, Kak Bayu yang disuruh bayar sih, Mas? "


"Biarin, dia itu pegang duit banyak, " jawab Andra cuek.


"Yee.. perasaan tadi dia deh yang nawarin mau beliin baju bayi buat gue. Giliran baju anaknya Lukman kenapa malah gue yang disuruh bayar? " gumam Bayu yang terdengar di telinga Andra.


"Gue denger, Bay."


"Iya-iya, ah. Gue bayi nih, " Bayu mendorong troli belanjanya ke arah meja kasir.


"Ni swalayan juga punya lo, gak lo bayar juga gak bakal ada yang protes, " gerutu Bayu sembari mengeluarkan kartu member berlogo SA swalayan yang berwarna tosca kombinasi pink salem itu.

__ADS_1


Ya begitulah prinsip Andra, meskipun SA swalayan adalah miliknya pribadi. Namun ia tak ingin berbuat sena-mena dengan mengambil apa saja seenak hatinya tanpa membayar. Karena itu bisa menyalahi perhitungan di dalam data SA swalayan nantinya.


Sebab, semua barang yang masuk ataupun keluar di SA swalayan, ada pembukuannya ada data-data detailnya. Bahkan hilangnya satu buah permen pun akan terdeteksi dengan mudahnya karena saking detailnya data yang Andra dan Bayu buat sejak dulu. Jadi karyawan mereka tinggal menurut dengan apa yang mereka contohkan saja.


Soal semua keuntungan juga akan masuk ke dalam rekenening mereka, itu sudah beda urusan. Andra membedakan rekening yang ia pergunakan untuk mendung keuntungan dari semua SA swalayan miliknya.


Setiap bulannya, semua keuntungan SA swalayan di semua cabang seluruh Indonesia akan di akumulasi menjadi satu. Dan Bayu akan membagikan gaji para manajer, lalu para manajer akan membayarkan gaji para karyawan di bawahnya.


Setelah semua karyawan mendapatkan gaji beserta bonus dan tunjangan-tunjangan yang ada. Baru sisanya Bayu transfer ke rekening milik Andra. Bahkan untuk gajinya sendiri ia menyerahkan kepada Andra untuk membayarnya.


Padahal, sangat mudah bagi dirinya jika ingin meraup semua keuntungan itu atau memanipulanya sedemikian rupa dan Andra tidak akan bertanya karena sudah sangat percaya pada Bayu.


Dan Bayu tak ingin merusak kepercayaan yang telah Andra berikan kepadanya hanya demi rupiah yang masih bisa ia cari dengan mudah dengan ia setia pada Andra.


"Udah beres, sekarang let's go back home. Sok-sokan Inggris gue, padahal zonk, " gumam Bayu pada dirinya sendiri diiringi dengan tawa dalam hati.


Sama seperti saat masuk ke dalam swalayan, saat keluar pun Bayu celingukan mencari mobil yang tadi digunakan Andra.


"Kemana tuh mobil? Kok gak ada sih, " Bayu mengutak atik ponselnya menghubungi nomor Andra, tapi hanya suara Mbak Veronika yang menjawab.


Lalu Bayu memanggil satpam yang berjaga di pintu swalayan, "Pak, sini deh,"


"Ya, Pak Bayu. Ada apa? "


"Tau cowok ganteng sama cewek yang gendong bayik keluar dari sini? "


Si satpam mengangguk, "tau, Pak, "


"Nah, kemana mereka kira-kira perginya? "


"Tadi mereka pergi pakai mobil warna silver yang parkir disana, Pak, " satpam itu menunjuk beberapa meter di depan mereka.


"Nah, kan.. pantesan aja feeling gue buruk daritadi, "


.


.

__ADS_1


Bersambung...


Wkwkwk.. Di tinggalin ya, Kak Bay?


__ADS_2