
"Maa Syaa Allah.. anak-anak ini," gumam Bu Retno.
Pak Sapto menoleh ke arah istrinya, "kenapa, Buk?
"Bisa-bisanya mereka itu lupa lho kalau mau nyusulin kita kesini," Bu Retno geleng-gelemg kepala heran.
"Ya namanya juga manusia, Bu. Tempatnya salah dan lupa," ucap Pak Sapto.
"Lagi pula, mereka kan juga masih capek. Ngantuk juga habis perjalanan tadi malam, tidurnya juga sudah pagi to, jadi yo maklumin aja," lanjutnya kemudian.
"Iya juga sih, Pak. Apa ibu bilangin aja supaya mereka ndak usah kesini? Biar mereka istirahat saja dirumah gitu," timpal Bu Retno.
"Ya.. terserah buk'e saja kalau mereka mau," Pak Sapto meregangkan tubuhnya di kursi tunggu.
Kedua pasutri itu duduk di depan ruangan Bu Muti dan Pak Minto, sepeninggal dua orang polisi beserta tukang sapu yang menjadi saksi. Ketiga orang tersebut pergi ke kantor polisi guna mencatat kasus yang baru saja mereka temui.
Tak lama setelahnya, Lukman datang bersama dengan istrinya yang tengah hamil besar. Wajah panik, khawatir, dan sedih nampak di wajah calon ibu muda tersebut. Tak beda jauh dengan Lukman yang juga merasa khawatir.
Pak Sapto dan Bu Retno berdiri dari duduknya menyambut kedatangan kedua keponakannya.
"Gimana keadaan ibu dan ayah, Om?" Ningsih yang baru saja sampai di depan Pak Sapto langsung melontarkan tanya pada adik dari ibunya itu.
"Ibu sama ayah kamu masih belum sadar," jawab Pak Sapto setelah menghela nafas berat.
"Silahkan masuk kalau mau melihat keadaannya. Tapi tolong tenang! Biar ndak mengganggu mereka," Pak Sapto berkata seperti itu karena keponakannya yang baru saja tiba langsung menangis tersedu.
Lukman merangkul pundak istrinya yang bergetar naik turun. Lalu membimbingnya masuk ke dalam kamar perawatan orang tua istrinya itu.
Air mata yang semula sudah mengalir di pipi Ningsih, kini semakin deras seiring netranya menatap kedaan ayah ibunya yang memprihatinkan. Hampir saja tubuh berisi milik ibu hamil itu luruh ke lantai jika sang suami tak sigap menahannya.
"Ayah.. Ibu.. apa yang terjadi sama kalian? Kenapa kalian bisa seperti ini,?" ucap Ningsih di sela tangisnya.
Ibu hamil itu mengusap air mata yang menghalangi pandangannya dengan sembarang, kemudian memegang erat tangan sang bunda yang tidak terpasang jarum infus.
"Bu.. hiks.. bukannya ibu mau, hiks.. menyambut kelahiran, huks.. cucu pertama, hiks.. Ibu?"
"Bukannya, hiks.. Ibu mau, hiks.. menggendong dan bermain, hiks.. sama anaknya Ningsih nanti, hiks.. Bu?"
"Tapi, hiks.. kenapa Ibu malah, hiks.. kayak gini?" Tangis Ningsih semakin pecah mengiringi ucapannya.
"Tenang, Dek! Istighfar.." Lukman berkata lembut pada Ningsih.
"Kamu ndak boleh kayak gitu, ini semua ujian dari Gustri Allah," tuturnya mencoba menenangkan.
"Pasti ada hikmah di balik semua peristiwa,"
"Bener yang di bilang sama Lukman suami kamu, Nduk! Kamu harus sabar dan tabah ya. Doakan saja supaya ayah dan ibumu lekas sembuh, dan pulih seperti sedia kala," sahut Pak Sapto.
"Amin," ucap mereka serempak.
__ADS_1
Beberapa waktu berlalu, Ningsih belum sepenuhnya dapat meredakan tangisnya. Meski sudah tak sesenggukan, namun air mata masih mengalir dengan sendirinya tanpa diminta.
Ketiga orang di sekelilingnya hanya bisa terdiam setelah tak berhasil membujuk wanita itu.
Lukman sudah menenangkannya dengan berbagai cara namun tetap saja tak berhasil, hingga ucapan salam dari seorang wanita dan lelaki membencah keheningan.
"Assalamu'alaikum.."
"Waalaikumsalam.." jawab kesemuanya dengan menengok ke arah pintu.
Senja dan Andra berjalan mendekat, lalu dengan berbasa basi berucap. "Maaf, kami baru sampai. Tadi bebenah dulu di rumah."
"Ndak papa, duduk sini, Nduk!" Titah Bu Retno pada putri dan menantunya itu.
Senja lebih mendekat pada Ningsih, menepuk bahu kakak sepupunya itu dan berucap.
"Mbak ningsih yang sabar ya.. Mbak nggak boleh terlalu sedih. Kasian dedek bayinya,"
Namun bukannya menjawab, Ningsih malah melongo melihat sosok tampan disamping adik sepupunya itu. Dalam benaknya bertanya-tanya, siapakah gerangan lelaki berwajah bak aktor india itu, bisa-bisanya nyasar sampai disana, pikirnya.
Kedua pasutri itu saling pandang, heran dengan wanita hamil di depannya. Andra pun yang di tatap sedemikian rupa merasa risih sekaligus malu. Lengannya menyenggol-nyenggol lengan Senja. Lukman yang memperhatikan hal itu sontak menepuk pelan kedua bahu sang istri, menyadarkan dari lamunannya.
"E.. Eh, iya. Kenapa, Mas?"
Alis Senja bertaut, "Mbak Ningsih nggak papa kan?"
Setelahnya Ningsih pamit ke kamar mandi sebentar untuk mencuci muka, Lukman mengekor di belakangnya menemani.
Selepas kepergian dua sepupunya, Senja beralih pada orangtuanya.
"Gimana keadaan pakde sama bude, Pak?" tanya Senja.
"Ya.. seperti itulah, Ndok. Belum sadar sejak dibawa kesini." Pak Sapto menghela nafas sebelum melanjutkan, "kata dokter, nunggu budemu siuman dulu, baru bisa di operasi,"
"Operasi, Pak? Jadi.. bude belum di operasi sampai sekarang?"
Pak Sapto menggeleng pelan, "baru yang operasi untuk luka-luka ringan sudah. Seperti yang luka sayatan atau goresan di lengan itu, terus luka tusuk yang nggak terlalu dalam di perut juga sudah,"
"Lhah? Terus itu belum semua? Masih ada yang lainnya lagi memangnya?" Bukannya mengucap istighfar, Senja malah bilang lhah.
"Luka yang dalam belum, katanya harus sadar dulu. Biar ndak terjadi sesuatu yang ndak di inginkan, Ndok," lanjut Bu Retno.
"Maksudnya gimana ya, Buk?"
"Ya itu, katanya dokter, kalau di operasi begitu saja tanpa nunggu sadar, nanti bisa mengakibatkan hal yang fatal. Seperti gagal jantung," jelas Bu Retno yang memelankan suaranya di ujung kalimat.
Senja yang terlampau terkejut, membuat pita suara bar-barnya ikut bereaksi.
"Apa, Buk? Gagal jantung?" seru Senja lantang.
__ADS_1
"Astaghfirulloh.. Dek, pelan! Ini di rumah sakit loh," Andra berbisik mengingatkan.
Gadis itu meringis memamerkan giginya, "hehe.. maaf, Mas. Abisnya reflek. Adek terkejut banget tau,"
Pak Sapto dan Bu Retno hanya bisa geleng-geleng kepala melihat putrinya yang masih saja seperti itu, untung suaminya bisa sabar menghadapinya.
Tanpa di sangka siapapun yang disana, obrolan mereka tadi terdengar di telinga orang yang baru saja datang dari kamar mandi. Ningsih memekik terhahan mendengar perkataan buliknya, terutama teriakan Senja yang memang menggema.
"Apa? Ibu bakal gagal jantung, Bulik?" Tanyanya pada Bu Retno.
Lalu beralih pada Pak Sapto, "apa itu benar, Om?"
Pak Sapto yang tidak mungkin menyembunyikan kenyataan apapun dari Ningsih yang merupakan anak semata wayang dari kakaknya itu mengangguk lemah.
Ningsih tak berucap apapun, tapi air matanya sudqh mewakili segakanya, betapa terpukulnya wanita itu mengetahui kenyataan pahit yang bertubi-tubi menghampiri.
Tak lama kemudian, terdengar desisan di sertai ringisan dari ibu hamil itu. Tangan kirinya memegang perut besarnya, sedang tangan kanannya meremas kuat tangan sang suami yang sejak tadi menggenggamnya.
"Kamu kenapa, Ningsih?" Tanya Lukman yang hampir berbarengan dengan Pak Sapto dan Bu Retno.
Senja ikut memperhatikan dengan ekspresi yang tak kalah khawatirnya. Andra? Lelaki itu minim ekspresi jika tak menyangkut pujaan hatinya, jadi jangan berharap lebih padanya.
"Perutku.. Sakit, Mas," lirih Ningsih.
Lukman membimbing Ningsih duduk, kemudian mengelus pelan perut sang istri yang terdapat calon buah hatinya di dalamnya.
"Anak Ayah baik-baik, ya? Jangan nakal! Jaga Bunda dari dalam sana, hibur dia," bisik Lukman pada perut Ningsih, "doa'in juga nenek sama kakek biar cepet pulih, terus nanti bisa ketemu dan bermain bareng sama kamu. Ya, Nak?"
Andra terdiam memperhatikan Lukman yang tampak hidmat berucap pada perut istrinya, meski hanya samar-samar ia mendengar perkataan lelaki itu, tapi ia bisa tau betapa khawatirnya calon ayah tersebut.
Bibir Andra tersenyum tipis melihat adegan itu, entah apa yang ada di pikirannya, hanya dia sendiri yang tau.
Semakin lama semakin kuat remasan tangan Ningsih pada Lukman. Keringat dingin dengan cepat bermunculan pada wajah wanita itu, tak lama setelahnya terdengar suara seperti balon pecah namun pelan.
Pluk
Cairan bening agak keruh bercampur dengan kemerahan mengalir di kaki Ningsih, membuat sang suami beserta yang ada disana semua panik, terkecuali Andra yang sama sekali tak tau harus bereaksi seperti apa. Karena dia yang merasa asing dengan orang-orang itu, jadi tak ada alasan bagi dirinya untuk ikut merasa panik.
"Tenang, Dek. Tenang! Jangan panik, oke?" Andra mengusap-ngusap pundak Senja yang celingukan panik.
Ini yang mau lahiran siapa, yang di tenangin siapa coba, pikir kesemua yang ada disana.
Dasar Andra! Yang di peduliin Senja doang.
.
.
Bersambung..
__ADS_1