
Sesuai dengan yang tertulis di tiket keduanya. Sepasang suami istri itu akan terbang menuju negara dimana tempat tinggal sang paman berada. Karena tiket tersebut memanglah hadiah pernikahan dari om dan tantenya.
Satu paket honeymoon lengkap dengan segala sesuatu yang mereka butuhkan selama dalam perjalanan bulan madu tersebut.
Senja tampak cemas dan tegang, karena ini adalah penerbangan pertama dirinya seumur hidupnya.
Andra menangkap raut kecemasan istrinya tersebut. Ia memberanikan diri memegang tangan sang istri yang berkeringat dingin.
"Kamu kenapa, Dek?" tanyanya lembut.
Senja menoleh, "Adek takut, Mas.." jawabnya pelan.
Ia merasakan panas dingin disekujur tubuhnya. Keringat dingin mulai membanjiri dahinya.
Andra mengelapnya dengan tisu dan berusaha menenangkan istrinya.
"Tenang Dek, ada Mas disini. Mas akan jagain kamu. Kalau kamu takut, bobok aja ya biar nggak kerasa," ucapnya menengkan Senja.
"I iya Mas, tapi.." Senja ragu ingin mengucapkannnya.
"Kenapa?" Andra nampak kahawatir.
"Adek ma-mau.. mau.."
"Mau apa? hmm? ngmng aja sama Mas,"
"Mau pipis, tapi takut jatuh kalau jalan di pesawat,"jawab Senja dengan wajah menunduk malu.
Dalam hati Andra ingin tertawa melihat kepolosan Senja, tapi ia tahan sebisa mungkin karena melihat raut ketakutan di wajah istrinya tersebut.
"Yaudah biar Mas anterin ya, ntar Mas Andra tunggu diluar."
Dalam beberapa langkah menuju kamar mandi pesawat, sekelebat mata Andra melihat seseorang yang bergelagat mencurigakan.
Namun ia mencoba biasa saja karena tifak ingin membuat Senja menjadi semakin takut.
Sekembalinya dari kamar mandipun begitu, gelagat orang tersebut masih saja nampak mencurigakan. Membuat Andra semakin waspada.
"Kok kayak ada yang aneh ya sama tu orang, tapi apa?"
•••
Senja membuka matanya saat merasakan ada yang menepuk pundaknya. Nampak wajah tampan sang suami dengan senyum menawannya.
Ya, Andra lah yang membangunkkan tidurnya. Karena mereka sudah sampai di tempat tujuan. Memang tadi Senja memilih untuk tidur saja daripada hanya merasakan kecemasan pada penerbangan pertamanya.
Andra celingak celinguk mencari orang yang akan menjemput mereka untuk perjalanan bulan madu mereka di negara itu.
Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang berdiri di depannya. Orang tersebut mengenakan hodie besar, topi, kacamata hitam serta masker.
"Ni orang bukannya yang di pesawat tadi, kenapa dia nyamperin gue. Makin bikin parno aja deh," batin Andra.
Andra memeluk pinggang Senja, yang reflek membuat Senja menoleh padanya. Ia berjaga-jaga saja jika orang aneh tersebut melakukan hal yang tidak diinginkan terhadap istrinya.
__ADS_1
"Yang mau bulan madu, mulailah kemesraannya. Apes gue, suruh buntutin orang honeymoon," gumam orang tersebut yang terdengar di telinga Andra.
"Kayak kenal suara ma bahasanya deh," Andra.
"Mari ikut saya,"
Ucap pria misterius itu kepada Andra dan Senja.
"Anda siapa?" balas Andra tidak ingin sembarangan mengikuti orang yang tidak ia kenal.
***
Andra dan Senja sampai di hotel tempat mereka menginap selama berbulan madu di negara kanguru tersebut.
Keduanya mulai membenahi barang bawaan mereka dan bergantian membersihkan diri. Usai melaksanakan sholat isya' juga makan malam, kini pasangan pengantin itu melakukan kegiatan inti dari bulan madu. Seharusnya. Tapi tidak dengan mereka.
Senja bersandar pada pagar balkon kamar hotel mewah tersebut. Pandangannya tak lepas dari hamparan cahaya lampu yang menerangi seluruh kota itu. Ia tak pernah membayangkan jika dirinya bisa sampai di tempat yang sangat jauh dari tanah kelahirannya.
Dari dalam kamar Andra menatap punggung sang istri, pakaian Senja yang beda dari biasanya membuatnya merasakan desiran dalam hatinya. Sepertinya baru kali ini ia melihat istrinya dengan penampilan yang seperti itu.
Rambut hitam panjang bergelombang itu dibiarkan tergerai, hingga angin yang berhembus dengan bebas menerbangkannya. Tubuh Senja nampak seksi dengan gaun selutut berwarna peach. Karena waktu memang sudah malam dan mereka berada di tempat yang sangat tinggi, makanya Senja tak memakai hijabnya karena memang tak ada orang lain selain mereka berdua.
Dengan kemantapan hati dan doa, Andra memberanikan diri mendekati sang istri. Ia harus meluruskan semuanya, tekadnya.
"Ayo Andra, jangan biarkan kesalahfahfahaman ini berlarut larut kalau lo gak mau kehilangan Senja!" Andra mengepalkan tangan menyemangati diri sendiri.
Dibawanya nampan berisi dua cangkir coklat hangat dan setoples kue kering menuju balkon dimana Senja berada, lalu ia letakkan di meja yang ada disana.
"Pemandangan yang indah," ucap Andra setelah berdiri di samping sang istri.
"Bukan pemandangan di bawah sana yang indah, tapi yang ada di sampingku,"
Deg
Senja menoleh seketika ke arah Andra. Tapi Andra secepat kilat menoleh ke arah lain yang tadi Senja lihat. Berusaha menyembunyikan wajah malu dan menetralkan detak jantungnya yang mulai berdebar.
Suasana mendadak canggung seketika.
Hati dan pikiran Andra terus bekerja menenangkan jiwanya. Banyak nyanyian yang bersliweran di otaknya.
"Duduk Dek, Mas Andra bawain coklat anget. Ntar keburu dingin lagi." Ajak Andra sembari berjalan ke arah dimana ia meletakkan nampan berisi minuman coklat yang tadi ia bawa.
Senja menurut, kini keduanya sudah duduk di kursi yang berhalangkan meja di antara mereka.
Setelah menyesap minumannya, Andra memulai pembahasannya.
"Dek, Mas Andra tau, kita menikah dengan cara yang unik. Bukan karena perjodohan, bukan pula Mas yang melamarmu. Tapi bukan berarti Mas terpaksa menikah sama kamu loh,"
Andra berbicara dengan mengingat kejadian dua bulan yang lalu saat eyang tiba-tiba berkata akan menikahkan cucunya dengan Senja, yang Andra kira adalah sang kakak.
Senja mengangkat kedua alisnya, tak bermaksud berkomentar apa-apa.
"Jujur, Mas Andra kaget dan seneng banget saat tau eyang mau menikahkan kita. Karena Mas sendiri tak pernah berani untuk melakukan hal itu," lanjut Andra.
__ADS_1
"Kamu sama Mas kan kenal hanya sebagai tetangga aja, belum pernah akrab apalagi berpikiran bakal sampai nikah kan. Sampai saat ini, apa Adek nyesel nikah sama Mas? Eh bukan, apa Adek terpaksa nikah sama Mas? maaf kalau Mas Andra telat nanyainnya,"
"Enggak pernah terpaksa," jawab Senja singkat.
"Emm, Adek masih marah? kok kayak.."
"Enggak, lanjutin aja yang Mas mau omongin,"
"Gini deh, kita mulai dari awal ya, kita kan belum pernah kenalan secara resmi, gimana kalau kita kenalan dulu?"
Senja mengerutkan alisnya melihat sang suami mengulurkan tangan ke arahnya, senyum merekah dari bibir Andra membuat Senja terpana.
"Kenalin, aku Andra Pradipta. Anak kedua dari Ayah Herman dan Bunda Ratih, aku lahir pada hari senin tanggal 17 agustus tahun 1996, jam..." Andra menghentikan ucapannya saat melihat Senja menahan tawa.
"E eh.. maaf-maaf," Senja menghentikan tawanya dan menyambut uluran tangan Andra.
"Senja Amalia, anak pertama dari Bapak Sapto dan Ibu Retno. Pada hari..."
Andra memotong perkataan Senja dan meneruskannya, "Jum'at, tanggal 2 september 2000, jam 5 sore. Pekerjaan mengelola online shop, hobi shoping tapi buat di jual lagi. Makanan kesukaan gudeg, siomay, nasi goreng. Warna favorit, tosca dan pink salem,"
Keduanya tertawa geli dengan tingkah mereka sendiri.
Setelah tawa mereka reda, Andra kembali dengan perkenalannya.
"Kayaknya hampir 97% Mas Andra tau tentang kamu. Jadi kalau Adek ada yang mau di tanyain tentang Mas silahkan. Mas akan jawab apapun itu selagi Mas Andra tau jawabannya."
Senja sedikit merenung mendengar perkataan Andra, ia ingin menanyakan mengenai hal yang di katakan oleh Reya beberapa hari yang lalu, tapi ia tak tau harus darimana menanyakannya.
Melihat Senja diam, Andra kembali membuka suara.
"Amm, ee.. makanan favorit Mas-.."
"Sambel goreng ati ampela, kue klepon, jus alpukat. Hobi melukis. Warna kesukaan soft grey sama putih. Lebih suka naik motor daripada naik mobil. Trauma sama empang..."
Mulut Amdra sedikit menganga, ia tak percaya jika istri tercintanya sudah tau semua tentang dirinya. Bagaimana bisa ia tau semua itu, pasti dari eyang, pikirnya.
Senja tersenyum tipis, " Mas kan suami aku, akan sangat keterlaluan kalau aku nggak tau semua itu."
Sebugan 'aku' terdengar agak mengganggu di pendengaran Andra. pasalnya, kalau memang sedang baik-baik saja, Senja akan menyebut dirinya Adek. Kadi Andra menyimpulkan jika Senja masih kesal kepadanya.
"Terus apalagi yang belum Adek tau dan pengen tau?"
"Soal..."
"Apa? bilang aja biar semuanya jadi enak. Soalnya Mas juga gak pernah bermaksud menyembunyikan apa-apa dari Adek,"
"Soal Reya." Lirih Senja.
Andra mengernyitkan keningnya, mengingat-ingat siapa itu Reya.
.
.
__ADS_1
Bersambung...