
Andra dan Senja yang tadi di jemput oleh Angga, menurut saja saat duren (duda keren) itu membawa mereka pulang ke kediaman Eyang Kumala. Rumah yang sudah beberapa minggu ini mereka tinggalkan untuk tour bulan madu yang sudah disusun oleh eyang.
"Kapan Kak Angga dateng?" tanya Andra begitu mobil yang mereka tumpangi sudah memasuki gapura komplek.
Panggilan 'lo' berganti dengan sebutan 'Kak Angga' jika di depan Senja.
Angga melirik lewat spion depan, "baru aja," jawabnya singkat.
"Kenapa malah langsung jemput kita, nggak nyuruh Pak Santo aja,"
"Mau aja," Andra memutar bola matanya mendengar jawaban yang lagi-lagi tak lebih dari dua kata. Karena itu artinya kakaknya sedang merasakan sesuatu.
Andra memilih diam kembali. Tapi tangan dan pandangannya tak teralih dari sang istri, Senja hanya tersenyum membalasnya. Belum terlalu terbiasa bebas bersikap jika ada Angga.
Pak Bejo langsung membukakan gerbang berlambang singa itu begitu melihat mobil Angga berbelok, tanpa menunggu aba-aba dulu dari si pengemudi. Angga yang pelit bicara pada orang lain tentu hanya diam saja dan terus menjalankan mobilnya masuk ke halaman yang luas.
Senja sudah tak heran lagi melihat pemandangan itu semenjak mengetahui sikap kakak dari suaminya itu sebelas dua belas belas dari suaminya.
Tidak seperti awal-awal mengenal kedua orang itu, ia menyangka jika Angga adalah orang yang sombong dan angkuh, tapi ternyata bukan seperti itu, melainkan mereka itu hanya sedikit irit bicara pada orang lain. Jangan tanya kalau dengan keluarga, mereka akan sama-sama konyol.
Seperti yang sudah di utarakan eyang lewat telepon tadi, nenek gaul itu sudah menunggu cucu-cucunya di teras. Senyum sumringah ia tampilkan untuk menyambut kedatangan ketiga cucunya, atau lebih khususnya cucu menantunya, Senja. Karena hanya Senja yang permpuan, cucunya yang lain laki-laki semua.
"Senjaa... kembaranku.. sayangkuu.. i miss you, " seru eyang merentangkan tangannya bersiap memeluk Senja.
Senja pun sudah siap menyambut pelukan itu, di lepaskan nya genggaman tangan Andra. Namun tinggal selangkah lagi kedua wanita beda usia itu akan berpelukan, Tiba-tiba seseorang menyerobot memeluk eyang.
Gadis itu terhenti mendadak, lebih tepatnya dirinya mendadak terhenti karena bahunya ada yang menariknya secara tiba-tiba. Saat Senja menoleh, ia tau jika Andra pelakunya. Suaminya itu tak akan pernah rela jika dirinya jadi memeluk Angga karena kakak suaminya yang dengan cepat menyerobot pelukan sang nenek.
"Kak Angga apa-apaan sih? " tegur Andra yang merangkul posesif Senja.
Angga terkekeh, ia senang bisa mengerjai sang adik. Sudah lama ia rasanya tak melihat ekspresi kesal Andra, sejak adiknya itu menikah.
"Sengaja," ucap Angga menjulurkan lidah.
"Ck," Andra kembali berdecak, ia membawa Senja berjalan cepat memasuki rumah.
Hal seperti inilah yang membuatnya agak malas bertemu dengan sang kakak, tapi sekaligus dirindukan olehnya juga.
"Hiih, Angga!" ketus eyang ikut kesal, karena sesi kangen-kangenannya dengan Senja terganggu.
Eyang menghentak-hentakkan kakinya menyusul Senja dan Andra yang sudah masuk lebih dulu. Angga tersenyum geli dibuatnya. Hal-hal seperti itulah yang sering ia rindukan saat jauh dari keluarganya ini.
Ia berlalu ke kamarnya yang berada di lantai dua guna membersihkan diri dan beristirahat terlebih dahulu, sekaligus membiarkan sang nenek menuntaskan kangennya dulu pada Senja, sebelum nantinya ia akan membahas masalahnya dengan eyang dan juga Andra.
__ADS_1
Andra yang juga hendak membawa Senja ke kamarnya segera di hadang oleh eyang.
"Senja sama, Eyang. Andra sama Angga sana!" Eyang meraih tangan kiri Senja yang bebas dari genggaman tangan Andra.
"Emoh! Kak Angga nakal," jawab Andra menyerupai anak kecil.
Sejak kecil, Kata-kata itu selalu terlontar dari bibirnya karena seringnya diganggu oleh Angga. Dan menjadi kebiasaan hingga saat ini.
"Endak akan nakal. Nanti, Eyang yang akan jewer telinga Angga kalau dia nakalin kamu, " ucap Eyang meyakinkan.
Senja yang sejak tadi hanya diam, kini bersuara. "Adek sama Eyang bentar ya, Mas? Kangen banget sama Eyang, " ijin Senja dengan mengedipkan matanya beberapa kali.
Jika sudah Senja yang meminta ijin, maka Andra tak akan berani menolak lagi. Meski agak terpaksa, ia pun mengalah dan membiarkan Senja di gandeng oleh eyang dan dibawa ke taman belakang rumah, tempat favorit bagi keduanya.
"Senja udah maem belum?" tanya eyang sembari keduanya berjalan ke arah taman.
"Emm.. udah sih, Eyang. Tadi pagi," jawab Senja pelan di ujung jawabannya.
"Hah? Sekarang tuh udah sore loh!" Seru eyang kaget, "kalau gitu, ayo maem dulu! " Eyang memutar langkah, kembali ke arah meja makan.
Waktu memang sudah menunjukkan pukul 03:15 pada jam dinding, itu tandanya memang sudah beranjak sore. Senja tak menyadarinya karena terlalu panik dengan keadaan yang ia hadapi tadi di rumah sakit. Apalagi dia yang sedang berhalangan, membuatnya semakin lupa akan waktu saja.
"Mas Andra juga belum maem, Eyang. Senja panggil dulu, ya? "
Eyang mengangguk, "panggil sana sekalian sama Angga, ya! Eyang siapin makanannya sama Si Asih, "
Gadis itu mengayunkan kakinya menaiki anak tangga dimana terdapat kamar suami beserta kakak iparnya tersebut. Meski seingatnya tadi eyang menyuruh Andra untuk menemui Angga, yang berarti sangat suami tengah berasa di kamar Angga, namun dirinya terlebih dulu menuju kamar Andra yang berarti kamarnya juga.
Ia meraih handle pintu kamarnya, "kok nggak dikunci?" gumamnya.
Gadis itu perlahan masuk, ia pun ingin sekedar mencuci muka atau berganti pakaian dulu karena merasa gerah dari rumah sakit tadi. Ah iya, ia hampir melupakan jika belum berganti roti selain, haha.
"Astaghfirulloh hal adzim, " seru dua buah suara yang berbeda.
"Mas Andra?"
"Dek Senja?" ucap keduanya bersamaan.
"Adek fikir tadi Mas Andra di kamar Kak Angga?" tanya Senja.
"Untung aja aku kesini dulu, coba aja langsung ke kamar Kak Angga, apa jadinya, " lanjut Senja dalam hati.
Baru kali ini ia merasa bersyukur dengan keadaan badannya yang lengket, yang sudah menyelamatkannya dari calon kesalahpahaman, untung saja hala itu tidak terjadi.
__ADS_1
"Ah, iya. Tadinya memang mau kesana, tapi pengen mandi dulu, udah terlanjur gerah soalnya," jangan lupakan penampilan Andra yang kini hanya berbalut handuk.
"Yaudah, Adek mau gantian mandi dulu deh, " Senja sudah berada di ambang pintu kamar mandi karena sejak tadi rupanya ia sudah merayap pelan-pelan sembari mengobrol.
Andra yang melihat belakang Senja bagian bawah, melebarkan mata terkejut.
"Sebaiknya emang Adek cepetan mandi deh, terus sekalian ganti itu, " tunjuk nya ragu pada bagian yang menjadi objek tatapannya.
Senja mengikuti arah pandang Andra, dan tak kalah terkejutnya, bola matanya membulat.
"Sejak kapan nih? " tanpa babibu lagi gadis itu dengan cepat masuk ke dalam kamar mandi.
Andra tersenyum melihat tingkah istrinya, dengan cepat ia menyelesaikan ritual berganti pakaiannya. Dan tanpa harus diminta lelaki itu menuju mimi market pribadinya yang ada di rumah itu.
Angga keluar kamar bertepatan dengan Andra, melihat sangat adik yang terburi-buru laki-laki itupun bertanya.
"Mau kemana lo? "
"Cari roti, " balas Andra cepat tanpa menoleh.
Angga mengernyit, pasalnya tak biasanya adiknya itu suka roti. Angga pun memilih mengikuti Andra dengan diam.
"Wah.. ckckck "
Angga berdecak terkagum dengan ulah adiknya itu, yang bisa-bisanya membuat mini market di dalam rumah. Jangan lupakan logo 'SA Swalayan' juga tertempel di depan mini market tersebut.
Tapi lelaki itu lebih terkejut lagi saat tau apa yang dibawa Andra dalam keranjang belanja yang dijinjingnya.
"Roti, Ndra? " tanyanya dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Andra menoleh, mendapati Angga yang tengah menunduk menatap keranjangnya.
"Hmm, mau? "
"Hii, " bukannya menjawab, Angga malah bergidig.
"Abisin aja sendiri, nggak doyan gue," jawab Angga dengan berteriak karena yang diajak bicara sudah berjalan menjauh hendak keluar.
Angga meraih satu botol minuman sari buah, dan langsung meneguknya. Lelaki itu berjalan berkeliling melihat-lihat hasil karya sangat adik.
Ia tersenyum seorang diri, "kapan tuh bocah bikin tempat ini? "
.
__ADS_1
.
Bersambung..