Pengagum Rahasia Senja

Pengagum Rahasia Senja
Disini Mesra Disana Galau


__ADS_3

Cup..


Mata kedua insan itu membola, jantung mereka sama-sama berdetak kencang seirama. Andra menuruti nalurinya, ia mengecup bibir Senja dengan mesra. Direngkuhnya tubuh sang istri dalam kehangatan dekapannya.


Kecup-kecup manja keduanya berubah menjadi semakin menuntut dan berubah menjadi hisapan. Seakan-akan benda itu adalah permen yupi, gigitan-gigitan kecilpun mulai dilancarkan jua.


Seakan ada perasaan yang membara di dada, meski mereka belum pernah merasakannya, tapi keduanya tau persis perasaan apa itu sebenarnya.


Senja menikmati belaian tangan Andra yang semula di kepalanya yang masih terbalut hijab, lalu bergerak turun seiring ciuman keduanya yang semakin menuntut. Matanya terpejam erat menikmati sensasi yang berbeda menelusup kedalam dirinya.


Begitu pula Andra yang sudah memejamkan matanya, menghayati pergerakannya sendiri agar sang istri mampu menikmatinya tanpa terpaksa.


"Apa sekarang waktunya? Tapi, ini masih siang.. apa gak masalah? " Tanya Andra pada dirinya sendiri di dalam hati.


"Apa Mas Andra mau 'itu' ya.." batin Senja pula menerka.


"Eh, bentar.. kok kayak ada sesuatu yang terlupa, tapi apa ya? " Senja tiba-tiba merasa resah.


Tanpa disadari keduanya, hijab Senja sudah terlepas entah sejak kapan. Kecupan Andra pun sudah berpindah dari bibir ke pipi, lalu ke telinga Senja, perlahan turun ke leher, namun saat Andra akan melabuhkan kecupan disana, tiba-tiba..


"Astaghfirulloh.. aku kan masih halangan.. " pekik Senja dalam hatinya. Matanya yang semula terpejam, langsung terbuka lebar.


Bersamaan dengan ingatan Senja tentang dirinya yang masih dalam mode lampu merah alias berhalangan, pintu kamar mereka juga ada yang mengetuk.


Tok.. tok.. tok..


Sontak kegiatan Andra terjadi saat itu juga.


"Siapa sih ketok-ketok pintu pas kayak gini. Ganggu banget! " gerutu Andra dalam hatinya.


Kedua insan itu perlahan saling menjauhkan diri dan memberi jarak dengan gerakan kikuk. Andra dan Senja sama-sama gugup dan malu untuk bertatapan satu sama lain.


Hingga saat pintu kembali diketuk dan Andra segera beranjak membukakan pintu, tapi sebelumnya ia sempat memberi kode kepada sang istri untuk mengenakan hijabnya. Senja pun segera beranjak ke kamar mandi untuk membenahi penampilannya yang sudah sedikit berantakan.


"Iya sebentar.. siapa? " ucap Andra seraya berjalan ke arah pintu dan membukanya.


Wajah konyol dengan senyum mengembang sempurna yang menampilkan deretan gigi menyambut Andra di balik pintu.


"Lo! " seru Andra sedikit jengkel setelah mengetahui siapa pelaku yang sudah mengganggu aktifitasnya dengan sang istri.


"Hehe.. sori, Bos, gue ganggu ya? " ucap Bayu cengengesan, ia seperti bisa membaca raut wajah kesal yang ditampilkan bosnya itu.

__ADS_1


"Banget! " balas Andra bersedekap lalu menyandarkan badannya pada daun pintu.


Bayu kembali nyengir, "maap, Bos, " dengan tangan menangkup di depan wajahnya.


"Hm," balas Andra, "ada apa? " tanyanya kemudian.


Bayu mencondongkan tubuhnya lebih dekat pada Andra lalu membisikkan sesuatu, Andra mendengarkan dengan seksama.


Lain dikamar Andra, lain pula di taman yang masih ditempati oleh seorang lelaki. Wajah lelaki itu nampak sangat galau seperti orang yang baru saja putus cinta.


Angga mendesah pelan, tangannya terus mencabuti rumput Jepang yang terhampar di dekatnya. Ya, laki-laki itu adalah Angga yang masih saja setia di taman sejak pagi tadi hingga siang menjelang. Dering ponselnya saja tak ia pedulikan sejak tadi.


Pikirannya benar-benar kacau, antara ingin begini dan begitu, atau ingin baling-baling bambu seperti Nobita di serial kartun Doraemon.


Jika Doraemon itu nyata, mungkin ka akan meminta pintu kemana saja agar ia bisa kembali ke masa lalu, saat dirinya tengah berbahagia dengan Seruni.


Atau dia akan meminta serbuk ajaib yang bisa membuat Seruni lupa akan luka masa lalu dan kembali mencintainya seperti dahulu. Tapi kenyataan jika semua itu hanyalah fiksi, membuatnya memutar otak sedemikian rupa.


Seolah semboyan 'cinta ditolak dukun bertindak' itu hanyalah slogan tak bermakna. Tapi ia tetap ingin mencobanya, siapa tau dukun yang akan ia pilih kali ini bisa mengalahkan dukun yang di sewa oleh mantan istrinya.


Dari kejauhan, Rudi nampak berlari tergopoh-gopoh mendekat ke arah Angga. Ia memberikan informasi yang Angga minta terkait dukun yang akan ia mintai pertolongan untuk dapat memulihkan kondisi Seruni.


Angga mengangkat kepala begitu mendengar suara orang menyapa dirinya. Ia mendongak untuk dapat melihat Rudi yang masih berdiri membungkuk di depannya seraya mengatur nafas.


Angga menerima ponsel Rudi tanpa berucap. Tampak kernyitan di kening pria itu saat membaca sesuatu di ponsel Rudi.


"Mr.Dukun? " gumamnya bertanya.


Rudi duduk berselonjor di samping Angga, "iya, Mas, " jawabnya pada Angga.


"Kenapa? "


Rudi nampak berfikir mendengar pertanyaan singkat Angga, Apa yang dimaksud kenapa? batin Rudi bertanya.


"Apanya, Mas?" akhirnya Rudi tetap bertanya karena tak tau yang dimaksud Angga.


Angga menghela nafas, ia yang memang kaku terhadap orang asing, sangat tidak nyaman berbicara panjang lebar. Tapi dengan berbicara singkat membuat orang lain kesusahan dalam memahami maksudnya.


"Siapa ini? " tanya Angga menunjukkan nomor kontak dukun tadi pada Rudi.


"Itu nomor WA nya mbah dukun yang Mas Angga minta, kan Mas Angga lagi nyari dukun yang bagus, to? " Angga mengangguk menanggapi pertanyaan Rudi.

__ADS_1


"Nah, itu nomornya.. rekomendasi dari beberapa orang yang sudah pernah menggunakan jasa perdukunannnya, " jawab Rudi menunjuk ponselnya.


"Dia bule? "


Rudi mengernyit kembali mendengar pertanyaan Angga yang membuat tanda tanya pun kembali pula dalam benaknya.


Angga mendekatkan ponsel Rudi pada empunya, jari telunjuknya mengetuk dua kali pada layar tersebut, tepat pada tulisan nama 'MR. DUKUN'.


"Oh itu.. " tanggapan Rudi saat tau yang dimaksud Angga.


"Wajahnya emang kebule-bulean gitu, Mas. Kulitnya putih kemerahan, rambutnya putih, matanya biru. Tapi bahasanya Jawa halus, " terang Rudi.


"Ada ya bule Jawa seperti itu? " gumam Angga yang hanya dalam hatinya. Dihadapan Rudi dia hanya menggut-manggut.


"Antar aku kesana! tolong.. " ucap Angga seraya beranjak dari duduk bersilanya.


"Sekarang, Mas?" Angga kembali mengangguk. Tangannya mengibas-ngibaskan celana bagian belakangnya yang sedikit basah dan sedikit tertempel rumput.


"Tapi saya disuruh Ndoro Putri untuk mengajak Mas Angga pulang dulu buat makan siang, terus sholat dzuhur. Ini sudah hampir ashar lho, Mas! " ucap Rudi menyampaikan pesan dari mbah putri sebelum ia berangkat menyusul Angga tadi.


"Yaudah, Ayok! " Angga mulai berjalan setelah membalikan ponsel Rudi pada pemiliknya. Sebelumnya ia sudah menyimpan kontak MR.DUKUN yang ditunjukkan oleh Rudi tadi di ponselnya.


***


"Gimana, Pak? Apa tanggapan dari Senja? " tanya Bu Retno pada suaminya setelah menelpon Senja tadi.


"Sepertinya setuju, Bu. Tapi tetap saja dia harus tanya dulu to sama nak Andra. Bagaimanalun juga anak kita itu sudah bersuami, jadi suatu hal apapun itu harus dia bicarakan dulu sama suaminya, " jawab Pak Sapto.


"Iya, Pak. Semoga Nak Andra setuju juga ya, Pak.. kasian Nak Lukman kalau harus mengurus semuanya sendiri, "


" Iya, Bu. Kita berdoa saja semoga semuanya diberi kesehatan biar bisa saling membantu, " ucap Pak Sapto.


Bu Retno mengangguk, dalam hatinya berdoa, semoga semua yang akan mereka lakukan akan mendapatkan ridho dari sang pencipta dan diberikan kelancaran.


.


.


Bersambung..


Semoga gak pada bosen baca🤲amin..

__ADS_1


__ADS_2