
Usai dari kamar Andra, Bayu mulai mengoperasikan ponselnya, menghubungi seseorang untuk segera mengurus masalah yang tadi di perintahkan oleh Andra.
Orang tersebut menyanggupi tugas dari Bayu. Dengan begitu, Bayu dapat sedikit bernafas lega dan tinggal menunggu laporan dari orang yang ia tugaskan.
Rencana yang sudah ia susun dengan Andra pun akan segera mereka laksanakan. Yakni mereka bertiga akan kembali terlebih dahulu ke Jogja demi melancarkan rencana Andra juga melaksanakan apa yang menjadi niatan baik Andra dan Senja.
"Siapa yang nyariin, Mas? " Senja bertanya usai dari kamar mandi, bersamaan dengan Andra menutup kembali pintu kamarnya.
"Oh, itu.. Bayu, " jawab Andra apa adanya.
"Kenapa Kak Bayu nyariin? "
"Nanyain apa kita jadi mau balik ke Jogja, terus kapan, gitu, "
"Terus, Mas Andra jawab kapan? "
"Emm, terserah istriku, "
"Aku? " tanya Senja dengan menunjuk diri sendiri.
Andra mengangguk, "iya, kan cuma Adek, istri nya Mas Andra.. "
Blush..
Senja kembali tersipu mendengar ucapan Andra.
"Kapan mau baliknya ke Jogja? " Andra mendekat ke arah Senja.
"Adek nurut aja sih sama Mas Andra.. "
"Besok pagi aja gimana? " Senja mengangguk setuju seraya tersenyum.
"Yaudah, Mas mandi dulu, " ucap Andra, Senja menyerahkan handuk pada suaminya sebelum lelaki itu berlalu.
"Makasih, " Andra melabuhkan kecupan dipucuk kepala Senja sebelum benar-benar masuk ke dalam kamar mandi.
"Sama-sama, " balas Senja menundukkan wajahnya malu.
Andra tersenyum senang dibalik pintu kamar mandi, "akhirnya bucinku menjadi kenyataan sekarang. Bukan hanya buncis atau bucin miris yang dulu menjadi julukan Bayu untukku, "
Sementara Senja sibuk mengipasi wajahnya yang terasa panas setelah mendapat perlakuan manis dari Andra. Baru saja dirinya dapat meredam rasa panas yang menjalar dalam dirinya usai kemesraan nya dengan sang suami tadi di kamar mandi, ia sudah kembali merasakan panas di wajahnya karena kembali mendapat kecupan.
***
Pagi kembali menyapa. Sesuai rencana, Andra, Senja beserta Bayu sudah bersiap untuk kembali ke Jogja terlebih dahulu guna mengurus kepentingan mereka yang darurat, apalagi pekerjaan mereka yang sudah lama tak mereka cek secara langsung.
Andra dan eyang tetap tinggal untuk terus memantau keadaan Seruni, sembari menunggu keadaan Seruni kembali tenang dulu dan dapat melanjutkan rencana yang telah disusun bersama-sama.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan diisi oleh canda dan tawa Senja dan Andra juga sesekali disahuti oleh Bayu yang duduk di kursi belakang. Kenapa formasinya seperti itu, dan bukan Bayu yang menyetir? jawabannya adalah karena Bayu harus mengerjakan pekerjaan yang darurat dan tidak bisa ditunda lagi.
Andra menyetir dengan kecepatan sedang, tangan kirinya senantiasa bergandengan tangan dengan sang istri, meskipun Senja sudah menyuruhnya untuk fokus saja menyetir, namun tetap saja lelaki itu kekeh pada keinginannya dengan dalih biar jadi penyemangat dan biar nggak ngantuk.
"Ehm. Gandengan teroos.. kayak truk di sebelah, " seru Bayu menyindir dengan melirik pada tangan kedua pasutri di depannya dan truk gandeng di pinggir jalan bergantian.
Senja yang merasa tak enak pun berusaha melepaskan genggaman tangan suaminya, tapi seakan lengket Andra semakin mengencangkan genggamannya.
"Sirik aja sih lo, Bay. Dah kelar tuh tugas? mending fokus itu dulu deh, biar cepet kelar, " balas Andra santai.
"Maafin Mas Andra ya, Kak Bay, " ucap Senja tak enak hati.
"Gak papa, Nja. Udah biasa gu- eh aku, " jawab Bayu yang sedang meregangkan otot lehernya yang terasa kaku karena sejak tadi menunduk terus menatap layar laptop.
Senja mengernyit, "maksudnya udah biasa? "
"Ya.. udah biasa disikapin begitu sama suami kamu, "
"Oh, " Senja ber 'oh' ria, sedangkan Andra mengedikkan bahu dengan cueknya.
Cuaca mendung yang bertambah hujan di pagi hari membuat orang-orang enggan menapakkan kaki di jalanan yang basah. Tapi tidak bagi sepasang anak kecil yang sibuk menjajakan barang dagangan mereka.
Kedua anak kecil laki-laki berumur sekitar sepuluh tahun dengan anak kecil perempuan berumur tujuh tahunan. Bukan payung yang mereka pegang sebagai penghalang mereka dari guyuran air hujan, melainkan hanya sebatang pelepah daun pisang.
Tatapan mata Senja terpaku pada kedua bocah itu, ingatannya melanglang buana pada belasan tahun silam dimana saat dirinya dan adiknya merasakan posisi kedua bocah yang dilihatnya itu.
Dulu saat Pak Sapto ayahnya mengalami kecelakaan terjatuh dari pohon kelapa dan di rawat di rumah sakit, sedangkan sang ibu harus menjaga ayahnya. Senja dan Ria yang saat itu masih terbilang kecil harus ikut berjuang mencari uang untuk kelangsungan hidup mereka
"Kenapa? " tanya Andra yang sudah menoleh pada Senja.
Senja mengalihkan pandangannya dari dua anak kecil itu pada Andra.
"Tolong.." ucap Senja lirih.
Deg.
Andra terkejut melihat kedua mata Senja sudah berkaca-kaca.
"Dek, kenapa kamu na- " tanya Andra telekomunikasi namun segera diurungkannya.
"Oke, oke.. " ucapnya kemudian.
Andra meminggirkan mobil yang mereka kendarai dan berhenti. Lalu ia membuka kunci mobil tersebut saat Senja memintanya.
"Bay, tolong payung, " Andra mengulurkan tangan ke belakang dimana Bayu berada.
Bayu yang masih fokus pada layar di depannya dengan cepat mendongak, "apa, Bos? "
__ADS_1
"Payung, " ulang Andra dengan tangan mengkode agar cepat.
"Oh, oke, " Bayu mengambil payung yang diletakkan disampingnya agar mudah mengambil saat membutuhkannya seperti saat ini.
Senja segera membuka pintu mobil setelah Andra memberikan payung padanya. Tak lupa tas slempang ia sampirkan di bahunya, hal tersebut membuat Andra mengernyit.
"Mau apa Dek Senja, perasaan disini gak ada swalayan ataupun toilet umum kalau pengen pipis, " meskipun penasaran tapi Andra hanya bisa menanyakannya di dalam hati karena teringat pada raut wajah Senja yang tampak sedih tadi.
Andra pun memilih ikut turun dan mengikuti arah jalan sang istri. Bayu yang tak tau menahu apa-apa dan tak kebagian payung hanya bisa menunggu di mobil dan memilih kembali mengerjakan pekerjaannya.
"Dek, " panggil Senja pada kedua bocah yang sejak tadi menjadi pusat perhatiannya.
Kedua bocah itu menoleh dan segera berlari kearah Senja.
" Ya, Kak. Apa kakak mau beli? " jawab si bocah laki-laki.
"Ini apa? " tanya Senja menunjuk dagangan bocah itu.
"Ini gantungan kunci, Kak. Aku buat sendiri dari potongan batang pohon kelapa, batok kelapa, juga sabut kelapa, " bocah laki-laki itu menjelaskan dengan antusias.
"Ini kamu buat sendiri? " Senja memperhatikan boneka kayu kecil di tangannya.
"Unik, lucu, " gumamnya dalam hati.
Andra memperhatikan senyum kecil yang terbit di bibir Senja. Hatinya ikut menghangat ditengah dinginnya cuaca hujan.
Tapi ia terkejut saat Senja tiba-tiba melihat kearahnya dengan tatapan penuh arti.
Seakan mengerti arti dari kerjapan mata sang istri, Andra pun mengangguk.
"Yeay.. makasih banyak, Mas.. " sorak Senja gembira.
Tak lama kemudian payung yang berada di tangan Andra sudah berpindah posisi menjadi di tangan Senja, sedangkan payung yang tadi dibawa oleh Senja sudah dibawa oleh kedua bocah kecil di hadapan mereka.
"Mas.. boleh gak? " tanya Senja kemudian.
"Apalagi sih? "
.
.
Bersambung..
Maapkan saia yang lama absen, ya.. 🙏
Soalnya abis holiday di tempat yang susah sinyal😅
__ADS_1