
Warning 17+ area
...Selamat membaca😊...
...----------------...
Gleg
Andra menelan salivanya susah payah, kenapa hanya menatap bibir ranum Senja membuatnya kembali membeku. Melihat Senja yang masih menutup mata, ia semakin mendekatkan wajahnya, mendekatkan bibirnya ke arah bibir ranum itu, yang terlihat sangat menggoda baginya. Dengan jantung yang semakin berdebar tak menentu, perlahan kedua bibir itu bertemu, saling menempel untuk yang pertama kalinya, pertama kalinya pula bagi keduanya merasaka hal semacam itu.
Lembut..
Kenyal..
Andra berinisiatif memiringkan kepala, memperdalam kecupannya, karena ia sungguh tak tau dan sangat kaku dalam melakukan hal tersebut. Ia hanya teringat sekilas film yang pernah dilihatnya sepertinya sangat mudah untuk di lakukan, tapi kenapa tidak baginya.
Andra memperdalam kecupan itu dengan sangat lembut hingga Senja merasa terbuai dengan kelembutan yang di rasakannya. Dengan pelan Andra sedikit membuka bibirnya yang semula terkatup, kini ia merasakan betapa lembut, kenyal dan manisnya bibir bawah Senja. Begitupun Senja yang menyambut baik hal tersebut, ia ikut membuka mulutnya agar Andra dapat mengeksposnya. Mereka berdua merasakan sesuatu yang aneh pada tubuh mereka, entah apa itu, yang jelas hati keduanya berdesir hangat dan menjalar ke seluruh tubuh manakala ciuman itu semakin dan semakin dalam.
Belum pernah pula keduanya merasakan suatu sensasi aneh yang tiba-tiba muncul akibat dari perbuatan mereka tersebut. Seakan menuntut sesuatu yang lebih, dan lebih lagi. Andra merasakakan detak jantungnya semakin kencang dan memburu, keringat dingin mulai bermunculan di keningnya, dan tangannya yang masih menggenggam tangan sang istri. Senja balik menggenggam tangan Andra, saat merasakan getaran pada tangan suaminya itu. Kini Andra merasakan panas dingin di sekujur tubuhnya, seluruh tubuhnya kini berkeringat.
Apa ini, kenapa reaksi tubuhku seperti ini.. apa aku mempunyai penyakit lemah jantung? tapi sejak kapan? seingatku hanya saat berdekatan pada Senja saja aku merasakan hal seperti ini, dan semakin parah saat aku mulai menyentuhnya.
Senja merasakan ciuman mereka yang semula dalam meski belum bisa saling membalas seperti para profesional, kini semakin mengendur dan terlepas. Ia juga merasakan genggaman tangan suaminya yang semakin lemah, tubuh kekar itupun limbung ke pelukannya.
Senja terkejut, "Mas.. Mas Andra kenapa?" gadis itu menepuk pelan pundak suaminya, ia merasa sangat khawatir.
"Lem-mes Dek.." hanya kata itu yanh mampu di ucapkan Andra dengan lirih sebelum kesadarannya menghilang.
"Mas..? Mas Andra?" Senja sedikit mengeraskan tepukan di punggung kekar itu. Tak ada reaksi apapun dari suaminya.
Ia berusaha keras membawa tubuh yang jauh lebih besar dan tinggi darinya itu ke kasurnya. Kasur busa baru yang di belikan oleh saudaranya sebagai kado untuk pernikahan mereka.
"Mas Andra kenapa sih?" tanyanya semakin khawatir melihat suaminya itu benar-tak sadarkan diri saat ini. Senja menepuk-nepuk pipi Andra berulang-ulang dengan terus memanggil namanya. Ia merasakan dahi suaminya menghangat dan mulai panas.
"Mas Andra sakit ya," gumamnya sendiri. Ingin rasanya ia meminta pertolongan pada orang tuanya atau siapapun, tapi malam sudah larut dan ia tak mau mengganggu istirahat mereka semua yang baru saja di mulai. Lalu ia berinisiatif mengompres dulu saja lelaki di hadapannya itu.
Ia menyambar sembarang jilbabnya, karena di rumahnya kini masih banyak saudaranya. Ia menuju ke dapur dan mengambil air hangat dalam baskom. Ia mulai menyeka perlahan keringat yang membanjiri dahi sang suami. Lalu mengomprekan handuk kecil disana. Ia pandangi wajah tampan yang dengan mata terpejam sempurna itu, namun anehnya dada lelaki itu masih nampak ngos-ngosan. Padahal suaminya itu tidak habis berolahraga atau berlari tadi.
Senja baru bisa merasa lega saat tubuh Andra tak lagi panas, ia mengambil kompresannya lalu ikut berbaring untuk beristirahat karena malam sudah semakin larut.
"Selamat istirahat ya Mas, mungkin kamu capek karena resepsi tadi.." ucapnya sebelum ikut memejamkan matanya di samping Andra. Meskipun ia belum mendengar kata cinta ataupun sayang dari lelaki yang telah menjadi suaminya kini, tetapi ia dapat merasakan betapa dalam cinta sang suaminya itu untuknya dari kelembutan sentuhan lelaki itu tadi, meski baru sekedar ciuman saja. Ingin ia memeluk tubuh gagah itu, namun ia belumlah terbiasa, bahkan belum pernah melakukkannya, jadi hanya tangannya yang menggenggam tangan suaminya lalu ia pun ikut terlelap.
__ADS_1
Andra bukanlah hanya capek karena resepsi, tapi juga karena dirinya kurang beristirahat dan tidur beberapa hari menjelang pernikahannya. Ia sangat merasa gugup berhari-hari ini, takut, resah, gelisah dan bahagia yanv bercampur menjadi satu. Namun membayangkan bahwa Senja, wanita yang begitu di pujanya akan menjadi istrinya, itu membuatnya sangat bersyukur tapi juga gugup. Maka dari itu cukuplah pertahanan hati lelaki itu sampai puncak debarannya, tubuhnya menanggapi lain dari getaran tersebut hingga membuatnya pingsan.
Sayup-sayup terdengar suara adzan di telinga Andra, lelaki itu mulai mengerjapkan matanya dan merasakan sesuatu berada di dadanya. Setelah matanya terbuka sempurna, ia mendapati sebuah tangan lentik dengan hiasan henna juga cat kuku berwarna merah berada di atas dada bidangnya.
Deg
Jantung yang semula tenang, kembali berdetak tak normal sesaat setelah matanya menangkap sosok gadis yang berada di samping kirinya. Wajah ayunya tertutup helaian rambut hitam yang tergerai bebas. Andra baru teringat jika dirinya dan Senja sudah melaksakan akad nikah kemarin dan kini mereka adalah sepasang suami istri.
Tanpa diminta tangannya bergerak untuk menyingkirkan rambut panjang yang menutupi wajah Senja. Kini terlihatlah wajah yang cantik alami yang masih terlelap. Tanpa sadar wajahnya kembali mendekat pada wajah sang istri hingga tinggal satu centi lagi bibirnya akan menyentuh pada bibir manis Senja. Namun ingatan semalam dirinya yang tak sadarkan diri setelah berciuman dengan gadis itu kembali hadir, membuatnya mengurungkan niat untuk mencium istrinya untuk yang kedua kalinya. Ia hanya mencium kening Senja lalu memutuskan untuk bangun terlebih dahulu.
Merasakan suatu yang hangat dan sedikit basah menyentuh keningnya membuat Senja terjaga dari tidurnya. Leher putih yang pertama kali dilihat Senja saat membuka matanya. Hembusan nafas sang suami ia rasakan di pucuk kepalanya. Ia mendongak untuk melihat Andra, ingin menanyakan apakah lelaki itu sudah benar-benar sembuh atau belum.
Andra tersenyum kearahnya, ia pun membalas senyum itu.
"Mas udah sembuh?"
Andra mengangguk namun sesaat kemudian ia berkata, "kayaknya Mas bakal kambuh lagi kalau lama-lama deket sama kamu,"
Senja termangu mencerna ucapan suaminya itu, apa maksudnya?
"Emm, maksud Mas gimana ya? Senja yang bikin Mas Andra sakit?"
Andra tersenyum dan menggeleng samar, ia pun tak yakin dengan apa yang terjadi pada dirinya. Tapi menurut yang ia rasakan memanglah seperti itu, ia akan sangat berdebar dan berkeringat dingin jika melakukan kontak fisik berlebih dengan Senja. Itu saja sudah lebih mendingan daripada dulu, ia sudah akan menjadi patung dadakan bila bertemhmu Senja, kini ia sudah ada sedikit kemajuan meski harus dengan perlahan. Mungkin dengan seiring berjalannya waktu dan terbiasanya mereka bersama, ia akan lebih bisa mengontrol hati dan jiwanya.
Senja tertegun dengan pengakuan yang di dengar dari suaminya, hatinya mendadak kembali berbunga-bunga. Ternyata di zaman yang seperti sekarang ini masih ada lelaki yang mampu menjaga diri dan hati seperti Andra. Dan ia merasa sangat beruntung menjadi istri dari lelaki itu. Andra yang sebelumnya Senja kira sudah sering memiliki kekasih karena wajah tampannya, ternyata malah minus dalam hal cinta.
Benar yang di bilang eyang waktu itu, makasih banya Eyang Kumala, sudah mengizinkan cucu istimewamu menikahi gadis kamlung seperti Senja.
Gadis itu tersenyum pada suaminya, "nggak papa Mas, Senja seneng bisa menjadi istri dari seorang lelaki yang mampu menjaga hatinya sampai ia menikah, karena Senja sendiri juga begitu.." jawabnya malu.
"Makasih Senja, sudah mau menjadi istri Mas Andra dan menerimaku apa adanya. Insyaallah Mas bakal bahagiakan kamu semampuku," ucap Andra meraih sang istri kedalam pelukannya.
Senja merasakan dekapan hangat sang suami untuk pertama kalinya, dan ia membalas pelukan itu erat. Kepalanya menempel pada dada bidang Andra dan kini ia dapat mendengar detakan kencang dari lelaki itu. Perlahan ia mengendurkan pelukannya tanpa bermaksud menyinggung.
"Ma-maaf Mas, bukan Senja nggak seneng di peluk sama Mas Andra. Tapi aku takut Mas bakal pingsang lagi kayak semalem," ucapanya hati-hati.
Andra terkekeh meningat kejadian semalam, "sekali lagi maaf ya Dek, Mas merusak malam pertama kita-"
"Ssst.. Mas ngomong apa sih? nggak ada yang rusak, kita masih punya banyak kesempatan. Dan Senja nggak akan memaksa. Aku nggak mau kalau sampai Mas sakit lagi cuma gara-gara maksain diri."
"Terimakasih untuk pengertianmu, Mas akan berusaha untuk menyesuaikan diri sama kamu. Kamu bakal bantuin Mas Andra kan?" Andra menatap mata bening Senja.
__ADS_1
Senja mengangguk, "pasti Mas.. pelan-pelan aja ya, Senja akan selalu setia mendampingi Mas,"
Ayam jantan berkokok di sertai suara gaduh di luar membuat keduanya tersadar jika hari sudah pagi.
"Astaghfirulloh.. udah jam setengah Mas," pekik Senja saat sudah melihat jam di dinding kamarnya.
"Yaudah kita cepet-cepet sholat shubuh aja.." balas Andra yang juga segera beranjak.
Saat Senja memutar kunci pada pintu kamarnya, terdengar derap kaki yang berlari menjauh. Membuat kedua pasutri baru itu celingukan dan merasa heran setelah keluar kamar.
Perasaan tadi denger suara orang disini, tapi kok nggak ada siapa-siapa sih..
Keduanya segera mengambil air wudhu dan kembali ke kamar untuk melaksanakan sholat subuh.
Andra juga Senja mengangguk dan tersenyum saat melewati orang-orang yang berada di dapur.
Orang yang mereka lewati itu merasa heran pada pasangan tersebut. Pasalnya mereka langsung berwudhu tanpa mandi terlebih dahulu.
"Kok ndak mandi junub dulu ya, Mak?" tanya Reni pada bulek Septi. Ia sudah mengerti hal tentang pernikahan karena ia sudah berumur 20 tahun, sedangkan Anis seumuran dengan Ria, gadis itu mengangguk menyetujui pertanyaan sang kakak.
"Hush! pada ngomong apa to, sudah lanjutin masaknya," sergah Bulek Anis yang membuat kedua anaknya mengerucutkan bibir.
Ibu Senja datang dari belakang rumah dan heran melihat kedua keponakannya cemberut sambil memotong sayuran.
"Pada kenapa sih? kayaknya baru aja pada cekikikan,"
.
.
Bersambung
Maafkan diriku yang tak sempurna ya Senja, kamu harus sabar karena Mas Andra memang begitu.
Kalau pembaca mau lihat yang cus, intip aja di novel otor yang lain ya. Soalnya setiap karakter cowok dalam novel yang otor bikin semuanya beda, punya cara masing-masing memperlakukan istri.
Kalau mau lihat cowok yang gentel dan gencar pdkt, intip Langit di MENGGAPAI ASA.
Kalau mau cowok kembar yang cakep, tapi mempunyai sifat yang berbanding terbalik, baca REKAYASA KEHIDUPAN. Novel terbaru yang baru rilis beberapa hari.
Kalau Andra memang pemalu dan sedikit pendiam ya. Makanya harus di dukung orang cerewet dan gokil sepeti Bayu buat rame-rame.
__ADS_1
Makasih buat yang udah baca🙏😊