
Andra terkejut ketika baru saja memasuki kamarnya dan mendengar suara istrinya marah-marah, memaki dengan suara keras. Bahkan ia mendengar seperti suatu barang berat terjatuh.
Braaakkk
Lelaki itu segera berlari cepat ke arah sumber suara, karena fikirannya sudah melanglang buana kemana-mana dengan pemikiran negatif. Ia berfikir jika Senja marah karena eyang melarang mereka untuk keluar rumah sampai satu bulan ke depan. Ya, kalian tidak salah membaca, memang satu bulan ke depan. Itu adalah kepercayaan orang jawa yang masih sangat kental, jika sepasang pengantin baru tidak boleh bepergian jauh sebelum pernikahan mereka berumur 40 hari. Sontak saja kedua orang muda itu melongo tak percaya dengan hal yang baru saja di dengarnya.
Andra terkejut saat mendapati televisi berukuran 32 inci yang berada di kamarnya sudah berada di lantai dengan tak beraturan, sedangkan sang istri berada di pojok kasur menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut sehingga hanya terlihat ujung ubun-ubunnya saja. Andra mendekat perlahan dan berusaha menjangkau Senja. Samar-samar lelaki itu mendengar isak tangis dari dalam selimut yang membalut tubuh sang istri.
"Dek, kamu kenapa? marah karena di larang keluar? atau sedih karena hanya akan terkurung di rumah ini selama satu bulan ke depan?" tanya Andra pelan dan sangat hati-hati.
Ia melihat pergerakan kecil dari luar selimut itu. Sebenarnya Senja menggeleng, tapi karena ia terbalut selimut tebal jadi gerakannya tak terlihat sama sekali. Andra merangkak menaiki kasur, memberanikan diri menjangkau selimut yang di kenakan Senja. Tangis gadis itu makin terdengar saat selimut tersibak dari kepalanya. Senja menunduk dengan masih membelakangi Andra.
"Maafin ya kalau kamu menganggap eyang keterlaluan dengan melarang kita pergi dalam jangka waktu yang lama, mungkin itu memang yang terbaik untuk kita. Mas Andra yakin, semua yang di lakukan, dan yang di katakan eyang itu pasti untuk kebaikan kita sendiri," semua kalimat yang Andra sampaikan saat ini adalah kalimat terpanjang yang pernah di dengar Senja sejak mereka menikah.
Lagi-lagi Senja menggeleng, membuat Andra semakin tak mengerti kepada istrinya tersebut. Ia berfikir, masak Senja nggak mau mengerti dengan penjelasannya baru saja. Ia menolak untuk memaafkan eyang, sungguh itu bukanlah sifat Senja. Fikir lelaki itu.
Kemudian Andra beranjak turun dari tempat tidur untuk mengembalikan televisi LED itu ke tempat semula. Senja mendongakkan kepalanya, mengintip dari celah rambutnya yang berantakan, memperhatikan apa yang di lakukan suaminya.
"Mmm-ma maaf Mas, Senja nggak sengaja jatuhin tivinya," ucap Senja lirih dengan terisaka.
Andra reflek menoleh ke arah sang istri, ia mengernyitkan dahi mencoba mencerna apa yang di katakan oleh Senja, ataukah dia salah mendengar. Lalu ia kembali berjalan mendekati sang istri. Di sibaknya lembut rambut yang terasa basah dan menutupi wajah ayu Senja. Ia merasa sedih melihat istri kesayangannya menangis sesenggukan seperti itu, sungguh ia hanya ingin melihat Senja tertawa bahagia seperti hari-hari biasanya, seperti dulu saat ia selalu memandangnya dari kejauhan.
"Dek, Senja.. kamu kenapa?" dengan sabar ia membelai kepala Senja. "Jangan nangis! kamu bikin Mas sedih," suara Andra terdengar lembut namun ada ketegasan di dalamnya.
Perlahan Senja membalikkan badan, namun belum berani menatap wajah sang suami.
__ADS_1
"Maafin aku Mas, tadi aku nggak sengaja lempar tivinya pake bantal. Nggak taunya kekencengan terus tivinya jatuh, kalau rusak gimana?" gadis itu kembali menangis.
Andra melongo, dia sudah memikirkan hal yang jauh di angkasa dan ternyata Senja hanya takut dan menangis karena hal kecil. Lelaki itu tersenyum lega, ternyata bukan karena larangan eyang istrinya itu jadi mengamuk dan menangis.
"Nggak usah di fikirin masalah tivinya, nggak papa kok kalaupun rusak. Nanti Mas beliin lagi yang lebih bagus buat kamu, cup ya.." Senja terdiam seketika mendengar ucapan suaminya, segampang itu dia bilang beli lagi? fikirnya tak percaya.
"Mas malah mikirnya kalau kamu marah gara-gara larangan eyang tadi," Andra mengecup lembut kening Senja.
Senja menggeleng setelah kecupan suaminya terlepas, "aku tau kok tentang larangan itu, aku pernah dengar tapi baru tau kalau itu benar dan masih berlaku di zaman sekarang ini. Senja sama sekali nggak marah sama eyang, juatru aku bersyukur masih ada selalu menasehati kita san mengingatkan kita, eyang sungguh nenek terbaik yang pernah ada."
Andra tersenyum bahagian mendengar jawaban Senja yang begitu sangat menghormati dan menyayangi neneknya seperti ia menyayangi eyang Kumala. Di rengkuhnya tubuh Senja ke dalam pelukannya, menyalurkan ketenangan pada sang istri agar emosinya stabil.
"Terus kenapa Adek sampe lempar tivi pake bantal?"
"Maaf Mas.."
Senja membeku, apa seberharga itukah dirinya bagi Andra? andai kamu tau Senja, kalau Andra rela balik jungkir demi dirimu, bisa struk dadakan kamu.
"Tadi aku lihat sinetron azab gitu di tivi, orang baik di zolimi sama orang banyak, di caci maki sampe dia nangis-nangis berlutut masih aja orang-orang itu nggak berperasaan dan terus ngomong yang buruk-buruk ke dia. Kan aku nggak terima Mas, aku emosi terus aku lempar aja orang-orang jahat itu. Nggak taunya itu di tivi aja, dan begitulah.." tanpa sadar Senja meremas-remas dan memukul dada Andra yang memeluknya.
"Aduuh.." rintih Andra sambil meringis menahan sakit.
"Mm-maaf Mas, kan aku jadi emosi lagi kalau ingat. Hiks," gadis itu kembali akan menangis, Andra segera mencegahnya. "Hey, jangan nangis lagi, Mas nggak papa kok. Mas rela jadi samsak kamu asal kamu bisa lega dan berhenti menangis." Senja tersenyum malu mendengar ucapan Andra yang terkesan gombal, "Mas Andra ikh, bisa aja gimbalnya."
"Lhoh, kok gimbal sih? harusnyakan gombal," goda Andra.
__ADS_1
Senja mencebikkan bibirnya.
"Enggak-enggak. Mas serius sama ucapan Mas tadi, apapun akan Mas Andra lakukan demi kebahagiaan kamu, jangan pernah sedih lagi ya, apalagi sampai menangis kayak tadi. Hatiku jadi ikut sakit,"
Senja menatap mata Andra saat suaminya itu mengatakan hal tersebut, sorot tulus dan kejujuran yang ia temukan disana. Tidak ada sedikitpun unsur rayuan gombal ataupun kebohongan yang tersirat.
Sebenarnya bagaimana perasaanmu terhadapku Mas? Dari ucapan dan perlakuanmu terhadapku, aku merasakan kasih sayang yang tulus. Tapi kenapa belum ada pengakuan darimu tentang perasaanmu yang sebenarnya kepadaku? Apa benar jika cinta itu memang tak harus di ungkapkan dan hanya dirasakan?
Senja tersadar dari pikirannya saat merasakan sentuhan lembut dan kenyal di bibirnya, rasa manis bercampur asin karena air matanya. Matanya terbelalak melihat sang suami yang memjamkan mata mencium bibirnya dengan mesra, dan tangan yang masih memeluknya erat.
Apa ini jawabanmu tentang pertanyaanku baru saja? Apa kamu mencintaiku Mas? Aku rela memberikan hidupku, hal yang paling berharga dalam diriku jika kau benar-benar tulus mencintaiku. Batin Senja ikut memejamkan mata.
Mencoba pasrah dan memberikan pelayanan terbaik pada Andra, jika suaminya itu memang menginginkannya. Meskipun keduanya sama-sama belum berpengalaman, namun naluri dalam diri menuntun mereka untuk saling mengecup, mengecap, dan mulai memperdalam ciuman mereka. Awalnya hanya kecupan yang menempel erat dan Andra mulai membuka sedikit mulutnya untuk merasakan manisnya bibir sang istri, mengecapnya dengan lembut dan mesra. Lalu ia memiringkan kepala untuk bisa lebih memperdalam ciumannya, awalnya Senja hanya diam dan pasrah, namun lama-lama ia mencoba membalas kecapan dari sang suami meski masih kaku.
Lama keduanya berpagut, hingga mereka sama-sama merasa kehabisa oksigen, lalu tautan bibir itupun terlepas. Keduanya meraup udara sebanyak-banyaknya dan mulai tertawa bersama. Merasakan sensasi panas yang menjalar di kedua pipi mereka. Andra juga merasa nafasnya mulai memburu, jantung berdebar cepat dan keringat mulai bercucuran. Dia yang memanglah masih sangat minim pengalaman, menafsirkan jika hal tersbut adalah sebuah kelainan, ketidak normalan dalam diri. Padahal semua itu adalah hal yang lumrah.
"Makasih.." Andra kembali mengecup kening Senja.
"Buat apa?" *A*ku belum memberikan apa-apa padamu Mas, bahkan yang seharusnya kamu terima saja belum kamu minta, hak kamu sebagai suamiku. Senja hanya bisa melanjutkan kalimatnya dalam hati.
"Semuanya.. maaf ya, Mas belum bisa menjadi suamimu seutuhnya, Mas Andra belum bisa memberikan nafkah batin padamu," Andra berkata dengan Senja yang bersandar di dadanya, membiarkan gadis itu mendengarkan detakan jantungnya yang bertalu-talu. "Jangan salah sangka sama Mas.. bukan Mas Andra tak menginginkanmu, sebagai suami dan lelaki normal tentu saja Mas sangat ingin melakukan hal itu," kata 'itu' adalah hal yang terdengar ambigu di telinga Senja. Apakah yang di maksud Andra seperti apa yang di pikirkannya.
Tapi aku menunggu kamu benar-benar mencintaiku Senja. Aku ingin kita melakukannya karena rasa sama-sama ingin memiliki, saling mencintai. Bukan karena kamu merasa berkewajiban melayaniku sebagai suamimu. Andra melanjutkan ucapannya dalam batin.
Senja mendongak mencoba menatap wajah sang suami, tapi seakan-akan Andra tak mengizinkan hal tersebut, lelaki itu membenamkan kepala Senja dalam dekapannya dan memeluknya semakin erat.
__ADS_1
Andai kamu tau perasaanku saat ini Senja, aku begitu sangat mencintaimu, menginginkanmu. Tapi aku tak boleh egois, aku tidak boleh serakah dengan meminta sesuatu yang lebih darimu sekaligus. Aku tau tidak ada yang instan dalam hidup ini, begitu juga perasaanmu. Aku akan selalu sabar dan setia menunggu cinta tumbuh di dalam hatimu untukku. Sekarang biarkan aku berbangga diri karena telah berhasil menjadikanmu sebagai istriku, ratu dalam kehidupanku, hatiku. Andra berulang kali mengecup pucuk kepala Senja.
Aku menunggu kata cinta lolos dari bibirmu Mas, kenapa kamu nggak melanjutkan ucapanmu tadi. Aku menunggu Mas, aku menunggu kata cinta darimu. Dan aku akan menjawab bahwa aku mulai merasa nyaman denganmu, aku mulai terbiasa dengan kebersamaan kita. Aku mulai merasa kehilangan jika kamu tak terlihat sekejab saja dari pandanganku. Apakah itu bisa di sebut cinta? Senja menikmati setiap kecupan lembut yang di berikan sang suami di ubun-ubunnya. Sambil menghirup dalam aroma segar dari tubuh sang suami.