Pengagum Rahasia Senja

Pengagum Rahasia Senja
PRS 30. Dinner Pertama


__ADS_3

...Mari saling dukung...


...satu sama lain🤗...


...Selamat membaca🥰🥰...


...----------------...


Andra sudah sampai di meja makan, ia berdiri tepat didepan Senja dan hanya terhalang meja saja. Ia memegangi dadanya seperti orang yang terkena serangan jantung. Suasana pantai yang santai menjadi tegang karena kehadiran Andra yang tiba-tiba bagi Senja.


Senja cukup terkejut dengan kedatangan laki-laki asing yang tampan rupawan menurutnya, entahlah bagi kalian😌. Ia yang tadinya sedang bersenda gurau dengan eyang mendadak diam seketika.


"Eh, Andra sudah datang. Duduk sini cah bagus. ." Eyang merasakan kecanggungan diantara kedua pemuda pemudi dihadapannya itu.


"Nak Senja. . Perkenalkan ini Andra cucu Wyang yang paling ganteng, sekaligus paling badung, nggak apa-apa'kan Eyang minta Andra nyusul kita? Soalnya tadi katanya dia lagi ada didaerah sini. Jadi sekalian aja Eyang ajak dia gabung sama kita, biar tambah rame wong temanmu tadi itu nggak jadi ikut to " Ucap eyang mencoba mencairkan suasana.


"Iya. . Nggak apa-apa kok Eyang." Jawab Senja gugup.


Melihat Andra yang masih saja terdiam tanpa kata, membuat eyang gemas dan swgera mencubit paha Andra yang duduk disebelahnya.


"Adduh. . Sakit eyang!" Pekiknya tertahan. Andra ingin berteriak karena merasakan sakit, tapi ditahannya. Malu dong, kan ada Senja.


Eyang berbisik gregetan "Kamu udah Eyang perkenalkan malah diem aja, buruan ajak salaman Senja nya! Gimana sih kamu!"


Dengan perlahan Andra mengulurkan tangannya yang gemetaran kearah Senja. Senja membalas uluran tangan Andra sambil tersenyum manis.


"Ah, manisnya. Meleleh abang Andra, Dek Senja."


"Senja. ." Ucapnya.


"Sa salam ke kenal Se Senja." Andra kembali dalam mode gagap.


"Haduhh. . Kapan sembuhnya gagap kamu Andra!" Batin Andra gemas dengan dirinya sendiri.


Senja mengernyit, ia merasa mengenali suara itu. Seperti suara orang yang mengantarkannya kemarin saat mengirim paket.


"Ah masak iya, cucu Eyang mau jadi supir aku kemarin sih. Mungkin hanya kebetulan saja suaranya sama." Batinnya tak percaya.


Eyang menganga tak percaya mendengar cucunya berbicara tergagap seperti itu. Lalu ia bertanya pada Andra.


"Kamu kenapa, Le? Sakit?" Sambil memegang kening dan leher Andra.


"Andra nggak apa-apa Eyang." Memegang tangan eyang yang menempel di lehernya dan menurunkannya.


Ia merasa malu diperhatikan seperti anak kecil oleh eyang dihadapan Senja.


"Terus kenapa bicaramu gagap seperti tadi?" Eyang yang memang tidak tahu keadaan jantung Andra yang berdetak kencang tegang karena Senja, masih terus mengkhawatirkan cucu kesayangannya.

__ADS_1


"Kenapa Eyang malah bahas aku yang gagap sih, 'kan Senja bisa ilfill sama aku."


"Serius. Andra nggak apa-apa Eyang! Andra sehat wal afiat nih." Ucapnya lembut sambil berdiri.


Senja yang melihat hal tersebut hanya tersenyum, ia senang menyaksikan kedekatan antara nenek dan cucu laki-lakinya itu.


"Mas Andra nggak apa-apa Eyang, Eyang nggak usah khawatir ya. ." Ucap Senja berusaha menenangkan eyang.


"Mas Andra, Eyang cuma khawatir sama Mas. Mas Andra nggak usah ngerasa risih gitu, Senja malah seneng kok liat cucu dan nenek yang saling menyayangi dan saling dekat seperti kalian. Terus jaga dan bahagiakan Eyang ya Mas, mumpung masih ada kesempatan." Senja berkata dengan lembut sesuai dengan gaun yang dikenakan, ditinggalkannya sekejap sifat 'cuwawak an' nya. Ah, mungkin kalian para reader paham kalau aku bilang bar-bar.


Andra terbuai mendengar Senja menyebut namanya dengan lembut.


"Oh Tuhan. . Kucinta dia, lah malah nyanyi sih aku. Ayolah mulut dan jantungku, mari kita bekerja sama, untuk mendapatkan simpati dari Senja!" Semangatnya berkobar dalam hati.


"Tuh Ndra! Dengerin kata Senja. Kamu itu harus lebih banyak meluangkan waktu buat Eyang, bukannya malah nginep di ruko terus, dan nggak pulang-pulang. Kayak Bang Toyib aja!"


Senja mengernyit "Ruko Eyang?"


"Iya, ruko yang di seberang toko kamu itu punya Andra, kamu nggak tahu to, *N*dok?" Jawab eyang heran.


Senja menggelengkan kepalanya.


"Ini Eyang kenapa malah kasih tau Senja sih kalau aku yang punya ruko itu. . Haaaah😫."


"Setahu Senja itu punya Mas. . Mas, siapa itu namanya ya, Bay, Bayu apa siapa gitu."


"Oh Bayu itu as-"


"Bayu itu manager di swalayan, sekaligus rekan kerja aku. Aku kerjasama dengan dia buat ngelola swalayan itu bareng, gitu maksudnya Eyang." Ucap Andra yang jelas mengada-ada.


Eyang heran, ia tidak mengerti kenapa cucunya melakukan hal itu. Tapi ia mencoba mengabaikannya.


"Yowes, yowes. . Nanti lagi bahas kerjaannya. Sekarang kita makan dulu, ini nanti makanannya keburu dingin. Andra, ini ayam panggangnya buat kamu. Kan kamu nggak bisa makan seafood jadi biar Eyang sama Nak Senja saja yang makan seafoodnya." Ucap eyang sambil mendekatkan ayam panggang ke hadapan Andra.


"Mas Andra alergi sefood ya Eyang?"


"Iya, dulu pas TK pernah makan udang, eh langsung gatel-getel badannya. Kalau kebanyakan bisa parah, bisa sakit perut, sampai masuk rumah sakit." Jelas eyang.


Senja terkejut "Sampai separah itu?"


Eyang mengangguk sebagai jawaban. Sedangkan Andra tersenyum senang, karena merasa diperdulikan oleh Senja.


Lalu mereka mulai makan dengan khidmat, tanpa sepatah kata pun. Atau malah karena ada yang dipikirkan, apapun itu terserahlah.


Usai makan malam, eyang langsung buru-buru pamit terlebih dahulu dengan alasan mau ke toilet dan diikuti oleh ke tiga dayangnya. Eh, dua dayang dan satu prajurit tepatnya, yaitu Pak Santo, Mbak Asih Dan Mbok Munah. Hanya tersisa Andra dan Senja saja dalam keheningan dan kembali tercipta kecanggungan diantara mereka berdua.


"Abis Eyang pamit ke kamar mandi aku mesti ngapain yha tadi rencananya. Duuh. . Kenapa ucapan Eyang ilang semua dari pikiran aku. Ayoalah otak, inget-inget apa yang dibilang sama Eyang tadi soreee." Tanpa sadar Andra memukuli kepalanya sendiri.

__ADS_1


"Lhoh! Mas Andra kenapa Mas? Kepalanya sakit?" Senja beranjak dari duduknya dan menghampiri Andra.


"Eng nggak kok, mm Mas An Andra nggak apa-apa, Dek." Andra menunduk malu diperhatikan Senja sedekat itu.


Deg.


"Dek? Mas Andra panggil aku Dek? Kenapa aku jadi deg deg an ya." Batin Senja.


"Keceplosan lagi nih mulut, semoga aja Senja nggak papa aku panggil dengan sebutan Dek."


Hening lagi beberapa saat, sampai ada seseorang yang membawa gitar datang dan menyanyi dihadapan mereka berdua yang sedang setengah melamun.


...🎶...


...Kala kupandang...


...Kerlip bintang...


...Nan jauh disana...


... Semakin hangat bagai...


...Ciuman yang pertama...


...🎶...


Andra dan Senja terlonjak kaget. Darimana datangnya orang itu, yang tiba-tiba memecah kesunyian yang mendera.


"Loh. . Loh. . Apa ini pemain musik yang disuruh eyang? Kenapa lagunya kayak gitu? Mana romantisnya, Wyang gimana sih?" Gerutu Andra dalam hati.


Sementara Senja manggut-manggut menikmati permainan musik itu.


Dari arah lain, ada sekumpulan pria muda berpakaian rapih dan membawa beberapa peralatan musik, mereka memberikan selembar uang berwarna biru pada seorang pengamen tadi agar segera pergi lalu digantikan dengan mereka semua.


Ternyata, pengamen tadi itu memang hanya pengamen biasa. Bukan merupakan pemusik yang sudah ada dalam daftar rencana eyang.


"Oh, pantas saja nggak nyambung." Barulah Andra mudeng.


.


.


Aku juga🤭


Like👍


Komen🥰

__ADS_1


Vote😍


Maturnuwon🙏🙏


__ADS_2