Pengagum Rahasia Senja

Pengagum Rahasia Senja
Jadi Gitu Ceritanya


__ADS_3

Flashback On


Beberapa tahun yang lalu, sebelum keluarga Senja pindah ke kota Jogja. Waktu itu Senja masih duduk di bangku SMP. Lebih tepatnya kelas tiga SMP. Sedangkan sang adik, Ria masih kelas lima SD.


Hidup yang serba pas-pasan membuat Senja dan Ria kecil harus terbiasa prihatin, jangankan makan seadanya, dalam satu hari mereka bisa makan saja sudah alhamdulillah.


Ayah mereka, Pak Sapto yang merupakan pencari air nira di kebun kelapa milik Mbah Wito yang merupakan kakek Andra. Sedangkan sang ibu juga hanya sebagai pengolah air nira itu untuk dijadikan gula merah.


Hanya saja beberapa tahun terakhir ini Senja bisa merasakan berbagai jajanan enak, memakai aksesoris yang bagus layaknya orang kota. Dari siapa lagi semua itu berasal kalau bukan dari Andra.


Ya, sejak dimana kejadian Senja menyelamatkan Andra dari ular berbisa yang hampir saja merenggut nyawanya. Andra selalu menemuinya saat berkunjung ke rumah sang kakek. Dan tak lupa selalu membawakan sesuatu yang sekiranya disukai gadis kecil nan tomboy itu.


"Wah, ini semua buat aku?" Mata beriris coklat milik Senja berbinar saat membuka kotak aksesoris yang diberikan Andra padanya.


Tak lupa sekantong besar makanan yang Andra bawa dari kota.


"Iya," Andra mengangguk dan tersenyum melihat betapa bahagianya gadis dihadapannya akan apa yang ia berikan padanya.


"Makasih banyak ya, Mas Ganteng. Kok Mas Ganteng baik banget sih?" kata Senja yang sudah sibuk membuka bungkus es krim dan mulai memakannya.


Bukannya menjawab, Andra malah balik bertanya. "Kamu suka?"


Senja kecil mengangguk dengan penuh semangat. "Suka, suka banget! Kan jarang-jarang aku bisa makan kayak gini," gadis itu meringis memamerkan giginya yang penuh coklat dari es krim.


Andra mengelap mulut blepotan gadis itu, "kalau kamu suka. Nanti aku akan buat supermarket biar kamu bisa puas ambil makanan atau apapun yang kamu mau tanpa harus membayar,"


"Kok nggak bayar, Mas. Kenapa?" meskipun tetap asyik dengan makanan ditangannya, tapi ia tetap selalu menyahut setiap perkataan Andra.


"Kan supermarketnya punyaku, jadi kamu bebas ngambil,"


"Woah, beneran?"


Andra mengangguk pasti, "iya, aku janji,"


Bocah lelaki itu menyodorkan jari telunjuknya.


"Janji telunjuuk," ucap keduanya kemudian tertawa bersama.


Namun beberapa bulan belakangan Senja tak lagi berjumpa dengan Andra, yang biasanya Andra akan datang satu hingga dua bulan sekali. Yang ia dengar dari neneknya, Andra pindah ke Ibukota Jakarta dan melanjutkan pendidikannya disana.


Tanpa ada pamit ataupun kata perpisahan dari Mas Gantengnya, jujur saja membuat Senja kecewa. Tapi siapalah dia yang hanya gadis kecil desa yang sangat sederhana dan benar-benar apa adanya.


"Apa Mas Ganteng udah nggak mau temenan sama aku lagi,?" Hal itu selalu ada dibenak Senja.


Namun saat ia kembali mendapatkan kiriman hadiah dan juga surat dari Andra, ia mematahkan pemikiran buruknya. Senyum bahahia kembali tersungging di bibirnya.

__ADS_1


°°°


Pak Sapto yang bekerja sebagai pencari nira, tentu saja ia diharuskan memanjat pohon kelapa yang tingginya bisa mencapai 5 hingga 7 meter. Bertahun-tahun sudah beliau menekuni pekerjaan tersebut dan tidak pernah ada kendala apapun yang berarti selama itu.


Tapi hari ini entah mengapa, badannya yang sedikit tidak sehat tetap ia paksakan untuk memanjat pohon yang sudah dibuat tatakan untuk berpijak naik. Ia memikirkan pendidikan anak-anaknya, ia harus bisa mengumpulkan uang agar Senja bisa melanjutkan pendidikannya agar tak menjadi orang susah sepertinya. Begitulah tekadnya.


"Bapak ndak usah berangkat dulu saja kalau badannya ndak enak, biar ibu yang bantu-bantu di kebun atau di rumah mbah putri. Di empang juga ndak papa," Bu Retno yang tadi diminta mengerik punggung Pak Sapto memperingatkan sang suami.


"Bapak sudah baik-baik saja, Bu. Kan sudah dikerik tadi, sudah sarapan juga," kilah Pak Sapto tetap tetap pada tekadnya.


Namun seperti pepatah lama yang mengatakan untung tak dapat diraih dan malang tak dapat ditolak. Saat sudah hampir saja sampai ke ujung pohon dan hendak duduk di salah satu pelepah daun kelapa, ia merasakan tubuhnya gemetar, kepalanya mendadak pusing hingga tak dapat lagi mengontrol keseimbangannya. Kakinya pun terpeleset dan membuatnya terjatuh dari ketinggian lima meter.


"Aaaaakkhh," teriaknya sebelum mendarat.


"Ya Allah, Ya Allah," sebutnya dalam hati pasrah.


Tidak ada darah yang keluar dari tubuhnya, namun seluruh anggota tubuhnya tak dapat ia gerakkan, bahkan sekedar untuk meminta tolongpun ia tak bisa bersuara hingga kesadarannya mulai menghilang.


Untung waktu itu ada seorang temannya yang sedang mencari kayu bakar, dan tak sengaja mendengar suara teriakannya. Jadi ia bisa dengan segera mendapatkan bantuan dari orang-orang yang berada disekitar sana.


Pak Sapto segera dilarikan ke rumah sakit terdekat, ia mendapatkan penanganan dengan segera. Namun yang namanya terjatuh dari ketinggian, tetap saja memberikan imbas yang tidak baik bagi tubuhnya. Beliau dapat terselamatkan, dengan luka dalam yang serius.


Pak Sapto mengalami koma, dan hal tersebut tentu saja sangat membuat keluarganya sangat terpukul. Rasa sedih dan pilu melihat sang kepala keluarga terbaring lemah tak berdaya dengan banyak alat yang menempel ditubuhnya.


Belum lagi memikirkan darimana mereka bisa mendapatkan biaya untuk pengobatan tersebut. Dan bagimana pula untuk mereka bertahan hidup saat sang tulang punggung keluarga satu-satunya tidak dapat lagi mencari nafkah?


Sejak saat itu, Senja dan Ria adiknya ikut membantu sang ibu mencari sedikit uang untuk kebutuhan mereka sendiri. Seperti ikut memanen kopi saat musimnya, memanen cengkih, ikut mencari gabah saat ada yang panen dan lain sebagainya. Mereka melakukan apapun yang mereka mampu demi meringankan sedikit beban sang ibu.


Untuk makan nasi, beras mereka dapat dari ikut memanen padi milik para tetangga, sedang untuk lauk pauknya mereka mencari ikan atau udang di kali, terkadang kerang-kerang kecil juga. Atau sayuran yang dipetik secara gratis di kebun-kebun, bahkan mencari jamur juga dilakoni.


Sedangkan untuk biaya sang ayah, Bu Muti selaku kakak dari Pak Sapto yang merupakan kakak Bulik Asih yang seibu. Datang bak pahlawan yang sangat berjasa menawarkan bantuan pinjaman uang dengan jaminan sertifikat rumah dan sawah bagian dari Pak Sapto.


Memang hanya Bu Muti keluarga mereka yang yergolong kaya, karena selain ia mendapatkan jatah warisan juga sebelum mbah kakung Senja meninggal. Ia juga menikah dengan lelaki yang lumayan kaya, lalu ia memggunakan uangnya untuk ia pinjam-pinjamkan dan menjadi rentenir.


Dengan terpaksa Bu Retno menyetujui hal tersebut, itupun juga sudah dengan desakan dari mertuanya, Ibu dari Pak Sapto. Beliau hanya ingin anaknya segera sembuh dan dapat pulih seperti sedia kala.


Waktu terus berlalu, hari demi hari terlewati dengan sangat berat. Ibu Retno menunggu suaminya di rumah sakit, Sedangkan Senja dan Ria di rumah bersama dengan sang nenek.


Satu bulan, dua bulan, dan hingga hampir memasuki bulan ke enam. Tapi Pak Sapto belum menunjukkan kemajuan, dokter memberi waktu sampai tepat bulan ke enam. Jika sampai saat itu Pak Sapto belum juga bereaksi, maka dengan terpaksa dokter akan melepas semua alat penyangga kehidupan Pak Sapto. Dalam artian mereka harus mengikhlaskan Pak Sapto.


Uang yang diberikan oleh Bu Muti pun sudah hampir habis seluruhnya, tanpa sedikitpun mereka bisa mencicilnya. Bahkan sebentar lagi merupakan ujian kelulusan Senja yang artinya gadis remaja itu juga membutuhkan biaya.


"Ya Allah, jika memang hal ini sudah menjadi takdir-Mu. Hamba hanya bisa berpasrah dengan ketentuan-Mu. Hamba sudah berusaha semampu hamba, Amin Ya Robbal Alamin," pasrah Bu Retno dala doanya.


Satu minggu terkhir kesempatan Pak Sapto menuju bulan ke enam, saat semuanya sudah hampir menyerah dan berpasrah. Tuhan menunjukkan keajaibannya, jari jemari Pak Sapto mulai bergerak perlahan. Matanya mengerjap menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina yang telah lama tak terbuka.

__ADS_1


Pak Sapto dinyatakan sadar dari koma setelah dokter memeriksanya. Sujud syukur dilakukan oleh Bu Retno sebagai rasa terimakasihnya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Senja dan Ria yang diberi tahu tentang sadarnya sang ayah tak kalah girangnya.


Mereka bersemangat membuatkan makanan dari hasil mbolang mereka untuk Pak Sapto saat sang ayah sudah diperbolehlan pulang satu minggu kemudian. Meskipun belum pulih seperti sedia kala, tapi Pak Sapto sudah diperbolehkan untuk rawat jalan. Terapi mandiri dilakukan untuk merangsang otot-otot tubuh Pak Sapto agar dapat berjalan kembali.


Dan bagaimana bisa Bu Muti datang ke rumah Pak Sapto saat ini? Bukankah urusan mereka sudah selesai saat Bu Muti mengambil hak milik tanah beserta rumah Pak Sapto, ditambah dengan sawahnya juga?


Flasback Off


"Kalau memang semuanya sudah selesai, lalu untuk apa Bude datang kesini lagi?" Tanya Senja pada Bu Muti yang merupakan Budenya.


"Sawah punya bapakmu itu ndak laku, Nil! Percuma juga aku piara ini sertifikat dari dulu, Bukannya bikin aku tambah kaya, malah bikin aku rugi," jawab Bu Muti dengan nada juteknya.


"Astagfirulloh, bukannya dulu Mbak sendiri yang setuju dengan pwejanjian itu? Tapi kenapa sekarang berbalik, Mbak?"


Bu Retno yang merasa membuat perjanjian itu dulu buka suara.


"Itu karena dulu aku kasian sama kamu, sama Sapto, juga ibunya Sapto!"


"Astaghfirulloh, Mbak. Beliau itu ibu Mbak Muti juga, beliau sudah menganggap Mbak Muti seperti anaknya sendiri," Pak Sapto tak percaya akan sikap kakak tirinya saat ini.


"Beliau juga tidak pernah to membeda-bedakan kita bertiga," lanjutnya.


"Halah terserahlah. Aku ndak peduli! Aku juga ndak butuh ocehanmu. Yang aku butuh itu uangku segera kembali, biar aku bisa menikmati masa tuaku dengan nyaman,"


Semua yang ada disana geleng-geleng kepala mendengar perkataan wanita itu, kecuali suami dari Bu Muti yang hanya diam.


"Tapi darimana kita bisa dapat uang sebanyak itu, Mbakyu?" Kembali air mata membanjiri pipi Bu Retno.


"Hanya ini semua yang kami punya, uang simpanan kami ada di bank, ini bukunya Mbakyu bisa melihatnya sendiri. Juga semua emas ini yang kami miliki," lanjutnya menunjukkan buku tabungan dan beberapa buah emas berupa gelang kalung juga cincin yang sudah berada di meja sejak tadi.


"Mana cukup ini untuk menebus hutang kalian, apalagi itu sudah beberapa tahun yang lalu. Pasti kalau di saat ini, semua uang itu sudah menjadi lebih banyak harusnya,"


Pak Sapto, Bu Retno juga Senja terbelalak kaget.


"Kami tidak mungkin mengganti sertifikat sawah itu dengan sertifikat rumah ini, Mbakyu. Karena rumah ini milik anak kami, mereka yang sudah bersusah payah menabung untuk bisa membeli tanah ini,"


"Huh! Memangnya aku pikirin! Aku juga memikirkan anakku yang sebentar lagi mau lahiran." Bude Muti melirik ke arah Andra yang masih diam menyimak, lalu melanjutkan ucapannya. "Kalau tidak mau menggantinya dengan rumah ini, kan ada menantumu yang katanya kaya itu!"


"Ini tidak ada sangkut pautnya dengan Nak Andra menantu kami, Mbakyu! Uang itu digunakan untuk pengobatanku, biarkan aku yang menebusnya," tegas Pak Sapto. Sepertinya stok kesabarannya sudah mulai menipis.


Sedangkan Andra yang merasa dirinya disebut-sebut mulai membuka suara.


.


.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2