Pengagum Rahasia Senja

Pengagum Rahasia Senja
PRS 37. Angga yang galau Andra yang bahagia


__ADS_3

...Selamat membaca🤗...


...----------------...


Ayah Herman segera pamit kepada sang istri tercinta untuk berangkat ke kantor. Ia mencium kening Bu Ratih dengan lembut dan mesra, lalu Bu Ratih mencium punggung tangan suaminya kala ciuman di keningnya terlepas.


"Assalamualaikum.."


"Waalaikunsalam.." mereka saling melambaikan tangan, dan baru terhenti saat mobil yang di kendarai oleh supir Pak Herman itu beranjak pergi meninggalkan halaman rumah. Bu Ratih segera masuk kembali ke dalam rumah untuk melanjutkan kegiatannya, saat mobil suaminya sudah keluar sempurna dari pagar rumah.


Kalau begitu caranya, gimana Angga yang seorang duda nggak baperr coba? bahkan aku aja ngiri🙈.


Sedangkan di mobilnya yang melaju dengan kecepatan sedang, Angga nampak tak fokus mengemudi. Lalu ia memilih untuk menghentikan mobilnya sejenak di pinggir jalan yang agak sepi, agar bisa menenangkan pikirannya sebentar. Pikirannya masih saja tercemar oleh bayang-bayang sang mantan istri, padahal perpisahan itu sudah terjadi sejak dua tahun yang lalu. Tapi kenapa, rasa sakit yang dulu ia rasakan masih saja terasa sampai saat ini. Bahkan membekas dan mungkin tak kan pernah mengering seakan selalu tersiram oleh air perasan jeruk nipis, perihh.


Mobil yang kendarai oleh Pak Herman melintasi mobil Angga yang terparkir sembarangan di pinggir jalan. Ia heran, kenapa Angga berhenti di pinggir jalan begitu saja? tidak biasanya putra sulungnya bersikap seperti itu. Pak Herman ingin menghampiri dan menanyakannya langsung pada Angga, tetapi ia teringat jika sebentar lagi rapat akan segera dimulai. Jadi ia mengurungkan niatnya tadi, dan akan menanyakan hal itu nanti saja kalau sudah sama-sama berada di rumah.


Tak lama kemudian, ponsel Angga berbunyi. Ternyata itu adalah panggilan dari sekertarisnya yang mengingatkan tentang rapat yang akan dilaksanakan setengah jam lagi. Angga menghela nafas panjang dan menghembuskan secara perlahan, berharap hal itu bisa sedikit mengurangi rasa sesak di dalam dadanya. Lalu ia segera menginjak pedal gas, dan menerobos kendaraan yang ada agar cepat sampai di kantor.


Semoga saja keadaan hatinya yang sedang kacau tidak membuatnya kehilangan konsentrasi nanti pada saat rapat. Kalau tidak, bisa-bisa ia mendapatkan teguran dari pimpinan utama perusahaan. Meskipun pemimpin perusahaan tersebut adalah ayahnya sendiri, tetapi mereka selalu profesional dalam bekerja. Pak Herman selalu bersikap tegas kepada Angga selaku CEO di perusahaan inti, yaitu persahaan induk yang pertama kali didirikan olehnya dulu. Sikapnya sama seperti kepada para karyawan yang lainnya.


Mungkin hal itu juga yang membuat Andra tak mau ikut masuk dan mengurus perusahaan milik ayahnya. Karena Andra merupakan orang yang tidak mau terlalu diatur, dikekang, juga dipusingkan dengan perusahaan. Ya, setiap orang punya kemampuannya masing-masing dan berbeda-beda. Begitu juga Andra yang lebih memilih membuat usahanya sendiri, yang lebih menyenangkan dan santai menurutnya. Padahal sama saja sih, dia juga masih harus meeting bersama para manajer swalayannya. Tetapi ia enjoy menjalaninya, karena ia merupakan pemimpin utama pada bisnis yang ia dirikan sendiri dan dengan aturan yang dibuatnya sendiri.


Padahal di perusahaan milik ayahnya pun, ia akan menjadi CEO dalam kantornya. Karena Pak Herman telah mendirikan dua perusahaan yang di tujukan untuk kedua putranya, agar tak terjadi saling iri dan berebut seperti yang sering terjadi pada perusahaan yang lainnya. Tetapi malah Andra tidak bersedia menjalankannya, jadi Pak Herman terpaksa menjalankannya sendiri sampai detik ini.

__ADS_1


▪︎▪︎▪︎


Kembali pada kamar bernuansa salem milik Senja yang nampak berantakan, tas yang terletak sembarangan, manusia yang teronggok di atas kasur begitu saja dengan keadaan sepatu masih melekat pada kakinya sejak pagi tadi ia membaringkan diri disana.


Para karyawan yang berada dilantai bawah, tidak ada yang berani mengganggu tidur nyenyak sang majikan, termasuk Lala sekalipun. Bahkan barang-barang yang diturunkan oleh Pak Santo juga masih utuh ditempanya semula. Tidak ada yang berani menyentuh barang milik Senja, tanpa perintah langsung darinya. Kecuali urusan pekerjaan yang tetap berjalan seperti hari-hari biasanya. Beruntungnya Senja dikelilingi oleh orang-orang yang baik dan jujur.


Dari ruangan lantai dua ruko yang berseberangan jalan dengan ruko milik Senja, nampak seorang lelaki yang mondar mandir menantikan pergerakan dari seberang sana. Ia merasa khawatir karena sejak tiba tadi pagi, belum melihat sedikitpun tanda-tanda kehidupan dari ruangan Senja. Pastilah lelaki itu Andra, siapa lagi yang kurang kerjaan memperhatikan Senja sampai sedetail itu.


Dari arah pintu, Bayu memperhatikannya. Tangannya bersedekap di dada, kedua matanya menyipit melihat kegelisahan Andra. "Dasar buncis! kenapa sih nggak langsung aja dilamar? biar bisa dipeluk setiap saat. Daripada cuman kayak kecoa terbalik.. bingung sendiri." Batin Bayu mendumal.


"Ekhem.." Andra menengok ke arah suara yang mengejutkannya secara tiba-tiba, "Sejak kapan lo disitu?" tanyanya pada Bayu. "Kayaknya sih, udah sejak tahun 2002" jawab Bayu ngasal.


"Ngaco Lo!" Andra melempar Bayu dengan bantal didekatnya.


"Cemburu bilang broo..!"


"Idihh amit-amit! Alhamdulillah gue masih waras ya.." sahut Bayu tak terima.


Andra tak menggubris, malah menanyakan hal lain. "Darimana aja lo?"


"Ada deh, urusan penting."


Andra mengangkat sebelah alisnya, merasa curiga. "Mulai selingkuh lo dari gue?" Bayu terjingkat dengan pertanyaan bossnya yang nyeleneh, bahkan terdengar mengerikan.

__ADS_1


"Astaghfirulloh hal adziim.. sadar Boss!" menyentuh kening Andra dan menempelkan pada keningnya sendiri. "Agak panas sih, pantes aja.. ke rumah sakit yuk.." Bayu sudah menggandeng tangan Andra, yang langsung ditepis oleh Andra. "Jangan pegang-pegang! Najis luh!" Bayu kembali terjingkat, merasa takut dan aneh dengan Andra. Sebenarnya apa yang terjadi pada bossnya, sampai menjadi seperti itu. Tadi pagi senyum-senyum tak jelas sampai tak bisa di tanyai, dan sekarang sikapnya malah aneh.


Bayu menggeleng-gelengkan kepalanya, berharap apa yang dipikirkannya itu tidaklah benar. Tiba-tiba Andra mengagetkannya lagi, "Bay.. gue tuh lagi seneng... banget!" Andra mencengkeram kedua bahu Bayu sampai Bayu meringis. Baru saja ia bilang najis dipegang oleh Bayu, sekarang dia malah memegang Bayu dengan eratnya. "Gue lagi fall in love.." lanjut Andra. Bayu mengangguk mengerti. Ternyata virus dari Senja belumlah hilang, malah mungkin sudah menyebar keseluruh saluran pernafasan dan peredaran darah Andra.


"Terus?" hanya kata itu yang terucap dari Bayu, karena dia sudah kehabisan kata-kata melihat tingkah dari bossnya.


"Ya gue pengen lo taulah.. kenapa gue bisa sebahagia ini. Gue butuh kuping lo buat dengerin cerita bahagia gue." Ungkap Andra.


"Oke, gue pasang nih telinga gue baik-baik di depan mulut lo. Cerita aja!" Bayu mengajak Andra duduk di sofa agar bisa leluasa mendengarkan ceritanya.


Tanpa membuang waktu, Andra langsung memulai ceritanya dengan antusias tinggi, kurang lebih ceritanya sama dengan apa yang diceritakan oleh eyang tadi. Senyum selalu menghiasi wajah tampan Andra sepanjang ia bercerita. Bayu turut merasakan kebahagiaan yang tengah dirasakan oleh sahabatnya itu. Dalam hati ia berjanji, akan bekerja lebih keras lagi untuk bisa secepatnya membuat Andra dan Senja bersatu.


"Bay.. rasanya gue nggak mau pulang tadi, pengen terus sama-sama Senja." Ucap Andra dengan pandangan yang menerawang.


"Cepet-cepet dihalalin aja, Bos!" Reflek Bayu.


"Oops.." setelah tersadar ia segera menutup mulutnya.


♡♡♡


Bersambung..


Mohon dukungannya ya, dengan like, komen, rate bintang 5.

__ADS_1


Terimakasih😊🙏


__ADS_2