Pengagum Rahasia Senja

Pengagum Rahasia Senja
Rencana Demi Rencana


__ADS_3

Kembali pada Bayu yang masih setia mendengarkan cerita mbah kakung yang tak tau kapan usainya. Untung saja ia sudah sarapan tadi pagi, sehingga tak kelaparan lagi jika harus mendengarkan mbah kakung bercerita selama berjam-jam.


"Ya begitulah, Yu. Seruni tiba-tiba saja menjadi kehilangan kendali atas dirinya sendiri sejak hari pernikahan Angga,"


"Waktu itu, Akung juga Uti menghadiri pernikahan Angga di Jakarta, jadi tidak tau persis bagaimana asal muasalnya Seruni menjadi seperti sekarang ini,"


Mbah kakung menghela nafas, "begitu kami pulang kembali kesini, keadaanya sudah memprihatinkan. Dulu lebih parah dari sekarang malah, dia suka mengamuk dan mengancam keselamatan orang lain, sampai orang tuanya mengurungnya di kamar dan hampir di rantai,"


"Kasihan Seruni, dia gadis yang baik dan tidak tahu apa-apa, dan malah menjadi korban dari nafsu keserakahan manusia. Sangat jahat wanita itu. Gurunya sangat hebat, hingga orang pintar disini tak ada yang mampu mengalahkannya," raut wajah mbah kakung begitu menyiratkan kesedihan mendalam.


"Jadi kami hanya mampu meringankan penyakit Seruni saja, dan membuatnya agar tak bisa pergi dari desa ini, agar kami dan seluruh warga desa bisa mengawasinya,"


Bayu mengangguk-angguk, dari tadi lelaki itu diam menyimak dan sesekali menyahuti cerita mbah kakung.


"Tapi .. bukannya Bang Angga sudah cerai sama Amanda sejak dua tahun yang lalu, Kung? Lalu kenapa efek guna-guna dukun itu pada Seruni dan Bang Angga masih belum hilang sampai sekarang?" Bayu akhirnya melontarkan tanya yang sedari tadi mengganjal di pikirannya.


"Sebenarnya sejak wanita itu berpaling pada lelaki lain dan pergi dari Angga, pengaruh pelet dan sihir yang di berikan pada Angga sudah memudar, mungkin sudah bisa dikatakan menghilang, meskipun Angga belum mengingat Seruni, namun Angga sudah menjadi sangat membenci wanita itu sejak saat itu juga,"


Mbah kakung selalu menyebut Amanda dengan sebutan wanita itu, karena enggan dan sangat malas menyebut nama Amanda.


"Dan seruni pun sudah lebih baik dari sebelumnya, meski belum sembuh sepenuhnya. Namun entah kenapa, beberapa bulan ini, Seruni kembali lagi menjadi seperti itu dan malah mengambil ular-ular yang dipelihara di kandang taman,"


"Oh gitu, Amanda itu aneh ya, Kung. Dia sendiri yang tiba-tiba memelet Bang Angga, malahan sampai guna-guna'in Seruni juga. Eh, tapi dia juga yang menghianati dan berpaling dari Bang Angga. Dasar cewek sinting!" Gerutu Bayu yang tak habis fikir.


"Sebenarnya, semua itu ada campur tangan dari ayah ibunya, juga Mbah Kakung sendiri. Kami-" perkataan mbah kakung terhenti oleh kedatangan mbah putri.


"Uti?"


"Ada apa, Uti?" tanya mbah kakung.


"Apa kalian tidak mendengar suara adzan berkumandang? Dari tadi kalian serius mengobrol sampai tidak kenal waktu, memangnya tidak haus atau lapar, hmm?" Omel mbah putri yang merasa heran karena tak kunjung melihat kedua orang berbeda generasi itu keluar dari kamarnya sejak pagi hingga siang menjelang.


Ternyata tak terasa mbah kakung dan Bayu sudah mengobrol dari pagi hingga siang hari, dan menghabiskan beberapa gelas air minum juga beberapa camilan yang di siapkan Bulik Asih tadi pagi.


"Oh, sudah dzuhur rupanya," ucap mbah kakung manggut-manggut.


Bayu seperti biasa memasang tampang cengengesan andalannya agar tak turut kena omel, dan setelahnya langsung mengambil jurus langkah seribu setelah berpamitan kilat dengan mbah kakung juga mbah putri.

__ADS_1


"Nanggung banget ceritanya, tinggal dikit lagi padahal. Nggak Andra, nggak Akung, kalau cerita pada nanggung," gumam Bayu begitu sampai di depan pintu.


"Kamu masih di situ, Yu? Cepetan sholat dzuhur terus makan! Abis itu terserah mau cerita lagi atau apa," rupanya mbah putri sudah menyusulnya hendak keluar dari kamar juga dan mendengar suara Bayu yang berada di baliknya.


"E eh- iya, Uti. Ini juga mau ambil wudhu kok,"


Meskipun Bayu sudah dewasa, tapi tidak serta merta membuat mbah putri berhenti mengingatkannya akan hal-hal tersebut. Bagi mbah putri, cucu-cucunya tetap masih bocah yang terus di ingatkan dan di pantau dalam dua hal tersebut. Sholat dan makan.


Ah, Bayu merasa masih berumur belasan tahun saja jika begini. Tapi Bayu merasa sangat beruntung dan bahagia di perhatikan sedemikian rupa, karena seingatnya tak ada lagi yang mengingatkannya tentang hal apapun pada Bayu setelah kepergian sang ibu.


Ayahnya mana peduli pada Bayu, yang ada setelah mendapat istri baru, laki-laki itu seakan tak mengingat keberadaan Bayu lagi.


Namun ia merasa mendapatkan sebuah keluarga lagi semenjak pertemuannya dengan Andra beberapa tahun lalu, ia juga merasa menjadi manusia berguna lagi. Yang jelas hidupnya lebih berarti semenjak dirinya di pertemukan dengan Andra yang menjadi sahabat sekaligus atasannya.


Selepas melaksanakan apa yang di titahkan padanya, Bayu kembali mencari mbah kakung. Tapi bak satpam bank, mbah putri menghadang Bayu.


"Kamu mau ngapain mencari-cari mbah kakung lagi? Apa ndak cukup sudah cerita dari abis subuh sampai siang bolong?"


Bayu menggaruk kepala belakangnya, "itu Uti.. tinggal dikiit lagi cerita akungnya, Bayu udah penisirin bingit. Atau.. Uti aja yang lanjutin ceritanya? Abis itu Bayu janji deh gak akan ganggu lagi," Bayu merayu dengan nada-nada manjanya.


"Ya setidaknya untuk hari ini, nggak tau kalau besok, hehee," ucap Bayu disertai tawa di akhir kalimatnya.


Bayu mengangkat sebelah alisnya, "nyariin Bayu buat apa, Uti?"


"Ya mungkin buat cerita itu to, yang tadi di ceritakan sama kamu itu,"


"Oh.. " Bayu memonyongkan bibirnya berbentuk bulat tanpa mengeluarkan suara.


"Ayo ikut, Uti! Kita ngobrol di halaman belakang, biar ndak ngganggu akung istirahat, " Uti berjalan menuju halaman belakang yang terdapat pohon-pohon buah juga kandang ayam peliharaan mbah kakung.


Mereka berdua duduk di bangku yang ada disana, halaman belakang rumah mbah putri memiliki taman mini yang lumayan asri. Disana terdapat tumbuhan-tumbuhan apotek hidup dan rempah-rempah, seperti : kunyit, jahe, lengkuas, sereh, kencur, kunci, temulawak, tak kelewatan pula tanaman bunga, buah bahkan sayur mayur dalam polibek pun ada, dan ditata sedemikian rupa hingga menjadi sedap di pandang mata.


Di depan bangku yang mereka duduki ada kolam air mancur kecil, yang terdapat ikan berwarna warni di susunan kolam paling bawah.


Setelah keduanya duduk, Mbah Putri pun membuka pembicaraan.


"Sampai dimana percakapan kamu dengan mbah kakung tadi?"

__ADS_1


"Emm.. sampai pada yang katanya perpisahan antara Bang Angga sama mantan istrinya dulu itu ada campur tangan dari bapak, ibu juga mbah kakung dan mbah Putri,"


Mbah Putri mengangguk-angguk, " sudah sampai disana rupanya, pantas saja sampai tengah hari,"


"Iya, Uti. Campur tangan itu maksudnya bagaimana ya, Uti? "


"Itu sebenarnya memang rencana kami semua, keluarga besar yang berunding, kami semua mengeluarkan semua ide kita, gagasan kita untuk bisa memisahkan Angga dari wanita jahat itu, "


"Waktu itu... "


Pak Herman, Bu Ratih, Eyang Kumala, Om Arman, Aunty Charlotte, Mbah Kakung serta Mbah Putri Harso minus anak-anak muda sedang berkumpul di kediaman Eyang Kumala.


Mereka semua berembug untuk menemukan jalan keluar bagi Angga agar bisa secepatnya terlepas dari jerat makhluk wanita yang bernama Amanda.


Mereka semua sangat marah bahkan murka setelah mengetahui kenyataan jika hubungan Angga dengan Amanda bukan hubungan murni cinta seperti yang dikatakan oleh Amanda. Wanita itu berdusta dan merekayasa cerita di depan semua orang jika mereka berdua saling mencintai dan sudah berhubungan lama.


Mereka mungkin memang teman dahulu saat Angga berkuliah di salah satu universitas ternama di Jakarta. Tapi keduanya tak pernah memiliki hubungan spesial seperti apa yang dikatakan oleh Amanda. Mengingat bagaimana sikap Angga terhadap lawan jenis nya, memang sangat mustahil jika dikatakan lelaki itu mengajar-ngejar dirinya.


Beberapa bulan setelah pernikahan digelar, kesemuanya merasa ada hal yang semakin aneh yang ditunjukkan oleh Angga. Apalagi perusahaannya yang juga ditemui kejanggalan di dalamnya. Maka ayahnya, Pak Herman juga Om Arman tak lagi bisa tinggal diam, akhirnya pertemugan keluarga besar pun terselenggara guna membahas masalah tersebut.


Ide demi ide mereka utarakan, gagasan demi gagasan mereka ungkapkan. Hingga ketemu lah satu cara yang menurut mereka paling efektif. Mereka merekayasa sedemikian rupa agar perusahaan Angga terkesan bangkrut dan keluarganya pun jatuh miskin.


Dengan kepribadian Amanda yang mereka semua ketahui sebagai pemuja harta, tentu saja wanita itu akan cepat pergi dari sisi Angga, begitu pikir mereka.


Dan perkiraan mereka tidak meleset sedikitpun, dengan perlahan namun pasti, Amanda menjauh dan memilih laki-laki lain yang lebih kaya dari angga.


"Dasar cewek matre, gila harta, bener-bener gila rupanya dia. Nggak waras tuh orang!" umpat Bayu reflek.


"Ya, itu benar. Makanya kita harus cepat bertindak supaya wanita itu tidak kembali lagi, kita harus segera mempertemukan Angga dan Seruni secepatnya."


"Bener Uti, Bayu akan usahain itu, kita harus kerjasama dalam hal ini, Uti. Uti tau sendiri kan, gimana sikap Bang Angga sama Bayu," ucap Bayu memelas.


"Iya, Uti tau. Tenang nanti tak bantu. Sekarang kamu susun rencananya saja yang baik. Nanti kita jalankan sama-sama yo," tutur Mbah Putri.


.


.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2