
...Selamat membaca😊...
...----------------...
Malam harinya, Senja masih kepikiran dengan pasangan suami istri paruh baya yang bertamu di rumahnya tadi siang. Kenapa lagi-lagi ia merasa kenal dengan kedua orang itu. Tetapi saat ia mencoba mengingat-ingat, tak ada sesuatu apapun yang terlintas dalam otaknya.
"Apa hanya perasaanku aja ya? Mungkin sikap mereka memang begitu, dan bukan hanya kepadaku." Senja mendesah pelan, dan memilih untuk mencoba memejamkan matanya saja, meski jarum jam masih menunjukkan pukul delapan tiga puluh menit.
......................
Sedangkan di kediaman eyang masih terdengar suara keriuhan dari para penghuni rumah itu, tepatnya di taman halaman belakang, tempat yang menjadi favorit mereka semua. Andra yang sudah melupakan kejadian tadi pagi efek dari terapi kenyamanan yang Bunda Ratih berikan, kini sudah terlihat bersikap seperti biasanya kepada Nick dan juga Angga kakaknya.
Mereka bermain gitar dan bernyanyi, dengan Angga yang memainkan gitar, Andra yang menyanyi, dan Nick mengambil tugas mengabadikan momen itu menggunakan handycam. Bahkan Bayu tanpa malu berjoget bermacam gaya di depan semua orang. Dari mulai goyang duyu, goyang dumang, goyang Bang Jali, bahkan goyangan ular Suzanna tak luput olehnya. Sontak kelakuannya tersebut membuat tawa orang-orang yang menyaksikannya pecah. Bahkan Pak Santo dan Mbak Asih yang sedang bertugas mendirikan tenda dan menyiapkan keperluan untuk majikan mudanya itu menghentikan sejenak pekerjaan mereka.
"Terimakasih.. terimakasih," ucap Bayu sembari membungkukkan badan saat petikan gitar Angga dan nyanyian Andra berhenti. Senyum bahagianya tak dapat disembunyikan melihat tawa dari orang-orang yang di sayanginya.
Bunda Ratih yang paling tak bisa menghentikan tawanya meskipun Bayu sudah selesai berjoget. Bayu mendekatinya, mengambil toples bekas kacang atom yang sudah kosong dan mengulurkan tangannya yang memegang toples itu pada Bu Ratih. "Hahhahahah... Bayu! kamu bisa berhenti bertingkah nggak?" Wanita itu mencoba menghentikan tawa tapi tak mampu, bahkan air matanya sampai keluar akibat saking lamanya ia tertawa.
Semua yang disana ikut kembali tertawa dan mengisi toples yang di bawa Bayu dengan permen, kacang, juga kuaci hingga penuh.
"Bayu oh Bayu, kenapa engkau ngeyel.." Andra menyanyi menirukan lagu Upin Ipin.
"Macem mana aku tak ngeyel, aku sedang lapar.. aku sedang lapar."
"Bayu oh Bayu, kenapa kau tak makan.." Angga ikut menyambung.
__ADS_1
"Macam mana aku nak makan, ikan tak nak timbol.. ikan tak nak timbol." Balas Bayu pula.
"Ikan oh ikan, kenapa kau tak timbol.." lanjut Andra
"Macam mana aku nak timbol, hujan timpe aku.. hujan timpe aku,"
"Bayu ... " seru Andra dan Angga bersamaan karena nyanyian Bayu salah.
Jangan tanyakan lagi bagaimana ekspresi para orang tua, tentu saja mereka tertawa melihat tingkah konyol ketiga pemuda itu. Sedangkan Nick hanya menatap semuanya bingung, kasihan sekali dia nggak tau film kartun Upin Ipin.
Malam sudah semakin larut, para orang tua memutuskan untuk segera ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Sedangkan para lelaki muda itu hendak masuk ke dalam tenda yang sudah di dirikan oleh Pak Santo tadi. Mereka tersenyum memperhatikan sebuah tenda besar yang berada di hadapan mereka, dan ada juga tiga buah tenda berukuran lebih kecil berjajar di sampingnya. Tenda tersebut adalah milik ketiga pria itu, dulu saat mereka masih kecil mereka sering berkemah di halaman belakang seperti saat ini. Jadi mereka sedang bernostalgia mengenang masa kecil mereka yang menyenangkan tersebut.
Harusnya, jika semua berjalan lancar, penghuni tenda itu selanjutnya adalah anak-anak mereka. Tetapi apa daya mereka yang hanya manusia biasa dan hanya bisa ikut dalam skenario yang sudah di siapkan oleh Tuhan. Angga yang pernikahannya gagal di usia yang masih muda, Andra yang masih setia menunggu keberanian datang menghampirinya untuk menyatakan perasaannya pada wanita yang di kaguminya. Sedangkan Nick yang masih saja senang bergonta ganti pacar dan belum ada sedikitpun niatan dari dalam dirinya untuk mencari pendamping hidup di usianya yang sudah dewasa, yakni 28 tahun.
Ia cukup belajar dari kisah rumah tangga kakak sepupunya itu, bahwa wanita zaman sekarang hanya memandang status dan kedudukan. Ia memacari banyak wanita tak lain adalah untuk menemukan seorang gadis yang benar-benar baik dan tulus, tapi belum ada satu pun yang di temui nya. Sebenarnya jika boleh jujur, ia merasa tertarik dengan sosok Senja yang baik hati dan apa adanya. Sayang, wanita itu sudah menjadi pujaan hati saudaranya.
Bayu memandangi satu persatu wajah ketiga lelaki di sampingnya yang masih diam mematung di hadapan tenda, padahal malam sudah semakin dingin, bahkan rintik gerimis mulai berjatuhan. Bayu mengibas-ngibaskan tangannya di udara, tepat di depan wajah Angga, Andra juga Nick, tak ada pergerakan dari mereka. Ketiganya masih asyik dengan pikiran masing-masing.
Hujan turun dengan deras, ketiga lelaki itu tersadar dan segera masuk ke dalam tenda. Mereka tertawa bersama melihat rambut nasing-masing yang sudah basah terkena air hujan. Hanya Bayu yang cemberut karena dari tadi hanya menunggui para pria itu melamun.
Fajar menyingsing dari ufuk timur, pertanda jika pagi telah tiba. Eyang yang mendapati belum ada pergerakan dari cucu-cucunya, segera menghampiri mereka di dalam tenda. Eyang melongok ke dalam tenda besar, "*k*osong? Kemana bocah-bocah itu?" eyang menoleh kesana kemari, pandangannya menyapu seluruh halaman belakang yang luas itu. Alisnya bertaut kala mendapati tenda-tenda kecil yang semula berada di atas rumput, kini berada di atas gazebo-gazebo yang ada disana.
Gazebo yang berjumlah tiga itu, terdapat satu tenda di atasnya masing-masing. Eyang menghampiri tenda berwarna biru tua, yang dahulu adalah milik Angga, di bukanya resleting itu dan nampaklah dua sosok manusia saling memeluk di dalamnya, "emh, emh.." eyang menggeleng-gelengkan kepalanya mendapati Angga dan Andra yang masih nyenyak meringkuk dan berpelukan dengan berbalut selimut tebal.
"Angga.. Andra.. bangun, Ngger (Nak)!" eyang menggoyang-goyangkan kaki keduanya.
__ADS_1
"Sebentar lagi.."
"Sepuluh menit lagi," jawab kedua pria itu bersamaan dengan jawaban berbeda.
"Subuh sudah hampir habis.. bangun, bangun!" teriak eyang, sudah lama rasanya eyang tak berteriak untuk membangunkan para cucu lelakinya itu.
"Siap, Eyang." Keduanya terduduk karena kaget mendengar teriakan eyang. Bahkan Bayu dan Nick yang berada di gazebo lain di kanan kirinya pun ikut terbangun karenanya.
"Cepetan bangun, sholat subuh! Nanti kalau mau tidur lagi, silahkan. Lagian sudah tau hujan bukannya masuk ke dalam rumah, malah nempatin tenda kecil begitu. Kan yo umpel-umpelan to (jadi berdesak-desakan)."
Keempat pemuda tersebut lari tungang langgang menuju mushola yang terletak tak jauh dari halaman itu.
" Ck ck ck," Ayah dan Bunda Ratih yang baru keluar dan melihat kejadian itu tersebut dan menggeleng-geleng dan berdecak.
"Ternyata kebiasaan mereka masih saja sama ya, Yah?"
"Iya Bun, Ibu mesti teriak-teriak dulu buat banguni mereka baru mereka beranjak dari tempatnya tidur," senyum mereka mengembang mengingat masa kecil putra mereka tersebut.
"Semoga aja Ibu ndak darah tinggi gara-gara bocah-bocah itu," eyang mendumel sambil mencari para asistennya. Seperti biasa, eyang akan meminta asisten rumah tangganya itu memberekan segala kekacauan yang ada.
.
.
Bersambung
__ADS_1
Udah double up ya, kasih hadiahnya dong buat asupan vitamin biar makin semangat up nya.
Makasih🙏😊