Pengagum Rahasia Senja

Pengagum Rahasia Senja
Clear


__ADS_3

Andra mulai angkat suara setelah mendengar dan mengetahui masalah apa yang terjadi sebenarnya. Intinya kakak dari mertuanya itu ingin meminta uang yang dulu pernah ia keluarkan untuk sang adik (tiri).


"Berapa semua uang yang pernah Anda keluarkan untuk Pak Sapto, bapak saya,?"


Karena Bu Muti pun menganggap mereka orang lain, jadi tidak ada alasan untuk Andra menganggapnya sebagai saudara pula. Ia menganggap orang tersebut seperti halnya depkolector yang sedang menagih hutang.


"Jangan, Nak Andra! Itu semua tidak ada sangkut pautnya dengan kamu, itu terjadi sudah sangat lama. Bahkan sebelum kamu menjalin hubungan dengan keluarga kami," cegah Pak Sapto.


"Tidak, Pak. Izinkan saya menebus semua itu. Bukan saya menyepelekan uang, tapi memang jika uang masih bisa dicari lagi, sedangkan putri Bapak saja pernah mengorbankan nyawanya untuk saya," tutur Andra dengan kepala tertunduk.


"Maksud kamu, Nak?"


"Apa Bapak lupa jika Senja pernah menyelamatkan saya waktu kecil dulu?"


Pak Sapto mngernyit mengingat-ingat sesuatu, pandangannya menerawang dan seketika ingatannya kembali pada berapa belas waktu yang lalu. Dimana tiba-tiba ia dan sang istri mendapatkan kabar jika anak sulungnya masuk rumah sakit.


Dan hal tersebut disebabkan oleh Senja kecil yang menolong anak laki-laki. Ternyata anak itu adalah Andra, yang menjadi menantunya kini. Bukan ia melupakan kejadian itu, tapi baginya kebaikan tak perlu lagi diungkit-ungkit. Karena sudah sepantasnya manusia harus saling tolong menolong jika memang mampu.


"Iya Bapak ingat, tapi-"


"Sudah, Pak! Tolong, jangan tolak bantuan Andra yang tak seberapa ini. Bukan Andra bermaksud membalas kebaikan Senja, karena apapun yang Andra lakukan tidak akan pernah bisa untuk membayar pengorbanannya," Andra menoleh Senja dengan senyum haru.


"Baiklah, Nak. Terimakasih banyak ya, Bapak ndak tau lagi harus bagaimana jika tidak ada kamu," netra Pak Sapto berkaca-kaca. Merasa terharu dengan ketulusan anak-anak mereka.


"Sudah? Dramanya?" decak Bu Muti kesal. "Kalau sudah, ya buruan kalau memang mau dilunasi, jangan hanya kebanyakan gaya, tau- taunya omong doang," sinis wanita itu.


Suami Bu Muti menyerahkan kwitansi dan beberapa lembar kertas perjanjian hutang piutang. Andra membaca dengan seksama surat itu, tak lama dari bibirmya tersungging senyum yang entah apa artimya, hanya dirinya sendiri yang tau.


"Ck. Astaghfirulloh, manusia seperti mereka memang sangat licik. Bisa-bisanya membodohi orang baik dan lugu seperti bapak dan ibu mertuaku. Tapi tak apa, akan ku lunasi semuanya agar tak ada lagi rasa hutang budi antara bapak dan ibu pada orang-orang ini,"


"Baik, saya akan lunasi semuanya,"


Melototlah mata kedua orang yang gila harta itu, tak sia-sia percobaan iseng-iseng berhadiah mereka ternyata akan membuahkan hasil.


"Mau cash, cek atau transfer?" Andra sudah standbay memegang ponsel di tangannya. Bersiap untuk menghubungi seseorang yang hanya dirinya saja yang kenal.


Kedua pasutri di hadapan mereka saling pandang, saling melempar tanya melalui telepati. Jangan tanyakan Lukman, karena laki-laki itu sudah merasa tak punya muka di hadapan orang yang baru saja menyewa jasanya itu. Ingin rasanya ia menghilang begitu saja dari sana.


"Kalau cek, bisa saja itu palsu," masih terdengar nada meremehkan dari mulut Bu Muti.


Andra hanya tersenyum tipis menanggapi, tak bermaksud menjawab.


"Sementara kalau transfer, bisa saja kamu menipu kami," lagi-lagi hanya ucapan tuduhan yang keluar dari mulut pedas seorang wanita yang katanya akan segera menjadi nenek itu.

__ADS_1


"Lalu?"


"Kita mau uang tunai saja,"


"Setidaknya kalau uang tunai'kan sedikit kemungkinan aku akan ditipu,"


Begitulah kalau orang yang fikirannya buruk, menilai orangpun akan selalu buruk. Mungkin itu karena ia memposisikan orang lain sama seperti dirinya juga, sehingga membuat ketenangan malah menjauh darinya.


Netra Senja kian membulat, "mana ada bank yang buka di jam segini, Bude? Ini sudah sangat larut."


Andra menggenggam tangan Senja yang berada di sampingnya, lalu mengangguk pelan.


"Baik, tunggu sebentar. Saya akan menghubungi orang kepercayaan saya,"


Hampir satu jam lamanya mereka semua menunggu, bahkan Bu Muti sudah mulai curiga dan mendumal tak henti-henti.


Bagaimana tidak lama, untuk menyiapkan uang cash yang jumlahnya sangat banyak bagi Senja dan kedua orangtuanya. Apalagi di jam yang hampir tengah malam, tidak mungkin ada bank yang buka untuk menarik uang tunai.


Tapi Andra yang memiliki bisnis besar dan luas di bidang swalayan, supermarket dan masih ada lagi yang lainnya, bisa mengatasinya.


Tak lama kemudian datanglah dua buah mobil hitam, dan dari dalam masing-masing mobil keluar dua orang laki-laki berpakaian satpam. Mereka membuka bagasi mobil, lalu keempat satpam tersebut membawa masing-masing satu kardus berukuran lumayan besar.


Kardus-kardus tersebut diletakkan di lantai berjajar rapi. Maklumlah, meja di ruang tamu keluarga Senja hanya ada satu meja kaca berukuran kecil, itupun sudah penuh dengan surat-surat juga uang dan perhiasa milik Bu Retno.


Satpam-satpam yang merupakan orang kepercayaan Andra berbaris di depan kardus-kardus yang mereka letakkan tadi. Satu diantaranya membuka suara melaporkan akan apa dan berapa jumlah yang mereka bawa tersebut.


"Terimakasih,"


Bertambahlah tanda tanya besar dibenak Senja tentang suaminya. Mungkin yang lainnya juga, tapi itu merupakan urusan pribadi Andra yang menurut mereka tidak perlu tau.


"Silahkan Bu Muti, dan Pak-"


"Minto,"


"Ya, kalian bisa menghitung uang yang ada di kotak-kotak itu, pastikan tidak kurang 1 lembarpun, saya tidak ingin kalian mengungkitnya lagi suatu hari nanti," tegas Andra dengan suara pelan.


Pasangan suami istri yang memang sudah menunggu-nunggu hal itu langsung berhambut duduk di lantai dan mulai membuka kotak yang berjajar rapi tadi. Rupanya kotak itu bikan kardus, melainkan kotak kayu yang menyerupai kardus.


Begitu melihat apa yang ada di dalamnya, mata Bu Muti dan Pak Minto seketika berbinar dan hendak melompat masuk kedalamnya. Dengan semangat 45 mereka menghitung gepok demi gepoknya, hingga lupa mereka berada dimana dan ada siapa saja. Mereka layaknya anak kecil yang mendapat mainan yang sangat diinginkan.


Setelah selesai dengan ritual perhitungan, Bu Muti berdiri dan mengahampiri Andra. Ia mengambil tangan Andra lalu menjabatnya erat, jangan lupakan bibir yang lemes sejak tadi kini menyunggingkan senyum lebar dan dibuat semanis mungkin yang membuat Bu Wati serasa ingin muntah.


Bu Wati baru saja terbangun dari mimpi dadakannya karena mendengar suara mobil datang.

__ADS_1


"Sudah genap, Nak Andra. Terimakasih ya, kalau begini kan Bude dan Pakde bisa tenang menjalani masa tua kami tanpa takut kekurangan,"


"Sekarang aja manggil Nak-Nak, pas udah di colok matanya pakek uang bergepok-gepok. Nggak inget apa tadi ngehina terus, mencela, meremehkan, merendahkan," gerutu Bu Wati dengan gaya menyor-menyornya.


"Bude Wati," tegur Senja pelan meskipun dalam hatinya juga membenarkan apa yang dikatakan tetangga ibunya itu.


"Maaf, Senja. Abisnya Bude kesel banget kalau ingat gayanya yang jutek, judes dan sombongnya selangit itu sejak tadi sore,"


"Ekhem." Andra berdehem, Bu Wati terdiam begitupun Bu Muti yang berhenti berterimakasih pada Andra.


"Silahkan tanda tangani surat perjanjian ini!" Andra menyodorkan map yang tadi dibawakan oleh salah satu satpam.


"Disini tertulis jika semua hutang ataupun pinjaman yang Anda berikan pada keluarga Senja sudah lunas seluruhnya. Dan Anda tidak boleh mengingkarinya lagi,"


Bu Muti setuju, dengan cepat ia tanda tangan tanpa membacanya terlebih dulu. Ia sudah percaya pada Andra sebagaimna ia mempercayai uang yang Andra berikan padanya.


Setelah semuanya selesai, Bu Muti meminta Lukman membawakan dan memasukkan semua uang itu ke dalam bagasi mobilnya. Setelahnya mereka pergi dengan sedikit basa basi.


"Kalau begitu, saya juga pamit ya Mas Andra, Senja, Paklik, Bulik semuanya. Tolong maafin bapak dan ibu mertua saya atas apa yang mereka lakukan pada keluarga kalian," pamit Lukman.


"Kamu tidak perlu minta maaf, Lukman. Kamu tidak bersalah apapun," Pak Sapto menepuk pundak Lukman. "Cukup tolong bantu sadarkan dan bimbing Mbakyu Muti, walaupun bagaimanapun beliau tetaplah kakakku satu-satunya,"


Lukman memgangguk, "saya akan berusaha semampu saya, Paklik."


"Terimakasih, hati-hati di jalan ya. Titip salam untuk istrimu, semoga diberi kelancaran saat lahiran nanti,"


"Terimakasih, Paklik. Saya pamit semuanya, assalamu'alaikum," ucap Lukman setelah menyalami semua orang yang ada disana.


Semua orang yang tadi berdiri di teras rumah guna mengantar kepulangan tamu tak diundang itu berbalik dan mengernyit heran melihat keempat satpam yang masih setia berdiri di tempat semula.


Andra menepuk keningnya, merasa geli karena lupa memberi perintah lanjutan pada keempat orang kepercayaannya itu.


"Terimakasih atas kerja keras kalian malam ini, silahkan kembali ke tempat kalian masing-masing."


"Baik, Tuan. Kami permisi,"


Empat satpam itu berbalik kompak dan membubarkan diri menuju mobil yang tadi mereka kendarai. Bu Wati pun ikut pamit setelahnya.


Tinggal keluarga inti Senja. Pak Sapto dan Bu Retno kembali berterimakasih pada menantu mereka.


Malam terus beranjak, jam sudah mulai menunjukkan pukul 1 dini hari. Orang tua Senja sudah berada di kamar mereka, begitu pula Senja dan Andra yang sudah masuk ke kamar Senja.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2