
...Semat Membaca😊...
...----------------...
Sehabis sholah subuh, Senja masih tersenyum-senyum sendiri menatap dirinya di cermin kamar tamu di rumah eyang yang di tempatinya selama menginap disana. Ia memegangi kedua pipinya yang terasa panas dan memerah, "kenapa pipiku memerah dan terasa panas? dadaku juga berdebar-debar," kini tangan kanannya beralih pada dadanya.
"Mas Andra, kenapa kamu cool banget sih, jadi gumush pengen uyel-uyel rambut berantakanmu itu," gumamnya membayangkan wajah Andra tadi yang begitu menawan dengan rambut yang acak-acakan.
Namun semenit kemudian ia tersadar dan menepuk-nepuk pelan pipinya sendiri, "eh astaghfifulloh.. belum halal Senja, sadar woy!"
"Rasanya jadi pengen cepet-cepet di halalin, hihi.." lanjutnya dalam hati.
"Mending aku keluar ajalah, bantu-bantu Mbak Asih, daripada makin ngaco," Senja beranjak sari duduknya dan keluar kamar untuk mencari kegiatan lain daripada sibuk menghayal.
(Emang Author yang kerjaannya mengkhayal..😅)
(Waah, ngajakin gelud nih🤬)
...----------------...
Setelah sarapan pagi yang penuh keseruan dan kelucuan akibat dari ulah kwarted gaje, kini ketiga keluarga (termasuk keluarga Om Arman) berkumpul di pendopo taman belakang untuk melanjutkan kembali perbincangan semalan yang sempat tertunda.
"Bagaimana Andra, Senja.. apa sudah di pikirkan mau menikah dalam jangka waktu dekat ini atau berapa bulan lagi?" Tanya Pak Herman membuka obrolan pagi itu. Obrolan serius namun dalam nuansa santai.
Sejenak Andra dan Senja saling pandang, seakan bertanya tentang pendapat masing-masing. Senja hanya tersenyum malu dan mengangkat tangannya, mempersilahkan Andra menjawab pertanyaan dari ayahnya.
"Menurut Adek gimana? Mas Andra menurut saja," jawab Andra dengan suara pelan dan pandangan matanya menatap Senja lembut.
Senja menundukkan kepalanya dan bergumam dalam hati, "aih Mas Andra.. kenapa nanya sama aku sih, mana nglihatinnya kayak gitu lagi. Masak iya aku harus jawab 'cepet aja Mas, biar cepet halal'. Ya 'kan malu.."
"Cepet aja Yah, mereka itu udah gak tahan sebenernya. Buktinya tadi pagi aja mereka berdua udah saling meraba di kegelapan," sahut sebuah suara dari arah dekat kolam renang. Sontak Andra, Senja dan semua yang ada disana menoleh ke sumber suara, dan mendapati Angga duduk di kursi santai samping kolam dengan ekspresi tanpa dosa. Andra melotot menatap sang kakak yang balik tersenyum manis ke arahnya, sedang Senja membelalak tak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh calon kakak iparnya itu, bisa-bisanya dia bicara yang tidak-tidak tentang mereka.
"B-bukan seperti itu kejadiannya Pak, Buk, dan semuanya.."
"Bukan begitu sebenernya Om, Eyang, semuanya.."
Ucap kedua orang itu bersamaan dengan tangan mereka yang juga sama-sama bergerak pertanda tidak dengan menatap semua orang.
Orang-orang yang ada disana menahan tersenyum melihat kepanikan kedua pasangan itu.
"Terus gimana yang sebenarnya?"
"Beneran juga nggak papa kok,"
Sahut Pak Herman dan Om Arman berbarengan pula, mereka menoleh pada ayah juga om Arman.
"Itu salah faham aja Om," jawab Andra pada Om Arman namun dengan wajah menghadap kedua orang tua Senja, ia tak ingin calon mertuanya salah faham kepada dirinya.
"Tadi pagi sebenernya Senja mau nyari saklar ruang tengah, tapi karena gelap dan Senja nggak hafal letaknya jadi ya ngeraba dinding, nggak taunya Mas Andra juga.. jadi ya gitu," jelas Senja pelan. Ia sangat tidak suka dengan kesalah pahaman meskipun itu hanya sebuah guyonan (candaan).
"Gitu gimana maksudnya," Bayu ikut-ikutan menggoda mereka.
__ADS_1
"Gitu-gitu Mas Bayu.. kamu mau tau?" ujar Nick menimpali.
"Menangnya Mas Nick tau gitu-gitunya gimana?" jawab Angga, dan mulailah obrolan akward mereka yang unfaedah.
Eyang menggelengkan kepalanya melihat ketiga cucunya mulai bercanda dengan kalimat-kalimat konyol mereka.
"Sudah, sudah!" ucap eyang dengan lantang. "Kalian ini, bercandanya ndak lihat-lihat situasi. Kita semua disini lagi serius lho!" tegas eyang membuat ketiga pemuda itu langsung kicep.
"Maaf, Eyang," ucap ketiganya serempak.
Andra dan Senja menahan senyum geli mereka.
"Kamu kenapa malah senyum-senyum begitu Ndra? sudah di pikirkan jawabannya?" Disaat tertentu eyang memang bisa bersikap tegas, dan kalau sudah begitu siapapun akan langsung terdiam dan menunduk menurut.
Andra mengangguk memantapkan hati dan menjawab pertanyaan eyang, "sampun (sudah) Eyang,"
"Bagus! Bagaimana keputusan kamu?"
Bismillah ucap Andra dalam hati sebelum menjawab pertanyaan eyang. "Secepatnya saja, Eyang. Biar tidak terjadi fitnah seperti yang di katakan Mas Angga tadi," jawab Andra mantap dengan menunjuk sang kakak dengan ibu jarinya.
Angga mengerutkan kening mendengar jawaban adiknya, "kenapa gue yang di tumbalin? bilang aja lo udah ngebet pengen nikah,"
"Bagaimana menurut kamu Nak Senja?" eyang menoleh pada Senja yang menunduk.
"Senjq menurut saja Eyang, keputusan Mas Andra adalah keputusan saya juga," jawab Senja masih dengan menundukkan kepalanya malu. Dalam hatinya ia bersorak kegirangan karena jawaban Andra sesuai dengan apa yang di harapkannya. Bukan karena ia sudah ngebet kawin, tapi ia sadar umurnya sudah cukup untuk menikah, dan agar ia bisa secepatnya melupakan sosok 'Mas ganteng' yang tidak tau dimana rimbanya. Juga sesuatu yang baik itu memang sebaiknya secepatnya di laksankan bukan, bukan malah di tunda-tunda.
Eyang dan semuanya mengangguk-angguk, mengagumi Senja yang sudah menurut dengan keputusan Andra meskipun mereka belum menikah.
"Kami hanya bisa merestui dan mendo'akan yang terbaik untuk anak-anak kami, Bu," jawab Pak Sapto mewakili keluarganya.
"Alhamdulillah.." ucap semua yang ada serempak.
"Alhamdulillah, kalau semua sudah sepakat. Sekarang biar saya dan para tetua yang mencari hari baiknya." Eyang segera meminta Pak Santo untuk menjemput para sesepuh dan juga ustadz.
"Injeh, monggo Bu.. " (iya, silahkan Bu..) ujar Bu Retno mempersilahkan.
Sementara Eyang berembug dengan para tetua, mencari hari dan tanggal baik menurut agama dan kejawen, yang lainnya hanya diam memperhatikan. Dalam kejawen, para tetua biasanya mencari hari dengan menyesuaikan weton (hari lahir) dari kedua mempelai, sedangkan dalam agama, semua hari itu baik, namun tetap saja pak ustadz mencarikan hari yang terbaik sesuai dengan primbon jawa yang di pakai tetua.
Setelah hampir satu jam para sesepuh dan ustadz berjibaku dengan hari, tanggal dan kalender, kini telah di temukan hari yang cocok untuk acara ijab kabul Andra dan Senja. Yakni hari Jum'at wage tanggal 2 Juli.
"Jadi itu sekitar dua bulan lagi ya.."
"Iya, insyaallah cukup buat persiapan,"
Percakapan ibu-ibu calon besan pelan.
"Acara ijab qabul jam 8 pagi, sedangkan resepsinya jam 1 siang sampai dengan selesai." Penetapan yang di sampaikan eyang sangat jelas ditelinga omsemua orang. (Yang mau dateng silahkan ya, insyaallah nggak sampe bener-bener nunggu tanggal 2 Juli kok😌).
"*Dua bulan lagi, kok rasanya bakalan lama ya. Kenapa nggak besok aja sih.."
"Heh Andra, yang bener aja lo! masak iya besok, kenapa nggak sekarang aja sekalian*."
__ADS_1
Ego Andra yang berada di kanan kirinya saling berdebat.
"Dua bulan lagi pasti bakal cepet kok, buat persiapan juga nggak kerasa pasti tau-tau sampai harinya."
♡♡♡
Esok harinya, keluarga besar eyang langsung merencanakan segala sesuatu untuk keperluan pernikahan Andra, seakan mereka tak mempunyai rasa lelah sedikitpun paska pesta pertunangan Andra kemarin lusa. Mereka tetap saja antusias mempersiapkan pesta penikahan penerus keluarga Pradipta itu. Karena saat pernikahan Angga dulu diadakan di Jakarta dan di atur oleh mantan istri Angga beserte keluarganya, sedangkan saat ini keluarga Senja hanya menurut dengan semua rencana keluarga Andra.
Senja beserta kedua orang tuanya sudah langsung undur diri kemarin setelah acara rembugan selesai, mereka juga ingin mengabari saudara-saudara mereka agar tidak terkesan mendadak.
Kemarin dengan sigapnya Andra menawarkan diri untuk mengantarkan pulang Senja beserta calon mertuanya. Sekalian pendekatan lah ya, biar nggak terlalu kaku. Andra sempat mampir juga sebentar di rumah Senja. Gadis itu mengajak calon suaminya berkeliling pekarangan rumahnya yang tidak terlalu luas namun asri. Andra memperhatikan setiap apa yang Senja tunjukkan padanya.
"Ini tanaman-tanaman yang menjadi sumber penghasilan kami selama ini, Mas," ucap Senja memberi tahu Andra.
"Iya aku tau semuanya tentangmu dan keluargamu, Dek," jawabnya dalam hati. Terang saja dia tahu, karena selama ini kan dia selalu memantau Senja tanpa sepengetahuan gadis itu.
"Mas Andra suka tanaman nggak?"
Andra mengangguk pelan dan menjawab 'iya'.
"Terus suka nanam-nanam juga nggak?"
Entah kenapa kecrewetan Senja mendadak kambuh kali ini. Mungkin karena ia menyadari jika Andra hanya akan diam saja jika tidak diajak berbicara, juga untuk mengusir kecanggungan di antara mereka.
Kini Andra hanya tersenyum tanpa menjawab, ingin jujur jika tak pernah, takut jika gadis itu akan tersinggung. Kalau bohong, takut dosa membohongi calon istri, jadi ia memilih tak menjawabnya saja.
"Bentar ya Mas," Senja berjalan kearah keran dan mengambil selang lalu mulai menyirami tanamannya yang tanahnya mulai mengering karena di tinggal menginap dua hari di rumah Andra kemarin dan tidak ada yang menyiraminya.
Andra memperhatikan setiap gerakan Senja yang lincah dan telaten menyirami setiap tanaman yang ada. Ia senyum-senyum sendiri kala melihat gadisnya mencium bunga-bungaan, namun ia bergidik saat tiba-tiba Senja mengambil hewan dari sela-sela tanaman sayurannya.
"Kenapa, Mas?" tanya Senja saat melihat Andra meringis.
"I-itu.." Andra menunjuk pada binatang yang ada di sela ibu jari dan jari telunjuk Senja.
"Oh ini, ini bekicot Mas.. Mas Andra belum tau?" Senja mendekatkan hewan kecil itu pada Andra. Tanpa disangka calon suaminya itu bergidik geli dan langsung berlari menjauh darinya.
Sontak hal itu membuat Senja tertawa, bagaimana bisa seorang lelaki dewasa seperti Andra takut dengan binatang kecil seperti bekicot. Senja belum tahu saja jika Andra memanglah alergi terhadap berbagai jenis serangga, bahkan beberapa hewan berbulu juga.
.
.
Bersambung
Nantikan detik-detik kisah percintaan unik antara Andra dan Senja. Insyaallah akan dimulai pada bab selanjutnya.
Karena memang begitulah perjalanan seorang pengagum rahasia ya, kalau soal bucin, selama ini Andra udah bucin kan ya, meskipun Senja nggak tau.
Selalu Author tunggu dukungan dari kalian, like, komentar, love, vote nya juga boleh😊
Terimakasih🙏
__ADS_1