Pengagum Rahasia Senja

Pengagum Rahasia Senja
Semarang


__ADS_3

Setelah perdebatan dan pertimbangan beberapa belah pihak, akhirnya pasutri itu Bayu bawa menuju Semarang terlebih dahulu. Pasalnya, tadi begitu Bayu mengecek jadwal tour mereka, ternyata bertabrakan antara ke Semarang atau ke Raja Ampat terlebih dahulu.


Saat Bayu menghubungi eyang dan Angga, keduanya sempat bersikukuh untuk mengajak Andra dan Senja ke tempat pilihan mereka masing-masing. Tapi tau sendiri lah ya.. mana ada yang bisa mengalahkan eyang. Jadi mau tidak mau Angga harus mengalah dengan sang nenek, dan dia pun terpaksa mengundur jadwal untuk kedua adiknya itu pergi ke Raja Ampat.


Alhasil, disinilah mereka. Sebuah mobil beserta supir yang sudah di sediakan oleh sang nenek sudah menjemput mereka di Bandar Udara Internasional Ahmad Yani, Semarang. Sebelum ketiga orang tersebut mendarat. Supir itu membawa mereka melaju melewati jalanan kota Semarang sebelum pada akhirnya sampai di desa tujuan, yakni tempat tinggal nenek dan kakek Andra dari pihak sang ibu.


Wajah Senja semakin nampak antusias manakala mengetahui tujuan mereka selanjutnya adalah Semarang. Karena ia memang sangat merindukan kota kelahirannya tersebut. Sejak ia beserta keluarganya pindah ke Jogja, memang sangat jarang ia berkunjung ke Semarang, bahkan bisa dihitung dengan jari dalam beberapa tahun ini.


"Semarang.. i'm coming...." pekiknya dalam hati.


Andra yang sejak tadi memperhatikan raut wajah sang istri pun ikut menyunggingkan senyum. Tanpa ia sadari berapa banyak rahasia yang di simpan oleh tempat tersebut. Memang tidak ada yang merahasiakan apapun sebenarnya, tapi seakan semuanya tersembunyi karena tidak saling mengetahui. Tepatnya Senja yang tidak tahu.


Andra mengernyit saat menyadari mobil yang mereka naiki masuk ke pedesaan, karena sebelumnya tidak ada informasi apapun dari Bayu untuknya.


"Ini jalan ke rumah mbah putri kan, apa kita di suruh nginep di rumah mbah putri? apa yang di rencanain eyang sih?"


Senja membuka kaca jendela mobil, pandangannya terarah pada pemandangan diluar sana. Sekejap ia memejamkan mata dan menghirup udara dalam-dalam.


"Udara ini, bau persawahan dan empang yang khas. Membuatku serasa kembali pada masa-masa itu. Masa kecil yang penuh keceriaan meski dalam kesederhanaan,"


Setelah membuka mata ia sontak menoleh ke arah Andra yang berada di sampingnya, "kita mau ke rumah simbah ya, Mas?"


"Emm-" belum lagi Andra menjawab, Bayu dengan segera menyahutinya.


"Iya, Nja. Kata eyang, kita disuruh silaturahmi dulu ke tempat mbah putri sama mbah kakung. Semenjak nikah kalian belum pernah datang kesini kan?" Senja mengangguk, "nah, maka dari itu. Sebelum kita ke tempat kalian lanjut 'HONEYMOON' nanti, kita singgah kesini dulu," jelas Bayu dengan menekankan kata honeymoon, yang mana membuat Andra reflek melempar keripik yang di pegangnya pada Bayu.


"Asem, lo!" ucap Andra tanpa suara saat Bayu menoleh padanya, dibalas dengan juluran lidah oleh Bayu.


"Berhenti di depan sebentar, Pak." Senja berkata pada sang supir, matanya yang sedari tadi memperhatikan keadaan luar kini menangkap adanya sungai dengan air yang jernih terletak agak di bawah sana, tak terlalu jauh dari jalan aspal yang mereka lewati.


Sang supir menurut, setelah ada tempat kosong untuk berhenti mobil itupun menepi. Bayu dan Andra diam ikut memperhatikan sekeliling sambil bertanya dalam hati, mau apa berhenti disini, pikir mereka.


Senja langsung turun begitu pintu terbuka, tangannya terentang, mata terpejam, ia hirup dalam-dalam udara segar yang bersedia memasuki rongga hidungnya. Sesaat kemudian ia membuka mata, dan tanpa aba-aba gadis itu berlari menuju dimana sungai tersebut berada.


Gerakan cepat Senja yang sama sekali tak di duga oleh yang lain pun lantas membuat mereka terkejut sekaligus panik bukan main.


"Mau kemana lo, Nja??" reflek Bayu berteriak sekuat tenaga.


Sedangkan Andra langsung mengejar istrinya tersebut sebelum semakin jauh.


"Pada mau mandi di sungai ya, Mas?" tanya sang supir yang sedari tadi hanya memperhatikan.


"Tau ah, ayo susul! Ntar keburu pada ilang, kita juga yang di salahin," sewot Bayu.


"Lah kok, jadi saya?"


"Udah ayo cepataan," ajak Bayu sambil memakai sepatunya yang sedari tadi ia tanggalkan di mobil karena merasa gerah.


Bayu celingukan begitu sampai di tepi sungai, "pada kemana tu orang berdua, nggak boleh liat sungai dikit aja langsung kumat jiwa bolangnya,"


"Tunggu Mas Bayu, tunggu.." teriak pak supir yang tertinggal jauh di belakang.


Sayup-sayup terdengar suara seseorang bersenandung,


...🎵...


...Lir ilir lir ilir tandure wes sumilir...

__ADS_1


...Tak ijo royo-royo...


...Tak sengguh temante anyar...


...Cah angon cah angon...


...Penekno blimbing kui...


...Lunyu-lunyu penekno ...


...Kanggo mbasuh dodotiro...


...Dodotiro dodotiro...


...Kumitir bedah ing pinggir...


...Dondomono jlumatono...


...Kanggo sebo mengko sore...


...Mumpung padang rembulane...


...Mumpung jembar galangane...


...Yo surak o surak hore. . ....


...🎵...


Andra memperhatikan sesosok wanita yang asyik bermain air sambil bersenandung merdu. Itulah Senja, sang istri. Begitu sampai di tepi sungai, gadis itu langsung melepas sepatunya dan duduk di sebuah batu yang ada di tepi sungai dengan kaki yang sudah terendam hingga betis.


Sungai yang sangat jernih airnya, mengalir pelan menuju tempat dimana berkumpulnya mereka nanti. Ikan-ikan kecil nampak asyik berkejaran kesana kemari. Senja tersenyum menyaksikan pemandangan di hadapannya. Terlintas dalam ingatannya saat dulu ia sering sekali menangkap ikan-ikan itu untuk dijadikan lauk makan.


"Iya, Mbak. Ayo Mbak, aku dari sini, Mbak cegat sebelah sana ya*,"


Suara tawa ceria anak-anak kecil terngiang di ingatannya, bagaimana bahagianya masa kecilnya dia di sungai tersebut, yang kini sudah berubah. Bahkan ia harus turun lebih jauh untuk bisa sampai di tempat itu. Dulu semuanya adalah sungai-sungai kecil temlat untuk mandi, mencuci pakaian.


Sekarang sudah berubah, bagian atas sudah di bendung dan di jadikan kolam renang alam, di bawahnya di jadikan pemancingan. Semua ulah pejabat desa yang haus akan materi. Dan para penduduk harus bersudah payah jika ingin menikmati keindahan sungai itu lagi.


"Ngapain Si Senja, Bos?" Bayu yang baru saja sampai menepuk pundak Andra daei belakang.


"Nostalgia,"


"Maksu-"


"Disinilah tempat kita bertemu dulu, Bay. Tempat dia menjadi pahlawan gue, dan menjadi wanita impian gue untuk pertama kalinya," Andra memutar pandangan melihat sekeliling, "tapi udah sangat berubah sekarang, bukan karena alam, melainkan karena ulah manusia yang ingin meraup untung,"


Ada sedikit sesal dalam ucapan Andra, karena ia dapat menangkap raut kesedihan di wajah sang istri saat ini, ketika ia sampai di tempat itu tadi.


"Wallah, pada mau ngapain to kesini. Mbok ya bilang kalau mau ke sungai," keluh pak supir yang masih ngos-ngosan,


"Mau mandi apa mau mancing, Mas? biar tak pinjemin alatnya kalau mau mancing, kalau mau mandi tak pinjemin kuncinya. Soalnya biasanya ramainya kalau pas sabtu minggu aja, jadi kalau hari biasa seperti ini tutup," tutup supir itu panjang lebar.


"Kok kamu tau?" tanya Bayu.


Supir itu nyengir, "kan saya sama teman saya yang jaga biasanya, Mas."


"Owalah, ra omong mau-mau (gak ngomong dari tadi)," sungut Bayu.

__ADS_1


"Mas'e yo takon ox, (Masnya gak tanya kok)," balas si supir tak mau kalah.


"Btw, mas'e itu Andra to?" reflek Andra menoleh saat mendengar pertanyaan si supir pada Bayu.


"Kok tau?"


"Lo bener to," bukannya menjawab pertanyaan Bayu, sulir tersebut malah tertawa gembira seperti bertemu teman lama yang sempat hilang.


Andra masih diam memcernq dan nampak mengingat-ingat sesuatu, "emang aku kayak kenal sih sama kamu, tapi siapa ya?"


"Wah, lali to ambek aku? Aku Rudi lho, kancane Bagas, Indra, mbiyen awak dewe dolan bareng lo nek pas kowe dolan rene," ucap si supir yang ternyata Rudi itu mencoba menjelaskan.


(Wah, lupa ya sama aku? Aku Rudi loh, temennya Bagas, Indra, dulu kita sering main bareng kalau pas kamu main kesini)


"Rudi? O ya, ya inget. Temennya Bagas cs kan?"


"Iya, bener.."


"Sorry, sorry.. aku nggak terlalu merhatiin sejak tadi, gimana kabar?" tanya Andra mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Rudi.


"Apek (bagus), kamu pas kecil aja udah ganteng, sekarang makin ganteng aja, udah sukses juga kayaknya yo?"


"Alhamdulillah, begini aku apa adanya," jawab Andra merendah.


"O ya, bagaimana teman-teman yang lain?"


"Bagus, ada yang kerja di hongkong, ada yang kerja di dekat-dekat sini, itu di SA swalayan,"


"Disini juga ada SA swalayan?" sahut Senja yang tiba-tiba muncul di belakang Andra sambil memegang pundaknya, membuat sang empu berjingkat kaget.


"Ada, Mbak'e mau kesana?"


"Kok koyo kenal karo bojone Andra iki, ning'e sopo?"


"Boleh nanti mampir dulu sebelum balik tapi sekarang akau mau keliling tempat ini dulu dong, mungkin mancing, atau nyoba perahu itu, boleh?" tunjuk Senja pada sebuah perahu karet yang terletak di kolam pemancingan yang luas disana.


"Boleh, boleh banget Mbak. Mau renang, mancing, selfi, nyuci juga boleh disini, bebas," antusias Rudi menjawab pertanyaan Senja.


"Bentar tak nelpon temenku buat antar kunci gudang dulu, kalian boleh duduk-duduk dulu di gazebo sebelah sana," tunjuk Rudi pada sebuah gazebo di samping kolam renang alami.


"Tak nelpon Bagas, paling dia ingat sama cewek itu. Benar seperti dugaanku apa ndak," Rudi berjalan menjauh hendak menelpon temannya.


"Si Rudi inget Senja nggak ya? Kalau inget bakal heboh nggak? terus nanti Senja bakal gimana reaksinya," tanpa sadar ada yang cemas setengah mati dengan keadaan yang ia rasa tak aman baginya. Kakinya terus bergerak tak tenang.


"Mas Andra kenapa? kebelet pipis?"


"Ha? apa, Dek?"


"Mas kenapa itu kakinya kayak gitu, apa mau pipis? Mas mikirin apa sih? orangnya disini tapi kok pikirannya kayak nggak disini," ini pertama kalinya Senja bicara senyeplos itu pasa sang suami.


"Lagi panik dia, Nja. Mikirin gimana mau honeymoon yang sesungguhnya sama kamu," sahut Bayu seenak jidat, bahkan pandangannya tak lepas dari ponsel yang di genggamnya.


"Auuwwss, sakit Bos!"


.


.

__ADS_1


.


Bersambung..


__ADS_2