
...Selamat membaca😊...
...----------------...
Pantai Parangtritis Yogyakarta, menjadi saksi bisu keputus asaan Andra. Sepanjang malam ia merenungi kejadian hari kemarin, tanpa menghiraukan rasa dingin angin laut yang menusuk kulit. Tanpa merasakan kantuk yang biasanya menghinggapi saat malam telah tiba. Apa memang hal itu terjadi karena kesalahannya yang tak pernah mengutarakan perasaannya yang sesungguhnya pada Senja? Apa karena dirinya yang terlalu pengecut yang hanya bisa bersembunyi dalam bayangan masa kecil mereka, dan kini ia hanya bisa memandang Senja dewasa dalam kejauhan? Apa jika dirinya mengutarakan perasaannya pada Senja, maka gadis itu akan mengingat dan menerimanya? Ataukah dirinya memang harus menyerah sampai disini saja? Apa memang itu yang terbaik untuk mereka?
"Enggak! Aku nggak boleh nyerah sebelum tau perasaan Senja terhadapku. Aku nggak akan menyia-nyiakan pengorbananku selama ini." Andra bergumam sendiri, ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Tatapan matanya menatap lurus pada hamparan lautan luas. Pagi yang menjelang menampakkan sinar mentari yang indah, seakan memberi semangat kepada Andra untuk kembali bangkit.
"Tapi.. bagaimana caranya agar aku bisa mengeteahuinya? apa aku harus mengutarakannya secara langsung padanya?" Andra masih bertanya pada dirinya sendiri, " tidak mungkin, apa aku punya keberanian sebesar itu untuk berhadapan dengannya?" Dan menjawab pertanyaan itu sendiri pula.
"Oh Tuhan.. tolonglah hambamu yang lemah tak berdaya ini, berikan sedikit saja rasa percaya diri padaku untuk bisa menatap wajahnya secara langsung."
"Oke, aku melakukakan sesuatu, semangat Ndra! Kamu pasti bisa!"
Usai berdebat dengan pemikirannya sendiri, Andra segera beranjak dari atas pasir dan menuju motornya yang terparkir tak jauh dari tempatnya tadi. Sebelum mengenakan helm, ia sempat melihat sekilas bayangan wajahnya di kaca spion, ia pun kembali berkaca dan terkejut melihat pantulan wajahnya sendiri.
"Astaghfirulloh.. ini gue?"
Mata sembab, wajah kusam, rambut kusut. Baru juga semalam ia merasa kalut, tetapi dirinya sudah menjadi sekacau itu. Lalu ia memutuskan untuk mencari pakaian dulu untuk ganti dan menuju toilet umum sebelum kembali ke kota. Karena jika ia kembali dalam keadaan seperti itu, orang-orang bisa takut melihatnya karena di kira zombie. Setelah merasa segar kembali, ia langsung melancarkan aksinya.
......................
"Hmm, hari minggu pagi yang indah.." Senja membuka pintu kamar di rukonya lebar-lebar agar sinar mentari pagi dapat masuk ke dalamnya. Ia keluar dan menyapa tanaman bunga kesayangannya, "morning bunga-bunga crysan ku.."
Disaat yang bersamaan ia melihat seseorang dengan penampilan tertutup dengan membawa kotak kado berjalan menuju tokonya. Dengan cepat Senja berbalik dan segera turun untuk dapat mengetahui siapakah gerangan sang pengagum rahasia yang selalu menaruh paket di depan tokonya setiap minggu itu. Tapi lagi-lagi terlambat, secepat apapun ia berlari menuruni tangga, masih kalah cepat dengan orang yang meninggalkan kotak berukuran sedang di atas kursi depan tokonya tersebut.
"Huh huh huh.. udah di cepet-cepetin juga jalannya, masih aja gak ketangkep orangnya," nafas Senja ter'engah-engah sampai di lanatai bawah.
"Maafin aku, Senja. Aku belum berani menunjukkan siapa diriku padamu saat ini. Aku belum siap, ku harap kamu bisa mengerti dan mau menunggu sebentar lagi." Orang yang meletakkan paket itu masih bersembunyi di dekat toko Senja, jadi ia masih bisa melihat dengan jelas ekspresi Senja.
"Apa lagi kali ini?" gumam Senja sambil mengambil kotak kado dan membawanya ke dalam.
"Hah? Uuch, so sweetnya.." Senja mengambil sebuah boneka hello kitty yang membawa bantal hati di tangannya, juga ada buket bunga mawar berwarna warni di dalam kotak tersebut.
Di bantal hati yang berada di tangan boneka itu terdapat kertas surat bertuliskan 'sentuh aku, tekan sedikit lebih keras tepat di hatiku' . Senja mengernyit dan melakukan hal itu, mulai terdengar suara nyanyian dari sana.
...🎶🎶...
...Lihat aku di sini...
...Kau lukai hati dan perasaan ini...
...Tapi entah mengapa...
...Aku bisa memberikan maaf padamu...
...Mungkin karena.. Cinta.....
...Kepadamu...
...Tulus dari dasar hatiku...
...Mungkin karena.. Aku.....
...Berharap kau dapat...
...Mengerti cintaku...
...Lihat aku disini...
__ADS_1
...Bertahan...
...Walau kau slalu menyakiti...
...Hingga air mataku...
...Tak dapat menetes dan habis terurai...
...Mungkin karena.. cinta.....
...Kepadamu tulus dari dasar hatiku...
...Mungkin karena.. aku.....
...Berharap kau dapat mengerti cintaku....
...Meski kau terus sakiti aku...
...Cinta ini akan selalu memaafkan...
...Dan aku percaya nanti engkau...
...Mengerti bila cintaku takkan mati...
^^^Rama^^^
^^^Bertahan^^^
...🎶🎶...
*Senja..
Akulah orang yang selalu mengirimkan kado padamu..
Akulah orang yang selalu ada untukmu,
Meskipun kamu nggak melihatku, tapi aku selalu berada di dekatmu.
Maaf, jika aku terlalu pengecut untuk dapat mengungkapkan perasaanku kepadamu secara langsung.
Maaf, jika aku terlalu mengganggu hidupmu.
Maaf, jika aku belum bisa menampakkan diriku sampai saat ini.
Aku sendiri nggak tau, kenapa aku tak berdaya saat berada terlalu dekat denganmu.
Yang jelas, lagu tadi mewakili perasaanku terhadapmu. Kalau aku..
.......
.......
Sangat mencintaimu..
...Pemuja rahasiamu...
...A P...
Senja tak kuasa menahan air matanya saat mendengar rekaman yang dikirimkan oleh pengagum rahasianya, "kenapa suaramu begitu ku kenal? hu.. hu.."
__ADS_1
"Benarkah itu kamu, Mas?"
"Kenapa kamu gak ngomong langsung sama aku? jika itu benar kamu, aku pasti akan menerimanya." Senja terus berucap sambil terisak.
"Sekarang bagaimana aku harus membalasmu? Sedangkan aku nggak tau siapa kamu, dan dimana tempat tinggalmu." Gumam Senja saat sudah bisa sedikit meredakan tangisnya.
"Aku harap kamu akan secepatnya muncul di hadapanku, Mas.." pandangan Senja menerawang dengan memeluk boneka hello kitty tadi.
......................
Seminggu berlalu, kini tibalah hari ulang tahun eyang yang akan di selenggarakan di tempat Senja. Belakang rumah Senja yang kini telah di sulap menjadi sebuah taman mini yang terdapat berbagai macam tumbuhan bunga, buah dan juga sayuran. Berbagai jenis brung dan hewan peliharaan lainnya tak ketinggalan turut meramaikan taman belakang rumah Senja yang berbatasn langsung dengan sawah. Ya, Senja telah membeli sebidang tanah dan sawah yang terletak di belakang rumahnya, tujuannya untuk memperluas lahan tanamannya.
Dekorasi alami dari tanaman-tanaman Senja sudah berjajar rapi, memanjakan setiap mata yang memandangnya. Buah-buahan yang sudah masak dan siap di petik kapan saja, juga turut di tata sebagai hiasan.
Andra yang seminggu menghilang hanya memberi kabar kepada neneknya, jika dirinya baik-baik saja dan akan hadir pada saat ulang tahun sang nenek nanti, membuat eyang tak terlalu khawatir meskipun dirinya tak pulang. Itu berarti hari ini Andra akan datang? Eyang terus menyunggingkan senyumnya selama perjalanan menuju tempat Senja, membuat yang lain merasa heran melihatnya. Mereka hanya mengira jika eyang akan berulang tahun, dan hal itu yang membuatnya merasa gembira.
"Aku udah gak sabar mau ketemu cucu kesayanganku," ucap eyang dalam hatinya.
Setelah sampai di kediaman Senja, rombongan eyang sudah di sambut oleh Senja dan kedua orang tuanya. Merek membimbing eyang sekeluarga menuju taman belakang dimana telah di persiapkan segala sesuatunya untuk eyang. Namun ada satu yang mengganjal hati Senja manakala melihat Nick dan juga Angga ikut hadir menyertai rombongan tersebut.
"Nak Senja cucuku yang paling cantik.." eyang mencium pipi dan kanan Senja setelah gadis itu mencium punggung tangannya.
"Eyang sehat kan? Bapak sama Ibu juga?" tanya Senja kepada eyang juga kedua pasangan suami istri yang menyewa tempatnya tersebut. Matanya melirik pada dua pemuda di belakang Pak Herman dan Bu Ratih yang menampilkan senyum terbaik mereka. Kini ia baru mengerti jika mereka merupakan anak dan menantu dari eyang. Karena saat ke rumah eyang tak di dapatinya foto-foto keluarga besar. Entah mengapa eyang tak suka memajang foto keluarga di ruang tamunya, ia hanya menatanya di ruang khusus, atau ruangan pribadi keluarga.
"Alhamdulillah, Nak Senja. Kami sehat," jawab pasangan itu kompak.
"Waah.. indah banget ya dekorasinya. Ini kamu yang menatanya, Nak?" Bunda Ratih mengamati tempat sederhana namun rapi dan sedap di pandang mata hasil karya tangan Senja.
"Iya, Bu. Saya cuma merapikannya saja, kok."
"Ah, kamu terlalu merendah."
"Oh iya Senja, Eyang belum memperkenalkan kamu sama cucu eyang yang dua ini kan? Yang ganteng juga bandel." Eyang menarik lengan Angga lalu Nick untuk mendekat padanya. Senja tersenyum dan mengangguk.
"Yang bule ini namanya Nickolas, dia itu cucu Eyang yang tinggal di Amerika.." Senja mengangguk mengerti, lalu eyang beralih pada Angga yang berada di samping Nick.
"Kalau yang ini Angga, anak pertama dari anak sulung Eyang, Herman ini," jelas eyang menunjuk Pak Herman yang tersenyum ke arah Senja.
"Angga itu kakak dari Andra, cucu terkecil Eyang yang waktu itu liburan sama kita, ke pantai. Kamu inget, *to?"
Deg*
Senyum yang sedari tadi Senja sunggingkan mendadak menghilang.
"Itu berarti.."
.
.
Senja kenapa kaget gitu ya?
Hayo, siapa yang inget?
Boleh komen loh..
Sempatkan tinggalkan jejak setemah membaca ya..
Like, komentar positif, ❤ nya jangan lupa.
__ADS_1
Terimakasih😊🙏