
...Selamat membaca😊...
...----------------...
Semua orang itu kini duduk di ruang keluarga untuk bersantai sambil membahas hal-hal ringan. Setelah sebelumnya mereka makan siang bersama dalam kehangatan keluarga besar.
Berbagai macam jenis minuman dan makanan ringan tersaji menemani obrolan santai di ruangan itu. Para pemuda duduk di karpet bawah menikmati cemilan mereka sembari memainkan playStation 5 (PS5) secara bergantian, permainan yang di beli Andra saat kembali tinggal di rumah eyang. Karena sebelumnya hanya ada PS3 miliknya dahulu yang di tinggalkannya saat ikut tinggal bersama orang tuanya di Jakarta.
"Bunda lanjutin pertanyaan yang tertunda tadi deh. Nick, kapan kamu datang kesini, Nak?"
"Baru tadi pagi, Bu-.." Nick berhenti berkata untuk mengingat-ingat panggilannya terhadap ibu dari sepupunya itu.
"Budhe.." sahut Bayu masih tetap asyik dengan permainannya tanpa menoleh.
"Iya.. tadi pagi, Budhe." Ulangnya kaku.
Bu Ratih terkekeh mendengar pengucapan Nick yang terkesan memaksakan diri itu. " Panggil Bunda ajalah sama kayak Kak Angga juga Andra ya?" ucap Bunda mengelus kepala Nick. Nick menoleh dan tersenyum lalu mengangguk pada Bunda.
"Hissh.." Andra berdesis menangkap antusiasme yang di tampilkan oleh wajah Nick.
"Kenapa? kamu tidak suka?"
"Nggak!" jawab Andra ketus.
"Andra, kamu jangan gitu dong sayang.. Nickolas kan saudara kamu juga. Bahkan kamu juga di anggap anak sama aunty Charlotte kan?" tutur Bunda lembut, kini ia berpindah duduk di samping putra bungsunya itu. Ia merasa ada sesuatu yang tak beres antara Andra dan juga Nick. Diraihnya kepala putranya itu dan di letakkan di pangkuannya, persis seperti apa yang sering ia lakukan saat Andra sedang merasa sedih atau sedang terusik. Andra pun menurut, karena hal tersebut akan membuatnya merasa rilex dan rasa sedihnya sedikit demi sedikit berkurang.
"Dasar anak mamy!" ledek Angga mendowerkan bibirnya pada adiknya yang manja itu.
"Angga.." bunda menatap tajam putra sulungnya, dan meletakkan telunjuk tangan di bibirnya. Ia memberi kode agar Angga bisa berdiam diri dulu, dan membiarkan Andra merasa tenang.
Andra menjulurkan lidahnya pada sang kakak yang diam tak berkutik. Angga menjadi kesal dibuatnya, ia hendak membalas, tetapi Ayah Herman menepuk pundak Angga pelan dan menganggukkan kepalanya sebagai pertanda jika ia turuti saja perkataan ibunya. Angga mendesah pelan, sebisa mungkin ia harus bisa menahan emosinya. Tidak mungkinkan dia yang sudah dewasa akan kembali bersikap kekanakan seperti saat kecil dulu?
Eyang tersenyum dan menggeleng pelan menyaksikan hal tersebut. Dia mencolek Angga dan saat cucunya tersebut menoleh, ia menepuk pangkuannya agar Angga merebahkan kepalanya disana. Ada rasa nyaman yang ia dapatkan, inilah hal yang selalu membuatnya meridukan sang nenek. Beliau selalu bisa mengerti dirinya, tanpa di beri tahu dahulu. Ya, begitulah eyang Kumala yang seperti dapat membaca mimik wajah ataupun isi hati seseorang hanya dengan memperhatikan orang tersebut.
__ADS_1
"Andra sayang.. kamu kenapa, Nak?" Bunda kembali membuka suara, " Bunda perhatiin dari tadi, kamu kayak sedih gitu?" ucap Bu Ratih sembari mengelus lembut kepala putra bungsunya.
Bayu juga Nick menoleh ikut memperhatikan, ada sedikit rasa iri menyelimuti hati Bayu. Tapi segera di tepisnya jauh-jauh, bagaimana bisa ia merasa iri terhadap orang lain, bahkan orang tersebut sudah terlalu baik padanya dengan menganggapnya sebagai saudara. Dulu saat ibunya masih hidup, ia juga sering diperlakukan seperti itu. Tetapi saat bundanya sudah menghadap Sang Khaliq, tak ada lagi yang memperlakukannya sebaik itu. Hah.. Bayu segera mengalihkan pandangannya kembali ke layar datar di hadapannya. Nick yang melihat perubahan mimik wajah Bayu hanya mengernyitkan kening tak mengerti.
"Andra gak kenapa-kenapa, Bun.."
"Masak sih? Bunda ini Bunda kamu, jadi kamu gak bisa bohongin Bunda loh."
Andra tersenyum tipis dan melihat pada wajah lembut ibunya, di peluknya erat pinggang wanita yang telah melahirkannya itu, berharap rasa sesak yang tadi pagi di dapatnya dapat menguap dan lenyap seiring dengan rasa nyaman yang menggantikan. Bunda Ratih hanya heran melihat tingkah manja Andra , setelah beranjak dewasa tak biasanya putranya itu akan bersikap sedemikian rupa padanya. Walau tak di pungkiri, terkadang Andra memang manja kepada siapa saja yang membuat dirinya nyaman. Entah itu eyang, ayahnya, dirinya sendiri, bahkan dulu Andra juga manja terhadap Mbak Asih yang merupakan pengasuhnya.
Bunda menoleh pada ayah Herman, beliau hanya mengendikkan bahu. Lalu pandangannya beralih pada Angga yang sedang merasakan kenyamanan belaian dari eyang. Bunda menyipitkan mata, menatap curiga pada anak sulungnya tersebut. Angga menelan ludah kasar menyadari tatapan ibunya itu, lalu merenges menutupi kegugupannya. Eyang bergantian meletakkan telunjuknya di bibir memberi kode pada menantunya itu, lalu ia menunjuk Andra yang masih mengusal di perut ibunya. Bunda mengangguk mengerti dengan kode yang di berikan eyang.
Pak Herman melihat kode bahasa tubuh antara ibu juga istrinya itu. Ia pun ber-inisiatif untuk membantu keduanya, ia melempari Bayu dengan kacang rebus yang ada di meja. Bayu yang merasakan ada sesuatu yang mengenai punggungnya, segera menoleh pada si pelaku. Di dapatinya Ayah Herman yang sudah siap dengan kacang di tangannya hendak kembali melempar Bayu.
Pak Herman tertawa tanpa suara melihat wajah cemberut Bayu, lalu melambaikan tangannya pada lelaki itu. Mereka beranjak dari sana dan menuju halaman belakang, beberapa menit kemudian sayup-sayup terdengar suara tawa keras Pak Herman dari belakang rumah. Nick yang tersadar hanya bermain sendiri dan melihat kedua saudaranya sedang bermanja-manja, memilih untuk beranjak menyusul pamannya juga Bayu.
Melihat kedatangan Nick, Pak Herman langsung memeluk keponakannya itu sekejap dan menepuk-nepuk punggungnya masih dengan sisa tawanya. Nick yang tak tau apa-apa jadi kebingungan, "ada apa, Paman?"
"Terimakasih ya, Nick. Kamu sudah membantu rencana eyang juga Angga,"
"Bayu.."
"Ya, Pak"
"Apa rencana kamu?"
"Maksud, Bapak?" Bayu mengernyit tak mengerti.
" Apa kamu sama Andra akan menginap disini malam ini?"
Bayu nampak berfikir sesaat, " kalau dilihat dari keasaan sekarang spertinya iya, Pak. Gimana ya?"
"Wadduh.. bagaimana kami bisa mengatur rencana kalau Andra menginap disini juga malam ini." Pak Herman tampak mencari cara.
__ADS_1
"Rencana apa lagi, Pak? apa yang tadi itu belum cukup?"
Pak Herman tersenyum, " tentu sana belum cukup, Bay. Hal tadi hanya sebagian kecil aja. Kamu lihat sendiri kan bagaimana Andra, itu hanya membuatnya jadi manja saja, bukannya memacu keneraniannya."
Bayu mengangguk-angguk sebelum berkata, " lalu Bayu harus bagaimana, Pak?"
"Gini, Bay.." Pak Herman menoleh kanan kiri sebelum membisikkan kata pada telinga Bayu. Nick saja sampai kepo di buatnya.
"Ah, begitu ya.. apa ya? soalnya kalau jum'at biasanya free sih.. kan bos Andra mengikuti jadwal Senja, Pak."
"Bener juga kamu.. jadi nggak mungkin ya?"
Bayu merenges menggaruk tengkuknya, "sepertinya susah, Pak. Paling-paling dia hanya akan menyuruh saya untuk mengurusnya."
Pak Herman menghela nafas, " jadi harus di undur dulu nih rencananya.." ia nampak berfikir dengan mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di dagunya. " Ya sudahlah, demi putraku, tak apa kalau aku lebih lama di sini."
"Ada yang bisa Nick bantu, Paman?" tawar Nick melihat raut wajah bingung pamannya itu.
"Kamu tetap lanjutkan saja rencana awal, yang sudah di buat eyang bersama Angga. Kita tunggu sampai hari ulang tahun eyang, akan ada kemajuan atau tidak pada Andra," Kedua pemuda di hadapannya mendengarkan dengan seksama. "Jika masih saja tidak menunjukkan kemajuan apapun atau masih jalan di tempat, Paman akan menambahkan rencana yang kedua. Bagaimana menurut kalian?"
"Memangnya apa rencana yang kedua itu, kalau saya boleh tau, Pak?" tanya Bayu.
"Tentu saja kamu boleh tau Bayu.. tetapi bukan sekarang, besok pada saat kami akan berembug untuk rencana selanjutnya, Bapak akan hubungi kamu."
"Siap, Pak." Bayu memberi hormat pada Pak Herman.
"Ya sudah.. ayo kita kembali ke dalam dulu. Dan Nick, jangan lupa lanjutkan aktingmu besok pagi." Ujar ayah Herman mengingatkan.
"Siap, Pak." Nick menirukan jawaban juga sikap Bayu, membuatnya mendapatkan sikutan kecil pada perutnya dari Bayu. Pak Herman dan Nick hanya terkekeh melihat Bayu berlalu dengan mulut mendumal.
.
.
__ADS_1
Bersambung
Di tunggu terus dukungannya🤗