
...Selamat membaca☺...
...----------------...
Matahari semakin terik, para pemuda yang tadi setelah sholat subuh melanjutkan tidurnya. Mereka masih enggan meninggalkan kasur empuk mereka sebab semalam hanya tertidur sebentar saja di karenakan hujan deras yang mengguyur.
Sementara itu Senja sudah sedari pagi sibuk berkutat dengan pesanan-pesanan yang kembali menggunung setelah sehari libur. "Huhh.." Senja menghela nafasnya, bergerak meregangkan tubuhnya yang terasa kaku karena hanya duduk saja dari pagi. "Selalu aja numpuk kalau abis libur," ucapnya sembari kembali mengecek daftar pesanan di hadapannya.
Lala yang mendengar keluh kesah Senja pun mulai berkomentar, " gimana kalau kita liburnya gantian aja, Mbak? Biar pesenan gak jadi numpuk kayak gini," penawaran Lala membuat Senja berfikir sejenak sebelum menjawab, " apa nggak apa-apa kalau gantian, La? Apa kita gak bakalan kerepotan kalau buka toko sendiri?"
"Hehe.. iya juga ya, Mbak." Lala nyengir mendengar jawaban wanita yang merupakan bosnya itu.
"Emm, apa aku minta Mbak Rani buat masuk aja ya tiap kamu masuk sendiri, kalau pas aku libur?"
"Kalau Mbak Senja gak keberatan sih, aku juga manut aja, Mbak."
Senja tersenyum mendengar jawaban Lala yang menurut, kemudian ia menghubungi Rani yang merupakan karyawan panggilannya jika sedang kebanjiran pesanan.
Pada saat Senja sedang bertelepon, ada yang memencet bell yang di pasang pada pintu depan, pertanda bahwa mereka kedatangan pengunjung. Lala beranjak untuk membukakan pintu, saat pintu mulai terbuka sempurna, Lala mendapati sesosok manusia bertubuh tinggi, kulit putih, dan wajah yang rupawan. Tanpa sadar mulutnya menganga lebar, matanya enggan berkedip, tubuhnya tiba-tiba saja terasa lemas seperti tak bertenaga. Lelaki itu segera menarik tangan Lala sebelum gadis itu benar-benar menyentuh lantai.
"Hey.. are you okay, girl?" tanya lelaki itu saat Lala sudah kembali berdiri, namun bibirnya tak mampu menjawab.
Senja yang sudah selesai bertelpon dengan Rani, menyusul Lala keluar karena sudah sejak tadi ia tunggu belum juga kembali masuk. Gadis itu mengernyit melihat sosok yang kemarin pagi di jumpainya, sudah terlihat dari dalam karena pintunya sebuah kaca bening. Ngapain tuh cowok kesini? Nyasar lagi? Ia mendekat ke arah pintu, melihat Lala yang masih bengong tak bergerak sedikitpun seperti orang kesambet.
"La.." Senja menepuk pundak Lala pelan, namun masih tak ada pergerakan daei gadis itu.
"Dia kenapa, Mister?" Lelaki itu mengendikkan bahu, "Lala.." Seru Senja lebih mengeraskan suaranya sembari menepuk-nepuk pipi Lala. "Huh, astaghfirulloh.." gumam Senja pelan.
"Kayaknya kamu bawa virus deh, Mister Nick."
"Whatt? Enak saja, saya sehat tau." Balas lelaki yang ternyata adalah Nick itu, ia tidak terima di katai membawa virus bagi gadis yang baru beberapa menit Lalu di temuinya.
"Ah, kalau bukan virus berarti hipnotis. Ini buktinya Lala diem aja daritadi, bahkan kedip aja enggak. Teeus kenapa coba?"
"Ya mana saya tahu, saya baru saja datang dan belum satu kata pun saya berbicara padanya, tapi dia sudah seperti ini," ujar Nick menjelaskan.
Senja mengangguk-angguk mendengar penuturan dari pria bule di sampingnya, lalu kembali berfokus pada Lala yang masih mematung dengan pancaran mata yang berbinar menatap Nick, membuat pria bule itu sedikit tak nyaman. "Maafin Embak ya, La.."
Plak,
Plak..
"Adduuwhh... Mbak Senja kenapa nampar Lala sih?" Lala terkejut dan mengusap kedua pipinya yang terasa perih dan sedikit memerah.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar juga, La." Senja bersyukur sembari tersenyum melihat Lala yang merasa kesakitan akibat tepukan keras darinya di pipi gadis itu, sedangkan Nick sudah terbahak melihat tindakan Senja dalam menyadarkan gadis itu.
"Maaf, La.. abisnya kamu udah kayak orang kesurupan, tau gak?"
"Masak sih?"
__ADS_1
"Gak percaya tanya aja nih, sama si bule," tunjuk Senja pada Nick.
Lala merasa takjub saat kembali menatap wajah Nick, "woah, iya.. Mbak Senja kenal sama Mas bule ini?"
"Hoh, Mas bule?" Lala mengangguk antusias
"Oh, dia ini Nick. Temennya Mas Bayu, manajer swalayan yang di depan itu."
Lala ber oh ria, " ganteng banget, Mbak.. kenalin dong," bisiknya pada Senja, sambil menggoyang-goyangkan lengan Senja.
"Masyaallah, Lala.. jangan terlalu genit dong jadi cewek!"
Nick menatap kedua gadis itu bungung, kenapa mereka malah asyik berbicara sendiri.
"Maaf ya, Mister.. silahkan masuk!"
"Mbak Senja, don't call me Mister, oke?"
"Terus apa dong?"
"Cukup Nick saja.." karena kamu kan akan menjadi kakak iparku," lanjut Nick dalam hati sambil tersenyum tipis.
"Tapi kayaknya gak sopan deh, bagaimanapun, kamu kan lebih dewasa dari saya."
"Yasudah, call me Mas juga tak apa-apa, seperti teman kamu tadi."
"Okelah kalau begitu, silahkan duduk, Mas!"
"Ada perlu apa ya, kamu kesini?"
" Maksud saya datang kesini adalah untuk meluruskan ke-sa-lah-pa.. ha.. man, ah iya itu," tutur Nick mengeja kata kesalahpahaman dengan mengingat-ingat.
Senja kembali mengernyit, "kesalahpahaman apa ya?"
"Masalah kemarin pagi itu, saya hanya ingin bertanya saja sama kamu, bukan untuk bermaksud apa-apa,"
Senja mengangguk, "oke, gak papa kok, nggak ada yang perlu di luruskan lagi," jawabnya tersenyum.
"Bagaimana kalau siang ini, saya traktir untuk mengganti traktiran kamu kemarin pagi?"
" Ah gak perlu, Mas. Gak usah repot, aku udah bawa bekal kok tadi dari rumah," tolak Senja halus.
Wah, bagaimana ini, dia malah sudah membawa bekal dari rumah. Dengan cepat Nick memutar otak, mencari ide slanjutnya.
"Bagaimana kalau makan malam?"
Senja nampak bingung bagaimana lagi caranya untuk menolak lelaki bule itu. "Emm, baiklah.." jawabnya ragu, Nick nampak senang. "Tapi bolehkah kalau aku mengajak Lala?"
Lala yang berada tak jauh dari mereka mendongak dari tablet yang sedari tadi menjadi fokusnya, begitu pula dengan Nick yang langsung menoleh ke arah Lala, "mengajak dia?" tunjuk lelaki itu pada Lala. Senja mengangguk.
__ADS_1
Nick tampak ragu sebelum akhirnya menyetujuinya dengan terpaksa, daripada tidak jadi, pikirnya. Jangan tanyakan ekspresi Lala yang sudah kegirangan seperti mendapat arisan emas 24 karat.
***
Malam harinya, setelah isya' Senja sudah siap dengan setelan simple seperti biasanya, sedangkan Lala masih saja sibuk mencari-cari pakaian yang tergantung di hanger penjualan. "La.. mau berapa lama lagi? Kamu aja sampe belum sholat isya' lho gara-gara nyari baju doang." Tegur Senja yang sudah bosan menunggu Lala.
"Bentar lagi, Mbak.." teriak Lala dari balik pakaian.
Senja menggeleng melihat kelakuan gadis yang sedang dalam masa puber itu, "kita itu cuma di ajak makan doang La sama si Nick. Kamu udah kayak orang mau ke kondangan aja ribetnya."
"Ini malah melebihi kondangan, Mbak. Jalan sama cowok ganteng kayak Mas Nick itu tuh, berasa kayak mau ketemu sama idolaku lho."
"Haissh.. sak karepmulah (terserah kamulah)," balas Senja pasrah, ia meletakkan kepalanya pada meja di hadapannya, lalu membuka ponsel guna mengusir jenuh sambil menunggu Lala bersiap.
Ada notifikasi pesan WA masuk dari eyang, Senja segera membuka pesan tersebut.
'Kamu lagi dimana, cantik?' isi dari pesan eyang.
Senja tersenyum dan menggeleng membacanya, tumben eyang WA, apa aku telfon aja ya.."
Segera ia memencet tanda VC di layar ponsel dalam aplikasi WA, tak berapa lama muncullah wajah eyang dengan senyum khasnya, senyum lembut yang meneduhkan jiwa bagi orang yang melihatnya.
"Assalamu'alaikum eyang cantik.."
"Waalaikumsalam, Nak Senja. Loh, kayaknya kok sudah rapi dan cantik begitu, mau pergi to?" eyang meneliti Senja dari layar ponselnya.
Senja melihat pada dirinya sendiri, dia merasa biasa saja, mengapa eyang bisa bertanya begitu, pikirnya. "Senja biasa aja kok, eyang.. cuma mau makan malam aja di luar sama Lala."
"Oh, begitu.. ya sudah, kamu nikmati acaranya ya, maaf kalau Eyang sudah mengganggu waktumu," tutur eyang tetap dengan senyum manisnya. Ya, eyang memang sengaja mengirimi Senja pesan untuk memastikan jika Senja jadi pergi dengan Nick atau tidak.
" Sama sekali gak mengganggu kok, Eyang. Malahan Senja seneng banget ada yang nemenin ngobrol sambil nunggu Lala siap-siap."
Dan mereka terus mengobrol bercanda ria sampai Senja merasakan ada colekan pada pundaknya, ia menoleh dan mendapati Lala sudah cantik dengan gaun panjangnya, juga hijab yang di buat sedemikian rupa hingga ia tampak berbeda.
"Kamu mau ke pesta, La?"
"Kenapa, Mbak? gak bagus yo?"
"Bagus, La. Bagus banget malah.. aku aja sampe iri liatnya," goda Senja.
"Ah Mbak Senja lho.."
Semenit kemudian terdengar suara klakson, rupanya mereka sudah di jemput oleh Nick. Pria itu nampak sedikit terpesona oleh Lala, namun ia segera menepisnya demi melaksanakan misi yang sedang di embannya.
.
.
Bersambung
__ADS_1
Selalu di tunggu dukungannya ya..
Like, komen postif, juga pencet ❤ nya, terimakasih😊🙏