
"Badan lengket semua, masak iya mau mandi jam segini, ntar malah dikira makhluk tak kasat mata lagi," gumam Senja begitu mendudukkan diri di kursi meja belajarnya.
Ya memang meja belajar milik Ria, karena tidak ada meja rias disana. Meja rias dan lain-lain milik Senja lebih banyak ada di toko miliknya, ia hanya meninggalkan sedikit barang dan pakaian di rumah itu untuk jaga-jaga jika sewaktu-waktu berkunjung seperti saat ini.
"Udah baik-baik aja, Dek?" Andra bertanya setelah ikut duduk di tempat tidur yang tak jauh dari kursi yang di duduki oleh Senja.
"Apanya, Mas?"
"Kamu, kan tadi Adek mutah-mutah masuk angin?" ucap Andra mengigatkan akan dirinya yang tadi mendadak tak enak badan.
"Oh, alhamdulillah udah sembuh kok. Begitu dihadapkan sama masalah tadi entah langsung menguap kemana itu angin," jawab Senja terkekeh.
Andra mengangguk, "yaudah, Mas mau mandi dulu,"
"Mandi? Serius Mas Andra mau mandi jam segini?"
"Kenapa?"
"Ntar dikira makhluk tak kasat mata lagi, ini tuh udah tengah malem tau,"
"Kan di rumah udah biasa, Dek."
Senja menaikkan kedua alisnya, "kapan?"
"Ya kalau pas pulangnya tengah malem, dari cabang luar kota, gitu misalnya," Andra baru teringat, sejak menikah dengan Senja dirinya belum pernah lagi keluar kota tanpa istrinya itu.
Senja manggut-manggut, "kalaupun iya, di rumah eyang kan nggak kedengeram sama tetangga, Mas. Orang rumahnya aja segede itu. Nah, kalau disini? Ntar orang ngeronda pada ngacir lagi,"
Andra nampak berfikir, "iya juga sih,"
Lagipula kamar mandinya berada diluar, berbeda dengan di rumahnya yang berada di dalam kamar. Ia pun meletakkan kembali handuk yang dibawanya ke tempat semula.
Namun rasa gerah dan lengket yang mendera membuatnya merasa tak nyaman. Ditambah kamar Senja yang kecil dan tak ada ac, lengkap sudah.
Senja yang sedang mengaplikasikan skincare pada wajahnya memperhatikan sang suami yang mengipasi dirinya sendiri dengan buku jadi berfikir.
"Apa Mas Andra aku lap aja kayak aku tadi, kasian banget kegerahan sampe nggak bisa tidur gitu,"
"Sini Mas, Adek lap aja biar gak lengket badannya," ucap Senja setelah mengambil air hangat dari dapur.
Andra yang sejak tadi mengipasi tubuhnya sambil menatap layar ponsel pun mendongak, "gimana?"
"Lepas bajunya,"
__ADS_1
Andra melongo tak percaya dengan apa yang baru saja diterima oleh indra pendengarannya bahwa istrinya itu meuruhnya untuk melepas baju.
"Bu-buat apa?"
"Ini lho, Adek tuh mau ngelap badan Mas Andra. Katanya tadi gerah lengket pengen mandi, beehubung gak bosa mandi ya di lap aja gak papa kan? Daripada nggak sama sekali,"
"O oh gitu," merasa malu karena pikirannya sempat traveling sebentar.
Dibukanya kaus putih yang tampak basah karena keringatnya. Dan terlihatlah tubuh putih nan berotot miliknya.
Senja ternganga, susah payah menelan saliva yang menyangkut di tenggorokan. Di depannya kini terpampang nyata sesosok lelaki yang halal baginya, tidak seperti di drama yang hanya bisa di lihatnya di dalam layar saja.
Tubuh kekar proporsional yang dimiliki Andra adalah buah dari kebiasannya yang memang suka berolah raga, di dalam maupun luar ruangan. Tetsan keringat yang membasahinya membuatnya terlihat sangat seksi dimata Senja.
"Siniin, Dek washlapnya! Biar Mas sendiri aja yang lap,"
Senja diam tak menjawab, tangannya memeras-meras handuk washlap yang sedari tadi di genggamnya. Kedua netranya tak berkedip, entah apa yang ada dipikiran gadis itu.
"Dek?"
"Senja?"
Cup
"Eh, ee. Maaf maaf, Adek ngalamun yah," ucap Senja salah tingkah.
Andra tersemyum, dirinya sendiri pun sebenarmyaerasa malu ditatap seperti itu oleh sang istri. Tapi ia mencoba menepis rasa malu itu karena sadar Senja adalah istrinya. Ia berfikir, mungkin sudah saatnya juga untuk belajar saling terbuka dalam hal apapun pada kekasih hatinya itu.
"Nggak papa, katanya mau lap badan Mas Andra? Kok dilihatin aja?"
"I iya,"
"Aduh jantung, bekerja samalah denganku. Sebentar saja! Cuma ngelap loh, udah kayak mau loncat aja kamu. Gimana lebih? Eh mikir apa sih aku."
Dengan perlahan Senja mengelap tubuh sang suami mulai dari leher lalu punggung sambil dipijit-pijit lembut. Setelah merasa selesai di bagian belakang, Andra berbalik berhadapan dengan Senja.
Karena tingginya hanya sebatas dagu Andra, maka tatapan matanya langsung berhadapan dengan dada yang bidang dan berkeringat milik suaminya. Perasaan aneh mulai menjalari tubuhnya, ia menggigit bibir bawahnya saat mulai mengelap bagian tersebut.
Begitupun dengan Andra yang menahan napas ketika tangan Senja yang berbalut handuk washlap mengusap lembut bagian atasnya yang sensitif.
Senja yang semakin merasakan aneh pada dirinya dan terlalu sulit mengendalikan jantungnya, mulai mempercepat pergerakannya hingga sampai di pusar dan tak sengaja iris hitamnya menangkap sesuatu di dalam celana boxer yang masih di kenakan Andra.
Gleg
__ADS_1
Apa itu, pikirnya. Ia ingin cepat-cepat menyudahi kegiatan itu dan bermaksud akan menyuruh Andra melanjutkan mengelap bagian kakinya sendiri.
Ia mendongak bertepatan dengan Andra yang menunduk, tatapan mata keduanya bertemu. Apakah kelanjutannya akan sama seperti pada drama yang suka di tontonnya? Kenapa pikiran Senja selalu pada drakor? Karena baginya itulah gurunya, sebab ia belumlah berpengalaman sama sekali.
Naluri lelaki Andra bekerja, ia mengikis jarak antara dirinya dan sang istri. Dikecupnya dengan lembut ubun-ubun Senja yang tak berbalut hijab, lalu beralih pada kening. Melihat istrinya memejamkan mata, Andra pun mengecup kedua kelopak mata Senja yang sangat jarang ada eyeshadow ataupun eyeliner menempel disana.
Kedua pipi Senja yang sedikit cubby juga ikut mendapatkan kecupan gemas dari Andra, lalu berakhir di bibir yang tadi sempat dipoles lip serum oleh Senja hingga berwarna pink alami. Mengecup, menyesap, bahkan mel-matnya secara lembut.
Tangan Andra yang semula berada di pundak Senja, kini beralih memegang kepala sang istri. Senja yang juga ikut belajar pada permainan bibir sang suami, melingkarkan tangannya pada punggung polos Andra. Tanpa sadar tangannya mengelus punggung yang terasa seperti belaian bagi Andra dan membuat sensasi baru menjalar ke seluruh tubuhnya, terutama pada bagian inti tubuhnya.
Merasa terengah-engah dengan ciuman yang barusaja dilakukan, keduanya kini saling berpelukan dengan mencoba mengatur nafas masing-masing. Senja yang berada dalam dekapan tangan suaminya, dapat dengan jelas mendengar detak jantung Andra yang detakannya tak kalah cepat dari kinerja jantungnya.
Senja yang tadi sudah sempat untuk mengoleskan produk-produk skincarenya, yang membuat aroma wangi tubuhnya tercium di hidung Andra yang menempel pada lehernya, hal tersebut semakin berhasil membangkitkan gairah Andra.
Andra mengecup tengkuk Senja yang tak terhalang oleh apapun karena rambut gadis itu dikuncir tinggi. Kecupan Andra terus bergerak hingga leher, dimana membuat Senja merasa tersengat aliran listrik.
Secara alami tangan keduanya ikut beraksi dengan sendirinya, tangan Andra yang mulai mencari kancing piyama yang dikenakan Senja, sedangkan tangan Senja mengelus dan meremas rambut Andra.
Jemari Andra berhenti kala usai membuka seluruh kancing piyama sang istri, lelaki itu mengangkat kepalanya menatap kedua manik mata Senja yang juga menatapnya. Andra memberanikan diri bertanya pada kekasih halalnya.
"Bolehkah aku-?"
Dengan senyum malu dan sedikit memalingkan wajahnya, Senja mengangguk. Sebagai gadis yang sudah dewasa, ia mengerti apa maksud dari suaminya.
Mendapatkan lampu hijau dari sang istri, semangat Andra kian berkobar. Ia mendusel di dada sang istri untuk pertama kalinya. Senja merasa basah di area bawahnya disertai dengan rasa perutnya yang seperti di remas-remas.
Senja meringis menahan rasa sakit pada perutnya, "sssshh, astaghfirulloh."
Ia hafal akan rasa sakit itu, rasa yang setiap bulan menyambanginya meskipun di tanggal yang tak sama. Ya, seperti saat ini, ia tak menduga jika tamunya akan databg secara mendadak dan tiba-tiba tanpa adanya peringatan dan pemberitahuan terlebih dahulu. Bagaimana ia akan mengatakannya pada suaminya yang tengah berkabut biru itu?
"Mm-Mas Andra?"
"Hmmm?"
"Aku harus ke kamar mandi sekarang,"
"Hah?"
.
.
Bersambung..
__ADS_1