
Reya memekik kesakitan saat tubuhnya mendarat di sofa, sangat kelihatan kalau wanita itu hanya berpura-pura supaya Andra bersimpati padanya. Tapi boro-boro bersimpati, melirik saja Andra tak sudi.
Apalagi setelah ia melihat bagaimana sikap Andra pada Senja, kedua bola mata Reya langsung melotot, tangannya terkepal menahan amarah.
"Bisa-bisanya cewek kampungan ini di perlakukan semanis itu sama Andra. Ini nggak boleh dibiarin, " batinReya kesal.
"Adek nggak papa kok, Mas. Itu malah Mbak Reya yang jatuh, kan.. " Senja menunjuk Reya yang kembali berpura-pura meringis.
"Aduh duh.. Andra kok dorong aku kayak gitu sih? Badan aku kan sakit jadinya, " keluh Reya dengan nada manja.
Wanita itu berdiri dengan menghentak-hentakkan kaki jengkel karena Andra sama sekali tak menoleh ke arahnya. Dan tanpa di duga secara tiba-tiba Reya berlari menghambur ke arah Andra, bermaksud mau memeluk lelaki itu dari belakang. Tapi nasibnya kurang baik, karena Bayu sudah lebih dulu menabrakkan dirinya kearah Reya hingga wanita itu kembali ambruk ke sofa.
"Iiih.. Bayu! Lo tuh apa-apaan sih main nabrak-nabrak aja, lo pikir gue palang tol apa, " sungut Reya.
"Sory, Ya. Rem gue blong, " jawab Bayu enteng.
"Yaudah gue maapin, tapi bantuin, " Reya mengulurkan kedua tangannya ke arah Bayu, agar lelaki itu mau membantunya berdiri.
Tapi lagi dan lagi, Bayu pun tak memperdulikan nya. Bayu malah pura-pura sibuk sendiri.
"Bayu... lo nyuekin gue? "
Bayu mengangkat bahunya acuh.
Reya beranjak lalu berjalan dengan cepat dan bermaksud menabrakkan dirinya pada Bayu, tapi sebelum hal itu terjadi..
"Aaa... dingin banget. Lo sengaja ya, bikin baju gue basah ke siram aer es, hah? " teriak Reya di depan wajah Lala yang reflek memundurkan kepalanya.
"Maaf, Mbak Reya. Saya nggak sengaja sama sekali. Maaf, Mbak.. " ucap Lala dengan raut wajah ketakutan, padahal dalam hatinya tertawa terbahak.
"Nggak sengaja lo bilang? " Reya mengambil satu gelas lagi air es yang masih utuh dan akan ia siramkan ke tubuh Lala.
Tapi Bayu dengan sigap mengambil gelas tersebut, "lo mau ngapain? daripada lo buang-biang minuman, mending gue minum kan, sayang mubadzir ntar, "
Mata wanita itu kembali melotot, rasa marahnya sudah semakin memuncak, rasanya sudah berada di ubun-ubun dan siap untuk meledak. Ia tahu semua orang disana itu sengaja untuk mengerjai dirinya, ia harus bisa membalasnya, begitu pikiran jahatnya.
"Tapi gue basah semua, Bayu? "
__ADS_1
"Ya mending lo balik ja deh, ganti apa ngapain kek kalau urusan lo disini udah selsai, " usir Bayu nyata adanya.
"Gue nggak akan pergi sebelum pemilik toko ini ganti rugi, dia harus gantiin baju gue yang basah ini akibat ulah karyawannya yang nggak becus ini," Reya menunjuk Lala yang masih tertunduk.
"M-maaf, Mbak Senja. Aku nggak sengaja, "
"Mampus lo, " gumam Reya yang sengaja ia tujukan kepada Lala.
"Gue bakal ganti, dan lo silahkan cepat pergi dari sini! " Andra angkat suara.
"Nggak usah, Mas.. biar Adek aja yang beresin semuanya, Adek bisa kok, percaya deh. Okey? " Senja menatap kedua manik sang suami yang memancarkan rasa marah.
"Hm? " Andra mengangguk pasrah, mencoba percaya pada istrinya, bahwa wanita itu bisa menyelesaikan masalahnya.
"Mari ikut saya, Mbak Reya! Anda bisa memilih pakaian sesuai selera Anda di toko saya ini," Senja menawarkan diri.
"Cih! Pakaian di toko lo ini tuh gak ada yang berkelas, semua udik, kampungan sama kayak-" Reya melipat bibirnya saat tatapan tajam dari Andra dan Bayu sudah mengintimidasi nya.
"Lalu mau 'Mbak gimana? "
"Mau gue ya, lo gantiin pakaian gue ini, "
Pakaian itu memang sesuai dengan style Raya, maka dengan pura-pura terpaksa wanita itu menerimanya.
"Oke, nggak terlalu buruk. Tapi awas aja kalau pakaian ini bikin badan gue gatel-gatel, gue bakal laporin lo! "
Mata Lala membelalak mendengar ucapan Raya, ia sedikit takut tapi juga terkejut.
"Gimana ni mbah lampir tau kalau bajunya bakal bikin dia gatel, waduh! "
"Pakaian disini kan murahan, jelas aja pasti bikin gue gatel, tapi nggak papalah. Terpaksa, daripada gue nggak pakai baju, "
"Oh, jadi itu maksud dia, syukurlah kalau cuman buat ngejek. Mulutnya kan emang kayak comberan, jadi udah pasti busuk ucapannya, "
Lala sangat kesal, ia jengkel karena sejak datang ke tempat itu, Raya selalu saja menghina, mencaci maki, menjelek-jelekkan serta mencemooh Senjata beserta dirinya dan semua teman-temannya disana. Tak terkecuali toko tempatnya bekerja juga.
Tapi wajah Lala hanya menampilkan senyum palsunya. Dan baru saja Reya selesai mengenakan pakaian darinya, wajah wanita itu sudah memerah seperti menahan sesuatu.
__ADS_1
"Toilet dimana? " tanya Reya tertahan.
"Di belakang, Mbak. Mari saya antar, " Lala berbalik dan berjalan di depan Reya, gadis itu tersenyum misterius.
"Dimana sih? jauh banget, lo ngerjain gue? " Reya marah namun bicaranua tertahan karena jika ia berteriak akan ada suatu tragedi yang menimpa dirinya.
"Enggak, Mbak. Emang jalannya lewat sini, " dengan sengaja Lala memilih jalan memutar untuk menuju toilet, padahal sebenarnya dibalik ruangan itu ada toilet yang di khususkan untuk para pengunjung.
"Ini udah muter-muter nggak sampe-sampe juga, bisa gila gue, " Reya bergumam kesal.
"Bentar lagi, Mbak. Sabar, " ucap Lala.
"Tnggu sampai kamu dipirit di celana maksudnya, haha, " lanjut Lala yang tertawa dalam hati.
"Gue pergi aja, " Reya berlari terbirit-birit keluar dan segera masuk ke dalam mobilnya.
Sampai di dalam mobil, karena sudah tak tertahan, Reya kelepasan buang air di celana.
"Hueek.. " wanita itu mutar-mutah mencium bau tak sedap dari area belakangnya sendiri.
"Seumur idup baru ini gue ngalamin hal menjijikkan seperti ini, " gumamnya kesal seraya menjalankan mobilnya.
Karena tak mungkin bagi dirinya keluar dengan keadaan seperti itu di sembarangan tempat, Reya memutuskan segera pulang ke hotel tempatnya menginap.
"Gue harus berendam pake bunga tujuh rupa, pake parfum tujuh botol, dan pakai air dari tujuh samudera, " ucapan Reya semakin asal.
Masih merasakan melilit di perutnya, kini ditambah dengan rasa gatal-gatal yang tiba-tiba menjalar di sekujur tubuhnya.
"ini kok gue gatel-gatel sih, kan bener gara-gara pakai baju marah ini pasti yang bikin gue gatel-gatel, dasar cewek udik, yang dijual pakaian rombengan apa, "
Reya menyetir sambil menggaruk-garuk tubuhnya.
Sementara di dalam Senja Olshop, Lala tertawa terbahak-bahak, ia merasa sangat luas karena sudah berhasil mengerjai wanita yang membuat dirinya beserta teman-temannya merasa sakit hati.
.
.
__ADS_1
Bersambung...