
...Selamat membaca📄...
......................
"Begini Bossqyu. ." Bayu menjelaskan idenya secara cepat dan terperinci kepada Andra.
Andra mengangguk-angguk menengar penjelasan dari Bayu. Lalu ia menyadari sesuatu.
"Yang nyetir siapa Bay? Gue gak rela ya Senja berduaan doang sama supir!" Ucapnya men'cemburui sesuatu yang tak jelas, bahkan belum terjadi.
" Ya elo lah Boss!! Biar sekalian lo PDKT sama pujaan hati lo itu!" Suara Bayu setengah berteriak, merasa gemas pada orang yang ada di hadapannya itu.
"Kalo bukan Boss gue udah gue remes juga tuh mulut! *G*emes banget gue, ada ya orang cemburu kayak gitu." Lanjutnya dalam hati.
"Gitu ya. . Ide yang bagus sih. Tapi mana gue berani Bay! Nongol gitu aja di depan Senja" Andra masih saja bertanya.
Bayu meraup wajahnya kasar dengan kedua tangannya. Ia merasa frustasi.
"Kapan hamba menjadi Sultan ya Allah, biar bisa terbebas dari manusia buncis satu ini?!" Bantinnya.
Tanpa berkata lagi, Bayu beranjak dari duduknya. Ia berjalan menuju kamar Andra dan kembali keluar dengan membawa pakaian Andra, beserta topi juga masker.
Bayu segera mendandani Andra sesuai dengan apa yang sudah terbayang di otaknya. Andra yang tak tau maksud dari Bayu hanya menurut tanpa bertanya lagi. Karena ia sudah melihat wajah kesal Bayu.
Setelah siap, Andra menatap bayangan dirinya di cermin "Kok gue jadi kayak mata-mata yang di film action gini sih Bay?!"
"Udah, gitu aja keren. . ! Paling enggak 'kan lo gak malu. Takut keliatan muka gugup lo di depan Senja kan? Lagipula. . Biar lo nggak kedinginan juga, hujannya makin deres diluar." Setelah berkata seperti itu Bayu langsung membalas Wa dari Lala, memberitahukan rencananya dengan Andra kepada Lala.
"Buruan turun Boss! Si Senja udah dikasih tau sama Lala, cepet samperin sana!" Perintah Bayu pada Andra yang masih mematung.
"Oke. . oke. . do'ain gue Bay! Biar gue nggak terlalu nervest pas sama Senja. Dan handphone lo harus selalu standby pokoknya! Karena gue bakal hubungin lo kalo ada apa-apa." Pinta Andra dengan wajah gugupnya.
"Iya-iya bawal lu . . Kayak mau perang aja. Hedddehh. ." Bayu menepuk jidatnya sendiri.
__ADS_1
Sejurus kemudian Andra bergerak menuruni tangga dengan sangat pelan. Tubuhnya mendadak kaku, susah untuk digerakkan. Sudah sangat lama dia hanya bisa mengagumi, memandangi Senja dari kejauhan. Tanpa berani mendekat sedikit pun. Dan sekarang, dia harus duduk berdampingan dengan Senja dalam satu mobil? Membayangkannya saja sudah membuatnya frustasi, bagaimana nanti jika benar-benar terjadi.
Andra terus mencoba menenangkan hatinya, dia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan berulang-ulang. "Ayolah Andra, kamu pasti bisa!" Serunya pelan menyemangati diri sendiri.
"Mungkin sekarang saatnya memulai berjuang." Gumamnya lagi.
Dia tiba dilantai bawah dan langsung saja masuk ke swalayan miliknya itu. Beberapa petugas dibagian Customer service juga kasir yang melihatnya masuk'pun terkejut dengan kedatangannya yang berpenampilan mencurigakan itu. Salah satu petugas kasir yang sedang tidak melayani pembeli dan kebetulan wanita itu hampir berteriak minta tolong kalau saja Andra tidak segera membuka masker yang dipakainya. Andra segera menghampiri petugas customer service untuk menanyakan keberadaan Pak Tejo, supir mobil box swalayan untuk meminta kunci mobil itu.
"Pak Tejo dimana?" Tanya Andra dengan suara datar pada karyawan perempuannya itu.
"Pak Tejo. . Ada, ada di belakang. Pak. ." Jawab Customer Service itu terbata, ia terpesona melihat wajah tampan Andra dari jarak yang lumayan dekat.
Para karyawan di swalayan itu memang belum tau siapa Andra sebenarnya. Karena Andra tidak pernah memperkenalkan diri kepada para karyawannya. Jadi setahu mereka, pemilik swalayan itu adalah Bayu.
Setelah Andra berlalu menuju gudang untuk menemui Pak Tejo.
Mulai terdengar bisik-bisik tetangga, eh bisik-bisik para karyawan wanita. "Siapa sih cowok tadi itu? Ganteng bingiiitt. ." Ucap karyawan bagian Customer Sevice yang ditanyai oleh Andra tadi kepada temannya yang ada di bagian penitipan barang.
"He'em cakep bener tuh cowok!" Ujar temannya.
"Uuh,, mau dong kenalan." Dibagian kassa'pun tak kalah heboh.
"Aku juga mau kali." Sahut yang lain.
"Ekhem." Karyawan lelaki yang mendengar itu menjadi jengah.
"Cowok tadi itu partnernya Pak Bayu, pemilik swalayan ini yang kantornya diatas itu!" Jelas karyawan lelaki yang bertugas sebagi penjaga. Makanya tadi dia diam dan hanya membungkuk saja saat melihat Andra masuk, karena dia sudah mengenal Andra.
Memang, para karyawan tidak ada yang diperbolehkan untuk menaiki lantai atas. Tempat parkir mobil, musholla juga food court sudah ada di basement. Jadi lantai atas khusus dijadikan sebagai ruangan privasi untuk Andra juga Bayu.
Andra menemui Pak Tejo di gudang belakang, karena jika Pak Tejo sedang tidak mempunyai tugas mengantar atau mengambil barang ia akan bekerja dibagian gudang untuk menata barang bersama dengan rekannya yang lain. Pak Tejo merupakan karyawan pertamanya di swalayan. Pak Tejo juga mengenal Andra sebagai partner Bayu, sang pemilik swalayan.
Seusai menemui Pak Tejo digudang untuk meminta kuci mobil box. Andra kemudian melangkahkan kakinya kearah basement untuk mengambil mobil box dan segera menuju ruko milik Senja yang ada diseberang jalan.
__ADS_1
Di dalam toko Senja, ia sedang menunggu mobil yang katanya Lala akan mengantarkan dirinya untuk mengirim pesanan.
"Itu Mbak, mobil boxnya udah nunggu di depan. . Biar aku bantu masukin barang-barangnya ya." Ucap Lala sambil beranjak.
Senja mengangguk dan segera meraih sling bagnya lalu berjalan menyusul Lala menuju depan ruko.
Begitu sampai di depan ruko, terlihat Lala dan Andra yang sedang memasukkan kotak-kotak box paket kedalam box mobil. Pandangan mata Andra melihat Senja yang baru saja keluar dari dalam ruko.
Deg.
Tangannya terasa lemas seketika. Ia serasa terhipnotis oleh kedatangan Senja. "Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kenapa lagi-lagi aku tak dapat mengontrol diri. Kenapa tubuh dan otakku tidak singkron." Batinnya.
"Bayu! Ya, aku harus menelpon Bayu! Aku harus bertanya padanya apa yang harus aku lakukan selanjutnya." Lanjutnya terus bergumam dalam hati dengan tatapan mata yang tak lepas dari Senja.
Tanpa Andra sadari, box yang sedang dipegangnya terlepas begitu saja dari tangannya yang terasa lemah tak bertenaga. Box itu hampir saja menyentuh lantai cornblok jika Senja tak segera berlari menghampirinya dan dengan sigap menangkapnya. Andra tersadar dari lamunannya ketika Senja sudah berada tepat di hadapannya untuk menangkap box yang hampir terjatuh. Berbarengan saat tangan Senja menangkap box tersebut, tangan Andra juga menangkapnya. Tanpa sengaja tangan Andra menyentuh tangan Senja. Meskipun tangan Senja terlapisi oleh handsock dan tangan Andra juga berlapis sarungtangan, tetapi ujung jarinya menyentuh jari Senja secara langsung. Hal itu membuat Andra hampir saja membeku ditempat.
.
.
Bersambung
Mohon dukungannya😊
Like👍
Komen💬
Favorit❤
Vote🥰
Terimakasih🤗🤗
__ADS_1