
...Mohon dukungannya😊...
...Like👍...
...Komen💬...
...Favorit❤...
...Selamat membaca📄...
......................
Deg.
Deg.
Deg.
Deg.
Deg.
Deg.
Detak jantung Bayu dan Lala memburu, terasa lebih cepat dan lebih kencang detakannya seakan-akan terdengar sampai ditelinga masing-masing saat mata keduanya bertemu pandang untuk beberapa saat.
Bak slomotion dalam drama, mata mereka mengedip perlahan menatap bola mata satu sama lain. Tangan Lala yang masih berada dipundak Bayu, menjadi objek tatapan Bayu selanjutnya. Seakan mengerti apa yang diperhatikan oleh Bayu, dengan cepat Lala mengangkat tangannya. Ia merasa bersalah, takut, dan malu yang campur aduk.
Keduanya menjadi salah tingkah. Dan Lala segera kembali ketempat duduknya semula, didepan meja Bayu. Ia kembali mengatur nafasnya yang tak beraturan. Untuk beberapa waktu, suasana menjadi kikuk dan canggung diantara mereka.
Sesaat kemudian, setelah merasa tenang dan bisa menguasai diri. Bayu kembali melanjutkan instruksinya kepada Lala yang sempat tertunda karena dia melamun tadi.
"Ekhem." Bayu mencoba menetralkan suaranya agar tak terdengar grogi.
__ADS_1
"Besok kamu datang ke toko Senja, toko yang ada di depan itu. Tepat diseberang jalan swalayan ini. Sekitar jam delapan pagi, biasanya toko Senja sudah buka pada jam segitu."
"Iya Pak"
"Dan ini, buat DP gaji kamu. Sekaligus untuk membeli pakaian kerja kamu besok." Bayu menyodorkan sebuah amplop kecil yang sudah ia siapkan sebelumnya pada Lala.
"Maaf ya, bukan maksud saya untuk menyinggung kamu. Pakaian yang kamu pakai sudah sangat layak dan sopan kok, tapi Senja itu berhijab. Mungkin dia akan mudah yakin kalau kamu juga mengenakan hijab saat datang kesana." Ujar Bayu memilih kata-kata yang tepat agar Lala tidak merasa tersinggung dengan perkataannya.
"Iya Pak Bayu, tidak apa-apa. Saya mengerti kok. Ibu dan Bapak saya juga mengajarkan seperti itu, hanya saja saya yang belum siap untuk memantapkan diri mengenakan hijab seutuhnya. Kalau hanya pada saat bekerja saya siap Pak." Terang Lala sambil tersenyum dan menerima amplop yang diberikan oleh Bayu dengan senang hati.
"Yasudah kalau semuanya sudah jelas, sekarang kamu boleh pulang dan membeli keperluan kamu untuk mendaftar kerja di tokonya Senja. Jangan lupa, besok jam delapan tepat!" Kata Bayu mengingatkan.
"Baik Pak Bayu. Terimakasih banyak atas kepercayaan dan kesempatan kerja yang Bapak berikan kepada saya." Lala berdiri sambil tersenyum dan membungkukkan badannya.
"Semoga saya diterima dan tidak mengecewakan Bapak. Saya pamit Pak Bayu, Assalamu'alaikum." Ucap Lala menjabat tangan Bayu dan secara reflek menciumnya, karena saking senangnya.
Bayu yang diperlakukan seperti itu terbengong, kenapa ia jadi merasa seperti ayahnya Lala ya? Bayu menedip-ngedipkan matanya.
Tanpa disadari Bayu, ternyata Andra sejak tadi memperhatikan gerak geriknya dari arah pintu bagian dalam. Kemudian Andra mendekatinya. "Ekhem, kayaknya ada tanda-tanda nih."
Bayu tersadar dan menggeleng-gelengkan kepala. "Misi pertama beres boss. Tinggal menunggu keputusan Senja aja besok gimana, semoga berhasil." Ucapnya tanpa menggubris kata-kata Andra yang menggodanya tadi.
"Oke, thank brother! Lo memang terrr de best!" Puji Andra seraya menepuk pundak Bayu berulang.
......................
Pagi harinya, Lala pun langsung beraksi sesuai dengan arahan dari Bayu. Lala datang ke toko Senja tepat pukul delapan pagi, saat Senja sedang mengemas pesanan kedalam kotak-kotak box.
"Assalamu'alaikum." Lala mengucapkan salam sambil mengedarkan pandangan pada pintu pintu kaca yang sudah tertempel tulisan 'open' itu.
"Waalaikumsalam." Terdengar sahutan suara Senja dari dalam. Senja berjalan kearah pintu dan membukanya.
Mata Lala langsung berbinar begitu melihat Senja keluar. "Dengan mbak Senja?"
__ADS_1
"Iya saya sendiri, ada perlu apa ya? Apa Mbak mau ambil pesanan?" Tanya Senja ramah.
"Tapi kayaknya hari ini semua pelanggan minta di antar ke alamat masing-masing deh." Lanjutnya.
"Bukan, saya bukan mau pesan ataupun mengambil pesanan Mbak." Kata Lala gugup.
"Terus? Sini deh masuk dulu biar enak ngomongnya, masak ngobrol dipintu sih!" Senja membuka pintu lebar-lebar mempersilahkan Lala masuk.
"Silahkan uduk Mbak." Ucapnya sambil mendudukkan diri pada kursi plastik yang ada di ruangan itu.
Setelah duduk Lala bermaksud melanjutkan ucapannya yang tadi sempat tertunda, tetapi Senja sudah berucap terlebih dahulu.
"Tunggu sebentar ya Mbak." Senja kembali beranjak dari duduknya dan berjalan menuju lemari pendingin yang ada disana, dia pun kembali dengan membawa dua botol air mineral lalu memberikan satu botol kepada Lala.
"Silahkan diminum Mbak! Maaf adanya cuma air mineral, soalnya saya belum sempat belanja. Padahal ke swalayan tinggal nyebrang aja." Ucapnya tersenyum.
"Baik banget ya Allah **M**bak Senja ini, ramah juga. Padahal belum kenal sama sekali sama aku, apa iya aku tega buat mata-matain dia? Tapikan kata Pak Bayu, ini buat kebaikan. Pak Bayu juga orang baik kok, mungkin tujuannya memang baik. Yaudah deh, aku omongin aja maksud aku." Batin Lala.
"Emm, gini mbak Senja. Saya kesini mau. Emm buat nyari kerja mbak. Apa mbak Senja ada lowongan buat saya? Memang saya cuma lulus SMA sih, tapi insyaallah saya bisa kok bungkus-bungkus pesanan gitu atau pun yang lainnya." Tutur Lala dengan segenap keberanian yang ada.
Senja terkejut dengan ucapan Lala yang meminta pekerjaan di tokonya, karena menurutnya banyak toko lain yang lebih besar dan lebih ramai.
"Saya lagi butuh banget pekerjaan Mbak, buat bantu ibu saya untuk membayar uang sekolah adik saya yang baru kelas 1 SMA. Sementara ayah saya belum mengirimkan uang lagi dan uang yang ibu saya dapat dari jualan kue cuma cukup buat makan kami bertiga setiap harinya." Lanjut Lala memelas.
Mendengar penuturan Lala, hati Senja merasa terenyuh. Ia jadi teringat masa lalu dirinya dan sang adik yang persis seperti yang dialami oleh Lala, bahkan lebih menyedihkan. Karena kalau Lala masih bisa merasakan bagaimana serunya memakai seragam abu-abu putih, sementara dirinya tidak sama sekali.
.
.
Bersambung duluh😘
Mohon dukungan, kritik juga sarannya🥰
__ADS_1