Pengagum Rahasia Senja

Pengagum Rahasia Senja
Bu Muti Kritis


__ADS_3

Alat pemacu jantung dokter tempelkan pada dada Bu Muti, setelah wanita yang mulai menua itu kembali kejang-kejang. Memang sudah beberp kalinya tersbut terjadi pada Bu Muti yang keadaannya kritis usai menjalani operasi.


Kemarin tim dokter memang sudah mengatakan kalau kesempatan Bu Muti untuk dapat sembuh hanya tiga puluh persen. Dan Pak Sapto sangat mengharapkan tiga puluh persen itulah yang akan menjadi kenyataan, bukannya malah sebaliknya seperti sekarang ini.


Di ruangan lain masih bagian dari rumah sakit tersebut, wajah Lukman menatap sendu ke dalam ruangan yang di dalamnya terdapat sang istri yang masih terbaring tak berdaya dengan alat bantu pernafasan masih terpasang di hidung dan mulutnya hingga menutupi setengah dari wajahnya.


"Sadarlah, Sayang.. anak kita merindukan kamu, dia sangat lucudan mirip denganju seperti yang sering kamu bilang dulu, " air mata Lukman menetes seiring dengan gumaman nya.


"Apa yang harus aku bilang pada anak kita nanti jika kamu terus menerus berbaring disana? dia pasti akan merasa bersalah karena sudah menjadi penyebab mamanya sakit, "


"Lukman? " tepukan di pundak membuat lelaki itu menoleh dan menghapus lelehan air mata di wajahnya.


"Iya, Paklik?"


"Bagaimana keadaan istrimu? " tanya Pak Sapto.


Lukman menggeleng, "masih sama seperti kemarin, Paklik. Kalau ibu? "


Kini Pak Sapto yang menggeleng, lelaki paruh baya itu mendesah pelan.


"Mbakyu Muti semakin memburuk, Man. Dokter baru saja memacu detak jantungnya yang sempat berhenti, kalau keadaan seperti ini terus berlanjut, maka dokter bilang kalau Mbak Muti tidak akan bisa bertahan lagi, "


Lukman memejamkan matanya, ia menarik nafas dalam. Tak pernah sedikitpun terbesit di pikirannya bahwa ia akan mengalami hal yang seperti saat ini. Ternyata masalahnya tentang permusuhan kedua orang tuanya dengan orangtuanya istrinya itu belumlah ada apa-apa nya dibandingkan dengan masalahnya saat ini.


Masih terbayang jelas di ingatannya beberapa bulan yang lalu, saat Ningsih baru saja diketahui tengah hamil. Seluruh keluarganya bersuka cita. Kehadiran janin dalam perut sang istri yang sudah dinantikan selama dua tahun pernikahan akhirnya hadir juga.


"Selamat ya, Nak. Akhirnya kamu akan jadi seorang papa, " ucap ayah Lukman kala itu yang disusul oleh ucapan selamat dari ibu dan juga kedua mertuanha.


Sangking senangnya, kedua keluarga berbesan itu mengadakan syukuran besar-besaran, mereka mengadakan pengajian dan mengundang anak-anak yatim yang ada di sekitar kampung mereka. Guna mendoakan si jabang bayi dan juga si ibu yang tengah mengandung, agar senantiasa diberikan kesehatan dan dilancarkan sampai persalinan nantinya.

__ADS_1


Mereka juga membagi-bagikan makanan kepada orang yang tidak mampu, juga menyantuni anak yatim. Tapi dengan sifat Bu Muti yang sombong, ia berkata-kata yang kurang enak di dengar.


Bu Muti menyombongkan apa yang sudah dilakukan nya dan diberikan kepada para yatim dan fakir tersebut.


"Kalian semua lihat 'kan? Saya itu sebenarnya baik dan dermawan, tidak seperti yang sering kalian pikirkan tentang saya. Kalian selalu bilang kalau saya ini kikir, pelit, sombong dan rentenir, " Seru Bu Muti.


"Buktinya, saya mau tuh membagi-bagikan uang saya secara cuma-cuma. Bahkan bukan cuma uang, kalian juga masih dapat sembako dan juga makanan, " Bu Muti menunjuk pada setumpuk sembako yang berjajar dan sudah ada sebagian yang dibawa orang-orang.


"Sembako itu juga cukup untuk hidup kalian berbulan-bulan. Itu kalau kalian hemat, dan tidak boros. Kalian contoh nih saya, karena saya selalu hemat dan rajin menabung, makanya saya jadi kaya raya seperti ini," ujar Bu Muti menepuk-nepuk dadanya.


"Nggak kayak kalian, yang jadi gembel terus seumur hidup, " ucapan demi ucapan buruk Bu Muti lontarkan kepada tamunya yang kebanyakan fakir dan juga anak yatim.


"Astaghfirullahalazim..., " semua orang hanya bisa beristighfar dan mengelus dada mereka sembari menggelang-gelengkan kepala.


Dalam acara seperti itu pun Bu Muti masih saja bisa berbuat sombong dan semena-mena.


"Jangan berbicara seperti itu, Jeng. Tidak baik, kalau kita ikhlas memberi, tak perlu kita mengungkit-ungkit nya, apalagi sampai menyombongkan nya, " tutur ibunda Lukman sekedar mengingatkan besannya.


Orangtua Lukman menggeleng-gelangkan kepala, tak habis fikir dengan besannya yang memang sangat sombong itu. Padahal jika dari segi kekayaan dapat dilihat bahwa masih lebih kaya keluarga Lukman daripada keluarganya.


"Ayo, jeng! Kita lanjutin bagi-bagi duitnya, biar mereka tau, kalau duit kita itu nggak bakalan abis meskipun udah dibagiin ke mereka semua, " ucap Bu Muti lagi pada besannya.


Hanya helaan nafas yang bisa keluar dari ayah dan ibu Lukman. Mereka merasakan malu yang amat sangat atas ulah dari kedua besannya tersebut.


Orangtua Lukman sudah selalu berusaha memberi pengertian, mengingatkan Bu Muti dan Pak Minto agar tidak tamak, sombong dan takabur. Tapi Bu Muti dan Pak Minto seakan tuli tak pernah mendengar kan perkataan mereka.


Akhirnya kesabaran orangtua Lukman pun habis juga. Mereka memutuskan untuk diam dan tak mau lagi bertemu dengan besannya yang hobinya hanya bikin malu itu. Mereka bertekad tidak mau bertemu Bu Muti juga Pak Minto jika kedua besannya itu belum mau berubah.


Berubah dalam artian sifat dan sikapnya menjadi lebih baik, bukan orangnya yang berubah menjadi manusia siluman atau apapun itu.

__ADS_1


Dan diamnya orangtua Lukman itu dianggap oleh Bu Muti dan Pak Minto sebagai ajakan untuk bermusuhan. Jadi mereka pun bukannya meminta maaf dan berusaha untuk memperbaiki diri lalu merubah sikap mereka, tapi malah justru sebaliknya.


Kedua orangtua Ningsih itu malah memusuhi besan mereka. Dan sampai saat ini kedua belah pihak itu masih saja saling mendiamkan, bahkan belum ada tanda-tanda akan berdamai sampai terjadinya tragedi yang menimpa Pak Minto dan Bu Muti.


"Man, Paklik mau ke mushola dulu. Sudah mau masuk waktu dzuhur, kamu mau sekalian apa nanti saja? "


"Ah? iya.. apa, Paklik? " Lukman tergagap.


Rupanya lagi-lagi lelaki yang merupakan papa baru itu melamun hingga tak mendengar ucapan dari Pak Sapto.


Pak Sapto mengerutkan kening, ia kembali terduduk disamping Lukman.


"Kamu melamun, Man? "


"Ee.. iya, Paklik. Maaf, jadi nggak denger ucapan Paklik, "


"Sebaiknya kamu itu banyak-banyakin berdoa, berdzikir, bersholawat. Bukannya melamun seperti itu, bisa bahaya, " ujar Pak Sapto menasehati Lukman.


"Enggeh (iya) , Paklik, "


"Yowes (yasudah) , ayo ikut Paklik ke mushola saja dan sholat berjamaah. Biar pikiranmu jadi lebih tenang, "


"Baik, Lik, "


Kedua lelaki berbeda generasi itu berjalan beriringan menuju mushola rumah sakit tersebut dengan masih mengobrol.


Sementara di dalam kamar perawatan Ningsih, wanita itu seperti menggerakkan jemarinya yang terletak di samping tubuhnya.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2