
...Selamat membaca😊...
...----------------...
Senja baru tiba di rumah orang tuanya setelah jam sepuluh pagi itu, karena dia terlebih dahulu mampir ke tempat perbelanjaan sekedar untuk membelikan keperluan ayah dan ibunya. Sampai di pekarangan rumahnya, ia mendapati sebuah mobil mewah terparkir disana. Ia mengernyit, dalam hatinya bertanya-tanya siapakah gerangan tamu dari orang tuanya. Tak biasanya mendapatkan tamu seorang yang kaya raya, membuat para tetangganya ikut bertanya kepadanya.
"Eh, Senja baru sampe.." Ibu Tutik serta Bu Siti tetangganya menghampiri Senja yang baru saja menyetandarkan sepedanya.
"Enggeh (iya), Bude.." jawabnya sopan seraya tersenyum.
"Itu tamu bapak sama ibu kamu siapa, to? Mobilnya bagus buanget kayak yang ada di tipi-tipi itu.. pasti orang kaya, yo?" tanya Bu Tutik memperhatikan mobil itu dengan tatapan kagum, lalu kepalanya melongok ke arah pintu rumah Senja yang terbuka membuat Senja ikut menoleh ke arah pandangnya.
Senja tersenyum ramah dan menggeleng, "aku juga ndak tau, Bude. Biar tak lihat dulu nggeh, monggo Bude.." Senja menganggukkan kepalanya dan segera berlalu dari hadapan Bu Tutik.
"Oh yo .. yo," Bu Siti menjawab, mereka masih memperhatikan Senja hingga menghilang di sebalik pintu rumahnya.
"Assalamu'alaikum.." ucap Senja ketika memasuki pintu rumah. Semua yang ada di ruang tamu menoleh ke asal suara dan menjawab salam Senja.
"Nah.. itu yang di tunggu dateng, Bu." Ucap Bu Retno pada tamunya setelah melihat kedatangan Senja.
Senja mencium punggung tangan para orang tua yang ada disana. Tamunya adalah sepasang suami istri paruh baya juga yang kira-kira umurnya hanya selisih sedikit lebih tua dari kedua orang tuanya.
Wah.. sopan sekali gadis ini, nggak salah pilihanmu, nak. Batin lelaki paruh baya tamunya saat Senja menyalaminya, tangan kirinya terulur mengusap kepala berhijab Senja. Hal itu membuat Senja tertegun sejenak, lalu beralih menyalami tangan wanita paruh baya cantik di samping lelaki itu, cocok banget Senja ini jadi menantuku.. jadi nggak sabar pengen cepet-cepet aku nikahkan sama anakku. Batinnya girang. Di kecupnya pipi Senja kanan dan kiri, sang suami menyikutnya pelan dan memberi kode mata padanya, jika hal yang ia lakukan itu membuat tuan rumah terperangah kaget sekaligus heran.
Bagaimana bisa orang kaya seperti beliau tidak risih menciumi anaknya, begitu kira-kira pemikiran bapak dan ibu Senja. Sedangkan Senja sendiri hanya tersenyum kikuk, dan ikut duduk di kursi yang kosong.
"Maaf, ada yang bisa saya bantu, Pak? Buk?" tanya Senja sopan dengan melihat kedua tamunya setelah semuanya kembali duduk.
"Ah.. begini nak Senja," antusias sang istri membuat suaminya kembali menyikutnya. Sang istri menoleh dan memberi tatapan tajam pada si suami, hingga sang suami menghela nafas panjang dan memilih diam.
"Maksud kami datang kesini, mau menyewa tempat sekaligus katering bertema alam milik Nak Senja, untuk acara ulang tahun."
Senja mendengarkan dengan seksama, "ulang tahun?"
__ADS_1
"Iya. Ini bukan ulang tahun anak-anak lho. Tetapi ibu mertua saya, ibunya suami saya." Jelas si ibu menyentuh lengan suaminya, sang suami tersenyum dan mengangguk.
"Oh, begitu.."
"Beliau sangat suka dengan alam yang asri, nuansa persawahan dan pedesaan membuat beliau merasa nyaman," tuturnya menjeda kalimat dan melanjutkannya kembali. "Maka dari itu, saat kami berdua melihat postingan kamu di internet dan ternyata tempatnya tidak jauh dari rumah ibu mertua saya, jadi saya merasa tertarik untuk menyewa tempat kamu." Jelasnya kemudian.
"Terimakasih sebelumnya karena Bapak dan Ibu tertarik dengan konsep alam yang saya buat, insyaallah saya bisa menyanggupinya."
"Alhamdulillah.." ucap kedua tamunya bersamaan.
"Untuk kapan acaranya, Bu?"
"Minggu depan," yang menjawab adalah sang suami.
"Baik, masih satu minggu lagi. Lalu dekorasi seperti apa yang Bapak atau Ibu inginkan?" Senja melihat kedua tamunya bergantian. Kedua orang itupun saling pandang, mencoba mengingat hal-hal yang disukai oleh ibu mereka.
" Itu... " mereka menjelaskan secara detail apa saja yang mereka inginkan untuk acara yang akan mereka adakan, hingga terdengar suara qiro'ah dari masjid barulah mereka berhenti berembug, karena kebetulan mereka juga sudah selesai dengan perencanaan mereka tersebut.
Pria dan wanita paruh baya tamu Senja itu segera pamit, agar nanti sang suami tidak telat untuk melaksanakan ibadah sholat jum'at. Ayah Senja sudah menawarkan tamunya itu untuk ke masjid bersamanya, tetapi mereka menolak dan mengatakan ingin melaksanakan sholat di masjid dekat kediaman mereka saja.
...----------------...
Angga terbelalak kaget melihat mobil yang berhenti di depan mereka, ia mengusap-usap matanya tak percaya dengan apa yang ia lihat. Sedang Andra dan Bayu mengernyit lalu saling pandang, apakah yang kita pikirkan sama? begitu yang tersirat dari tatapan mata mereka.
Pengemudi mobil tersebut membuka pintu dan keluar dari dalam mobilnya, tampaklah seorang pria paruh baya yang masih terlihat sangat tampan dan berwibawa di usianya yang sudah lebih dari setengah abad. Beliau mengenakan kemeja lengan panjang berwarna soft grey dengan celana panjang berwarna senada. Kaca mata hitam bertengger di hidungnya membuatnya semakin tampak berkarisma.
Belum hilang keterkejutan para lelaki muda itu, mereka kembali dibuat melongo dengan keluarnya seorang wanita yang merupakan istri dari pria paruh baya tadi. Wanita paruh baya tersebut langsung saja berjalan cepat dan berhambur ke pelukan Andra.
" Andra.. my youngest child (putra teekecilku)," ucapnya memeluk Andra, Andra membalas pelukan tersebut dengan erat. " I miss you, baby (Bunda nerindukanmu, sayang)," lanjut wanita tersebut mengusap-usap punggung Andra.
Andra melepas pelukan tersebut dan bibirnya mematut, " Andra udah dewasa, Bun.." rengeknya pada wanita parub baya yang ternyata adalah ibundanya itu. Yang lainnya tersenyum tertahan melihat Andra yang cemberut. Bunda Ratih beralih pada Bayu dan Nick, " Hey My Boy, Bayu dan Nick.. kapan Nick datang? Kenapa tidak menghubungi Bunda?"
Belum lagi Nick ataupun Bayu menjawab, Pak Herman sudah mengehentikan aksi kangen-kangenan di tengah jalan tersebut. " Bun, kita pulang dulu deh ke rumah ibu, nanti baru lankutkan mengobrolnya di rumah. Oke?" tawarnya pada sang istri, meskipun dengan mendumel tetapi bunda menuruti permintaan Ayah Herman juga.
__ADS_1
"Permisi dulu ya adek-adek.." pamitnya pada keempat gadis yang ada.
"Ya, Om.. Tante.. silahkan," jawab mereka.
"Bukan adek-adek, Bu.. tapi Mbak-Mbak!" Ralat Bayu melirik para gadis itu, membuat mereka semua jengkel tertahan.
"Kamu ini, Bay." Bunda Ratih menepuk pundak Bayu pelan.
Lalu mereka semua ikut naik ke dalam mobil Ayah Herman untuk pulang ke rumah eyang.
"Enak juga ternyata di supirin sama bos.." celetuk Angga, membuatnya menerima lirikan tajam dari ayah Herman dari spion tengah, sementara yang lain mengangguk membenarkan.
"Ada-ada saja kalian ini.." Bu Ratih tersenyum dan menggelengkan kepalanya. " Akhirnya.. Bunda bisa kumpul lagi sama kalian ber-empat, sudah nggak sabar liar tingkah nyleneh kalian," bunda menoleh ke belakang dimana ada empat pemuda yang sedang cengengesan dan salah tingkah sendiri.
Tak lama kemudian mobil yang di tumpangi oleh semuanya itu tiba di halaman rumah eyang, disana sudah ada eyang yang menunggu, eyang mengernyit melihat kedatangan mereka semua dalam satu mobil.
Bagaimana bisa mereka pulang bersama? Eyang beranjak dari duduknya dan menghampiri mereka, satu persatu semuanya menyalami dan mencium punghung tangan eyang secara bergantian.
Eyang bertambah heran mana kala melihat wajah putra dan menantunya yang terlihat sumringah, menyiratkan kebahagiaan yang tiada tara.
"Kalian harus cerita sama Ibu," ucap eyang menunjuk anak dan menantunya sembari menuntun mereka semua masuk ke dalam rumah, keempat lelaki mida itu saling pandang, tidak tahu apa yang dimaksudkan eyang.
.
.
Bersambung
Alhamdulillah bisa up juga, udah aku bela-belain nulis lho ini meski lagi sakit, buat kalian semua pembaca setiaku🤗
(Duh.. kepedean banget kamu, Thor!)
Hehee.. jangan lupa tinggalkan jejaknya😊, pencet gambar👍 aja begitu ringan buat kalian, tapi begitu berharga bagi kami.
__ADS_1
Terimakasih🙏