
...Selamat malam sugeng dalu semua🤗🤗...
...Selamat membaca📄...
......................
Andra bergegas berjalan kembali ke toko Senja, tanpa menggunakan payung. Karena dirinya tadi yang langsung berlari begitu saja, jadi mana sempat memikirkan payung. Dirinya saja seperti sudah membeku dengan berada didekat Senja. Jadi dingin dan basahnya air hujan tak berarti apa-apa bagi Andra. Andra sampai di hadapan Senja dengan keadaan pakaian yang agak basah.
"Ma maaf Mbak. . Sa saya ta tadi ti tiba-tiba sa sakit perut." Ucapnya terbata-bata.
"Oh. . Sakit perut to?! Saya kirain kenapa loh! Iya nggak apa-apa kok. Tapi sekarang udah sembuh? Atau perlu istirahat aja?" Tanya Senja.
"Lembut sekali suaranya Ya Allah. . Sangat merdu, mana perhatian banget lagi." Puji Andra dalam hati sambil senyum-senyum tak jelas tapi tak terlihat oleh Senja karena dia mengenakan masker.
"Eng nggak perlu Mbak, ma mari ki kita be berangkat." Ajaknya.
"Kenapa lidahku jadi kaku gini sih buat ngomong, jadi gagap'kan kayak pelawak di tivi itu." Gerutunya dalam hati.
"Mari. . Eh bentar deh. Kayaknya baju Mas'nya basah ya? Gimana kalau Mas ganti baju dulu? Biar nggak kedinginan. .Ada kok pakaian cowok didalam." Tawar Senja.
"Eng. . Nggak us usah Mbak! Sa saya ng nggak apa-apa kok be begini. . Sud sudah biasa." Jawab Andra dengan penuh kesulitan.
"Beneran nggak papa? Soalnya ini cuacanya lagi dingin banget. Takutnya nanti Masnya jadi sakit, 'kan bahaya nyetirnya. ." Tukas Senja.
"Be beneran Mbak, cu cuma ba basah sedikit kok! Na nanti juga ke kering."
"Yaudah kalau gitu." Senja mengangguk-angguk, lalu berbalik arah menghadap Lala.
"La. . Kamu di toko aja ya. . Selesaikan sisanya! Nanti kalau udah hampir maghrib aku belum balik, kamu pulang aja nggak papa! Tapi jangan lupa pintunya dikunci. Oke?!" Titahnya pada Lala.
"Iya Mbak. . Shiyap!!" Jawab Lala mantab.
"Kalau gitu Mbak pamit dulu ya. . Assalamualaikum. ." Pamit Senja, dan segera masuk kedalam mobil.
"Waalaikumsalam. ." Lala kembali masuk kedalam toko.
__ADS_1
Setelah Andra dan Senja masuk kedalam mobil, Andra segera menjalankan mobil tersebut dengan kecepatan sedang dengan perasaan yang campur aduk. Didalam batinnya terus berdo'a agar hatinya dikuatkan dan tak melemah, karena berada dalam jarak yang sangat dekat dengan Senja untuk pertama kalinya setelah dewasa ini.
"Mas. . Mas hafal daerah sini'kan?" Senja mulai membuka obrolan.
"I iya Mbak!" Jawab Andra kaku.
"Alhamdulillah. . Jadi bisa cepet kita nganter semua pesenannya." Ujarnya lagi.
Andra diam tak mengomentari ucapan Senja, bukan karena dia cuek. Tapi karena dia sedang menata hati dan pikirannya agar menjadi singkron.
"Emm. . Maaf nih mas, Masnya jangan tersinggung ya. . Ngomong-ngomong, Masnya nggak keganggu ya nyetir pas ujan deres gini pake kacamata hitam gitu? Takutnya mengganggu pandangan'kan malah bahaya nanti, maaf Mas sekali lagi." Ragu-ragu Senja menanyakannya takut jika lelaki yang disampingnya itu tersinggung dan marah.
Andra yang mendengar pertanyaan itu dari Senja terkejut. Tubuhnya menegang, tangannya memegang setir dengan erat. Dia memang agak terganggu dengan kacamata itu, karena membuat keadaan jalan jadi semakin gelap. Tapi kalau dilepas dia lebih takut jika tak sengaja bertemu pandang dengan Senja seperti tadi.
"Bagaimana ini?" Resahnya dalam hati.
(Bayu)
"Tenang Boss. . Rileks. . Tarik nafas, keluarkan. Kalau udah tenang baru jawab!" Suara Bayu terdengar di telinga Andra dari seberang sana. Bahkan Andra saja lupa kalau dirinya masih terhubung dengan Bayu di telpon.
"Eng enggak papa Mbak. U udah biasa kok." Jawaban yang simpel.
(Bayu)
"Haduuh. . Jawaban macam apa itu Boss? Daritadi gue dengerin cuma udah biasa, udah biasa aja lu!" Komentar Bayu.
"Oh. . Gitu ya?" Senja hanya mengangguk menanggapinya.
Dalam hatinya ia sedikit takut dan was-was dengan pria yang yang mengantarkannya itu. Karena penampilannya sangat tertutup, bahkan terkesan mencurigakan.
Bayangkan saja! Lelaki itu memakai topi hitam, kacamata hitam, masker hitam, jaket hitam, celana hitam, sepatu hitam bahkan dia juga mengenakan sarung tangan hitam yang hanya terlihat ujung jarinya saja seperti yang biasa dipakai oleh Senja saat mengendarai sepeda motor. Akan tetapi milik Senja berbahan wol dan bewarna warni, tidak seperti milik lelaki itu.
Gambar hanya ilustrasi saja,
__ADS_1
Kurang lebih seperti itu, misterius banget kan yaa.
Hening untuk beberapa saat. . Hanya ada suara kendaraan berlalu lalang saling mendahului agar segera sampai ditempat tujuan masing-masing. Juga suara hujan yang masih setia menemani perjalanan mereka. Apalagi dihari sabtu, malam minggu seperti sekarang ini. Biasanya jalanan akan sangat ramai disore hari. Tetapi jika hujan seperti ini, apa akan sama? Tak taulah.
"Emm. . Mas! Itu didepan belok kiri ya." Ucap Senja memecah keheningan diantara mereka.
"I iya Mbak!" Lagi-lagi hanya kata itu yang mampu dikeluarkan oleh mulut Andra.
Waktu Ashar tiba, sebagian besar paket sudah diantarkan ke alamat masing-masing pemesan. Dengan Andra sebagai ojek payung Senja, karena kedua tangan Senja membawa box pesanan sehingga ia tak bisa membawa payung sendiri. Sedangkan hujan masih saja setia menemani.
Seusai istirahat sebentar di musholla yang dijumpai untuk melaksanakan sholat, mereka kembali melanjutkan pekerjaan mereka. Mobil kembali berjalan dengan sangat pelan karena hujan yang masih deras agak mengganggu laju mobil box berukuran sedang itu. Juga keadaan jalan lumayan agak ramai dan macet. Setelah hampir satu setengah jam terjebak macet karena sebagian jalanan banjir. Sesaat kemudian, tiba-tiba Andra merasa mereka sampai di komplek perumahan yang sangat Andra kenali.
"Inikan. . Kenapa kesini? Apa pelanggannya juga ada yang rumahnya sekitar sini?" Batin Andra penasaran dan merasa aneh.
Mata Andra yang masih tertutup oleh kacamata hitam itu membelalak kaget menyadari akan hal tersebut.
.
.
Bersambung😊
Mohon dukungannya terus ya🥰🥰
Jangan lupa Like👍
Komen💬
Favorit juga❤
Kasih Vote
Dan Rate bintang lima⭐⭐⭐⭐⭐.
Terimakasih semuanya🤗🤗
__ADS_1