
...Selamat membaca😊...
...----------------...
"Cepet-ceper dihalalin aja, Boss.." sahut Bayu.
Bayu cepat-cepat mengatupkan kedua bibirnya setelah sadar dengan apa yang baru saja tercetus dari mulutnya tersebut. Untung saja Andra tak terlalu mendengarnya karena setengah melamun. "Lo bilang apa, Bay?" tanya Andra sembari menengok ke arah Bayu.
"Anu.. itu Boss, gue laper. Cari makan yuk," ajaknya mengalihkan perhatian Andra.
"Oh.. ayok. Siapa tau aja ntar gue ketemu sama si doi."
"Huh! Masih aja ngarep"
Mereka berdua turun ke lantai bawah. Bayu segera mengambil motor yang terparkir di basement, lalu menghampiri Andra yang menunggu di tangga. Karena ia tak mau menunggu di depan swalayan. Bisa-bisa jadi buronan para fansnya nanti.
Sementara itu di kamarnya, Senja sedang mengerjap-ngerjapkan kedua matanya yang masih terasa lengket karena sisa kantuknya. Adzan dzuhur sudah berkumandang sejak tadi, dan dia baru saja bisa tersadar dari alam mimpi yang membuainya sejak pagi tadi.
"Astaghfirulloh hal 'adzim.. udah dzuhur ternyata." Senja terlonjak melihat jam weker diatas nakas yang yang sudah menunjukkan pukul 12 lebih 30 menit. Ia tertawa geli sendiri dengan dirinya yang tertidur pulas seperti orang pingsan. Ia menguap dan meregangkan otot-ototnya yang masuh menyisakan sedikit pegal. "Mending aku mandi dulu aja kali ya, biar seger.." gumamnya pada diri sendiri. Terus selesai mandi sholat dzuhur, abis itu beres-beres kamar, terus.." Senja mendikte satu persatu kegiatan yang akan sehera dilakukannya.
"Masyaallah.. iya kan aku lupa." Serunya menepuk keningnya sendiri. "Oleh-oleh dari eyang tadi masih di tempatnya semula? Aduuhh.. bener-bener deh kamu Senja." Dia masih bermonolog dengan dirinya sendiri sambil mondar mandir kebingungan. "Ah iya, sekarang aku mandi dulu aja." Senja langsung menyambar handuk yang ada lalu berjalan ke kamar mandi.
Selesai bersih-bersih Senja segera turun untuk menemui karyawannya, menyapa mereka, menanyakan kabar, menanyakan keadaan toko dan membagikan oleh-oleh dari eyang kepada para karyawannya. Lala menceritakan semua hal yang terjadi di toko saat Senja tidak berada disana.
"Udah pada amakan belum nih?" tanya Senja pada ketiga karyawannya. Ya, saat Senja tak di toko, ia memang mengerahkan bala bantuan untuk membantu Lala dalam mengurus orderan agar tidak kewalahan.
Lala merenges, "Hehe.. belum, Mbak," jawabnya malu-malu. "Yaudah, Mbak beliin bentar ya.. kalian mau makan apa?"
"Apa aja deh, Mbak" sahut Rani si karyawan bantuan.
__ADS_1
"Nasi gudeg juga boleh.." Lala berbinar.
"Kamu apa?"
"Saya manut aja, Mbak.." jawab karyawan yang satunya, yang agak pemalu.
"Oke, Mbak keluar dulu.. kalian sholat dulu deh ganti-gantian. Biar entar pas Mbak balik, kita bisa makan bareng." Mereka mengangguk mengiyakan perkataan Senja.
Senja mengeluarkan motor maticnya dan menuju ke warung makan gudeg legendaris di Jogja, seperti apa yang tadi dipesan Lala. Berhubung yang lainnya hanya menurut, Senja menyamakan saja menu mereka berempat. Yaitu nasi gudeg manggar komplit, dengan sambel goreng krecek dan lauk telur juga ayam kampung bacem (istimewa).
Disaat menunggu pesanannya yang masih mengantri panjang, Senja hendak mencari tempat duduk, tetapi semua kursi penuh karena bertepatan pada jam makan siang. Kemudian ia melihat satu meja yang hanya diisi oleh dua orang berada di dekatnya. Ia memberanikan diri menghampiri, ternyata Senja merasa mengenal dua orang tersebut. "Permisi.. maaf, boleh numpang duduk sebentar aja nggak, Mas?" tanyanya hati-hati pada dua lelaki itu.
Dua lelaki yang sedang menunduk karena asyik memainkan ponsel masing-masing untuk menunggu pesanan mereka itu mengangkat kepala, "Eh, Mbak Senja.. silahkan duduk, Mbak!" ucap pria yang satu. Sedangkan lelaki yang satunya langsung menganga dan reflek ponsel yang dipegangnya terlepas. Senja dengan sigap menangkapnya. "Maaf Mas Andra, ini hape-nya." Senja menyerahkan ponsel tersebut pada lelaki yang ternyata adalah Andra.
"Apa aku mimpi lagi? Atau doaku menjadi kenyataan.."
Bayu melihat Andra melamun, segera menendang kaki Andra dari bawah meja sambil berbisik. "Boss.. sadar Boss!" Andra belum tersadar. "Mas? Mas Andra.." Senja mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Andra. "I..iya Dek." Jawabnya masih setengah melamun.
"Mbak Senja mau makan siang disini juga?" Basa basi Bayu. "Ah enggak Mas Bayu. Saya cuma pesen aja buat di bungkus.. soalnya ntar mau makan siang bareng temen-temen di toko." Senja tersenyum sekilas sambil kembali melihat ponselnya. Ternyata Lala yang mengirim pesan, ia memesan es dawet untuknya dan yang lain juga.
"Emm.. Mas Bayu, aku boleh minta tolong, nggak?"
"Boleh aja Mbak, apa?" jawab Bayu meletakkan ponselnya. Andra masih menunduk mendengarkan.
"Tolong nanti kalau pesanan aku udah dateng, Mas Bayu sama Mas Andra terima dulu ya.. soalnya aku mau cari es dawet dulu buat anak-anak nih, Lala wa minta es dawet." Senja mngeluarkan uang dari dompetnya, tapi di tepis lembut oleh Bayu. "Nggak usah Mbak, biar Mas Bayu aja yang beliin es dawetnya buat kalian semua.. tunggu disini, oke?" Bayu mengarahkan jari telunjuk dan jempolnya berbentuk O. "Emang nggak ngrepotin Mas Bayu ya? Itu sebentar lagi pesanan kalian dateng loh.." tolak Senja merasa tak enak. Sedangkan Andra melotot mendengar Bayu yang menyebut dirinya mas pada Senja, bukannya aku lagi. Bayu melirik Andra sekilas, ia menyembunyikan senyumnya. Merasa lucu pada Andra yang kebakaran jenggot hanya karena hal sepele.
"Nggak papa kok, tenang aja.. kalian berdua baik-baik disini." Bayu segera kabur dari pelototan Andra.
Tak lama kemudian, pesanan Andra dan Bayu datang, "silahkan di nikmati pesanannya, Mas.. Mbak.."
__ADS_1
"Terimakasih.." balas Andra juga Senja.
"Silahkan dimakan, Dek Senja.." Andra menyodorkan piring milik Bayu.
"Nggak usah, Mas.. Senja nanti aja bareng temen-temen makannya. Lagipula ini kan pesanannya Mas Bayu," Senja kembali menggeser piring berisi nasi gudeg komplit yang menggugah selera milik Bayu. Air liurnya hampir menetes, rasa lapar yang sejak tadi memang sudah ia rasakan, bertambah dengan di hadapkan oleh makanan favorit membuatnya menelan ludah dengan susah payah. Tetapi tidak mungkin juga kan ia memakan makanan milik orang lain. Sedangkan Andra, ia malah berbanding terbalik dengan Senja. Ia mendadak kenyang setelah melihat sang pujaan hati di depan mata, rasa lapar yang mendera menguap entah kemana.
"Gak apa-apa, Dek.. Bayu ntar bisa pesen lagi kok." Andra kembali menggeser piring tersebut. Dan terjadilah drama geser menggeser piring.
Sejujurnya, Andra ingin sekali menyuapi Senja. Tapi apalah daya, nyalinya menciut begitu saja. "Mas Andra makan saja dulu, ntar nasi pesanan aku malah mubadzir dong kalau aku udah makan ini.." terang Senja. Keduanya tersenyum canggung dan kembali dalam keheningan.
*Bayu m*ana sih.. beli es dawet aja sampai unjung dunia apa? Lama banget.
Ternyata si Bayu yang ditunggu-tunggu Andra, sedang asyik menikmati es dawet di tengah teriknya matahari. Di depan gerobak penjualnya, ia sudah menghabiskan dua gelas besar dan otw gelas ke tiga. Memang asisten bijak kau Bayu..
'Do'a dan harapanmu tadi terkabul, Boss.. silahkan nikmati waktu berduamu dengan si do'i. Yang lainnya, biar Bayu sang asisten pengertian ini yang handle.' Kalimat pesan WhatsApp yang Bayu kirimkan pada ponsel Andra.
Bayu sudah memesan es dawet, lalu diam-diam mengambil pesanan nasi gudeg Senja, dan mengantarkannya pada para karyawan Senja di toko. Ia pun ikut menikmati nasi gudeg bersama para ciwik-ciwik itu, diselingi dengan canda tawa darinya.
Andra membelalakkan mata nya membaca pesan dari Bayu. Bisa-bisanya Bayu sesantai itu disaat Andra dilanda kecanggungungan bersama Senja.
.
.
Bersambung dulu..
Aku nya lagi ambyar, belum ada yang komen..
Jangan lupa like nya😊
__ADS_1
Terkmakasih🙏