
Bayu terus menunduk sembari merapatkan topi hoodienya dengan mulut komat kamit seperti mbah dukun baca mantra. Mantra supaya dirinya bisa tak terlihat oleh gadis kurang waras, Seruni. Begitu pula dengan Rudi yang juga harap-harap cemas.
Jika sampai Seruni menemukannya, bisa-bisa ia terkencing di celana gegara takut di gerayangi oleh peliharaan Seruni yang banyak dan besar-besar. Membayangkannya saja, lelaki itu sufah bergidig ngeri.
Seruni celingukan mencari-cari keberadaan dua orang laki-laki yang di kejarnya tadi, "kemana Mas Ganteng tadi? Aku melihatnya disini tadi, kok tidak ada?" Gumamnya seprang diri.
Namun tiba-tiba ada beberapa remaja yang memintanya untuk selfie bersama dengan ular-ular peliharaannya. Bak mendapat pertolongan, Bayu merasa bersyukur dengan kedatangan anak-anak remaja tersebut.
Disaat Seruni tengah lengah meladeni para remaja itu, Bayu dan Rudi tak menyia-nyiakan kesempatan. Mereka segera berjalan mengendap-endap seperti maling agar tak ketahuan oleh Seruni.
Setelah agak jauh, barulah mereka berlari sekencang yang mereka bisa. Kedua orang itu berhenti berlari setelah mendekati rumah Mbah KakungHarso. Bayu menghirup nafas panjang untuk menetralkan pernafasannya yang tersengal-sengal. Sedangkan Rudi malah sudah terduduk di pinggir aspal karena kelelahan.
"Astaghfirlloh.. mimpi apa sih gue semem? Perasaan tidur gue nyenyak dan enak banget. Kenapa bangun-bangun malah kena apes gini," ucap Bayu.
"Sama, Mas. Saya juga. Coba aja kalau Mbak Seruni nggak stres, seneng banget saya dikejar-kejar sama dia," sahut Rudi.
Bayu ikut duduk di sebelah Rudi, "emang kenapa sih, gadis secantik Seruni bisa stres? Apa iya cuma gara-gata ditinggal nikah sama Bang Angga , bisa bikin dia langsung kayak gitu?"
Rudi mengendikkan bahunya, "saya juga ndak tau, Mas. Denger-denger sih gitu. Soalnya waktu kejadian itu, saya masih kerja di Jakarta. Jadi ndak begitu faham, tapi-"
"Apa?"
"Ee.. ini menurut beberapa orang tua lho, Mas. Bukan saya. Menurut mereka, Mbak Seruni itu bukan gila asli,"
Alis Bayu menukik, ia makin menajamkan pendengaran, "terus? Pura-pura gila, gitu?"
"Bukan juga," Rudi mengibas-ngibaskan kedua tangannya.
"Lalu apa?" Desak Bayu tak sabar.
Rudi mendekat pada telinga Bayu lalu berbisik disana, "dibuat gila sama orang,"
"Serius lo?" Sembur Bayu.
"Pelan, Mas Bayu. Malah teriak-teriak, nanti ada yang denger malah saya dikira tukang gosip,"
"Emang iya, kok. Bukan dikira lagi,"
"Yaudah, kalo gitu saya nggak mau kasih tau Mas Bayu lagi. Kan saya bukan tukang gosip," Rudi merajuk.
Ia mengangkat tubuhnya untuk berdiri, namun belum sempat berdiri sempurna, Bayu sudah menarik tangannya agar kembali duduk.
"Ambeg'an ye lo, kayak anak perawan aja!"
"Saya perjaka, Mas. Bukan perawan," ketus Rudi.
Bayu tergelak, lalu memicingkan matanya, "serius lo perjaka? Kok gue nggak yakin ya?"
"Terserah Mas Bayu saja. Saya juga ndak ada niatan buat meyakinkan Mas Bayu kok. Kan Mas Bayu bukan calon istri saya,"
"Siapa juga yang mau jadi istri lo! Gue masih normal kale,"
"Sama. Saya juga," meski dengan ketus, tapi Rudi masih selalu menyahuti perkataan Bayu.
"Lanjutin omongan lo tadi,"
"Yang mana?" Rudi mengangkat sebelah alisnya dan melirik Bayu.
__ADS_1
"Yang lo bilang, di guna-guna itu,"
"Ndak ada saya bilang di guna-guna,"
"Ya intinya sama aja, Rudi!" Sungut Bayu mulai emosi.
"Nah, Mas Bayu gitu aja udah emosi. Gimana saya dibilang tukang gosip. Emangnya lambe saya turah. Mending buat makan daripada buat di obral murah,"
"Hmm.. iya-iya. Gue minta maap. Lanjutkan," titah Bayubyang sudah mengalah.
"Gitu dong! Saya maafin deh, Mas Bayu juga udah jajanin makanan enak buat saya, jadi saya kasih tau lagi apa yang saya tau,"
"Hmmm.."
Rudi melanjutkan ceritanya mengenai keadaan Seruni yang tiba-tiba bisa menjadi seperti orang gila semenjak pernikahan Angga dengan mantan istrinya dulu.
"Ya setau saya, Mbak Seruni itu dibuat gila sama orang. Kayak di dukunkan gitu lho, jadi bukan murni stres gara-gara ditinggal nikah,"
"Terus?"
"Ya itu aja yang saya tau, Mas."
"Payah lu, Rud. Gue udah serius banget dengerin lu, taunya ngerjain gue doang,"
"Saya nggak ngerjain, Mas Bayu loh," sanggah Rudi.
"Itu tadi, gitu doang cerita lo,"
"Masak iya saya disuruh mengada-ada kalau emang taunya begitu aja, nanti yang ada fitnah malah tambah dosa saya,"
"Dasar-" ucapan Bayu terhenti oleh deheman seseorang di belakang mereka.
Bayu dan Rudi terkejut dengan kedatangan mbah kakung yang tiba-tiba, apalagi langsung mengajak mereka kembali ke rumah. Meski bagaimanapun, Bayu tetap menurut.
"Iya, Kung," Bayu beranjak dari duduknya dan menepuk-nepuk celana bagian belakangnya yang agak basah dan kotor.
Karena jarak ke rumah mbah kakung sudah tidak jauh lagi, maka dalam waktu lima menit saja ketiga orang itu sudah berada di halaman rumah yang dituju. Rudi berlalu ke halaman belakang guna melakukan tugas hariannya.
Mbah kakung langsung masuk ke dalam rumah dan menuju kamarnya, Bayu yang bingung berhenti di depan pintu, hingga suara dari mbah kakung menginterupsinya.
"Masuk, Yu!" suara mbah kakung terdengar dari dalam.
"Duduk," perintah mbah kakung dengan suara datar dan sangat serius, hingga Bayu merasa seperti orang yang hendak di adili.
Meski ada sedikit rasa takut, tapi Bayu memberanikan diri untuk bertanya, "ada apa ya, Kung?"
"Akung tadi sempat mendengar kamu dan Rudi membahas tentang Seruni, apa kamu bertemu dengan Seruni?"
Bayu mengangguk pelan, "iya, Kung,"
"Dimana?"
"Di jalan yang sawah-sawahnya dibuat sistem mina padi itu,"
Mbah kakung manggut-manggut, "lalu kenapa tiba-tiba kamu ingin tau tentang dia? Bukannya kamu tidak kenal sama dia?"
"Memang tidak, Kung,"
__ADS_1
"Lalu?"
"Tadi Bayu pas ketemu sama Seruni, dia itu manggil-manggil Bayu. Terus nunjukin ular piaraannya yang gede-gede banget itu sambil bilang, 'ini anak-anak kita, Mas. Anak kita sudah besar-besar sekarang'," cerita Bayu sambil menirukan gaya bicara Seruni.
Alis mbah kakung bertaut, "ular? Berapa banyak dan sebesar apa?"
"Lima," Bayu melebarkan tangan menunjukkan kelima tangannya.
"Bahkan tadi juga dikenalin nama-namanya sama Bayu. Ada yang namanya Banyu, Kenanga, Kantil, Melati, sama.. siapa tadi yang satu, lupa,"
"Sebesar-besar apa?"
"Yang katanya namanya Banyu, udah segede lengan Bayu nih, Kung," tunjuk Bayu memegang lengan bagian atasnya.
"Yang lainnya sebesar ibu jari, tapi ada juga yang masih kecil,"
"Jadi benar, itu ular-ularnya," Seru mbah kakung.
Kini giliran kening Bayu yang berkerut, "ular apa, Kung?"
"Ular yang semula di rawat di kandang taman desa, dan akan di jadikan tontonan bagi pengunjung desa wisata ini, tapi tiba-tiba hilang,"
"Hilang?" seru Bayu terkejut, "jadi Si Seruni ngambil ular di kandang desa, Kung?"
Mbah kakung mengangguk, "iya, apa kamu bisa membantu-"
"Bantu apa, Kung? Kalau suruh bantu ambil ular-ular itu dari Seruni, jujur Bayu nggak berani, Kung,"
"Ck, dengarkan Akung dulu,"
"Iya, ceritakan apa yang sebenarnya terjadi sama Seruni dan Bang Angga, Kung,"
Mbah kakung terkejut, "jadi kamu sudah tau mengenai Angga dan Seruni?"
"Sedikit, Kung. Tadi dikasih cerita sama Si Rudi,"
"Dasar bocah itu," gumam Mbah Kakung.
"Kenapa mesti di sembunyiin sih, Kung. Masalah sebesar ini? Kan kasian Seruni yang nggak salah apa-apa harus jadi korban, apalagi menanggung sakit yang seperti itu. Jadi bahan olok-olokan kramg sekampung,"
Mbah kakung menghela nafas dalam, "Akung juga merasa kasian sama gadis itu, tapi mau bagaimana lagi. Kami sudah melakukan berbagai macam hal untuk mengobatinya, tapi sampai sekarang belum menemukan solusinya,"
"Kami hanya bisa membatasi pergerakannya saja, agar tidak sampai keluar dari desa ini, yang akan membuat kami susah untuk mencarinya nanti," lanjut mbah kakung.
"Apa sama sekali tidak ada cara untuk mengobatinya, Kung?"
"Sepertinya ada, dan itu kuncinya ada pada Angga. Tapi bagaimana caranya supaya Angga mau? Sedangkan dia saja tidak ingat pada Seruni,"
"Memangnya Bang Angga amnesia, Kung?"
Mbah kakung menggeleng, "tidak, hanya saja.."
"Kejadian itu sudah hampir tiga setengah tahun yang lalu, namun semua penduduk desa ini masih ingat dengan jelas bagaimana kisah pilu itu terjadi,"
Pandangan Mbah Kakung Harso menerawang pada kejadian yang mengakibatkan Seruni menjadi seperti sekarang ini.
.
__ADS_1
.
Bersambung..