
Di kediaman eyang tepatnya di rooftop, Bayu telah selesai membuat dekorasi sesuai dengan permintaan Andra. Sebuah taman mini dadakan sudah siap, dengan air mancur mini yang indah, dihias dengan lampu warna warni. Berbagai tanaman bunga dengan bermacam jenis, tanaman buah dalam pot yang berbuah lebat pun tak luput dari perhatian lelaki itu. Jangan ragukan lagi soal ide apapun itu dari Bayu. Meskipun dia jomblo, tapi ia jenius. Karena selama ini tugas dari Andra selalu hal aneh-aneh, hal itu memicu otaknya bekerja ekstra dan menjadikannya seorang yang kreatif dan patut di andalkan seperti saat ini.
"Perfecto," Bayu berbangga diri dengan hasil dari pekerjaannya sendiri, semua yang diinginkan sang bos dapat ia selesaikan sebelum waktunya tiba. Jadi ia bisa beristirahat sejenak menyelonjorkan kakinya sebelum nanti akan di repotkan kembali oleh sababatnya itu.
Di bawah rooftop itu sendiri, sudah Andra siapkan sebuah mini market berisi keperluan sehari-hari lengkap. Tujuannya untuk memudahkan sang istri jika membutuhkan sesuatu, selama ini ia belum menunjukannya pada Senja, karena ingin memberikan surprise padanya di hari ini, saat ia akan menyatakan perasaannya. Di rooftop, tempat yang sudah disulap oleh Bayu sedemikian rupa, disanalah rencananya malam ini Andra akan mengutarakan isi hati pada kekasih halalnya, dan akan benar-benar memulai kehidupan rumah tangga yang sebenarnya. Menurut definisinya, selama ini mereka memang sudah menikah, namun baru dalam masa pendekatan atau berpacaran istilahnya untuk membiasakan diri antara satu sama lain.
Dan akhir-akhir ini ia merasa sudah sedikit terbiasa dengan istri tercintanya itu, Senja pun nampak mulai terbiasa dengannya. Memang cara eyang dengan melarang keduanya keluar rumah itu sangatlah ampuh. Mereka jadi terbiasa bersama, saling tergantung sama lain, lebuh dekat dan lebih mengenal kebiasaan pasangan. Dan poin pentingnya, Andra menangkap sinyal cinta balasan untuknya. Maka dari itu, meskipun ia merasakan ragu dan takut akan di tolak, namun ia akan memberanikan bahkan memaksakan diri untuk menyatakan cintanya karena melihat pancaran kasih sayang yang di siratkan oleh tatapan mata Senja.
"Kenapa dia belum nelpon juga ya? apa urusannya belum selesai sama customernya?" gumam Andra pada diri sendiri di kamar atas swalayan tempatnya dulu mengintai Senja, dan hal itu sekarang dilakukannya lagi.
"Apa aku samperin kesana aja ya?" gumamnya kembali saat merasa tak adanya tanda-tanda kehidupan di kamar istrinya tersebut. Gorden yang masih menutup rapat tanpa terbuka sedikitpun, lampu penerangan saja tak menyala padahal hari sudah menjelang petang.
Ia semakin gusar saat panggilan telponnya dan pesan-peaan yang ia kirimkan pada Senja tak mendapatkan respon apapun dari gadis itu.
"Sebenarnya kamu kenapa sih sayang? ada masalah apa yang terjadi si toko kamu, kenapa nggak cerita aja sama aku kalau memang masalahnya berat," pikirannya khawatir, ia mondar-mandir bak mesin penghisap debu otomatis. Namun kemudian ia berhenti saat menyadari sesuatu yang terucap dari bibirnya.
"Sayang?" ia tersenyum malu pada diri sendiri, "aku nggak sabar pengen tau reaksimu saat aku memanggilmu seperti itu,"
Membayangkannya saja sudah membuatnya sangat bahagia, apalagi jika hal itu akan menjadi kenyataan. Wajah Senja yang merona, jawaban yang ia gadang seperti khayalannya, lalu kehidupan mereka akan bahagia seperti pasangan suami istri yang lainnya. Semua itu sudah ada di depan matanya, ia mencoba menepis jauh-jauh rasa ketakutan yang selalu menjalar. Rasa takut akan ditolak, rasa gelisah, debaran jantung yang kembali bertalu saat akan mengutarakannya. Rasa yakinnya saat ini sudah mencapai 99,9%, ia akan mampu mengalahkan sakitnya saat ini.
__ADS_1
Sementara di seberang sana, Senja manjauhkan ponselnya kala benda itu berbunyi nyaring untuk kesekian kalinya. Nama 'Suamiku Mas Andra' tertera disana, rencananya ia akan menggantinya dengan 'separuh jiwaku' sebelum kedatangan dari seorang wanita yang mengaku sebagai pelanggannya tadi. Ia memang belum pernah mengenal wanita itu sebelumnya, namun ia mengira jika Reya memanglah pelanggan barunya yang datang saat ia tak bisa berfokus pada toko dan mempercayakannya pada Lala. Memang toko aman dan tak ada kendala sedikitpun, namun kini rumah tangganya yang serasa kacau baginya.
Ia teringat saat-saat kebersaamannya dengan Andra di rumah eyang, meskipun hanya di rumah dan lingkungannya, namun tak membuatnya merasa bosan sedikitpun. Itu karena Andra selalu ada untuknya, menceriakan hidupnya, mewarnai harinya. Ia merasa sangat bahagia dengan perhatian-perhatian kecil dari sang suami, pengertian lelaki itu yang ia rasa sangat berlebihan. Suaminya itu mengetahui hal detail mengenai dirinya, mulai dari kesukaannya, yang tak disukainya, kebiasaannya, hobinya, dan apapun tentangnya. Hingga ia merasa menjadi wanita paling beruntung dan menjadi istri yang paling dicintai.
"Apakah semua perlakuan manismu terhadapku itu palsu, Mas?" Senja meremas bantalnya yang telah basah oleh air mata. "Apa tatapan matamu yang teduh dan selalu menghipnotisku itu cuma sandiwara?" gadis itu menggeleng, "nggak mungkin, nggak mungkin kan Mas Andra bisa memalsukan perasaan," Senja terus terisak. Remasan dalam dadanya terlalu kuat, hingga ia tak mampu melepaskan diri, dadanya terasa sesak oleh kenyataan yang baru saja di dapatkannya.
"Tapi kenapa wanita itu tau segala hal tentangmu yang bahkan aku sendiri tak mengetahuinya, selama ini aku hanya terbuai dengan sikapmu, hingga tak pernah terfikirkan olehku untuk bertanya lebih banyak tentang dirimu. Karena aku sangat percaya padamu, jika kamu akan memberitahukan apa yang memang pantas aku tau." Senja menarik nafas dalam, mengisi paru-parunya dengan oksigen yang cukup.
"Kenapa wanita lain harus mengetahui tentang rumah tangga kita. Itu urusan pribadi kita, cukup hanya kita berdua yang tau Mas, kenapa dia bisa tau? siapa wanita itu?" Senja berteriak histeris di akhir kalimatnya.
Bantal yang hampir basah seluruhnya itu melayang mengenai gorden dan menyibaknya sedikit. Hanya sedikit pergerakan saja namun sangat berarti bagi orang yang berada di seberang sana, orang yang tatapannya tak beralih sedikitpun dari kamar yang di tempati oleh Senja. Tangannya masih terus aktif menekan tombol panggilan untuk sang istri tercinta, meski hasilnya nihil namun ia sama sekali tak berputus asa. Bahkan ia merasa seperti seorang peneror saat ini.
Tak lama berselang ponselnya berbunyi saat ia semenit berhenti menekan panggilan di nomer Senja, wajahnya sedikit kecewa saat ia lihat panggilan telpon tersebut dari Bayu. Memberitahu jika semuanya sudah siap, dan menyampaikan pesan dari eyang yang menyuruhnya dan Senja segera pulang karena maghrib sudah menjelang. Rupanya eyang daritadi juga berusaha menelpon pasangan suami istri tersebut, namun tak ada satupun yang menyahut.
"What? dan lo nggak ada inisiatif buat datengin tokonya gitu daritadi? siapa tau dia ketiduran, lagi mandi, atau malah masih kerja. Coba lo cek kesana, biar gue tanya si Lala," ujar Bayu merasa gemas dengan Andra yang polosnya nggak ketulungan.
"Ya karna dia tadi bilang bakal nelpon gue kalau urusannya udah kelar, Bay. Makanya gue nungguin,"
"Terus lo nurut gitu? oke, nurut kata istri itu bagus. Tapi nggak gini juga Bos! lo liat pelanggan yang dia bilang tadi keluar dari tokonya itu?"
__ADS_1
"Enggak, soalnya gue tadi sempet ke toilet. Mandi dan lain-lain gitu,"
"Pasti udah pulang Bambang! kalau belom nggak mungkin tuh Lala ama temennya pada pulang. Udah buruan sono cek dulu," pinta Bayu.
"Oke,"
Tut.
Andra segera bergegas ke seberang tempat istrinya berada, ini pertama kalinya bagi lelaki itu kesana setelah menjadi suami dari Senja. Dulu ia kesana hanya saat mengantar hadiah untuk Senja, dan saat mengantar gadis itu untuk mengantarkan paket-paketnya. Tapi kini status keduanya sudah jelas, ia tak perlu lagi mengendap-endap untuk mengirimkan hadiah kesana, walaupun sampai saat ini istrinya itu belum juga mengetahui kebenarannya.
Rencananya esok hari Senja akan mengenalkan Andra kepada para karyawannya, karena Lala dan Rani meminta dikenalkan secara langsung pada suaminya tersebut. Namun kini rencana tinggallah rencana, Senja tak bisa membayangkan kehidupan rumah tangganya dengan Andra kedepannya setelah ini. Hanya bayangan hari-hari lalu masih teringat jelas di ingatannya, saat mereka memasak bersama, makan bersama saling menyuapi, saling memeluk dan mencium penuh kasih, kini semuanya hancur berkeping-keping hanya karena kehadiran seseorang yang tak dikenal.
.
.
Bersambung.
Maaf ya part galau. Sabarlah sebentar, terkadang perasaan wanita itu sangat sensitif jika menyangkut suaminya.
__ADS_1
Jangan lupa jejak like dan komentarnya, lovenya juga ya😍♥️.
Terimakasih🙏