Pengagum Rahasia Senja

Pengagum Rahasia Senja
Kedatangan Reya, Lagi.


__ADS_3

"Dasar cewek-cewk rumpi, masak aer aja sampe gosong," ucap Bayu setelah tawanya mereda.


Senja mengerucutkan bibir, "gara-gara Kak Bayu tuh, ikut-ikutan nimbrung, bikin aku kelupaan kan jadinya kalo lagi masak aer, "


"Enak aja jadi nyalahin aku, " Bayu melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh kurang lima menit.


"Aku mau langsung ke dapan aja deh, sekalian ajak Andra juga. Kamu bisa kan jaga si bayi? "


"InsyaAllah bisa, Kak Bay. Ada Lala dan teman-teman yang lain juga ntar yang bantuin jagain. Ya kan, La? "


Lala mengangguk mantap seraya menunjukkan jari jempolnya.


"Yaudah, kalau gitu aku sama Andra duluan. Ntar kalau ada apa-apa jangan lupa telfon atau WA, "


"Siapp, kakakkuh.. " balas Senja menghormat, lalu mengekor dibelakang Bayu,


"Beneran gak papa, Mas tinggal ke depan? ntar bisa ngurus dedek bayinya?" tanya Andra setelah Bayu kembali dari dapur dan mengajaknya segera ke SA swalayan.


Senja tersenyum meyakinkan, "iya, Mas. InsyaAllah bisa, percaya deh.. "


"Yaudah kalau gitu, Mas ke depan dulu ya.. Kalau ada apa-apa jangan lupa langsung kasih kabar ke Mas Andra, " Andra berpamitan dan menyalami Senja, tak lupa satu kecupan manis ia daratkan di kening istrinya tersebut.


Para jomblo hanya mampu ternganga iri melihat adegan sweet di depan mereka.


"Gak usah heran, La. Yang lagi kasmaran kan emang dunia milik berdua. Kita cuma nebeng, " Bayu segera melenggang pergi setelah berucap pada Lala.


"Gue duluan, Bos. Bye ladies... " teriak Bayu melambai pada semua orang, lelaki itu sudah hampir keluar dari ruko Senja.


"Assalamu'alaikum.. " pamit Andra sebelum keluar, Senja mengantarkan suaminya itu hingga luar toko.


"Waalaikumsalam, "


Baru saja Senja berbalik dan akan melangkah masuk, sebuah mobil berhenti di depan tokonya. Pintu sebelah kemudi terbuka dan menampakkan sesosok wanita memakai celana pensil dengan model sobekan sana sini, di padukan dengan atasan kaos sweater besar yang hanya sebatas pusar.


Senja mengernyit melihat orang yang beberapa bulan lalu pernah menemuinya itu. Hanya saja penampilannya sedikit berbeda dengan perubahan warna rambutnya yang dulu berwarna violet, kini berwarna biru birell dan berwarna warni di bagian bawah.

__ADS_1


"Cewek ini, yang dulu itu 'kan? siapa namanya, lupa aku. Ah, yang disebut Mbah Lampir sama Lala tadi kayaknya, " batin Senja.


Senja menarik nafas dalam, bersiap-siap dengan kemungkinan yang akan terjadi dalam menghadapi wanita itu nantinya. Dia hanya meyakinkan dirinya agar jangan termakan oleh hasutan si mbah lampir itu lagi.


"Hai, Senja.. " sapa wanita yang ternyata adalah Reya. Wanita itu mengulurkan tangan pada Senja. Bibirnya masih masih menyunggingkan senyum remeh terhadap Senja.


Senja berusaha tersenyum sebaik mungkin, "ya, Mbak. Ada yang bisa saya bantu? "


Rasa sesak dan kesal tiba-tiba menyelinap dalam dirinya saat mengingat bagaimana sikap dan perkataan wanita itu dua bulan yang lalu kepada dirinya.


"Hmm, boleh gue masuk dulu? panas nih, " Reya mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan, pandangannya menatap langit yang memang sangat cerah dan udaranya yangulai panas.


"Oh iya, silahkan masuk, Mbak! " Senja berjalan terlebih dahulu membimbing tamunya masuk ke dalam ruko.


Sampai di dalam, Senja meminta tolong Lala untuk membuatkan minum bagi Reya, tamunya.


"Silahkan duduk, Mbak!" Senja duduk di sofa ruang tamu yang tadi ditempati oleh Andra.


Untung saja stroller yang berisi bayi Lukman sudah ia titipkan pada Rina dan Rani tadi, jadi ia bisa sedikit tenang dalam menghadapi Reya.


Wanita itu melepaskan kaca mata hitam yang bertengger di kepalanya, hingga rambutnya yang panjang dan lurus tergerai sempurna. Ia duduk dengan kaki menyilang. Lalu dengan santainya ia mengeluarkan vape atau rokok elektrik nya dan menempelkan nya pada bibirnya.


Namun sebelum Raya benar-benar menghisap benda tersebut, Senja sudah terlebih dahulu melarangnya.


"Sebelumnya maaf, Mbak Reya. Didalam sini tidak boleh merokok, itu ada tulisannya disana, " Senja menunjuk pada stiker besar yang tertempel pada dinding kaca ruangan tersebut dengan ibu jarinya.


Senja memang sudah memasang nya dari dulu, bahkan sebelum Reya datang kesan untuk pertama kalinya dan merokok begitu saja seenak hatinya. Waktu itu Senja tidak terlalu memikirkan hal tersebut karena sudah terlanjur sakit hati mendengar ucapan Reya.


Tapi kali ini, ia benar-benar sudah menata hatinya agar siap dengan apa saja yang akan Reya ucapkan. Senja sudah sangat mempercayai Andra, dan ia tak akan mudah goyah hanya karena hasutan orang semata. Apalagi orang tersebut tidak di kenalnya.


Reya mendengus sebal, tapi ia tetap menurut dan memasukkan kembali vape nya kedalam tas yang dibawanya.


"Oke, sory, "


"Nggak papa, Mbak, "

__ADS_1


"Gimana kelanjutan hubungan lo sama Andra? "


Senja mengangkat kedua lainnya mendengar pertanyaan Reya, "maksudnya, Mbak? "


"Ck, ya hubungan pernikahan lo sama Si Andra, gitu aja masih nanya," jawab Reya ketus, "begok banget sih, " gumamnya yang masih terdengar oleh Senja.


Senja menarik nafas panjang, "sabar, Senja.. ini masih pagi. Jangan biarkan emosi menguasaimu, oke, "


"Jadi, Mbak ini wartawan atau apa ya, kenapa tiba-tiba datang dan menanyakan perihal hubungan saya sama suami saya? " tanya Senja dengan nada rendah, ia berhasil menekan rasa kesalnya.


Reya mendengus, "asal lo tau, Andra itu-" ucapan Reya terputus karena kedatangan Lala yang membawakan dua gelas teh.


Memang agak lama proses Lala membuat minuman tersebut, karena gadis itu harus merebus air dulu lagi, setelah air yang direbus Senja habis dan sampai menghanguskan panci tadi.


"Makasih, La, " ucap Senja.


"Sama-sama, Mbak. Silahkan diminum, Mbak cantik.. " Lala mempersilahkan tamu Senja itu dengan senyum, namun di dalam senyumnya mengandung arti yang hanya gadis itu sendiri yang tau.


"Hmm, " Reya hanya mendehem membalasnya karena ia masih teringat perlakuan Lala dan teman-temannya pada dirinya saat kunjungannya kemarin, waktu Senja belum ada disana.


"Baru sadar lo, kalu gue cantik, " sombong Reya dalam hatinya.


"Silahkan diminum dulu, Mbak Reya, minumnya, " ucap Senja mempersilahkan.


Reya mengambil cangkir berisi teh panas manis itu dan mulai menyeruput nya perlahan-lahan.


Dari arah lain, Lala mengintip dan tersenyum, "ya, minumlah teh manis itu, Mbah Lampir! Dan rasakan efeknya, " gumam Lala sangat pelan, yang harus terdengar oleh telinganya sendiri.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2