
"Maafin Mas, Dek. Mas sama sekali nggak ada maksud buat bohongin kamu, ataupun nggak jujur ke kamu. Mas cuma belum bisa ngomong yang sebenarnya aja sama kamu,"
"Mas nggak punya keberanian, hanya rasa takut yang selalu mendominasi dalam diri Mas Andra tiap kali Mas mau ngomong."
Malam yang hening, hanya ada suara jangkrik sesekali menyahuti setiap perkataan Andra. Langit malam yang tampak cerah dengan bintang berkelap kelip, begitu berbanding terbalik dengan kenampakan wajah lelaki yang tengah dirundung kegelisahan itu. Gelisah karena tak mendapati jawaban dari sang pujaan hati.
"Mas takut kehilangan kamu,"
"Mas nggak mau kita jadi semakin jauh, bahkan sebelum sempat kita jadi lebih dekat lagi,"
"Maaf Dek, Mas Andra terlalu pengecut,"
"Mas terlalu egois karena hanya memikirkan perasaan Mas sendiri, tanpa mikirin gimana perasaan kamu nantinya,"
Merasa tak ada tanggapan dari sang istri, Andra kembali berucap.
"Dek? Kamu marah?"
"Marahlah karena memang kamu pantas marah. Mas cuma mohon, jangan pernah tinggalin Mas Andra lagi!"
"Jangan pernah lagi pergi dari sisi, Mas!"
"Mas nggak akan bisa kalau kamu menjauh lagi dari Mas,"
"Mas nggak sanggup, Dek! Mas nggak akan sanggup lagi bertahan,"
Banyak kalimat penjelasan, meyakinkan, bahkan permohonan Andra ucapkan di samping telinga sang istri. Keduanya masih saling berpelukan sejak tadi, lebih tepatnya Andra yang memeluk tubuh Senja erat. Seakan-akan Senja akan pergi terbang seperti balon gas jika pelukannya terlepas.
Tak ada jawaban, entah bagaimana ekspresi istrinya saat ini. Andra sama sekali tak berani menatapnya, ia hanya terus memeluk posesif wanitanya itu.
Hingga suara isakan dan getaran dari punggung sang suami menyadarkan Senja dari pikirannya, dari perasaan yang campur aduk di dadanya.
Perlahan tangannya terulur membalas pelukan sang suami, mengelus punggung lebar tersebut dengan lembut. Setelah kesadarannya kembali sempurna, barulah ia membuka suara.
"Mas Ganteng masih aja cengeng kayak dulu ya ternyata," kalimat ucapan yang terlontar dari mulut Senja mampu menghentikan isak tangis Andra seketika.
"Mas memang cengeng jika itu menyangkut kamu," jawabnya dengan suara serak habis menangis.
"Mana ada! Mas dulu cengeng dalam segala hal," sanggah Senja dengan kekehan di akhir kalimat.
Air matanya pun ikut berurai meski tak sampai sesenggukan seperti suaminya.
Senja menghela nafas pelan, "Adek seneng, karena ternyata Adek nggak mengkhianati Mas Ganteng,"
Andra melepas pelukannya perlahan dan menatap wajah sang istri, dahinya mengernyit menyiratkan tanya.
"Iya, dulu bukannya kita pernah berjanji akan selalu bersama? Akan menikah dan bahagia selamanya seperti cerita dongeng?" Ucap Senja mengingatkan.
Andra tertawa dengan air mata yang masih tersisa. Senja menghapusnya dengan tangan kosong.
"Mas, Mas gantengnya ngumpet loh kalau nangis,"
"Kamu juga,"
"Kan, Mas Andra duluan yang nangis, di bilangin aku tuh gampang kesetrum tau!" Senja mengusapkan tangannya yang basah akan air mata Andra pada baju yang dikenakan suaminya itu.
"Masih aja sama kayak dulu kamu ya,"
"Aku emang nggak pernah berubah loh! Bedanya kalau sekarang makin tumbuh besar dan tinggi, juga cantik tentunya," tutur Senja seraya tertawa.
"Iya, bahkan kamu sangat-sangat cantik, terlebih lagi dengan kamu berhijab. Makin terpancar aura kecantikan kamu," ucap Andra tulus.
Mata Senja membulat, antara terkejut dan senang, "oh ya? Wah.. Mas Ganteng jadi pinter ngegombal ya sekarang,"
__ADS_1
"Mas jujur dari dalam hati Mas yang terdalam, Dek!" ucapnya dengan penekanan, tak ingin hanya disangka rayuan semata.
"Oke deh, makasih.."
Andra kembali memeluk Senja, dikecupnya pucuk kepala sang istri.
"Makasih, karena kamu nggak marah sama Mas,"
"Justru aku seneng kalau ternyata Mas Andra itu Mas Ganteng, soalnya aku merasa aku udah kecewain Mas Ganteng karena terima lamaran dari eyang, tapi ternyataa-" Senja menjeda ucapannya.
Andra memegang kedua bahu Senja, "apa?"
"Jodoh emang nggak akan kemana,"
Keduanya tertawa bahagia, tak menyangka bahwa takdir akan membawa mereka pada titik seperti sekarang ini. Jika mengingat bagaimana kerasnya perjuangan mereka, terutama Andra. Seperti semuanya akan mustahil, tapi kini impian masa kecil mereka terwujud.
"Mas sayang banget sama kamu, Dek."
"Mas Andra cinta sama kamu, Senja Amalia."
Senja tersenyum lalu menunduk saat Andra menatap matanya dengan sorot penuh cinta. Kenapa rasanya masih sangat malu untuk menjawab 'aku juga, Mas'.
"Kenapa nunduk?" diraihnya dagu sang istri agar menghadap kearahnya.
"Adek malu, Mas."
Andra terkekeh, "dulu aja malu-maluin loh," ucapnya dalam hati.
Hampir aja ia merusak suasana indah itu kalau sampai kalimat itu benar-benar meluncur dari bibirnya dan terdengar oleh Senja.
Andra terus menatap wajah ayu sang istri, yang semakin hari semakin memikat hatinya. Perlahan wajahnya mendekat pada wajah Senja.
Perlahan-lahan ia mengikis jarak antara keduanya, kini tinggal setengah centi lagi bibir keduanya hendak menempel.
Byurr
"Tolong woy! Bos, tolongin gue."
"Bayu?"
"Pak Bayu?" ucap Andra dan Senja bersamaan.
Lalu mereka berlari menghampiri Bayu yang saat ini tengah berusaha untuk naik dari kolam. Entah bagaimana ceritanya orang itu bisa masuk kedalam sana. Yang pasti hal tersebut menjadi kecurigaan tersendiri bagi Andra.
"Astaghfirulloh.. kok bisa sih, Pak Bayu masuk kesitu?" pekik Senja ikut membantu Andra yang tengah menarik tangan Bayu untuk naik.
"Gue curiga sama lo, Bay. Bisa-bisanya lo nyebur di kolam malem-malem gini, bukannya tadi lo bilang ngantuk." Gumam Andra pelan yang masih terdengar oleh Bayu.
Bayu mengibas-ngibaskan jaketnya yang basah kuyup, "Ini juga gara-gara gue jhawatir sama lo! Malah dicurigain, gak tau makasih lo," sewot Bayu.
"Maksud lo?"
"Pikir aja sendiri!" teriak Bayu sambil berlalu.
"Kasian Pak Bayu, Mas. Mas Andra bantuin bebersih dulu gih," ucap Andra lembut pada sang suami, "sekalian jangan lupa minta maaf, orang lagi kena musibah malah Mas curiga'in kayak gitu,"
"Iya-iya. Yaudah yuk, Mas anter kamu ke kamar dulu, abis itu baru Mas Andra susulin Bayu buat minta maaf,"
Usai mengantarkan sang istri ke kamar mereka, Andra menghampiri Bayu ke kamar sang asisten sambil membawa salep yang sore tadi ia pergunakan untuk mengobati alerginya pasca nyebur ke empang.
"Ngapain lo kesini?" rupanya Bayu masih merasa kesal pada Andra karena dicurigai tadi. Ia baru saja keluar dari kamar mandi dan melihat Andra yang sudah tiduran di kasurnya sambil melihat ponsel.
"Gue mau minta maaf, lagian ngapain juga lo khawatirin gue?"
__ADS_1
Bayu ikut duduk di ranjang, di sebelah kaki Andra.
"Jelas aja karena ucapan lo tadi, lo yang begitu gelisah pas mau ngomong kejujuran sama Senja."
Flasback
Sore tadi saat Senja baru saja masuk ke dalam kamar mandi, Andra berinisiatif menemui asisten sejuta ide'nya, siapa lagi kalau bukan Bayu. Ia menceritakan semua kegelisahan, kecemasan serta rasa khawatirnya tentang bagaimana nanti tanggapan sang istri saat ia mulai mengungkapkan rahasianya selama ini.
Bayu sebagai sahabat sekaligus asisten kepercayaan Andra yang sangat menyayangi Andra. Tentu saja ingin sahabatnya itu berbahagia tanpa ada keresahan lagi dalam dirinya. Ia memberikan pendapat yang menurutnya terbaik, yang memiliki lebih sedikit resiko. Yakni untuk jujur, soal bagaimana nanti jika Senja marah, ia akan turut membantu menjelaskan pada istri sahabatnya itu.
"Yang penting lo jujur aja dulu, Bos. Soal nanti bagaimana tanggapan Senja, nanti dipikirin belakangan."
"Kalau Senja bisa langsung menerima tanpa marah dulu, ya alhamdulillah. Tapi kalau Senja marah dan kecewa sama lo, ntar gue bantu do'a," ucap Bayu tertawa kecil.
"Ck." Andra berdecak sebal, bagaimana Bayu malah tertawa saat dirinya merasa gelisah.
"Becanda dikit, Bos. Tegang amat,"
Nah, pada saat Andra akan mengajak Senja untuk ke kolam guna mengutarakan niatnya, ia sempat berbicara pada Bayu. Maka dari itu, Bayu berinisiatif mengikuti Andra dan duduk di kolam yang letaknya tak begitu jauh dari kolam yang ditempati oleh Andra dan juga Senja.
Bayu ikut terenyuh melihat Andra yang menangis saat berbicara pada Senja. Ia pun turut tersenyum bahagia kala melihat tak ada kemarahan dari Senja untuk Andra.
Namun saat kedua insan yang tengah menjadi sorotannya itu hendak saling menempelkan bibir mereka, Bayu seketika merasa menjadi obat nyamuk.
"Lah, mereka malah mau adegan live kayak drakor," gerutu Bayu.
"Yaelah si bos, gak tau amat ada yang jomblo disini. Daripada cuma jadi obat nyamuk mending gue tidur ajalah,"
Bayu segera berbalik dengan tergesa, tetapi entah bagaimana kaki kanannya bisa menginjak sendal sebelah kiri yang dikenakannya. Alhasil ia pun mereplay kejadian yang menimpa Andra sore tadi, tercebur kedalam kolam ikan.
Flasback off
"Yaudah iya, gue minta maaf kalau gitu. Dan makasih juga lo udah khawatir sama gue,"
"Sama-sama,"
"Sekarang gue udah lega, Senja udah tau siapa gue dan dia nggak marah,"
"Termasuk kalau lo?"
Andra menggeleng, "kalau itu dia belum tau,"
"Kok lo setengah-setengah sih ngasih taunya?" Bayu tak habis fikir dengan Andra yang tak memggunakan kesempatan dengan semaksimal mungkin.
"Kayaknya soal itu biar dia tau sendiri aja deh, bukannya kalau yang itu bukan sesuatu yang buruk ya? Dia nggak bakal marahkan karwna hal itu?"
Bayu mengendikkan bahu, "mana gue tau, pemikiran orang kan beda-beda, Bos."
"Yaudahlah, biar itu jadi PR besok lagi aja. Gue mau menikmati kebahagiaan yang ini dulu, kengen-kangenan sama pujaan hati gue,"
"Ish, dasar bucin," dengus Bayu.
"Biarin, sirik aja yang jomblo! Wlee," Andra menjulurkan lidahnya kearah Bayu yang menatapnya sengit.
Andra melambaikan tangan sebelum menutip pintu kamar Bayu seraya bwrucap, "babay, Baaay,"
"Dasar BUNCIS!" teriak Bayu kesal.
"Eh, dia udah nggak buncis, ya? Kan cintanya udah berbales." gumamnya sendiri.
"Kapan giliran gue ya," tatapan Bayu menerawang keatas hingga kedua mata itu terlelap dengan sendirinya.
.
__ADS_1
.
Bersambung