
"Setiap orang pasti pernah berada pada fase di mana kita memiliki sifat pemalu atau canggung saat berhadapan dengan orang lain. Meskipun demikian, sebagian orang mengalami gangguan kepribadian yang menyebabkan mereka menghindari interaksi dengan orang lain atau dikenal dengan istilah Avoidant Personality Disorder. Hal tersebut di dasari dengan rasa malu dan terlalu takut akan apa yang orang pikirkan, sehingga mereka cenderung menghindar untuk berinteraksi dengan orang lain." Penjelasan dokter siang tadi masih teringat jelas dalam ingatan Andra dan Bayu.
Ya, mereka memeriksakan Andra ke rumah sakit setelah sepasang pengantin itu diizinkan intuk keluar rumah oleh eyang meskipun belum genap empat puluh hari usia pernikahan mereka. Karena dengan alasan yang mendesak jika Senja akan melaksanakan ujian di sekolah paket C nya.
Keterangan dari dokter benar-benar membuat mereka tercengang. Selama ini mereka tak menyadari jika hal tersebut terjadi pada Andra yang memang sangat minim bergaul dengan orang lain selain dengan keluarga besarnya dan juga Bayu. Selama ini, Andra cukup menutup diri dari dunia luar, dia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri yang hanya selalu mencari keberadaan Senja. Dan setelah menemukannya, ia hanya asyik menatap dan mengagumi gadis itu dari kejauhan. Masalah interaksi soal pekerjaan, selalu Bayu yang turun tangan langsung, Andra hanya sebagai otaknya saja. Bahkan identitas sebagai pemilik seluruh supermarket dan swalayan miliknya hanya segelintir orang saja yang tau.
Tanpa di sasari ternyata semua itu tidaklah benar dan bahkan suatu kelainan yang harus di tindak lanjuti, dan harus di sembuhkan.
"Namun kasus yang yang menimpa saudara Andra ini berbeda dengan kasus serupa yang lainnya, karena beliau tidak sepenuhnya mengalami hal tersebut dan hanya pada orang-orang terterntu saja. Juga kasus ini bersifat khusus sepertinya melihat penyebab hal ini adalah dari suatu trauma."
"Apa bisa di sembuhkan Dok?" tanya Bayu.
"Bisa, tentu bisa. Dalam kasus Saudara Andra tergolong ringan, jadi penanganannya juga masih mudah. Cukup dengan terapi rutin oleh orang yang membuatnya merasakan syndrom tersebut." Jawab Dokter membuat keduanya merasa lega.
"Maksud Dokter, istrinya?" Bayu bertanya kembali untuk memastikan.
"Ya, jika memang hanya istrinya yang membuat dia sangat merasakan hal tersebut. Saran saya, beritahukan hal ini kepada istri Anda, lalu biarkan dia merawat dan membimbing Anda untuk melakukan terapi tersebut. Dengan begitu Anda akan cepat sembuh dan terbebas dari syndrom ini." Terang dokter itu.
Bayu merasa lega setelah mendengar penjelasan dari dokter tersebut, namun tidak dengan Andra yang justru merasa takut akan tanggapan yang di terimanya dari Senja. Dia takut istrinya itu akan menolak, atau tidak bisa menerima kenyataan jika dirinya mengalami suatu kelainan.
Setelah selesai dengan serangkaian pemeriksaan, keduanya pamit dan segera keluar dari ruangan dokter tersebut. Andra terduduk di kursi panjang yang ada di area rumah sakit. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, terdapat pesan dari Senja yang mengatakan jika istrinya itu langsung menuju ke toko dulu karena ada urusan mendesak disana, dan akan mengabarinya jika urusannya disana sudah selesai. Andra merasa sedikit lega karena masih punya kesempatan untuk menenangkan dirinya sebelum bertemu dengan sang istri.
Bayu menatap heran pada bosnya yang terlihat lesu, namun ia yang sudah bisa membaca situasi mencoba memotivasi Andra menenangkannya.
"Semuanya akan baik-baik aja Bos, percaya sama gue. Sejauh ini gue lihat Senja itu sayang sama lo, tinggal lo aja yang harus selangkah lebih maju. Ungkapin perasaan lo sama Senja, gue tau kalau perasaan cinta itu bisa dirasakan dari perlakuan kita terhadap dia. Tapi inget Bos, cewek tu juga butuh kepastian, pernyataan." Nasehat Bayu.
Andra menoleh sekilas, kemudian kembali menunduk, mencerna apa yang diucapkan oleh orang kepercayaannya itu. Selama ini ucapan Bayu 99,9% selalu benar dan tepat, idenya selalu akurat, baik dalam hal pekerjaan maupun asmaranya.
Lalu ia mulai tersenyum menatp Bayu, "lo tau apa yang harus lo lakuin Bay," ucapnya menepuk bahu Bayu.
Lelaki mengernyit menatap sahabat sekaligus bosnya, "maksud lo? serius lo udah berani? Dan nggak akan takut menerima penolakan lagi kan?" Bayu memastikan.
Andra mengangguk mantap, "gue percaya sama lo."
__ADS_1
"Oke, gue bakal atur semuanya segera.. dimana nih?"
"Di lantai atas aja, buat yang sesuai dengan karakter istri gue,"
Bayu mengangguk, "pasti. Dia juga nggak bakal nolak lo juga lah Bro, dia'kan istri lo!" ucap Bayu terkekeh.
"Iya Bay.. selama ini gue perhatiin dia udah nyaman sam gue, dia nggan nolak pas gue cium. Itu artinya dia juga tertarik sama gue'kan?" Andra nerucap dengan mata berbinar.
Bayu menelan ludahnya, memutar bola mata malas mendengar kata cium, membuat rasa iri sekaligus gemas muncul dari dalam dirinya. "Yang udah merit, sok mau pamer kemesraan sama gue," gerutunya.
Andra terkekeh pelan, "tenang aja Sob! lo pasti bakal cepet ketemu juga sama Lala,"
Bayu melirik Andra malas, "kenapa mesti Lala coba.."
"Terus siapa?"
"Siapa gitu kek. Gue denger Istri lo itu punya adek'kan? siapa namanya?" tanya Bayu antusias.
"Terus, lo mau jadi adek ipar gue gitu? hissh, sory ya.." Andra beranjak dari duduknya, segera menuju ke parkiran.
"Tapi sekarang adek gue juga, Bayu!"
"Huh! sok jadi kakak siaga," gerutunya pelan sambil memasang sabuk pengamannya.
"Gue denger Bay,"
"Gue tau Bos,"
"Yaudah kalau tau, jalan sekarang. Dan inget tugas lo, bereskan dengan cepat sebelum Senja selsai dengan ursannya. Gue mau siap-siap juga dulu.."
"Maksudnya siap-siap di tolak?" ucap Bayu sarkas.
"Mulut lo Bay, kadang suka bener!" kesal Andra. Keduanya lalu tertawa bersama.
__ADS_1
Di dalam ruko Senja, gadis itu sedang kedatangan tamu tak di undang. Seorang perempuan mengaku sebagai customer dan mengkritik habis-habisan barang dagangannya. Usut punya usut, wanita itu punya maksud terselubung, karena bukanlah barang-barang yang di pesannya yang bermasalah, tapi orang tersebut mempunyai masalah pribadi.
"Sebenarnya apa maksud Anda Nona?" tanya Senja setelah merasa kesabarannya telah menipis. Wanita yang ada di hadapnnya itu terus saja menguji kesabarannya dengan segala ucapan memancing yang tak masuk akal. Jika di perhatikan dari tampilannya, wanita yang mengaku bernama Reya itu orang yang berkelas. Barang-barang yang di kenakannya merupakan barang branded, bahkan merupakan barang limited edition yang tak bisa di miliki oleh sembarang orang. Maka dari itu, Senja merasa janggal sejak awal melihatnya, kenapa orang sekaya itu memesan barang di tokonya.
Wanita itu melepas kaca mata hitam berhias berlian yang sejak tadi di kenakannya, pancaran matanya tersirat kebencian dan meremehkan. Kesan angkuh semakin Senja rasakan saat melihat tamunya itu menyilangkan kakinya.
"Ternyata lo jeli juga, Senja. Itu nama lo kan? nama yang udik, se udik penampilan lo! Gue nggak percaya Andra nikah sama cewek kampungan kayak lo," ucap Reya dengan nada meremehkan.
Senja bersedekap, mencoba tenang dengan ucapan Reya, "maksud Anda apa Nona? kenapa membawa-bawa nama suami saya dan status pernikahan saya?"
"Cih! suami lo bilang? lo tuh ngaca nggan sih, mana mungkin cowok tampan dan tajir kayak Andra mau nikah sama gembel macem lo?"
Jleb. Ingin rasanya Senja menyumpal mulut berbisa Reya menggunakan sepatunya, namun ia masih mencoba mengontrol emosinya dan mendengarkan kelanjutan ucapan dari wanita itu.
"Asal lo tau, Andra itu terpkasa nikahin lo. Dia cuma menghormati neneknya yang jodohin lo sama dia, juga kedua orang tuanya yang maksa dia tentunya." Reya melirik Senja yang mulai membeku, ia tersenyum smirk dan semakin bersemangat melancarkan aksinya. "Gue juga yakin, kalau Andra nggak pernah nyentuh lo kan?"
Deg. Darimana wanita ini tau, batin Senja.
"Ya iyalah.. mana dia sudi sih ya nyentuh sampah buluk kayak lo! lo itu kuman baginya, yang pantas buat di hindari dan di jauhi." Reya menyeringai puas dalam hati melihat mangsa di hadapannya mulai meremas sofa yang di dudukinya.
Kena lo Senja! Jelaslah Andra nggak akan berani nyentuh lo, dia itu sama sekali nggak pernah sama sekali deket sama cewek. Karena hanya lo wanita yang di puja olehnya, bahkan dia nggak pernah ngelirik gue yang lebih segalanya dari lo. Dan gue nggak akan biarin lo bahagia gitu aja sama Andra. Kalau gue nggak bisa dapetin dia, lo juga. Dan inilah cara yang paling benar. Seringai iblis semakin tampak pada wajah Reya.
"Enggak, nggak mungkin. Aku nggak percaya sama kamu!"
.
.
Bersambung
Wah, wah..
Ada udang di balik bakwan, enak dong ya..
__ADS_1
Like, love komentarnya sayang-sayangku🥰