
Angga memijit pelipisnya yang terasa berdenyut, sekelebat bayang-bayang wanita cantik menari di pikirannya. Wanita berwajah sangat cantik dengan mata lebar, hidung mancung, bibir mungil disertai lesung pipit, berkulit sawo matang yang bersih tergambar jelas di ingatannya.
Kebaya berwarna coklat muda yang membalut tubuh ramping gadis itu membuatnya terlihat semakin anggun. Angga pun memandangnya dengan tatapan memuja.
Tepuk tangan riuh dari banyaknya orang yang hadir membuat suasana semakin meriah.
"Selamat, Pak Angga dan Mbak Seruni. Akhirnya acara ini bisa diselenggarakan tanpa adanya suatu halangan apapun," ucap salah satu lelaki dan perempuan yang berpakaian seperti orang kondangan.
Yakni dengan si pria yang mengenakan batik panjang dengan celana formal, dan si wanita memakai kebaya seperti Seruni.
"Terimakasih banyak atas kehadiran Bapak dan Ibu Camat dalam acara sederhana kami," ucap Angga membalas jabatan tangan Pak Camat, senyum tipis menghias bibirnya.
"Jangan merendah, Pak Angga. Semua ini merupakan hal yang sangat luar biasa. Di kecamatan kita ini, baru ada satu tempat seperti ini. Semoga dengan apa yang Pak Angga dan Mbak Seruni usahakan, dapat memajukan Desa xx ini," tutur Pak Camat.
"Sekali lagi terimakasih banyak atas kehadiran Bapak dan Ibu. Kehadiran kalian membuat acara peresmian Desa Wisata xx ini menjadi semakin meriah," suara lembut Seruni mengalun merdu di telinga Angga.
Selepas kepergian Bapak dan Ibu Camat. Angga dan Seruni menatap sekeliling, banyak para penduduk yang tertawa bersuka ria menikmati gunungan yang di bagi-bagikan pada acara tadi. Dilanjutkan dengan bebakaran ikan yang di lepaskan pada empang-empang di sekitarnya.
Acara pembukaan taman di desa tersebut di hadiri oleh hampir seluruh warga desa , tak terkecuali Mbah Kakung dan Mbah Putri Harso yang menatap bangga pada cucu pertamanya.
Disaat yang lain sedang sibuk bakar-bakar, ada pula yang masih memancing untuk mendapatkan bahan bakaran mereka. Angga mengajak Seruni ke arah taman yang baru saja resmi di buka, mereka duduk di salah satu gazebo kecil yang ada di pinggir jalan. Artinya tidak terlalu masuk ke dalam taman, agar tak mendapat tatapan tidak baik dari para warga.
Kan nggak lucu kalau pelopor berdirinya desa wisata ketangkap basah lagi mojok berduaan, apa kata dunia nanti. Pada kesempatan yang baik itu, Angga mengungkapkan perasaannya pada gadis yang merupakan kembang desa, sebut saja Desa Karang Kembang. Abisnya gak enak disebut desa xx terus, kayak di siaran berita aja.
"Seruni, maukah kamu menjadi kekasihku?" Ucap Angga setelah berbasa dan berbasi agak lama, kalau terlalu lama nanti basi beneran.
Meski ada sedikit rasa takut dan ragu dalam diri Angga, takut akan mendapatkan penolakan dari Seruni. Tapi ia membulatkan tekadnya untuk mencoba peruntungan di hari baiknya. Angga sebenarnya memang sudah merencanakan hal tersebut jauh-jauh hari sebelum hari H.
"Sejak kita bertemu beberapa bulan yang lalu, aku sudah tertarik padamu. Kamu gadis baik, lembut dan sopan. Tapi bukan itu yang membuatku menyukaimu," Angga menghentikan ucapannya, dia menoleh pada gadis di sampingnya dan tersenyum.
Seruni yang mendapat pertanyaan sekaligus pernyataan itu terkejut, namun tak dapat menyembunyikan pancaran kebahagiaan di wajahnya. Gadis yang di tatap sedemikian rupa oleh Angga, menjadi salah tingkah. Kepalanya menunduk malu-malu.
Angga kembali menatap depan, tak ingin lama-lama membuat Seruni nervous. Meskipun dirinya sendiri juga sangat nervous, melebihi jika berhadapan dengan kliennya yang penting sekalipun. Tapi ia masih bisa menguasai keadaan dan menyembunyikan rasa groginya.
__ADS_1
"Entah karena apa, aku juga tak tau. Yang jelas, aku merasa nyaman saat bersamamu. Aku senang melihat senyummu, aku ikut merasa bahagia saat kamu tertawa. Apa itu bukan perasaan suka?"
Seruni terdiam, ia hanya mengiyakan dalam hatinya. Karena sejujurnya dirinya pun meradakan hala yang sama.
Melihat Seruni tak menjawab apapun, lelaki itu melanjutkan perkataannya, "jika kamu bersedia, kita bisa lebih saling mengenal lagi satu sama lain. Dan suatu hari nanti jika kita sudah sama-sama siap, kita bisa melanjutkannya ke jenjang yang lebih serius,"
Keheningan mengisi beberapa saat, hanya terdengar suara jangkrik dan kodok sesekali. Angga memutuskan untuk kembali bertanya.
"Bagaimana, Seruni? Apa kamu bersedia, atau tidak?"
Gadis itu tersenyum dan mengangguk, "Kalau Mas Angga memang serius. Runi mau, Mas."
Angga tertawa bahagia, secara reflek ia ingin memeluk Seruni tapi tersadar belum muhrim dan situasi tak mendukung. Akhirnya ia hanya berdiri dan melompat kecil, jangan lupakan kedua tangannya yang mengepal dan ucapan "yes" beserta "yeah" terlontar dari mulutnya.
Seruni terkekeh geli menyaksikan Angga yang kegirangan seperti anak kecil. Kekehan yang mampu mencetak jelas lesung di kedua pipi gadis itu, lagi-lagi membuat Angga kembali terpesona.
"Terpesona.. Aku terpesona.."
"Yang baru aja jadian, jangan lupa pajaknya!" Seru salah satu pemuda mewakili teman-temannya.
"Itu pajaknya yang lagi di pancing sama di bakar! Makan aja sepuasnya, bebas! Nggak usah bayar khusus hari ini," sahut Angga yang tentunya di dengar oleh siapapun yang ada disana, membuat mereka semua semakin bersorak gembira.
Di kerumunan orang yang berlalu lalang, terdapat pula kakek dan nenek Angga beserta kedua orang tua dari Seruni, tentu saja mereka ikut mendengar dan mengetahui apa yang terjadi. Dan mereka tidak mempermasalahkan hal tersebut, karena merasa bahwa Angga dan Seruni sama-sama sudah dewasa, dengan catatan ada keseriusan di dalamnya.
Mengingat usia mereka bukan ABG lagi, meski belum terlampau dewasa juga, mungkin waktu satu hingga dua tahun cukup untuk keduanya berpacaran guna mengenal lebih dalam. Dan nantinya dilanjutkan ke jenjang yang lebih serius, yakni pernikahan.
Angga dengan mantap menjawab serius, saat mendapat pertanyaan dari Mbah Kakung Harso. Mbah kakung merasa lega dan merestui hubungan cucunya tertuanya itu dengan Seruni, Si Kembang Desa Karang Kembang.
Kembali pada hari ini di kantor Angga.
"Seruni? Jadi kamu sosok gadis cantik yang selalu muncul di dalam mimpiku? Yang selalu berkelebat dalam ingatanku?" Gumam Angga.
"Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa aku bisa lupa sama kamu?"
__ADS_1
"Kenapa aku malah bisa menikah dengan wanita jahat itu?"
"Kenapa kamu tidak menemuiku saat aku akan menikah dengan wanita lain?"
"Kenapa? Kenapa?" Teriak Angga.
"Kamu tau, cuma kamu yang aku suka,"
"Aku hanya menyukaimu, Seruni! Hanya kamu, bukan yang lain," Angga menyugar rambunya kasar dan meremasnya frustasi.
"Pantas saja aku tak pernah merasa bahagia saat bersama wanita itu. Aku merasa hampa meski aku tak mengingatmu dulu."
"Kehidupan rumah tanggaku terasa semu dan palsu. Palsu seperti wanita murahan itu."
Raut kemarahan terpancar dari wajah tegas Angga. Kenyataan yang baru saja diingatnya membuatnya kacau.
"Aku harus menemui Seruni,"
"Aku harus bertanya dan mengetahui semuanya,"
"Ya, benar," Angga terus bermonolog dengan dirinya sendiri.
"Karena jika aku bertanya pada perempuan itu, tidak mungkin aku mendapat jawaban yang jujur. Yang ada hanya dusta, dan akan membuatku semakin murka,"
"Arga, kesini cepat!" titah Angga pada Arga lewat telepon.
Apa jadinya kalau Angga menemui Seruni?
.
.
Bersambung
__ADS_1