
...Mohon dukungannya ya😊...
...Dengan kasih Like 👍...
...Komen💬...
...Juga pncet gambar ❤...
...Selamat membaca📄...
......................
Karena penasaran, maka gadis itupun bertanya kepada sang ayah.
"Bapak pakai sandal siapa? Terus sandal ynag tadi bapak pakai kemana?"
"Sandal bapak ilang tadi di Masjid. Terus itu sandal punya orang, cowok ganteng, baik hati lagi ndok. Ndak kenal aja mau meminjamkan sendalnya.Tipe menantu idaman bapak banget pokok'e." Jawab bapak dengan berbinar sambil menekankan kata menantu idaman.
"Lhah, si bapak ngehalu ih." Senja meringis mendengar jawaban dari sang ayah.
Ya, lelaki paruh baya itu tak lain ialah Pak Sapto, ayah Senja pujaam hati Andra.
Ayah Senja mengernyit dan nampak berfikir "Ngehalu ki opo to ndok? (Ngehalu itu apa sih nak?)"
"Mengahayal Pak maksudnya. Mana ada sih cowok yang ganteng, kaya, baik hati seperti yang bapak bilang itu yang mau sama anak bapak yang jelek plus petakilan (kebanyakan tingkah) ini?" Lanjutnya.
Bapak tersenyum mendengar ucapan anak sulungnya itu, "Ndak ada di dunia ini yang enggak mungkin ndok. Jodoh, rejeki, mati itu sudah di atur sama Gusti Allah. Kita sebagai hamba-Nya, cuma bisa berdo'a dan berusaha!"
Bapak mengusap kepala Senja yang terbalut hijab berwarna hijau itu, lalu masuk ke dalam kamarnya.
Setelah mendengar kata-kata bapak, Senja jadi teringat seseorang di masa kecilnya dulu.
"Nil, ini ada titipan buat kamu." Bagas memberikan sebuah kotak brukuran sedang kepada Senja.
__ADS_1
"*Opo iki? seko sopo*? ( **Apa ini? dari siapa**?)" Senja menerima kotak itu dan langsung membukanya dengan bersemangat, karena ia memang menyukai kado dan semacamnya.
Mata bulat itu berbinar melihat sesuatu yang ada di dalamnya, ada berbagai macam hadiah cantik disana. Salah satunya jepit rambut yang membuat dirinya jadi ingin memiliki rambut panjang.
Senja tersenyum mengingat kenangan itu, sambil memegang jepit rambut yang ada dalam genggamannya.
"*Dimana dia sekarang? Sudah bertahun tahun berlalu, tapi aku masih saja mengingatnya.
Mas ganteng, apa kamu masih ingat sama aku?
Ah, mana mungkin. Menghayal banget aku ini. Palingan dia udah jadi orang sukses dan punya pacar, seorang model yang seksi dan cantik. Sama seperti yang ada di novel novel itu. Kan dia hidup di Ibukota*". Gumamnya dalam hati.
"Haiiisshhh! Mikirin apa sih aku." Ia mengibas-ngibaskan tangan mencoba menghilangkan pikiran anehnya.
Gumamnya lagi masih terus mengibas-ngibaskan tangan di depan wajahnya.
Dia segera berlalu ke dapur menyusul sang ibu yang sedang sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk dirinya.
Andra memasuki kamar dan berganti pakaian, setelah itu kembali keluar dan duduk di sofa. Dia memikirkan cara agar terhindar dari amukan kangguru ngambek. Atau paling tidak, ia harus bisa membujuk rayu kangguru itu agar tak marah lagi.
Dia teringat Bayu yang berlari berjinjit jinjit sambil melompat-lompat, persis seperti ibu kangguru yang mengejar anaknya.
"Hahahahahhaha" Tawa jahatnya melihat penderitaan Bayu yang berlompatan di jalan aspal karena kakinya merasa kepanasan tadi.
__ADS_1
Tak lama kemudian Bayu masuk, bibirnya sudah maju beberapa senti seperti hendak di kuncir, lalu komat kamit seperti mbah dukun yang membaca mantra.
Rasa kesalnya memuncak tatkala melihat telapak kakinya yang memerah karena kepanasan berjalan sejauh itu dan tanpa memakai alas kaki.
"Ekhem! Mas Bayu.." Andra mencoba membuka suara hendak membujuk Bayu, seperti seorang cewek yang membujuk cowoknya saat ngambek. (Heddeuh)
Hening,
"Mas Bayu" Panggilnya lagi.
Bayu masih membisu, ia mengoleskan salep pada telapak kakinya.
"Mas Bayu, kamu marah sama aku? Maafin aku yaa? Nanti aku traktir es krim deh, biar adem kakinya, gimana?" Andra mengedip-ngedipkan matanya genit.
"Hiih, diem lo! Jijik gue ngeliat lo kayak gitu. Lo pikir gue anak TK yang langsung luluh gitu aja lo iming-iming es krim!" Pundaknya bergidik.
"Abisnya lo cemberut aja kayak emak-emak pengen beli bedak tapi kehabisan duit!"
Apa hubungannya Bang Andra?
"Yaudah ntar gue gantiin sendal lo, kalo perlu sama tokonya juga deh! Biar sekalian lo jualan sendal." Lanjutnya.
"Gak perlu!" Jawab Bayu ketus
"Terserah lo aja lah, ntar pikirin lo mau apa kalo udah gak ngambek!" Kembali ke mode cuek, lalu beranjak dari duduknya dan keluar.
"Dasar gemblung (nggak waras)! Tadi ngrayu-ngayu kayak nggak punya harga diri, sekarang ngambeg sendiri! Dasar Boss labil!."
"Gue gak perlu apa-apa Ndra, lo udah banyak banget ngebantu hidup gue. Ngeliat lo udah nggak sekaku dan sefrustasi dulu aja gue udah ikut seneng. Sejak lo udah nemuin Senja, lo bisa mulai tersenyum lepas lagi. Meskipun baru sekedar bisa memandang nya doang. Gue bakal berusaha buat lo bisa bersama Senja Ndra, biar gue bisa sedikit mengurangi rasa berhutang budi gue sama lo". Batin Bayu melihat punggung Andra berlalu, mata nya berkaca-kaca.
Bayu teringat dulu saat dirinya baru saja tiba di Ibukota, tidak mempunyai bekal apapun dan tidak mengenal siapapun disana kecuali paklik yang sedang dicari alamatnya. Ia bertanya kepada semua orang yang ditemuinya, alamat rumah pakliknya.
Kertas yang sudah lusuh bertuliskan sebuah alamat itu menjadi petunjuk satu-satunya bagi Bayu untuk menemukan keberadaan pakliknya. Tetapi nihil, satu minggu sudah ia berada di Jakarta tapi belum mendapatkan apapun. Ia sudah menulis ulang alamat paklik yang diberikan oleh bapaknya sebelum ia berangkat ke Jakarta.
Uang saku yang tak seberapa yang dibawanya dari kampung, hasil dari menjual kambing kesayangannya sudah hampir habis. Ia sudah sangat mengirit mempergunakannya agar bisa bertahan sedikit lebih lama disana sampai ia bertemu dengan pakliknya. Makan sehari sekali, minum air mineral sedikit-sedikit. Tidur hanya menumpang dimana saja yang ia pijaki, di terminal, di taman, di kolong jembatan, bahkan di emperan toko.
Saat ia sudah hampir putus asa dan memutuskan untuk kembali ke kampung halaman. Meskipun disana juga ia akan merasa sakit hati melihat bapaknya bersama istri barunya. Setidaknya itu lebih mendingan daripada ia harus terluntang lantung di kota seperti gelandangan. Tidak punya pekerjaan apalagi tempat tinggal.
Tiba-tiba ia melihat sekelebat orang yang mirip seperti pakliknya sedang berjalan di terminal. Ia mengejar orang tersebut, dan ternyata itu memang pakliknya. Senyum kelegaan terpancar dari wajah kusam Bayu kala itu karena tak terurus selama seminggu. Ia langsung memeluk pakliknya, yang dibalas juga oleh paklik.
__ADS_1
Awalnya semua nampak baik-baik saja, pakliknya mengajaknya makan enak. Membelikannya baju bagus dan mengajaknya pulang untuk membersihkan diri dan beristirahat. Siapa yang menyanhka jika semua itu tidaklah gratis, bahkan harus dibayar mahal oleh Bayu.
Bersambung😊