Pengagum Rahasia Senja

Pengagum Rahasia Senja
Rencana Yang Gagal


__ADS_3

Seruni sudah selesai mandi dengan di bantu oleh Bulik Asih. Gadis itu memakai gamis mbah putri yang memiliki tinggi sama dengan dirinya. Senja sempat menawarkan pakaiannya, namun akan kedodoran jika di pakai ditubuh Seruni.


Senja yang memiliki tinggi 165 cm dan berbobot 60kg, ideal untuk ukuran tingginya. Sedangkan Seruni hanya memiliki tinggi sekitar 155 cm, dan tubuhnya sangat mungil. Maka sudah dapat di pastikan pakaiannya akan kedodoran dipakai Seruni.


Jangan tanyakan keberadaan Banyu, karena ular itu sudah diamankan oleh mbah kakung, demi keamanan dan kenyamanan bersama. Terutama bagi Andra dan Senja yang sangat takut terhadap hewan melata tersebut.


"Banyu mana, Mas? Anak kita mana? " tanya Seruni dengan nada khawatir dan panik.


Begitu udah di rapih kan oleh Bulik Asih, gadis itu langsung mencari-cari dimana keberadaan ular sanca kesayangannya. Namun setelah matanya menyapu ke seluruh penjuru ruangan dan tak menemukan ular tersebut, wajahnya yang semula tersenyum langsung berubah menjadi panik seketika.


Angga yang mendengar pertanyaan Seruni berfikir sejenak sebelum menjawab.


"Aa.. emm.. itu.. ul- eh Bany-, "


"Eh.. Kak Runi udah cantik lagi, udah nggak basah-basah.. kita sarapan yuk! " Senja yang tiba-tiba datang dan menyapa Seruni membuat Angga bernafas lega.


Sementara Senja mengurus Seruni, Angga bersiap untuk menjalankan rencana yang telah ia susun bersama semua orang.


•••


Hujan berhenti setelah hari beranjak siang, matahari dengan perlahan menampakkan diri, memberikan kehangatannya bagi bumi.


Angga sudah siap menenteng keranjang yang berisi Banyu, rencananya ia akan mengajak Seruni ke taman desa yang beberapa tahun lalu ia buat bersama warga desa Karang Kembang.


Meski sambil cemberut karena tak diperbolehkan membawa Banyu secara langsung di tangannya , namun Seruni tetap mengikuti Angga.


"Runi.. "


"Ya? "


"Emm.. Banyu kalau di rumah, boboknya dimana?" tanya Angga membuka obrolan.


Kedua orang itu berjalan beriringan menuju taman yang tak begitu jauh dari rumah mbah kakung.


"Di kamar Runi, sama Runi dan anak-anak kita yang lain.. Kantil, Kenanga, Melati, sama Lili.. adik-adiknya, "


Angga mengerenyit, "bobok di tempat tidur mereka sendiri atau.. bagaimana? "


"Enggak.." Seruni menggeleng, "kita semua boboknya jadi satu sama di tempat tidur Runi, "


Jawaban polos yang di ungkapkan gadis itu membuat Angga kesulitan menelan salivanya. Ia membayangkan bagaimana gadis itu tidur dikelilingi oleh lima ekor ular besar-besar sekaligus secara langsung. Tanpa sadar pundaknya bergidig ngeri.


"Itu kalau Andra udah pingsan. Eh, bukan pingsan lagi.. kejang-kejang kayaknya," batin Angga terkekeh.


Taman Desa Karang Kembang yang mereka tuju sudah ada di depan mata, taman yang menjadi saksi bagaimana Angga menyatakan perasaannya pada Seruni beberapa tahun yang lalu.


Taman itu masih tampak indah dan asri, karena memang seluruh penduduk desa turut menjaga kelestariannya.


Justru disana sudah bertambah beberapa hewan-hewan lucu, seperti ; kelinci, burung dara, ayam hias, ular, biawak, dan masih banyak lagi yang lainnya.


Di musim hujan seperti ini, hewan-hewan tersebut diletakkan di dalam kandang masing-masing. Karena jika bukan karena musim hujan atau ada kunjungan tertentu, hewan-jewan tersebut di bebaskan di taman yang berumput hijau. Tentunya masih ada pagar untuk membatasi agar mereka tak pergi keluar dari taman tersebut.

__ADS_1


Di taman reptil, khususnya ular. Kandang yang bagian depannya berupa kaca dan berjumlah lima buah tersebut kosong semua, karena memang penghuninya jadi piaraan Seruni.


"Kita mau piknik ya di taman? " ucap Seruni antusias.


Dengan ragu Angga mengangguk mengiyakan.


Kemudian Angga mengajak Seruni menuju ke arah taman reptil.


Lelaki itu memperhatikan satu-persatu hewan reptil yang ada. Sudah semakin bertambah banyak jenis koleksinya sejak terakhir dirinya berkunjung ke tempat tersebut.


Tiba pada kandang berdinding kaca di bagian depan berbentuk persegi dengan ukuran yang lumayan besar, karena itu adalah tempat Banyu. Angga berhenti melangkah dan mengutarakan maksudnya pada Seruni dengan sangat hati-hati.


"Emm.. Runi, "


Seruni yang sejak tadi memperhatikan sekeliling pun menoleh pada Angga yang berada di sampingnya. Tangan Seruni yang bebas memilin rambutnya yang panjang nan lurus tergerai.


"Bagaimana kalau Banyu biar bobok disini aja? "


"Kenapa memangnya? Bobok sama Runi nyaman kok, " balas Runi.


"Ya.. memang Banyu nyaman bobok sama Runi,"


"Tapi aku yang nggak nyaman bayanginnya, " gerutu Angga yang hanya dalam hati.


"Tapi biar dia lebih nyaman lagi, boboknya disini.. kan tempat bobonya luas, dan dia bisa bebas bergerak, gitu.."


Seruni diam, matanya menelisik setiap sudut ruangan kandang kaca yang bersih dan lumayan luas untuk ukuran Banyu yang memang jumbo itu.


"Aman kok, kalau perlu nanti biar aku cari orang buat jagain dia dari luar sini, gimana? " tawar Angga.


Seruni mulai tertarik, "terus adik-adiknya? "


"Adik-adiknya yang lain, nanti juga dipindahin kesini semua.. kan tempat boboknya banyak, ada masing-masing satu untuk satu.. "


"Marah gak ya dia kalau gue sebut ular? Apalagi jenis mereka kan beda-beda. Gue heran, semua ular itu bisa akur di tangan Seruni,"


"Gitu ya? Terus kalau Runi mau nemenin bobok disini boleh? "


Angga terkejut dengan pertanyaan Seruni, tak menyangka jika gadis itu akan bertanya demikian.


"Runi boboknya di rumah Runi aja, kan disini Banyu sama adik-adiknya sudah ada yang jaga.." jawab Angga memberi pengertian.


"Tapi kalau pas siang, Runi mau jenguk mereka, boleh kok. Asal ajak orang lain ya? Ibu, Bapak, Mas Angga juga boleh, "


Seruni mendadak mematung mendengar kalimat terakhir Angga.


"Mas Angga? "


"Iya, Mas Angga.. "


"Kamu... Mas Angga? " tanya Seruni dengan mimik wajah yang sulit di artikan oleh Angga.

__ADS_1


"Iya, Runi. Ini aku, Angga.. "


"Mas.. Angga? " Mata Seruni yang semula bening, mendadak berkaca-kaca, dan tak lama kemudian mulai menganak sungai.


"Mas Angga.. jahat, "


"Mas Angga jahat.. "


"Runi nggak mau sama Mas Angga.. "


"Nggak mau.. nggak mau.. " Seruni mundur perlahan-lahan. Mulutnya terus meracau mengatakan Angga jahat.


Angga mendekat berusaha menenangkan Seruni.


"Runi.. maafin aku. Aku nggak bermaksud seperti itu, Runi.. "


"Enggak! " teriak Seruni masih terus berjalan mundur.


"Biar aku jelasin, Run. Kamu dengerin aku dulu! "


"Enggak mau! " teriak Seruni makin histeris.


"Please, Run.. " Angga memohon dengan wajah memelas.


"Aku harus gimana biar kamu dengerin aku, Runi?"


"Pergi! kamu jahat! Kamu jahaaat...! "


Teriakan Seruni semakin kencang, dengan tangan yang menjambak rambutnya sendiri sekencang mungkin. Hal itu membuat Angga panik.


Apalagi setelah berteriak seperti itu, kepala Seruni yang menghadap atas dengan mata yang mendelik lebar. Dan tak lama kemudian gadis itu lemas dan jatuh terkulai, pingsan.


Angga yang sudah semakin panik reflek berlari mendekat dan menangkap tubuh Seruni sebelum gadis itu benar-benar jatuh di atas rerumputan.


"Runi... kamu kenapa? Maafin aku, Run. Seharusnya aku pelan-pelan, bukan memaksa menjelaskan dan malah membuat kamu seperti ini, " tatap Angga sedih.


Kepala Seruni yang berada dalam dekapan Angga, membuat Angga bisa menatap wajah ayu yang basah oleh air mata. Membuat Angga semakin merasa bersalah.


"Aku harus menelpon yang lain untuk meminta bantuan, dan harus melaksanakan rencana cadangan karena rencana ini belum berhasil, "


Angga menghubungi nomor Bayu yang langsung mendapat respon dan mengatakan akan segera menyusulnya ke taman.


"Kenapa hanya dengan mendengar namaku saja kamu sudah histeris seperti ini, Run? Aku harus bagaimana sekarang? "


Otak cerdas Angga mendadak tak ampu berfikir karena melihat kondisi Seruni yang menyedihkan.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2