
Pagi harinya..
Kedua pasangan yang masih terbilang baru itu, karena baru beberapa bulan mereka menikah. Berjalan ke meja makan dengan lesu dan tampak mata panda menghias di sekitar mata mereka.
"Ini, Pak Bos ama Bu Bos kenapa dah?" tanya Bayu yang sudah duduk terlebih dahulu di meja makan. Ia sedang menikmati secangkir kopi dan gorengan yang masih mengepulkan uap.
"Hmmh, " Andra mendesah pelan.
Lelaki itu meletakkan kepalanya pada meja dengan tangan dibiarkan menjuntai ke bawah meja. Terlihat sekali bahwa lelaki itu sangat lelah dan mengantuk.
"Hoaamm, " Senja malah menguap yang langsung di tutup dengan kedua tangannya disuluruh wajah. Matanya tampak memerah dan ia tampak tak bersemangat pagi ini.
Pemandangan itu benar-benar membuat tanda tanya besar di kepala Bayu yang tak tau apa-apa Karena setelah kemarin sore dia ngambeg dan meninggal kan semua orang di ruang keluarga begitu saja, Bayu sudah tak lagi turun dari kamarnya yang berada di lantai atas.
Sementara Mbak Asih dan Mbok Munah saling pandang lalu kemudian tersenyum, mereka sepertinya faham apa yang dialami oleh dua cucu dari majikannya tersebut.
"Kok, Mbak Asih sama Mbok Munah malah senyum-senyum gitu sih, liat Bos Andra sama Senja lesu? "
Kedua orang yang jadi target tanya Bayu itu menggeleng bersamaan.
"Nggak papa, Mas Bayu, " jawab Mbak Asih kemudian.
"Biar Mbok Munah bikinin kamu buat mereka, biar sehat dan semangat lagi, " ucap Mbok Munah yang kemudian pamit kembali ke dapur.
"Eh, betewe, mana Bayi Bang Lukman? " Senja hanya menjawab pertanyaan Bayu dengan tolehan kepala menghadap ke ruang keluarga.
"Sama? " lanjut Bayu bertanya.
"Pak Santo, " jawab Senja pelan yang hanya terdengar seperti gumaman.
Mbak Asih datang membawa dua gelas jus sirsak yang nampak segar, segera saja Senja menyambar jus tersebut sesaat setelah mendarat di hadapannya.
"Makasih, Mbak, " Senja langsung meminumnya hingga habis separuh.
"Buset, haus apa haus, Nja? " komentar Bayu.
"Haus yang di haus-hauskan, " balas Senja yang lalu menyomot bakwan hangat yang tersaji.
"Mas Andra, di minum dulu deh jus nya, biar segeran, " Senja menepuk pelan bahu Andra yang masih meletakkan kepala pada meja di sebelahnya.
"Hmm, " Andra perlahan membuka matanya yang terasa berat.
"Nih, mau jus apa jeruk anget? "
__ADS_1
"Apa aja deh, susah banget nih mata buat melek, " Andra mengucek-ngucek mata dengan tujuan agar mengurangi kadar lengket yang disebabkan oleh kantuk.
"Nih, " Senja menyodorkan secangkir jeruk nipis hangat pada suaminya. Andra menerimanya dengan senang hati.
"Sruuup, " Andra menyeruput jeruk hangat tersebut dan membuat matanya sedikit lebih melek.
"Makasih, Sayang.. " Andra tersenyum pada sang istri.
"Sama-sama, Mas Andra Sayang... "
"Heh, kalau masih kurang sayang-sayangannya, balik lagi sana ke kamar! Bikin yang jomblo makin ngenes aja deh, " sewot Bayu.
"Sewot amat, Kak Bay. Liat orang saling nyemangatin juga, biar melek nih mata kita, "
"Emang kalian tuh ngapain sih? Bukannya kalau 'ehem-ehem' aja udah biasa ya, dan gak sampe bikin kalian loyo kayak gini, " ucap Bayu yang sukses membuat kedua bola mata Andra dan Senja terbuka lebar.
"Sotoy lo! " buah kelengkeng sebesar kelereng berhasil mendarat di kening Bayu yang berasal dari Andra.
"Lo mau tau kita abis ngapain? " ucap Andra kemudian.
"Emang apa? " tanya Bayu polos.
"Ntar malem, lo tidur di kamar kita, " kini gantian Bayu yang tersedak mendengar perkataan Andra.
Bayu mendeliki, " gue suruh jadi juru kamera kalian gitu? Terus liat kalian live gitu? Hueek, " Bayu memeragakan seperti orang hendak muntah.
"Sembarangan lo ngomong! Mulutnya di jaga ya, Uncle Babay, " tugas Andra mengingatkan.
"Lah terus, kalau malem-malem gitu ya, secara kalian kan pasangan suami istri, pengantin baru juga. Terus gue lo suruh ikut tidur di kamar kalian, logikanya aja, Pak. Kalian butuh obat nyamuk atau jurus kamera, " ucap Bayu makin menjadi-jadi.
"Mending lo makan aja deh, Bay. Biar cepet gede, cepet pinter. Terus pikiran lo nggak ngeres kek kebanyakan pasir, " ucap Andra kesal.
"Dan jangan lupa, lo ntar malem tidur di kamar gue, Mbak Asih sama Mbok Munah juga, "
Mbak Asih dan Mbok Munah yang baru saja datang dengan membawa sayur sop beserta sambal jadi mengernyit, kenapa nama mereka ikut dibawa-baea, begitu sekiranya pikiran mereka.
"Tapi daripada kita naik turun terus, apa gak mending pindah kamar aja dulu sementara, Mas?" tanya Senja pada Andra yang tengah menyuap buah Anggur.
"Pindah kemana? "
"Kamar eyang, "
"Kamar eyang? " tanya Andra mengulang perkataan istrinya.
__ADS_1
Senja mengangguk, " maksudnya itu bukan kamar utama punya eyang, bukan.. "
"Terus?"
"Kamar yang itu loh, " Senja menunjuk pada salah satu sudut pintu yang berwarna pink muda.
"Itu bukannya kamar kamu, Nja? " tanya Bayu.
"Itu kamar eyang sama aku juga sih, dulu pas belum nikah sama Mas Andra, "
"Ah iya, Mas baru inget. Boleh juga sih, biar gak capek naik turun lagi ntar malem, "
"Naik turun, naik turun, kayak baju yang pernah viral aja kalian berdua,"
"Nanti biar Mbak Asih bersihin dan rapiin dulu kalau mau ditemlati lagi, " ucap Mbak Asih yang edari tadi ikut menyimak.
"Makasih, Mbak. Sama sekalian tolong, baju-bajunya dedek bayi juga di tata disana aja deh, Mbak, "
"Siap, Mbak Senja. Monggo sarapan dulu, biar semangat lagi, " ucap Mbak Asih mempersilahkan.
"Bareng-bareng aja yuk, Mbak! Sekalian Mbok Munah juga, "
"Simbok masih mau bikin kamu buat Mbak Senja sama Mas Andra, " ucap Mbok Munah yang merasa sungkan.
"Itu bisa nanti lagi, Mbok. Yuk, sarapan dulu!"
"Mbok udah sarapan kok, minum teh anget sama makan gorengan, itu udah bikin kenyang. Nanti kalau sudah kenyang baru sarapan nasi, " tolak Mbok Munah dengan bahasa halus.
"Tapi sarapan tetap harus lo, Mbok. Sarapan itu penting banget sebelum jam 9 pagi. Nanti Mbok Munah dan Mbak Asih jangan lupa sarapan loh ya, kita duluan kalau gitu, "
"Iya, Mbak. Monggo silahkan, Mbak Senja, Mas Andra, Mas Bayu.. " Mbak Sih serta Mbok Munah pun pamit kembali ke dapur untuk beberes.
Padahal eyang dan seluruh penghuni rumah itu tak pernah membeda-bedakan antar semua, meskpun itu asisten rumah tangga, tukang kebun ataupun satpam sekalipun.
Tapi mereka saja yang tetap merasa sungkan jika harus makan bersama-sama di meja makan. Terkecuali saat acara makan-makan di halaman belakang atau pada saat sedang keluar, ntah itu hanya sekedar jalan-jalan ataupun sedang piknik bersama.
"Ini sup apa? Kok kayak gini? " tanya Senja pada Andra dan Bayu.
Kedua lelaki itu saling tatap antara mereka dan sup yang sedang di amati oleh Senja dan di aduk olehnya.
"Itu, sup... "
.
__ADS_1
.
Bersambung...