Pengagum Rahasia Senja

Pengagum Rahasia Senja
PRS 75. Penyebab Trauma


__ADS_3

...Selamat membaca😊...


...----------------...


Flashback on


"Lalu kami harus bagaimana Pak Dokter? apa yang harus kami lakukan? kami tidak punya uang sedikitpun, bagaimana kami akan bisa memindahkan anak kami ke rumah sakit yang besar?" rentetan pertanyaan yang diiringi isak tangis itu berasal dari seorang ibu yang sedang menggendong seorang anak perempuam kecil kira-kira berusia 6 tahun yang sedang terlelap.


Namun bukan anak yang sedang di gendongnya itu yang kini menjadi penyebab air matanya, melainkan seorang putrinya yamg lain yang kini tengah terbaring lemah dengan beberapa alat yang menempel di tubuhnya di dalam ruangan ICU sebuah rumah sakit kecil di daerah Semarang.


"Tenang dulu Bu, kita bicarakan ini sambil duduk. Bapak bisa mohon di tenangkan istrinya?" ucap sang dokter dengan halus dan pengertian pada pasangan suami istri yang nampak sangat khawatir itu.


Sang suami dari si ibu merengkuh pundak istrinya untuk mengajaknya duduk di bangku tunggu. "Ayo Bu, duduk dulu."


"Retno, maafkan aku.. gara-gara si Cenil nolongin cucuku dia jadi seperti sekarang ini," ucap seorang nenek yang berada di sebelah Bu Retno.


"Maksud njenengan (Anda) apa Mbah?"


"Jadi begini Ndhok.." simbah putri pun langsung menceritakan seperti apa yang tadi di ceritakan oleh Pakdhe Kemis kepadanya tanpa menambah atau mengurangi cerita tersebut, juga dari keterangan yang di dapatkannya dari Bagas.


"Ya Allah.. Cenil anakku, seng kuat yo Ndhuk, seng kuat.. Ibuk karo Bapak neng kene, kowe kudu iso selamet," ucap Bu Retno menerawang dengan air mata yang mengalir semakin deras.


(Yang kuat ya Nak, yang kuat.. Ibu sama Bapak disini, kamu harus bisa selamat)


Kini seorang wanita lain yang juga menunjukkan raut wajah sedih, mendekat dan duduk di samping Bu Retno, "soal biaya rumah sakit dan lain sebagainya, Ibu dan Bapak tidak usah khawatir, kami akan menanggung semuanya." Ujar perempuan yang kira-kira seumuran Bu Retno namun ia sangat cantik dan berpakaian bagus. Jelas saja, penampilan mereka sungguh-sungguh berbeda. Memperlihatkan bagaimana keadaan mereka yang sebenarnya.


"Saya mengucapkan terimakasih dan maaf yang sedalam-dalamnya kepada kalian, orang tua Senja," wanita yang ternyata ibu dari anak lelaki yang di tolong oleh Senja itu mangusap air matanya dengan tisyu sebelum melanjutkan. "Anak kalian itu sangat pemberani. Tadi Andra sudah menceritakan kejadiannya pada kami saat dia sudah siuman, bahwa dia di selamatkan oleh Senja, kalau tidak ada Nak Senja, saya tidak tau apa yang akan terjadi pada Andra anak saya. Tapi sekarang, justru malah keadaan Senja yang mengkhawatirkan, maafkan saya Bu, maafkan saya.." ucap Bu Ratih dengan terisak, ia hampir saja berlutut di hadapan Bu Retno dan Pak Sapto jika tidak segera di cegah oleh pasangan suami istri tersebut.


"Sudah Bu, ndak papa.. kami ikhlas, semua ini memang sudah menjadi kehendak Gusti Allah.." balas Pak Sapto dengan lapang dada. Dia yakin jika segala sesuatu yang terjadi adalah atas kehendak dari Yang Maha Kuasa.


"Terimakasih banyak, kalian memang keluarga yang berhati mulia. Tidak salah jika Senja memiliki hati yang juga sangat baik seperti kalian orang tuanya," balas Bu Ratih.


Kini semuanya hanya bisa berdoa dan ber-ikhtiar untuk kesembuhan Senja dan pemulihan Andra.


Malam itu juga Senja di pindahkan ke rumah sakit yang lebih besar di kota tersebut, yang memiliki peralatan lengkap dan lebih canggih. Karena pihak kedokteran perlu mengeluarkan seluruh racun yang masih tersisa di dalam tubuh Senja melalui proses operasi maupun cuci darah. (Semuanya hanya karangan author saja ya, untuk mendramatisir ceritašŸ˜…).

__ADS_1


Andra pun ikut di pindahkan di rumah sakit yang sama dengan Senja, atas permintaan anak itu. Juga agar lebih mudah untuk semua anggota keluarganya menjaga keduanya.


Rangkaian demi rangkaian upaya pengobatan Senja di lakukan oleh tim dokter khusus, pihak keluarga Andra ingin Senja bisa pulih seperti sedia kala. Mereka mengerahkan seluruh kemampuan yang mereka miliki untuk mendatangkan dokter terbaik guna mengobati gadis kecil yang telah menyelamatkan putranya tersebut.


Hari demi hari keadaan Andra sudah semakin membaik, ia bolak balik menjenguk Senja setiap saat dengan menggunakan kursi roda karena luka pada kakinya belum sepenuhnya pulih. Andra sering mendengar gadis kecil yang masih setia dengan mata terpejamnya itu merintih seperti menahan sakit yang amat sangat. Tubuhnya juga sering demam, berkeringat dingin hingga menggigil namun tetap tak membuatnya membuka mata.


Banyaknya peralatan medis yang juga masih setia menempel pada tubuh kecil Senja, membuat Andra semakin merasa bersalah atas apa yang terjadi pada gadis itu. Terkadang ia menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada Senja, bahkan ia juga mencaci maki dirinya.


"Harusnya aku yang saat ini ada di posisi kamu, Dek.. harusnya aku yang merasakan sakit yang kamu rasakan, harusnya kamu nggak usah nolongin aku waktu itu," ucap Andra kecil di depan Senja yang terbaring lemah, air matanya bergulir setiap kali ia melihat eajah pucat gadis itu.


Para orang tua pun ikut merasa terenyuh mendengar ucapan Andra yang merada sangat bersalah atas kejadian yang menimpa mereka.


Bu Retno yang sudah bisa lebih sedikit mengontrol hatinya, mendekati anak lelaki yang terus meratapi putrinya, "Mas, Dek Senja ndak papa, dia pasti baik-baik saja, dia pasti cepet sembuh. Ibu yakin itu, karena Si Cenil ini anak yang kuat, dia itu jarang sekali sakit selama ini," ujar Bu Retno menenangkan Andra, ia mengusap air mata anak lelaki itu dengan selendang yang tersampir di pundaknya, yang selalu ia pergunakan untuk menggendong adik Senja.


"Kalau terkadang terkena duri pas ke ladang aja dia itu ndak nangis, malah marah-marah ngomelin durinya, katanya durinya nakal bikin telapak kakiku berdarah, begitu.. tapi abis itu dia udah lupa sama sakitnya dan udah lari-larian lagi," ucap Bu Retno menirukan gaya bicara Senja kecil sambil terkekeh meski matanya mulai menggenang.


Tanpa disadari, bibir Andra juga ikut tersenyum kecil. Ia kembali memperhatikan wajah pucat Senja yang setengahnya tertutup oleh nebulizer (alat yang terpasang pada hidung dan mulut pasien untuk membantu pernapasan). Ia merasa sangat kagum atas keberanian dan ketangguhan gadis kecil itu, sekaligus merasa malu karena dirinya merupakan kebalikan dari Senja.


Dia baik hati, pemberani dan kuat, sedangkan aku.. aku penakut, pengecut dan ringkih. Tapi aku ingin membalas kebaikannya, aku ingin membuatnya selalu senang.


"Andra sayang, kamu berdoa ya sama Allah, biar Senja cepet sembuh dan sehat lagi seperti sebelumnya. Terus kalau nanti udah sembuh, Andra maukan temenan sama dia?" Kini gantian Bu Ratih yang menghibur Andra.


Andra tersenyum dan mengangguk antusias. "Pasti Bun, Andra mau buat dia senang. Andra mau kasih banyak mainan buat Senja, Andra juga mau menjaga Senja. Andra kan cowok, masak cemen sih.."


Bunda Ratih serta yang lainnya ikut tersenyum melihat Andra yang kini tersenyum senang dan mulai bersemangat.


"Mulai besok Andra mau kasih Senja hadiah, biar kalau udah bangun dia langsung seneng karena dapat hadiah. Boleh kan Bun, Buk?" Andra menoleh pada dua wanita di hadapannya bergantian. Pancaran mata polosnya berbinar ceria.


"Tentu saja boleh banget sayang.." jawab Bu Ratih.


Alhamdulillah, kamu udah kembali semangat Ndra. Bunda sedih banget liat kamu murung terus dan nggak mau makan dari kemarin. Lanjutnya dalam hati.


"Nah, supaya kamu bisa jagain Senja. Kamu harus pulih dan sehat dulu, jadi kamu juga harus maem ya?" bujuk bunda Ratih pada Andra. Andra menurutinya dengan senang hati, ia makan dengan lahap dengan tatapan mata yang tak lepas dari Senja.


Siapa yang akan menyangka jika hanya berawal dari sebuah kekaguman pada sosok penolongnya, membuatnya tertarik ingin semakin mengenal gadis kecil itu. Ingin selalu berusaha untuk membahagiakan gadis itu, ingin selalu bersamanya. Dan perlahan tanpa disadari rasa kekaguman itu berubah menjadi rasa cinta hingga menciptakan rasa yang lain, yaitu memiliki. Namun jika mengingat betapa penakutnya dirinya, membuat nyalinya menciut, takut-takut jika kejadian itu akan terulang kembali. Gadis itu akan kembali terluka bila bersamanya, karena akan terus menolongnya.

__ADS_1


Maka dari itu, ia memutuskan ingin membahagiakan Senja tanpa terlihat. Ia terus mengirimkan hadiah pada Senja melalui bantuan Bagas, Pakdhe Kemis, terkadang juga simbah. Hingga saat dimana gadis itu harus berpindah tempat tinggal karena sesuatu hal yang menimpa keluarganya.


Flasback off


Aku sangat sayang sama kamu Senja, ku harap kini aku akan bisa melindungi kamu, bukan kamu lagi yang menolongku.


Andra terus menatap Senja menerawang hingga membuat gadis itu salah tingkah.


"Mas kenapa? belum maafin Senja ya?"


"Apa?"


"Mas ngalamun?"


"Hehe, maaf Dek.."


"Mas maafin Senja nggak?"


"Kamu nggak salah apa-apa, Mas aja yang terlalu penakut," sanggahnya.


"Trauma bukan berarti penakut, Mas," ujar Senja. "Ayo Senja terapi biar trauma nya Mas Andra sembuh,"


"Gimana caranya?" tanya Andra bingung.


"Mas percaya kan sama Senja?" Andra mengangguk, "yaudah, Mas nurut aja.. yuk,"


Mereka berdua pun kembali ke rumah Senja. Entah terapi semacam apa yang akan diberikan oleh Senja pada suaminya itu.


.


.


Bersambung


Mohon like, love, komentar positif, hadiahnya juga boleh loh..🄰

__ADS_1


Terimakasih sudah membacašŸ¤—


__ADS_2