Pengagum Rahasia Senja

Pengagum Rahasia Senja
Bertemu Seruni


__ADS_3

"Memangnya apa yang terjadi sama Bude Muti dan Pakde Minto, Pak? Kok bisa sampai kena senjata tajam?" Tanya Senja yang di angguki oleh Bu Retno juga Andra.


"Bapak juga ndak tau apa terjadi sama mereka," jawab Pak Sapto.


"Lalu darimana Bapak bisa tau kalau mereka terluka dan dirawat di rumah sakit sekarang?" Kini Bu Retno yang bertanya.


"Itu, di tivi. Bapak tadi sarapan sambil nonton tivi, terus pas berita ada beritanya ditemukan Mbak Muti dan Mas Minto, begitu," terang Pak Sapto sekenanya.


Ketiga orang yang mendengar penjelasan itu mengangguk angguk, "terus rumah sakitnya dimana?"


Sontak Pak Sapto menepuk jidatnya, "Bapak lupa, gara-gara tadi keburu kaget dan panik mau beri tau ibumu,"


"Heddeh," Senja pun ikut menepuk jidat, ia menarik kursi dan terduduk disana. Tangannya meraih gelas berisi jus lalu diminumnya sesuai sunnah rasul, yaitu tiga tegukan dengan awalan basmalah dan akhiran hamdalah di tiap teguknya.


"Sini semuanya duduk dulu! Coba tenang dan fikirkan siapa yang kira-kira tau hal ini selain kita, kan kita bisa tanya lalu jenguk bude dan pakde," ujar Senja mengajak ketiga orang yang menatapnya berdiskusi.


Andra yang sejak tadi hanya menyimak, sekarang ikut memberi usul.


"Gimana kalau kita telfon Lukman, siapa tau aja dia juga udah tau berita ini, bukannya semalam dia mengikuti mobil Bu Muti?"


"Bener juga, Nak. Tapi Bapak ndak punya nomernya Lukman,"


"Emm sebentar, Pak-" Andra berjalan ke kamar Senja untuk mengambil ponsel miliknya, "kalau gak salah nomor yang kemarin Andra hubungin pas cari grab online itu nomor Lukman, deh. Coba Andra telfon,"


Pak Sapto, Bu Retno dan Senja diam memperhatikan dan mendengarkan pembicaraan Andra lewat ponsel, namun sepertinya lelaki itu bukannya mendapat jawaban tapi malah rentetan pertanyaan dari seberang sana.


"Dimana kata Lukman, Nak?" Bu Retno bertanya tak sabaran.


"Lukman malah nggak tau kalau ibu sama bapak mertuanya terluka, Bu, Pak,"


"Lhoh? Kok Bisa?"


"Katanya semalem dia mencoba ngikutin mobil yang dikendarai Bu Muti dan Pak Minto, berjarak sekitar sepuluh meter. Tapi pas sampai di perempatan lampu merah, dia berhenti karena pas lampunya menyala merah. Habis itu dia udah kehilangan jejak dan memutuskan untuk langsung pulang," terang Andra panjang lebar.


"Ya Allah, terus kita mesti nanya kemana? Mbok coba di ingat-ingat to, Pak. Tadi kata pembawa beritanya rumah sakitnya apa?" ucap Bu Retno.


Pak Sapto terdiam dan mencoba mengingat-ingat lagi, "rumah sakit.. R-R gitu, Buk namanya,"


Andra mengernyit, "mungkin rumah sakit yang di jalan xx itu maksud Bapak?"


"Iya itu, bener," antusias Pak Sapto sambil menunjuk-nunjuk Andra.

__ADS_1


"Yowes, ayo cepet habisin sarapannya! Abis itu terus siap-siap," titah Bu Retno yang langsung dituruti semuanya.


•••


Bayu mengajak Rudi untuk menemaninya menikmati udara pagi di kampung halaman ibunda dari Andra. Empang-empang lele menjadi pemandangan yang khas di kampung tersebut, namun tak sedikit pula yang membudidayakan ikan di persawahan, atau yang biasa disebut dengan budidaya Mina Padi.


Mina Padi adalah salah satu teknologi terkini yang dikembangkan pada dunia pertanian. Cara budidayanya dilakukan bersamaan dengan tanaman padi pada suatu areal yang sama.



Meskipun di Jogja juga ada, namun Bayu tak pernah sempat jika untuk sekedar berjalan-jalan di kampung, jadi ia sangat menikmati pemandangan yang sangat asri dan segar tersebut. Tak lupa juga ia mengabadikan momen disana. Rudi dijadikannya sebagai fotografer dadakan.


Puas berpose beberapa kali di antara persawahan, Bayu melihat hasil jepretan kamera ponselnya yang diambil oleh Rudi tadi.


"Bagus," gumamnya sambil terus menggeser gambar-gambar yang ada di layar ponselnya.


Namun sesaat kemudian ibu jarinya berhenti menggeser ponsel yang di genggamnya kala netranya menangkap sesosok gadis berambut panjang memakai gaun putih yang menjuntai terlihat di dalam ponselnya. Terus diperhatikannya gambar tersebut untuk memastikan penglihatannya. Jika yang ada di foto tersebut manusia atau bukan.


"Rud, ini manusia 'kan?" tunjuk Bayu pada sesosok gadis yang nampak di gambar ponselnya, berada lumayan jauh di belakang foto dirinya.


Dari kejauhan wajah itu nampak anggun dan ayu dengan senyumnya yang mengembang sempurna.


"Iyo, Mas. Itu manusia, cewek. Kenapa?" Jawab serta tanya Rudi.


Rudi memfokuskan pandangannya lurus pada arah dimana sosok gadis yang dimaksud Bayu berada. Kedua matanya melebar setelah mengenali siapa gadis tersebut. Dengan cepat ia menarik tangan Bayu untuk segera pergi dari sana.


Bayu yang tidak tau apa-apa tetapi dengan tiba-tiba ditarik seperti itu oleh Rudi pun tak terima. Ia menghempaskan tangan Rudi yang memegang lengan bagian atasnya.


"Kamu kenapa sih, Rud? Ditanya bukannya jawab malah main narik-narik tangan aja,"


"Udah to, Mas. Yang penting sekarang kita pergi dulu dari sini, nanti tak ceritain semuanya!" Ajak Rudi.


"Rud, lo bisa nggak sih kasih tau dulu sama gue, sebenarnya dia siapa dan ada apa? Baru gue pergi dari sini dan nurut sama lo!" Tolak Bayu


"Aduuh, pokoknya ayo buruan kita pergi dulu dari sini.. Keburu dia lihat kita,"


"Ya emang kenapa kalau dia lihat kita? Kan dia punya mata, udah lumrah lah bisa lihat kita! Lo gimna sih," ucap Bayu sewot.


"Yah.. yaaah.. dia nengok kesini, dia liat kita. Mampus deh ah," panik Rudi. "Terserah kalau Mas Bayu nggak mau ikut pergi, saya mau kabur duluan," seru Rudi sudah sambil berlari dan segera mencari tempat persembunyian.


"Si Rudi kupret emang, dah nggak jelas ngomong apaan, sekarang malah main kabur-kabur aja," gerutu Bayu.

__ADS_1


Lelaki itu celingukan,"cepet banget lagi larinya," baru saja Bayu hendak melangkahkan kaki menyusul Rudi, tiba-tiba ia mendengar suara seorang wanita.


"Mas! Mas ganteng!" Seru sebuah suara yang terdengar merdu mendayu-dayu di telinga Bayu yang mulai perlahan memereh.


Dasar Bayu, baru juga dipanggil ganteng aja udah merah kupingnya🤭.


Bayu terhenti dan menolehkan kepalanya ke sumber suara, netranya menangkap sosok gadis yang tadi ditanyakannya pada Rudi. Gadis itu melambaikan tangan dan berjalan lenggak lenggok ke arahnya.


Bayu bengong, ia terpaku di tempat.


Cantik, memanglah cantik gadis itu hingga mampu menghipnotis Bayu.


Namun sesaat kemudian, "astaghfirulloh hal adzim," seru Bayu.


"Mm-mbaknya bawa apaan itu?" tunjuk Bayu pada keranjang yang dibawa sang gadis.


"Mas ini gimana to? Ini 'kan anak-anak kita! Masak, Mas lupa sih?" ucap gadis itu mematut.


Ia menyodorkan sekeranjang hewan yang menggeliat-geliat minta di lepaskan ke hadapan Bayu. Bayu terjingkat mundur ke belakang.


"Waduh! Nggak waras nih cewek, pantesan Rudi langsung kabur pas liat dia. Duh, gimana caranya biar gue bisa kabur juga sekarang." Bayu melirik kesana kemari mencari cara.


"Mas! Lihatlah anak kita sudah besar-besar sekarang!" Gadis itu kembali menyodor-nyodorkan keranjangnya.


"Ini Banyu, anak pertama kita, dia sudah besar kan?! Seruni membesarkan mereka seorang diri kala Mas sedang pergi," ucap gadis yang katanya bernama Seruni itu.


Ia mengambil seekor ular python yang berukuran sepergelangan tangannya, yang tubuhnya hampir memenuhi keranjang yang dibawanya.


"Dan ini adik-adiknya, Melati, Kenanga, Kantil dan Lily," Seruni menunjuk satu persatu ular peliharaannya yang sebesar ibu jari orang dewasa.


Seruni mendekat lagi ke arah Bayu, "coba Mas gendong mereka, mereka itu sudah kangen banget sama, Mas!" gadis itu mengulurkan ular yang bernama Banyu, hendak mengalungkannya ke leher Bayu.


Bayu menggeleng keras, Ya Allah, tolonglah hamba," jerit pilu Bayu dalam hati.


"Nggak usah, Mbak! Makasih, buat Mbak aja sendiri," Bayu langsung mengeluarkan jurus langkah seribunya. Berlarri kocar kacir seperti dikejar setan.


"Mas! Mas mau kemana lagi?" Teriak Seruni memanggil-manggil Bayu sambil berusaha mengejar lelaki itu.


Sementara di persembunyiannya, Rudi membekap mulutnya sendiri menahan tawa. Antara merasa kasihan tapi juga lucu. Siapa suruh ngeyel, pikirnya pada Bayu.


.

__ADS_1


.


Bersambung..


__ADS_2