
Bayu yang sudah mulai sibuk dengan laptop yang menampilkan data-data, terpaksa menoleh pada ponselnya yang terletak diatas meja yang sejak tadi berdering nyaring. Lelaki itu mengerutkan kening saat melihat nama Lala tertera pada layar tersebut. Pasalnya baru berapa menit yang lalu dirinya baru saja dari tempat Lala berada, yakni Senja Olshop.
Diambilnya ponsel tersebut, lalu ia menggeser tombol berwarna hijau yang tampil di layar.
{Bayu}
"Ya halo, La. Ada ap-" tanpa salam Bayu yang agak kesal langsung bertanya pada Lala, tapi ekspresi ya berubah saat mendengar nada panik dari suara Lala.
{Lala}
"Pak Bayu.. tolongin, Pak. Cepetan kesini sekarang juga! Ini darurat, Pak. Darurat, cepetan kesini, Pak. Sekarang juga, " cerocos Lala tanpa jeda, bahkan gadis itu tak memberi waktu untuk Bayu menjawab ucapinnya.
{Bayu}
"Stop, La. Stop! " seruan dari Bayu berhasil membuat Lala berhenti mencerocos tak jelas.
{Bayu}
"Kamu napas dulu napa. Nggak engap apa ngomong kayak gitu, udah macam petasan renteng aja, "
{Lala}
"Iy-ya maap, Pak. Abisnya saya panik banget, Pak. Plus khawatir sama Mbak Senja, "
{Bayu}
"Senja? Ada apa sama dia? " Bayu yang terkejut sedikit menaikkan suaranya saat menyebutkan na Senja, hingga Andra yang sedang berada di dalam kamar langsung berlari keluar untuk bertanya.
"Ada apa sama Senja, Bay?"
Bayu menggeleng, lalu menunjuk ponselnya yang masih menempel di telinga.
{Lala}
"Itu, Pak. Disini, sekarang ini lagi ada Mbak Reya, orang yang waktu itu pernah kesini hlo, Pak, "
{Bayu}
"Reya.. " gumam Bayu, namun masih tertangkap oleh pendengaran Andra.
"Wanita itu lagi. Sebenernya mau apa sih dia gangguin istri gue terus. Kali ggak bisa dibiarin gitu aja, "
Andra langsung emosi seketika mendengar nama wanita yang dulu pernah hampir membuat hubungannya dan Senja merenggang.
__ADS_1
"Cabut, Bayu! " Tanpa menunggu jawaban apapun dari Bayu, Andra sudah kembali menyambar jaketnya dan berjalan cepat menuruni tangga, tujuannya tentu saja ke toko milik istrinya yang berada di seberang jalan.
"B-Bos! " Bayu mematung di tempat bakal orang linglung melihat Andra kebakaran jenggot.
{Bayu}
"Ah, kamu sih, La. Yaudah ni saya kesana, si bos udah duluan noh, " ucap Bayu yang langsung mematikan sambungan telepon dengan Lala.
Hingga Lala yang berada di seberang sana langsung menatap ponselnya sambil menggerutu.
"Kok jadi saya yang disalahin sih, Pak. Kan, Bapak sendiri yang minta saya buat laporin setiap apapun kejadian yang berkaitan sama Mbak Senja, " Gerutu Lala menatap layar ponselnya, masih ada nomor dengan foto Bayu disana.
"Untung Pak Bayu ganteng, kalau enggak, hmm.. tetap mau sih saya jadi mata-mata Bapak, abis gajinya gede. Hihihi, " Lala terkekeh sendiri sampai ada yang menepuk pundaknya dari belakang.
"Mata-mata apa, La. Yang gajinya gede? Aku juga mau dong kalau ada lowongan, " ucap Rani.
Lala yang semula kaget masih mengelus-elus dadanya.
"Ngagetin aja kamu! Mana kepo lagi. Nggak ada lowongan lagi ya. Pekerjaan ini tuh ekslusif uma buat Lala semata wayang, " gadis itu menepuk dadanya bangga.
"Semata wayang gayamu! Adekmu aja ada dua kok, " Sambar Rani.
"Bukan anak semata wayang, Ran. Tapi mata-mata semata wayang, haha, "
(Yasudahlah, terserah kamu. Gak tau aku)
"Yaudah sana! Hus hus.. " Lala mengibas-ngibaskan tangannya mengusir Rani yang sudah lebih dulu berlalu.
Lala melongok-longokkan kepalanya melihat kearah pintu utama, "mana sih ini Pak Bayu, katanya udah jalan kesini. Mana itu mbah lampir makin ngeselin lagi, "
Di ruang tamu, Lala melihat Reya dan Senja seperti orang yang tengah berdebat. Reya sudah berdiri dari duduknya dan berkacak pinggang. Sedangkan Senja masih duduk santai sambil menyilangkan kaki. Bahkan sesekali menyeruput teh manis buatan Lala tadi.
"Heh! lo tuh dengerin gue ngomong gak sih, " Seru Reya dengan telunjuk tangan kanannya menunjuk-nunjuk Senja, sedangkan tangan kirinya berkacak pinggang.
"Saya denger kok. InsyaAllah nggak budeg, " jawab Senja santai, kini ia sudah bisa lebih menguasai keadaan dibanding dengan saat kedatangan Reya pertama kalinya.
Wajah Reya memerah, wanita itu tampak sangat kesal dengan tanggapan Senja yang tak lagi ia lihat terpancing emosi ataupun terlihat cemburu.
"Kalau lo nggak budeg, mungkin lo bisu atau buta!"
"Maksud Mbak apa ya ngomong kayak gitu? " Senja menatap Reya tajam tanpa beranjak dari sofa.
"Ya karena lo daritadi diem aja pas gue ngomg panjang lebar!"
__ADS_1
"Karena nggak ada yang perlu dijawab dari omongan Anda ya, " Ss enjang melipat kedua tangannya di dada.
"Juga lo nggak bisa ngaca, buat lihat seberapa jeleknya lo dibanding gue yang super sempurna ini, " Lagi-lagi Reya membanggakan dirinya.
Senja memutar bola matanya malas melihat gaya dan mendengarkan ucapan Reya yang senantiasa menyombongkan dirinya.
"Udah ya, Mbak Reya, YANG TERHORMAT, " Senja menekankan kata 'yang terhormat' saat menyebut nama Reya.
"Kalau sudah tidak ada yang penting lagi yang mau Anda sampaikan disini, alangkah baiknya jika Anda segera angkat kaki dari sini, "
"Lo ngusir gue, hah?! " Reya berteriak dengan mata melotot, tangannya semakin menunjuk-nunjuk pada Senja.
Wanita itu berjalan hingga berada di depan Se ja yang masih tetap enggan beranjak dari duduknya.
"Lo itu baru punya toko sekecil ini aja udah belagu, gimana kalau punya Moll lu! "
"Dan berani-beraninya lo ngusir gue, lo nggak tau kan siapa gue, " Reya semakin berteriak-teriak hingga membuat telinga Senja pengang.
Senja mengusap kedua telinganya, "itu nggak penting buat saya, "
"Lo benar-benar ya, gak tau sopan santun lo! Kayak gini sikap lo nerima tamu? Dasar cewek udik! Kampungan!" Reya berusaha menoyor kepala Senja dengan jari telunjuknya, tapi dengan cepat Senja selalu menghindar.
"Anda sendiri yang gak tau sopan santun, malah ngatain orang, " Senja menatap Reya semakin tajam, ia sudah mulai kesal dengan wanita itu.
"Lo! Dasar cewek gila! Gue jambak-jambak juga kerudung lo! " tangan Reya sudah siap mencengkeram kepala Senja yang berbalut hijab.
Di waktu yang bersamaan, Andra tiba dengan nafas yang memburu, darahnya terasa mendidih saat melihat sang istri tercinta hampir di aniaya orang.
"Mas Andra? " Senja berdiri, begitu mendengar suara langkah kaki menuju kearah mereka, Senja menoleh ke asal suara dan mendapati suaminya di ambang pintu.
Wajah tampan yang selalu berhias senyum dan ramah itu kini tampak memerah karena marah.
"Mau apa lo orang gila! " Andra berlari dan langsung mendorong Reya hingga wanita itu tersungkur.
Andra beralih menatap sang istri tanpa peduli pada Reya yang meringis kesakitan.
"Kamu nggak apa-apa, Sayang? "
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...