
Sementara Bayu menikmati sarapannya dengan nikmat sekaligus hidmat. Andra justru tak dapat menikmati sarapannya karena terburu-buru.
Andra dan Senja memakan sarapannya dengan mendengarkan perkataan dari Bu Retno yang entah apa itu, ternyata sejak semalam sang ibu banyak menyimpan unek-unek mengenai Bu Muti, budenya.
Kedua pasutri itu hanya mengangguk dan sesekali menjawab 'iya' jika ada perkataan sang ibu yang berupa pertanyaan untuk mereka. Baik Andra maupun Senja membiarkan ibu mereka mengeluarkan semua beban yang dirasakannya semenjak kedatangan Bu Muti kemarin.
Mereka tak ingin Bu Retno menjadi sakit jika menahan dan memendam sendiri apa yang menajdi beban pada fikiran dan hatinya.
"Bapak sudah siap ini. Ayo, Bu'e!" Ajak Pak Sapto pada sang istri.
Andra sedikit kaget melihat penampilan Pak Sapto yang seperti anak muda, ia mengenakan celana cargo berwarna grey yang di padankan dengan kaus berwarna sama, tak lupa jaket kulit sintetis ikut melekat pada tubuhnya yang kekar. Tak kalah dengan penampilan kids jaman now lah ya.
Bu Retno mengangguk, tapi menyempatkan diri untuk bertanya pada anak dan menantunya lebih dulu, "kalian mau bareng apa nyusul aja?"
Andra menatap sang istri sebelum menjawab, "kayaknya kita nyusul aja, Buk. Dek Senja aja juga belum mandi,"
"Yasudah, kita duluan ya, nanti kalau sudah siap kalian nyusul saja. Jangan lupa pintunya di kunci kalau sudah mau pergi," pamit Bu Retno dengan memberikan sedikit pesan.
"Nggeh, Buk," balas Andra juga Senja.
"Assalamu'alaikum," ucap Pak Sapto dan Bu Retno.
"Waalaikumsalam," jawab Andra dan Senja serempak lagi, kemudian keduanya tersenyum.
"Bapak gaul ya?"
"Kenapa?"
"Kayak anak muda kekinian,"
Memang semenjak toko Senja berjalan dengan stabil, gadis itu mulai memperhatikan penampilan kedua orangtuanya secara keseharian juga. Jika dulu hanya bisa mengenakan pakaian baru saat hari raya saja, kini jika ada model baru yang sekiranya menurut Senja cocok untuk orangtuanya, ia pasti memberikan pada mereka.
Senja tertawa, "iya dong! Siapa dulu anaknya,"
Andra tertawa mendengar jawaban Senja, tawa yang baru-baru ini lebih sering Senja lihat, dan tentunya membuat hatinya terasa meleleh. Sejak Senja mengetahui jika Andra merupakan 'mas gantengnya', ia merasa lebih lega dan dengan cepat memantabkan hatinya untuk mencintai sang suami.
Usai sarapan, Andra berdiri dari kursinya, lalu berjalan ke arah meja dapur dan menyaring jamu. Lelaki itu memberikan jamu yang telah dibuatnya dengan panduan dari sang ibu mertua pada Senja.
Senja mengernyit menatap gelas yang di sodorkan oleh sang suami, "apa ini, Mas?"
"Jamu,"
"Buat?"
"Tamu kamu,"
__ADS_1
Mata Senja membulat, ia hampir lupa pada tamunya yang semalam tiba-tiba datang tanpa di undang dan mengacaukan mood Andra.
"Makasih banyak, Mas." Andra mengangguk lalu kembali duduk, meminum jusnya sembari menunggu Senja selesai.
"Emm.." Senja tampak ragu-ragu berucap, tangannya bermain memutar-mutar gelas.
Andra mengangkat kedua alisnya, "kenapa, Dek? Jamu bikinan Mas, gak enak ya?"
Senja menggeleng cepat, "enak kok, lebih enak malah dari bikinan Mbak Asih,"
Andra tersenyum mendengar pujian dari istrinya, "yaudah, habisin gih! Terus mandi, biar bisa cepet nyusul bapak sama ibuk ke rumah sakit,"
Senja masih terdiam, kini kepalanya menunduk.
"Maafin Adek, Mas," ucap Senja yang terdengar seperti cicitan.
Andra menatap Senja heran, "maaf buat apa? Adek nggak ada salah kok sama, Mas,"
"Buat semalem. Adek udah kecewain Mas Andra. Aku nggak sengaja, dan nggak tau kalau tiba-tiba aj-"
Andra mengulurkan tangan lalu jemarinya menempel pada bibir Senja, "ssst.. udah nggak papa," Andra yang wajahnya memerah kala teringat kejadian tak terduga semalam langsung memotong perkataan Senja.
"Sebenernya Mas Andra juga belum begitu yakin sih soal hal itu, cuma naluri Mas aja yang nuntun kesana karena terbawa suasana. Bukan karena Mas bener-bener itu.."
Terasa sangat ambigu, meski sudah sama-sama dewasa, kedua orang itu sangat tabu dengan hal-hal yang mengarah kesana. Karena, ya tau sendirilah waktu menuju dewasa Andra yang hanya dihabiskan untuk mengagumi Senja, sedangkan Senja hanya berfokus untuk membahagiakan kedua orangtuanya terlebih dahulu.
"Alhamdulillah, lega Adek dengernya. Soalnya Adek takut dosa kalau sampai bikin Mas Andra kecewa karena hal itu," Senja pun tau bagaimana hukumnya seorang istri.
"Enggak, beneran Mas Andra nggak marah," ucap Andra yang selalu lembut padanya.
"Mas tau nggak sih, Adek tuh sampe sekarang masih nggak percaya loh, kalau kita udah nikah," tutur Senja.
"Sama, Mas juga," jawab Andra yang memainkan cincin di jari manisnya dengan senyum tersungging.
Senja juga ikut memperhatikan cicin pernikahan yang sama seperti yang di pakai Andra. Kembali terlintas di benaknya saat pernikahn mereka yang tergelar sangat meriah pada beberapa bulan yang lalu.
Tak lama melihat cincinya, pandangannya beralih pada sang suami yang masih tersenyum, sangat tampan di mata Senja. Bagaimana bisa ia percaya jika ini nyata? Dirinya yang hanyalah seorang gadis biasa dan jauh dari kata sempurna, di peristri oleh seorang yang sempurna seperti Andra.
Kedua tangan Senja menopang kepala, "mata bening, bulu matanya lentik, hidung mancung, dan bibir yang.."gumam Senja terpotong saat sekelebat bayangan penyatuan bibirnya dengan Andra terlintas.
Andra yang ditatap sedemikian rupa oleh Senja mendadak salah tingkah, "kenapa Adek ngelihatin Mas kayak gitu?"
"Sempurna,"
"Apa, Dek?" Andra mendekatkan kepalanya.
__ADS_1
"Mas Andra,"
"Kenapa?"
"Sempurna,"
Senja yang melamun menjadi linglung dengan terus mengatakan kata yang sama.
Kejadian seperti itu terus berlangsung hingga keduanya lupa dengan apa yang akan mereka lakukan.
Di rumah sakit R, Pak Sapto dan Bu Ratih mencari keberadaan rawat inap Bu Muti dan suaminya setelah bertanya pada resepsionis. Tampak pada ruangan yang berada di ujung, ada dua orang polisi dan seorang pria berbaju orang sedang berbicara.
"Permisi, Pak. Apa benar ini ruangan Bu Muti dan Pak Minto?" tanya Pak Sapto pada ketiga lelaki yang berada disana.
"Iya benar, Pak. Anda siapa, dan ada hubungan apa dengan korban?" jawab sekaligus tanya dari salah satu polisi.
"Saya Sapto, Pak. Dan ini istri saya, Retno. Saya adik dari Mbak Muti, pasien yang dirawat di dalam," ucap Pak Sapto memperkenalkan diri juga istrinya. Tangannya sudah menjabat ketiga lelaki itu.
"Silahkan kalau Bapak Sapto dan istri ingin melihat kondisi korban," salah satu polisi itu menggiring mereka berdua masuk, sedangkan yang lainnya juga tukang sapu mengekor dari belakang.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada kakak dan kakak ipar saya, Pak? Kenapa keadaan mereka bisa sampai seperti ini?"
Sangat memprihatinkan, begitulah adanya. Dengan banyak selang yang terpasang pada sela-sela perban yang membalut tubuh keduanya.
"Menurut keterangan dari saksi, korban ditemukan sudah dalam keadaan seperti itu di semak-semak."
"Di duga motifnya adalah begal. Sebab hanya mobilnya yang di bawa kabur, Bahkan tas dari Bu Muti saja masih ada, sehingga kami bisa dengan mudah membantu dengan menghubungi keluarganya,"
Tadi Pak Sapto dan istrinya sempat kebingungan mencari rumah sakit yang di gunakan untuk merawat Bu Muti, sebab ada beberapa nama rumah sakit dengan awalah huruf R.
Tetapi sebuah nomor asing masuk memanggil nomor Pak Sapto, dan dengan begitu mereka bisa menemukan rumah sakit yang tengah dicari.
"Korban lelaki terkena luka tusukan dan sayatan di beberapa bagian, hampir seluruh tubuhnya ada tetapi tidak terlalu parah atau dalam, sedangkan korban wanita ini yang hanya beberapa bagian namun dalam, terutama pada dadanya," jelas sang polisi.
"Ya Allah, Mbakyu. Kenapa bisa jadi seperti ini? Kalau semalam kalian sudi menginap di gubug kami, pasti ndak akan kejadian kayak gini," tangis pilu Pak Sapto menyaksikan kakak satu-satunya berbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit.
Bu Retno ikut sedih mendengar tangis suaminya, "yang sabar, Pak. Semua yang terjadi pada umat manusia adalah kehendak dari-Nya,
"Apa ini merupakan pembalasan dari Yang Maha Kuasa.."
Beberapa waktu berlalu, namun anak dan menantu mereka tak juga memberi kabar apalagi menampakkan batang hidung mereka. Hanya Lukman yang tadi sempat menghubungi Bu Retno bilang jika sedang dalam perjalanan kesana.
.
.
__ADS_1
Bersambung..