Pengagum Rahasia Senja

Pengagum Rahasia Senja
PRS 67. Sharing Pernikahan


__ADS_3

...Selamat Membaca😊...


...----------------...


"Biarin mereka PDKT dulu lah, aku dengar mereka nggak pacaran 'kan?" ujar Om Arman.


"Tapi mereka udah saling kenal lama kok," sahut eyang tanpa sadar, membuat banyak mata menatapnya dengan pandangan berbeda-beda. Sebagian ada yang panik dan memberi kode-kode, dan yang lainnya menatap heran, karena setahu mereka Andra dan Senja belumlah lama saling mengenal.


Akhirnya Senja memutuskan untuk bertanya daripada hanya penasaran, "maksudnya, Eyang?"


"Maksud apa?"


"Kalau Senja udah kenal lama sama Mas Andra itu-,"


Eyang dengan cepat menyahuti pertanyaan Senja sebelum gadis itu selesai berucap, "oh itu, kalian emang saling kenal 'kan?"


Senja hanya mengangguk meskipun bingung, karena tidak mungkin juga kan dia akan berdebat dengan eyang.


Malam semakin larut namun belum juga mendapatkan ketepatan tanggal pernikahan Andra dan senja, boro-boro tanggal, bulannya saja belum dan masih menjadi perdebatan. Ada yang mengusulkan cepat, ada yang nanti dulu. Sedangkan yang akan menikah malah hanya bingung menatap orang-orang yang memberi usul secara bergantian.


"Cepet,"


"Nanti dulu,"


"Langsung aja,"


"Biar lebih akrab dulu,"


"Lebih cepat lebih baik,"


"Terburu-buru itu nggak bagus!"


Begitu terus menerus sampai kedua calon manten kompak menguap, "sudah, besok lagi di lanjutkannya, kasihan calon mantennya sudah mengantuk itu." Eyang menengahi semuanya saat melihat Andra dan Senja menutup mulutnya karena menguap. Mata keduanya sudah tampak memerah menahan kantuk.


Adzan subuh belum berkumandang namun Senja sudah terbangun karena merasa ingin buang air kecil sekaligus haus, efek dari semalam minum teh manis lumayan banyak sebelum tidur. Ia bangun dari tidurnya dan langsung menuju kamar mandi untuk buang air kecil sekaligus mandi, malu dong di rumah calon suami masa' males. Tapi memang begitulah Senja, meskipun di rumahnya sendiri, ia selalu langsung mandi begitu bangun tidur, asalkan sudah jam empat ke atas.


Setelah merasakan tubuhnya segar dan berganti pakaian lalu mengenakan hijab instan, ia keluar kamar dan celingukan karena disana masih sepi dan gelap. Ia meraba-raba dinding mencari dimana letak saklar ruangan itu, ruangan tengah penghubung dari semua ruangan yang ada. Karena sangat gelap tanpa sadar ia berjalan ka arah dekat tangga, tangannya terus meraba dinding yang di pergunakan untuk menuntun jalannya agar tidak tersandung. Namun tiba-tiba,


Deg


Ia menghentikan aktifitasnya kala tangannya tanpa sengaja menyentuh sebuah tangan dingin nan kekar yang juga berada di dinding itu, "Ya Allah, ini tangan siapa dingin banget, orang atau hantu ya?" Senja berkata dalam hati, karena mulutnya tak mampu berucap.


"Tangan siapa nih, kok dingin? jangan-jangan.. haissh, emangnya film horor apa." Batin orang yang juga merasakan dinginnya tangan Senja karena gadis itu baru saja mandi dengan air dingin.


Mereka saling memberanikan diri mengangkat tangan satunya dan meraba sesuatu yang ada di hadapan mereka.


'Gleg'


"Orang? Hmm.. wanginya seger banget," Batin Senja yang telapak tangannya merasakan hangat tubuh seseorang, sepertinya dada seorang cowok karena terasa keras.


"Kepala, jilbab? atau apa," ucap orang itu dalam hati saat tangannya mengelus pelan sesuatu yang bulat berbalut kain, ia tak berani mengalihkan tangannya, takut-takut akan tak sengaja akan menyentuh daerah terlarang orang di depannya yang di yakininya sebagai seorang wanita.


Mata mereka berdua melotot di kegelapan. Tak lama kemudian,


'klek'

__ADS_1


Terdengar suara saklar di nyalakan oleh seseorang dari sudut ruangan dekat pintu penghubung dapur. Mulut kedua orang itu menganga tak percaya melihat sosok di hadapan mereka masing-masing. Tangan Senja masih menempel syantik di dada Andra, ya.. lelaki itu ternyata adalah Andra yang baru saja turun dari kamarnya hendak menuju dapur juga seperti Senja. Penampilannya sangat segar dengan rambut yang masih basah dan acak-acakkan dan handuk masih tersampir di salah satu pundaknya.


"Pantas saja tangannya dingin, ternyata dia habis mandi juga.."


"Senja.." Andra tak mampu berucap apa-apa lagi meskipun hanya di salam hati, tangannya juga masih bertengger di kepala Senja saat seseorang mengagetkan keduanya dengan suaranya yang menggema.


"Wah, gak nanggung-nanggung ya PDKT nya, gelap-gelapan, pegang-pegangan pula. Ckckck.." Angga menyedekapkan kedua tangannya di dada dan menyandarkan tubuhnya di dinding, memperhatikan kedua pasangan tunangan itu yang reflek menarik tangan mereka dengan salah tingkah.


Andra langsung berbalik kembali menaiki tangga, ingin menata jantungnya yang kembali ingin copot karena berada pada jarak sangat dekat dengan Senja. Sedangkan Senja berbalik dan menuju dapur, ia hanya tersenyum sopan dan menganggukkan kepalanya saat melewati Angga. Angga terkekeh dan menggelengkan kepala melihat tingkah dua sejoli yang seakan tertangkap basah sedang mojok dalam kegelapan.


"Kalian berdua tuh sama-sama polos ternyata, baguslah.." gumamnya tersenyum tipis kemudian melangkahkan kaki menaiki tangga juga menuju kamarnya yang berada di lantai atas.


Ia mengurungkan niat untuk memasuki kamarnya sediri saat ekor matanya menangkap sekelebat bayangan sang adik di dalam kamarnya karena pintunya yang tak tertutup rapat.


"Ndra.. boleh Kakak masuk?" tanyanya sambil memegang hendel pintu.


"Masuk aja! Biasanya juga tinggal nyelonong aja pake gaya-gayaan izin segala." Ketus Andra tanpa menengok pada sang kakak yang sudah masuk ke kamarnya dan duduk di ranjangnya yang luas.


"Ya sebentar lagi'kan beda. Lo bakal punya istri, dan kamar tuh bakal jadi tempat paling privasi buat orang yang udah nikah," tutur Angga yang kini sudah merebahkan tubuhnya di kasur berseprei biru laut itu.


Andra menaikkan sebelah alisnya mendengar penuturan Angga, "maksud lo?"


"Ya lo bakal tau sendirilah nanti.."


Andra ikut duduk di ranjang sebelah kakaknya, "Kak, nikah itu berat gak sih?"


"Berat? Emang batu apa.."


"Serius Kak,"


Angga menarik nafas sebelum menjawab, ia menoleh pada sang adik yang menatapnya penasaran.


"Maksudnya?"


"Lo kenapa jadi kayak anak SD sih, nanya maksud mulu daritadi."


"Abisnya lo juga setengah-setengah ngomongnya, makanya kalau ngomong di kelarin sekalian, biar gue gak perlu kebanyakan nanya. Emang lagi kuis apa," sahut Andra.


"Hah, dasar! untung adek gue lo,"


Angga kemudian menjelaskan pengetahuan berdasarkan pengalamannya kepada Andra.


"Sejatinya menikah itu menyenangkan, membahagiakan, menenangkan hati dan pikiran, karena kita tak perlu lagi berkelana mencari tambatan hati, kita hanya perlu berfokus pada satu cinta, satu wanita yang berstatus istri."


Angga tersenyum tipis melihat keseriusan sang adik mendengarkan kalimatnya, "kita mau apa ada yang nyiapain, seperti makan, mandi, mau kerja, semua udah ada yang nyiapin keperluan kita. Kita hanya tinggal berangkat kerja aja, pulang ada yang menyambut dengan senyum manisnya, lalu menawari akan mandi dulu atau istirahat dulu. Tidur juga ada yang meluk, hangat dan nyaman.."


Pikiran Andra melayang entah kemana mendengar penjelasan sang kakak yang rinci, mengkhayal kehidupan rumah tangganya bersama Senja nanti seperti apa yang di katakan Angga. Namun ia segera menggelengkan kepalanya cepat saat sang kakak mengatakan tentang tidur dan dipeluk.


"Lo kenapa Ndra?"


"Nggak pa pa.."


"Bo'ong! Lo pasti ngebayangin tidur di peluk sama Senja'kan? Hayoo.. ngaku lo!"


"Apaan sih Kak, orang di bilang enggak kok," sergah Andra.

__ADS_1


"Terus kalau enggak, kenapa lo geleng-geleng tadi? dzikir?"


"Udah ah, lanjutin ceritanya.." perintah Andra.


"Emang gue guru PAUD apa suruh cerita,"


"Emang, dan gue anak PAUD nya."


Angga terkekeh, "anak PAUD yang udah ngebet kawin,"


"Enak aja! Nikah Kak, bukan kawin! emang elo.."


"Yaudah gue lanjutin, dengerin baik-baik."


"Hmm,"


"Menikah itu akan indah jika kedua pasangan saling mencintai, menyayangi, menghargai satu sama lain, tidak saling mengunggulkan diri masing-masing. Saling mengerti keadaan pasangan, saling menggenggam dan berjalan beriringan dalam menghadapi cobaan apapun dalam rumah tangga. Karena nggak ada rumah tangga yang berjalan mulus-mulus aja tanpa adanya cobaan."


Angga menarik nafasnya berat, dadanya terasa sesak bila kembali teringat kandasnya biduk rumah tangganya dengan sang istri dulu.


"Tapi jika kita teguh dalam pendirian, meskipun tak sepemikiran pasti akan bisa melewati segala rintangan yang menghadang. Karena menikah itu memang menyatukan dua anak manusia yang berbeda, beda genre, beda watak, beda sifat dan sikapnya, beda cara berfikirnya juga. Makanya nggak jarang terjadi perdebatan-perdebatan kecil, perselisihan faham dan lain sebagainya." Angga melirik sang adik yang masih fokus pada penjelasannya.


"Namun kita sebagai lelaki harus bisa membimbing istri kita menjadi yang lebih baik, kita harus bisa lebih bersabar dan mengendalikan ego kita dalam menghadapi istri yang kadang bersikap kekanakan, sesungguhnya wanita itu hanya ingin dimengerti, di ayomi, di lindungi, dimanja.. ya begitulah,"


Andra manggut-manggut, "terus?"


"Kok sekarang gue jadi kayak Om Mario Teguh ya?" Angga terkekeh dengan ucapannya sendiri.


"Terserah lo deh, yang penting gue dapet pencerahan dari yang udah berpengalaman,"


"Pengalaman gue buruk Dek, jangan di tiru!"


"Yang buruk juga gak gue pake kali Kak, buang jauh-jauh. Amit-amit deh," Andra mentotok keningnya dan kening Angga bergantian.


"Hiih, kayak emak-emak lo lama-lama,"


Angga bangkit dari duduknya dan berdiri, " pesen gue, lo harus bisa bersikap dewasa dalam menghadapi setiap masalah yang ada di dalam rumah tangga lo nantinya, jangan pernah menyerah dan selalu pikirkan matang-matang dalam memutuskan sesuatu hal. Jangan sampai lo nyesel di kemudian hari." Lelaki itu melangkah ke pintu setelah mengucapkan pesannya pada sanga adik. Tak ingin berlama-lama membahas pernikahan yang akan mengingatkannya kembali pada kepedihan yang melanda jiwanya dua tahun yang lalu.


"Gue belom selesai sharing Kak.." teriak Andra.


Angga melambaikan tangan tanpa menoleh dan berteriak menjawab, "udah abis subuh,"


Andra melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul lima lewat, saking seriusnya pembicaraan keduanya hingga tak menyadari waktu yang sudah beranjak.


"Astaghfirullah.." Andra segera ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan melaksanakan kewajibannya.


.


.


Bersambung


Maafkan Othor ya, jika kalimat-kalimat othor kurang tepat🙏


Bukan maksud hati untuk menggurui reader semua, hanya sedikit sharing aja, buat belajar bersama😊

__ADS_1


Kalian juga boleh kok mengemukakan pendapat kalian masing-masing lewat komen🥰


Makasih, mohon dukungannya selalu🙏


__ADS_2