Pengagum Rahasia Senja

Pengagum Rahasia Senja
Rencana Honeymoon


__ADS_3

Andra, Senja juga Bayu tiba di kediaman eyang pada pukul 2 siang hari. Itupun karena eyang sudah menyuruh Pak Santo untuk menyusul mereka di toko.


Awalnya Pak Santo salah malah mencari mereka di toko swalayan milik Andra, hingga sedikit membuat kegaduahan disana. Setelah ia menelepon eyang dan bertanya, barulah ia tau kalau Andra dan yang lain berada di toko milik Senja yang berada di seberang swalayan tersebut.


Untungnya Senja sempat sedikit memoles bibirnya tadi sebelum kembali ke rumah. Karena wajahnya masih terlihat pucat meski badannya sudah mulai mendingan.


Di rumah eyang sudah begitu ramai, ada para tetangga yang diundang oleh eyang untuk genduri acara selapanan (35 hari) pernikahan Andra dan Senja. Orangtua Senja juga ikut hadir disana. Namun berhubung ini hanyalah acara sederhana, jadi kedua orangtua Andra tidak perlu hadir karena jarak yang juga jauh.


Sedikit pengertian ya, acara selapanan manten memang ada, tapi sudah tidak banyak yang melaksanakannya saat ini.


Ketiga orang tersebut langsung menyalami para orangtua yang menunggu mereka di ruang belakang. Karena ruang tamu sudah di penuhi para tamu undangan.


"Gimana kabar kalian, Nduk.. Nak Andra?" tanya ibu Retno setelah anak dan menantunya salim.


"Alhamdulillah baik, Buk.." jawab keduanya kompak.


Para orang tua tersenyum melihat kekompakan sepasang pengantin baru tersebut.


"Yasudah sana kalian bersiap dulu, kalau sudah nanti turun ke ruang tamu ya. Eyang tunggu.." ucap eyang.


"Nggeh Eyang," kembali keduanya menjawab bersamaan.


Keduanya saling lirik, lalu segera berjalan menuju kamar mereka di lantai atas.


"Ayok Bu Retno, Pak Sapto.. kita ke depan duluan. Tamunya sudah pada nunggu." Ajak eyang pada kedua besannya itu.


Para tamu yang hadir di hibur oleh grup sholawat jawa yang berasal dari desa sebelah. Eyang memang senang mendengarkan sholawat-sholawat jawa. Jadi jika di rumahnya mengadakan suatu acara, tidak jarang ia mengundang grup tersebut.


Serangkaian acara telah dilaksanakan dalam waktu dua jam. Andra, Senja, eyang dan tuan rumah yang lain menyalami para tamu yang hadir. Di depan sebelum pintu keluar Pak Santo beserta Mbak Asih membagikan sego berkat (nasi beserta lauk pauk dan lainnya yang biasanya dibawakan dalam acara genduri).


Setelah acara selesai, eyang dan yang lainnya menuju ke ruang tengah untuk sekedar mengobrol sebelum ayah dan ibu Senja kembali ke rumah mereka.


"Monggo di maem makanannya, apa ada lho.." eyang membuka obrolan mereka dengan mempersilahkan besannya memakan camilan yang tersedia.


"Injeh Bu.." jawab kedua orang tua Senja.


" Ndak usah kesusu, kita ngobrol-ngobrol dulu. Sudah lama to ndak ketemu,"


Mereka menikmati hidangan yang tersedia. Senja menuangkan teh panas untuk kesemuanya, tak terkecuali Andra, suaminya.


Andra tersenyum manis kala Senja menyodorkan secangkir teh untuknya, Senja hanya tersenyum tipis lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Kamu kenapa sih, Dek.."

__ADS_1


"Maaf Mas, bukannya apa-apa. Mas Andra nggak salah apa-apa, tapi hatiku masih sakit kalo inget ucapan wanita kemarin itu,"


"Ndra, gimana rencana kamu selanjutnya?" eyang bertanya setelah melihat semuanya meminum minuman masing-masing.


"Rencana apa Eyang?" Andra balik bertanya.


"Ya rencana bikinin buyut buat Eyang to,"


"Uhuk.." refleks Andra tersedak karena sedang meminum teh miliknya.


"Vulgar banget sih pertanyaan Eyang,"


Senja pun tak kalah terkejutnya, matanya membulat sempurna.


"Pelan-pelan to Le kalau minum,"


"Andra kan keselek gara-gara pertanyaan dari Eyang," Batinnya menggerutu.


"Maksud Eyang itu, kamu sama Senja mau honeymoon kemana? pasti sudah ada rencana to? masak belum sih, udah di kasih waktu 35 hari juga kok," Andra dibuat pusing oleh berondongan pertanyaan dari sang nenek.


"Emm, nggak tau Eyang. Tanya sama Senja aja, Andra ngikut mau kemana aja,"


Belum hilang rasa terkejutnya yang tadi, kini sudah ditambah lagi dengan penuturan sang suami. Ia mengerutkan kening menatap sang suami seolah berkata 'kok aku sih'.


Yang di tatap hanya mengendikkan bahu dan menyodorkan jari jempolnya sebagai isyarat 'monggo dijawab'.


"Nggak tau Eyang, mungkin di rumah aja." Jawabnya dengan suara pelan.


Mereka tak tau saja kalau wajahnya kini sudah terasa sangat panas menahan malu.


"Lha kok cuma di rumah ki piye to! Ndak, ndak bisa begitu.." tolak eyang seraya berdiri dari duduknya.


"Aduh, mulai lagi deh Eyang. Tapi nggak papa sih, moga aja dengan kita honeymoon. Senja bisa lebih terbuka dan kita bisa makin deket lagi," batin Andra penuh harap.


"Nih, kemarin Eyang lihat ini diatas meja situ. Tiket penting begini kok ditaruh sembarangan," eyang menyodorkan dua buah tiket pada Andra.


Kedua alis Andra terangkat menatap tiket ditangannya. Matanya menelisik tanggal yang tertera disana. Lalu membulat seketika kala mendapati jadwal pemberangkatannya.


"Besok?? apa-apaan nih.." serunya membuat yang lain ikut terjingkat.


"Nih tiket dari . . . wah ngerjain nih orang."


"Nih Dek," ia memberikan tiket tersebut pada Senja.

__ADS_1


"Ini gimana tiba-tiba besok,"


"Ya ndak gimana-gimana to, kan lebih cepat lebih baik. Lebih cepat juga Eyang dapat buyut.." ucap eyang dengan mata berbinar.


Kedua pasutri itu hanya bisa menelan ludah bersamaan. Andai saja mereka semua tau kalau selama 35 hari tidur bersama belum pernah terjadi apa-apa diantara keduanya.


"Bapak sama Ibu nginep aja disini, nggak papa kan Eyang?" tanya Senja menengok ke arah eyang.


Ia mencoba mengalihkan pembicaraan, karena jika dilanjutkan bisa-bisa terbakar wajahnya yang sudah semakin terasa panas itu.


"Ya tentu ndak papa to yo Nduk.." eyang tersenyum dan mengangguk mengiyakan, ia malah mendukung ide dari cucu mantunya tersebut.


"Iya, sekarang juga sudah sore lho," tawar eyang


"Ngapunten (maaf) Bu, kalau menginap sepertinya tidak bisa. Soalnya tadi ndak pamit sama tetangga sebelah buat minta tolong ngasih makan ayam," Pak Sapto menjelaskan, ia merasa tidak enak karena harus menolak tawaran dari besannya.


"Insyaallah kapan-kapan kita mampir lagi. Atau kalian bisa main ke rumah to.." Bu Retno menimpali.


"Njenengan juga, Bu.." lanjutnya.


Lalu kedua orangtua Senja pamit kepada tuan rumah. Selepas kepulangan Pak Sapto dan Bu Retno, eyang hendak kembali menanyakan perihal yang tadi belum terjawab.


Seperti bisa membaca situasi, Andra memilih kabur sebelum sang nenek kembali menanyainya dengan pertanyaan yang membuatnya bingung untuk menjawab.


"E emm.. Senja mau mandi dulu Eyang, udah gerah banget nih.." Senjapun ikut ngacir menaiki tangga.


"Owalah, perasaan aku dulu itu semangat banget pas mau bulan madu sama yayang. Hla ini kok anak muda sekarang malah ndak mau to, padahal tinggal berangkat aja," eyang geleng-geleng kepala melihat cucu-cucunya yang kabur itu.


"Biar aku suruh Asih saja nyiapin semua keperluan mereka. Terus besok Santo tinggal nganterin mereka ke bandara," gumamnya lagi.


Eyang mengambil tiket tadi dan berllau juga menuju kamarnya untuk membersihkan diri.


Sesampainya di kamar, Senja mendumel kesana kemari.


"Apa itu honeymoon, emangnya Mas Andra mau apa. Bulan madu kan buat orang yang saling cinta, kalo kayak aku gini," lirihnya merasa miris.


Kembali ia teringat percapannya dengan Reya kemarin lusa.


Samar-samar Andra mendengar ucapan Senja, jantungnya berdebar-debar dibuatnya.


"Apa itu artinya Senja cinta sama aku? Aku harus cepet-cepet nyatain perasaan aku, biar dia nggak salah paham terus kayak gini," tekadnya dalam hati.


Bersambung..

__ADS_1


Waaoww.. mau honeymoon kemana nih Mamas dan Mbambakkuuh..


Boleh ikutlaah..


__ADS_2