
Sementara di Semarang sana Bayu sedang seksama mendengarkan cerita dari mbah kakung, lain halnya dengan situasi yang tengah di hadapi oleh bosnya. Andra dan Senja sedang berada di situasi yang tegang, karena..
Sudah tiga jam berlalu, namun tak ada tanda-tanda Ningsih akan segera melahirkan. Padahal calon ibu muda itu sudah sangat kesakitan, terlihat dari ekpresi wajahnya yang selalu meringis, juga rintihannya menahan sakit.
Tapi saat dokter kembali memeriksa, belum ada bukaan lanjutan, masih satu setengah, mungkin menuju dua. Apa memang sesakit itu atau Ningsih yang tidak tahan merasa sakit, entahlah.
Senja yang melihat Ningsih meringis sejak tadi hanya bisa ikut meringis sambil sesekali tangannya mengelus perut buncit sepupunya tersebut. Dalam hatinya tak lepas dari doa yang ditujukan pada Ningsih agar diberikan kelancaran dalam proses persalinannya.
Ia sungguh tak tega melihat Ningsih yang begitu kesakitan, hingga ada sedikit rasa takut juga dalam benaknya, akankah ia juga seperti itu nanti jika akan melahirkan anaknya?
Tatapan Senja lalu beralih sang ibu, gadis itu segera berlari mendekat dan memeluk ibunya erat sambil tersedu.
"Lho, lho, kamu kenapa, Nduk?" Bu Retno yang sejak tadi memejamkan matanya berdoa, kaget mendapat pelukan dadakan dari sang putri.
"Hiks.." bukannya menjawab, Senja malah terisak dengan wajah yang dibenamkan di dada sang ibu.
Wajah bingung dan khawatir bukan hanya di tampilkan oleh Bu Retno, melainkan Pak Sapto juga. Jangan lupakan Andra yang sudah kebingungan harus berbuat apa.
"Dek, kamu kenapa?"
"Kamu kenapa, Nduk?" tanya Andra dan Pak Sapto bersamaan, keduanya saling tatap.
Andra menggeleng pelan dan mengendikan bahunya sebagai jawaban atas pertanyaan ayah mertuanya yang di tunjukkan melalui ekspresi wajahnya.
"Se-Senja gak tega, Buk. Kasian hiks.. Mbak-Mbak-Ningsih.." Bu Retno mengelus punggung putri sulungnya itu.
"Ap-apa, hiks.. nanti kalau Senja mau, hiks.. melahirkan ju-juga seperti itu, Buk?" Senja bertanya masih sambil sesenggukan.
Mendengar pertanyaan Senja, Pak Sapto dan Andra saling pandang. Tak tau harus berkata apa, karena mereka sangat nol besar dalam hal tersebut. Pak Sapto memilih diam dan siap mendengarkan bagaimana jawaban dari istrinya nanti.
Sedangkan Andra, pikirannya mulai berkelana. Setakut itukah Senja?
Bu Retno tersenyum tipis, tangannya yang semula mengelus punggung Senja, beralih pada kepala putrinya yang berbalut hijab berwarna cokelat muda.
"Nduk, hamil dan melahirkan adalah suatu keistimewaan yang Allah berikan pada hamba-Nya, yang merupakan kaum wanita. Hal tersebut sudah menjadi kodratnya seorang wanita, kita sebagai wanita yang di percaya untuk bisa mengandung, melahirkan anak-anak kita, keturunan kita, adalah wanita pilihan, wanita hebat,"
Bu Retno menjeda ucapannya sebelum menjelaskan kembali, ia mencari kata-kata yang tepat agar putrinya itu tak salah tangkap dan dikhawatirkan akan merasa semakin takut.
"Wanita sudah dirancang sedemikian rupa oleh Sang Pencipta, Allah SWT. Mempunyai fisik yang lebih kuat dari laki-laki dalam hal ini, diberikan rahim yang kuat untuk berkembangnya janin yang nantinya akan menjadi seorang bayi yang merupakan penerus kita."
"Kita di mampukan oleh Allah untuk bisa menahan rasa sakitnya melahirkan yang setara dengan seribu satu rasa sakit yang menjadi satu, namun kita mampu menahannya,"
"Untuk bagaimana prosesnya, rasa sakitnya, setiap ibu hamil itu berbeda-beda rasanya. Meskipun sabutannya sama-sama kontraksi, tapi rasanya jelas berbeda."
__ADS_1
"Dulu, waktu ibu hamil dan melahirkan antara kamu dan adikmu, Ria. Rasa sakitnya dan prosesnya sangat berbeda, meskipun kalian sama-sama anak perempuan. Apalagi, kamu dan Mbak Ningsih adalah orang yang berbeda, tentu saja rasanya pasti beda. Ketahanan kalian akan rasa sakit juga berbeda,"
Bu Retno mengangkat kepala Senja dan dihadapkan wajah anak gadisnya itu padanya. Di usapnya lembut air mata yang masih tampak membasahi pipi Senja meski sudah banyak juga yang membasahi jilbab yang dipakai Bu Retno.
"Jadi, Nduk. Ndak ada alasannya untuk kamu merasa takut akan hal yang sudah menjadi kodratmu sebagai seorang wanita," Senja menatap sendu wajah teduh wanita mulia hadapannya.
"Justru kita harus bangga dan bahagia jika diberi kepercayaan oleh Gusti Allah, untuk bisa mengandung keturunan kita," Bu Retno mengangguk sembari tersenyum.
Senja kembali memeluk ibunya erat, "makasih ya, Buk. Udah bersedia bersusah payah buat mengandung dan melahirkan anak ngeyel seperti Senja. Dan maaf kalau selama ini Senja cuma bisa nyusahin Ibu terus,"
"Kamu ini ngomong apa to, Nduk?! Ibu justru sangat senang dan bangga bisa mengandung, melahirkan bahlan merawat anak sebaik kamu, meski kamu ini agak petakilan (bar-bar) dan tomboy nya ndak ketulungan, tapi kamu selalu menjadi anak baik dan selalu membanggakan Bapak sama Ibuk," Bu Retno balas memeluk Senja.
"Meski harus berkali-kali lagi ibu mengandung dan melahirkan anak seperti kamu, ibu ikhlas, ibu ridho, Nduk."
"Jadi kamu juga harus siap dan semangat ya, Nduk. Jika suatu saat nanti diberi kepercayaan sama Gusti Allah. Atau, malah sudah?" ucap Bu Retno mengerlingkan mata.
Blush..
Pipi yang masih lembab karena air mata itu bersemu seketika. Ia menoleh pada sang suami yang tampak melamun. Dahinya sedikit berkerut melihat wajah tegang Andra.
"Meskipun memang kodratnya wanita, tapi aku tak boleh egois jika memang Senja takut untuk melahirkan. Aku tidak boleh memaksakan kehendak, yang terpenting adalah kebahagiaan Senja, tak lebih,"
"Ya, benar. Soal yang lainnya nggak telalu penting, yang paling utama adalah Senja, dia harus selalu tertawa bahagia, bukan menangis bersedih seperti itu,"
"Nduk?" Bu Retno menepuk pelan punggung tangan Senja yang terdiam menatap Andra.
"Ya? Eh-apa, Buk?" jawab Senja gelagapan.
"Kok malah ngelamun, to?"
"Endak kok, Buk. Senja cuma-"
Perkataan Senja terhenti oleh ucapan Lukman, yang juga berhasil membuat Andra tersadar dari lamunannya tadi.
"Maaf, Bulik, Paklik, Senja dan Mas Andra. Saya mau ijin nemenin Ningsih dulu ke dalam. Saya juga mohon do'anya, supaya Ningsih di mudahkan dalam persalinannya,"
"Ya, Lukman. Beri semangat pada istrimu, dampingi dia dari awal sampai akhir perjuangannya ya, Nak.." nasehat Pak Sapto.
"Semoga persalinan Ningsih di beri kelancaran ya,
Le,"
"Iya Paklik, Bulik. Terimakasih atas doanya ya," Lukman menyalami tangan kedua orang yang merupakan adik dari ibu mertuanya tersebut.
__ADS_1
Begitu Lukman masuk ke dalam ruangan persalinan, Bu Retno berkata pada Senja dan Andra.
"Sebaiknya kalian jalan-jalan saja sana mencari udara segar, nggak perlu nunggu disini,"
"Atau kalian pulang saja ke rumah terus istirahat, kalian pasti masih capek to semalem abis perjalanan dan malah mengatasi masalah kami, ditambah pagi-pagi sudah ada peristiwa seperti ini," Pak Sapto menambahkan.
Kedua orang tua itu sengaja mengalihkan perhatian Senja dan Andra yang nampak khawatir menghadapi sesuatu yang bukan seharusnya mereka hadapi sebelum waktunya, karena itu hanya akan membuat shok terapi bagi keduanya.
Makanya, lebih baik jika merena pergi saja dari sana dan merilekskan fikiran mereka.
Kedua orangtua itu membujuk dan merayu Andra serta istrinya agar mau beranjak dari sana.
Setelah beberapa waktu barulah kedua pasangan muda itu mau pergi dari rumah sakit, itupun setelah Andea mendapat telepon dari eyangnya.
"Kalau gitu, Andra sama Senja pamit dulu ya, Pak, Buk. Nanti kalau ada apa-apa kasih kabar kami," pamit Andra yang sudah siap menggandeng Senja.
Keduanya lalu menyalami kedua orangtua mereka, setelahnya bergandengan tangan keluar dari rumah sakit tersebut dengan perasaan yang sama-sama rumit di jabarkan.
Andra yang semakin memikirkan untuk memprioritaskan Senja. Sedangkan Senja kebalikannya, gadis itu ingin menjadi istri yang baik untuk Andra dan akan berusaha sesegera mungkin menjadi milik suaminya seutuhnya.
Sampai di depan rumah sakit, mereka sudah ditunggu oleh sebuah mobil berwarna hitam mengkilat.
Andra menaikkan sebelah alisnya, merasa sangat kenal dengan mobil tersebut. Namun sedikit sangsi dengan pemiliknya.
"Mobil siapa, Mas?" Tanya Senja setengah berbisik di telinga Andra.
Belum lagi Andra menjawab, kaca depan mobil terbuka, menampilkan sosok berwajah tegas dengan pakaian semo formalnya. Kaca mata hitam bertengger di hidung mancung lelaki tersebut.
Tanpa suara, lelaki itu memberi kode kepada Andra dan Senja untuk memasuki mobilnya menggunakan gerakan kepalanya.
"Bang Angga?" ucap Senja yang merupakan gumaman namun masih terdengar di telinga lelaki itu.
Bibir tipis lelaki itu terangkat, "hai Senja, ayo ajak suamimu masuk,"
Senja membalas senyum tipis itu lalu mengangguk samar, ditariknya pelan tangan sang suami yang menggenggamnya tangannya erat.
"Ck,"
Andra berdecak dan terpaksa mengikuti istrinya masuk ke dalam mobil Angga.
.
.
__ADS_1
Bersambung..