Pengagum Rahasia Senja

Pengagum Rahasia Senja
Bertemu Seruni


__ADS_3

Sementara Bayu menunggu bus sampai di terminal berikutnya, Andra dan rombongannya sudah menunggu di terminal tersebut dengan kepanasan.


"Kita mau ngapain to ke terminal, Ngga? " Tanya eyang pada Angga yang menghentikan mobil di terminal.


Angga menoleh pada Andra di bangku sampingnya dan menaikkan dagunya, isyarat jika tanyakan saja pada Andra.


Eyang beralih pada Andra, "kenapa, Gus? "


"Jemput Bayu, Eyang.. "


Eyang mengernyit, "memangnya cucu ngeyel itu mau kemana kok kita mesti nunggu di terminal?"


"Mau balik ke Jogja, "


"Lhah.. emang Mas Andra gak ngabarin kalau kita mau ke Semarang?" sahut Senja bertanya.


Andra tertawa sambil menggaruk belakang kepalanya, "lupa mau ngasih tau, hehe.."


Eyang dan Senja kompak menggeleng, sedang Angga hanya berdecak sebal menanggapi.


"Ono ono wae to, cah bocah.. "


"(Ada-ada saja sih, Nak anak..) "


Setengah jam menunggu belum terlihat ada tanda-tanda Bayu akan tiba, padahal eyang sudah seperti anak kecil yang tengah pergi ke pasar malam.


Beli ini dan itu yang di jajakan oleh para penjual keliling. Mulai dari makanan, seperti ; tahu asin, lotis, krupuk, permen. Hingga pada alat-alat yang mungkin kurang di perlukan karena di rumah sudah memilikinya, seperti; kipas tangan karakter, pengupas buah, satu set alat tulis, dan masih banyak lagi yang lainnya.


Itupun bukan hanya satu atau dua buah eyang membelinya, melainkan masing-masing jenis lima, bahkan ada juga yang di borong sampai habis. Yaitu dagangan milik kakek-kakek atau nenek-nenek yang sudah terlalu tua menurutnya.


Kasihan katanya.


Dan Angga yang disuruh membayar semuanya. Bukan masalah bagi Angga sebetulnya, hanya saja mau di apakan semua itu, pikirnya.


Ketiga cucunya itu hanya melongo saja melihat eyang sudah dikelilingi oleh barang-barang belanjaannya.


"Eyang kenapa borong-borong, begitu sih? "


"Berbagi rezeki saja, " jawab eyang santai.


Ketiga orang itu mengangguk angguk mengerti. Untung saja tadi Angga memutuskan untuk membawa mobil eyang yang besar dan muat untuk dinaiki oleh tujuh sampai delapan penumpang, bukan mobil sport nya yang hanya muat empat orang. Jadi semua itu bisa saja masuk ke dalam bagasi meski harus berdesak desakan.


Tak lama kemudian, yang ditunggu-tunggu pun tiba. Bayu yang baru saja turun dari bus pun melihat rombongan Andra segera berlari mendekat dan dengan cepat berhambur memeluk eyang.


"Eyang.. Andra jahat banget sama Bayu. Dia asyik honeymoon sama Senja, terus Bayu di abaikan dan terlupakan. Huhuu.." adu Bayu pada eyang penuh drama.


"Biar nanti, Eyang jewer dia. Tapi itu tadi kamu sama siapa?"

__ADS_1


Mendengar pertanyaan eyang, semua orang menoleh pada seorang gadis yang tadi turun di belakang Bayu, gadis itu sedang celingukan mencari sesuatu.


Bayu mengendikkan bahu, "nggak tau, Eyang. Cewek aneh! mukanya aja nggak keliatan gitu kok daritadi, "


"Yaudah, ayo lanjut jalan! Keburu sore ntar," Angga berucap tak sabaran.


Semuanya menurut dan naik kedalam mobil. Semua barang-barang eyang sudah di paksa di masukkan ke dalam mobil dan masih menyisakan beberapa makanan untuk di pangku masing-masing penumpang mobil tersebut.


"Ini kenapa banyak makanan gini ya? memangnya mau piknik?"


"Iyo," sahut eyang asal.


Selang satu setengah jam mobil yang di kendarai oleh Bayu setelah tadi berganti-gantian dengan Andra juga Angga sebagai supirnya, kini sudah memasuki Desa Karang Kembang.


Di sepanjang jalan, Bayu diminta untuk melajukan mobil sangat pelan oleh eyang, dan eyang membagi-bagikan makanan yang tadi dibelinya satu persatu kepada orang yang di temuinya.


Hingga ada satu sosok yang di temui oleh mereka semua.


Mata Bayu membulat, ia menelan ludah susah payah dan bergumam, "Seruni.."


"Seruni?" Ketiga orang yang lainnya ikut berseru dan saling pandang.


•••


Malam hari sebelum Angga mengajak eyang dan kedua adiknya, Andra dan Senja. Untuk ke Semarang. Angga mengumpulkan semua orang tersebut ke ruangan keluarga untuk membahas maksud dan tujuannya yang sebenarnya dirinya tiba-tiba datang ke Jogja tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu.


Tadi usai dirinya teringat tentang Seruni, gadis yang di cintainya. Angga memikirkan bagaimana caranya untuk dapat memastikan satu hal. Tentang apakah Seruni masih sendiri, atau masihkah gadis itu mencintainya atau tidak.


"Pesankan saya tiket pesawat untuk ke Jogja sekarang juga, " titahnya pada Arga.


"Se sekarang juga, Pak? "Jelas saja Arga sangat terkejut.


Pasalnya sebelum dirinya meninggalkan ruangan Angga, atasannya itu belum mengatakan apa-apa, namun dengan sangat tiba-tiba menyuruh dirinya memesankan tiket pesawat untuk ke Jogja.


Arga hanya bisa meng iyakan perintah bosnya itu tanpa membantah sedikitpun.


" Siap-siap lembur, begadang, terus bobok sama berkas-berkas nih kayaknya, " keluh Arga yang hanya dalam hatinya saja.


Bagai perumpamaan WAKTU ADALAH UANG, Angga tak menyia-nyiakan waktunya sedetikpun. Ia dengan cekatan memikirkan dan mempertimbangkan segala sesuatunya, meskipun juga belum yakin tentang bagaimana nanti hasilnya, yang penting dirinya sudah berusaha.


Dan demi kelancaran rencananya, ia sampai bersedia dengan senang hati tanpa di suruh menjemput adik beserta istrinya itu ke rumah sakit saat meminta eyang menanyakan keberadaannya.


"Andra sama Senja lagi di rumah sakit njenguk bude, pakde sama sepupunya Senja katanya, " ucap eyang pada Angga kemarin usai menelpon Andra.


"Biar Angga jemput, " ucap Angga seraya berdiri dari duduknya dan langsung melangkahkan kaki.


Eyang hanya bisa mengerenyit heran menatap punggung Angga yang semakin menjauh.

__ADS_1


"Ndak biasanya Angga se antusias itu untuk bertemu dengan adiknya, "


Dan disinilah mereka sekarang, tanpa sengaja mobil rombongan Angga pun bertemu dengan sosok yang memang ingin ditemui oleh Angga. Tapi Angga sendiri pun belum mengenali lagi wajah itu, sekelebat bayang-bayang dalam ingatannya terkumpul satu demi satu.


Dan saat telinganya menangkap gumaman Bayu, saat itulah puzzel yang masih acak seketika berbentuk sempurna. Menampilkan wajah ayu yang persis seperti apa yang ada di hadapan mobilnya saat ini.


Angin berhembus ringan menerbangkan rambut panjang Seruni yang tergerai indah. Meskipun Seruni sedang dalam keadaan kutang waras, namun kedua orang tuanya tetap merawat gadis itu dengan sangat baik


Ibunya dengan telaten memandikan nya, juga mengeramasi rambutnya, meski hanya satu kali sehari karena Seruni selalu berontak tidak mau di mandikan. Hingga kecantikan Seruni tetaplah selalu terjaga.


Hanya saja kulitnya yang dulu putih bersih, kini agak kusam kecoklatan karena seringnya ia berada di bawah terik matahari untuk mencari makanan bagi ular-ular peliharaannya.


"Dia... Seruni, Bay? " tanya Angga pada Bayu dengan pandangan yang tetap menatap lurus pada Seruni tanpa beralih sedikitpun.


Bayu mengangguk, "iya, Bang,


Angga membuka pintu mobil yang sudah berhenti sejak tadi. Dengan menyeret langkah lelaki itu mendekat ke arah Seruni yang tengah asyik mengobrol dengan Banyu, ularnya yang paling besar.


Lelaki itu tertegun, merasa sedikit aneh dengan gadis di depannya, namun ia tetap memberanikan diri untuk menyapa.


" Runi.. " panggil Angga lirih.


Seruni mengangkat kepalanya yang semula tertunduk karena berbincang dengan peliharaannya. Matanya langsung berbinar melihat seorang lelaki berdiri di depannya.


Entah apa yang ada di dalam fikiran gadis itu, ia bersorak girang dan melompat-lompat bersama Banyu yang berada di genggamannya.


"Mas? Ini anak kita, Mas. Mereka sudah besar-besar sekarang, " ucap Seruni menyodorkan Banyu ke hadapan Angga yang menatapnya tak berkedip.


Deg..


"Apa.. yang terjadi sama kamu, Runi? kenapa kamu jadi kayak gini? " air mata Angga luruh begitu saja melihat kondisi gadis yang dicintainya.


Seakan tak perduli dengan ekspresi wajah Angga, Seruni kembali memperkenalkan ular-ilar itu pada Angga sebagaimana yang ia lakukan pada Bayu tempo hari.


Melihat interaksi Angga dan Seruni yang tak biasa, eyang memutuskan untuk ikut turun. Begitu juga dengan Andra dan Senja yang mengikutinya. Bayu memilih anteng karena masih takut dengan ular-ular yang ada di tangan Seruni.


"Ada apa, Ngga? "


"Kenapa, Kak? "


"Ada apa si- kyaa%aak... " tanya Senja yang langsung berteriak begitu melihat Banyu yang tengah Seruni sodorkan pada Angga.


Jangan tanyakan Andra yang sudah terlebih dulu mundur teratur sebelum Senja melihat ular itu. Keduanya saling berangkukan di belakang eyang.


Semenjak kejadian dulu, dimana Andra di gigit ular dan Senja menyelamatkannya hingga membuat keduanya masuk rumah sakit, pasangan suami istri itu menjadi po biar terhadap ular. Bahkan Andra lebih parah karena takut dengan semua jenis hewan melata yang bentuknya menyerupai ular. Seperti belut juga.


.

__ADS_1


.


Bersambung..


__ADS_2