Pengagum Rahasia Senja

Pengagum Rahasia Senja
PRS 60. Kesalahpahaman Yang Berlanjut


__ADS_3

...Selamat membaca😊...


...----------------...


Dengan perlahan tangan Senja terulur untuk menyentuh pundak Andra yang masih nampak naik turun. Dengan waktu yang bersamaan pula, Bayu sampai pada tempat di mana Senja dan Andra berada. Mendengar suara tapak kaki seseorang mendekat, reflek Senja menoleh, sedangkan Andra dengan cepat mengusap air matanya dan masih dengan membelakangi kedua orang tersebut.


"Bos," seru Bayu senang manakala mendapati sosok Andra berdiri tak jauh darinya. Andra mendengar panggilan Bayu, tapi tak mungkin bagi dirinya untuk menampakkan wajah pada Bayu saat ini kan? Maka ia memutuskan untuk pergi lagi dari tempat tersebut, "Bos. . Eyang nungguin lo daritadi," teriak Bayu saat melihat Andra melangkah pergi dari sana.


Andra berhenti sejenak namun tak berbalik, ia menimbang apa yang harus dilakukannya sekarang, tidak mungkin jika bertemu dengan keluarga dengan kondisi sperti itu, tapi tak ingin juga membuat eyang menunggu dengan khawatir. Ia menghela nafas panjang sebelum berucap, " bilangin sama Eyang, gue butuh nenangin diri malam ini. Tolong kasih kado itu ke Eyang." Setelah mengucapkan kalimat tersebut, ia langsung melangkahkan kaki kembali dan berlalu dari pandangan dua pasang mata yang menatapnya penuh tanya.


"Kenapa suara Bos Andra kayak orang abis nangis sih, apa cuma perasaan aku aja." Gumaman Bayu terdengar oleh indera pendengaran Senja yang juga segera pamit dari sana.


"Sebenarnya ada apa sih sama mereka berdua? Marahan? Ngambeg, atau malah berantem? Keduanya sama-sama sedih." Bayu bertanya pada diri sendiri sambil menengok ke arah berlawanan kedua orang itu pergi.


"Ah tau ah.. bikin pusing," Bayu menggusar kasar rambutnya dan melihat ada sebuah kotak kado berbentuk hati tergeletak di tanah. Ia mengernyit dan mengambil kotak tersebut. Apa ini kado yang di maksud sama Andra tadi.


Usai dari kamar mandi untuk mencuci muka, Senja kembali ikut bergabung dengan orang-orang di taman. "Maaf Eyang, lama. Tadi Senja ada urusan sebentar." Eyang dapat menangkap gurat sedih pada wajah Senja, namun ia tak menanyakannya. " Nggak apa-apa Nak," Eyang menepuk paha Senja yang duduk di sampingnya. "Acaranya seru banget lho, makanan buatan kamu juga enak-enak. Eyang saja sampai habis banyak tadi," tawa eyang membuat Senja ikut menyunggingkan senyumnya.


"Alhamdulillah kalau Eyang suka," senyum terpaksa yang Senja tampilkan membuat eyang yakin jika ada sesuatu yang terjadi pada gadis itu.


Tak selang berapa lama, Bayu kembali dan menyerahkan kotak kado berbentuk hati yang di pegangnya pada eyang. Eyang mengernyit menatap kotak tersebut, "dari Bos Andra," ucap Bayu setengah berbisik, eyang menerimanya dengan cepat.


Acara basa basi antara dua pasang orang tua masih terus berlanjut, dengan di dominasi perkataan dari Bu Ratih. Sementara Bu Retno hanya menjawab seperlunya dengan santun, karena ia takut salah berucap jika terlalu banyak berbicara.


"Bapak sama Ibu Senja tidak keberatan kan kalau keluarga kami ingin berbesan dengan keluarga kalian?" perkataan lantang dari Bu Ratih terdengar oleh semua orang yang ada disana, hingga kesemuanya berhenti dengan aktifitas masing-masing dan menoleh ke arah sumber suara dengan tatapan cengo. Apakah itu hanya sebuah candaan atau keseriusan.

__ADS_1


Jangan tanyakan lagi ekpresi Senja yang nampak senang namun juga sedih. Senang karena bisa lebih dekat dengan eyang, tapi juga sedih karena lelaki itu bukanlah Andra.


Bu Ratih menatap semua mata yang mengarah kepadanya, "kenapa semuanya nglihatin saya seperti itu? apa saya salah berbicara?" ia menepuk lengan suaminya di sampingnya yang masih terbengong dengan ucapan istrinya tadi. "Yah..?"


Eyang beranjak dari duduknya dan mendekat ke meja dimana ada Bu Ratih yang berkumpul dengan yang lainnya. "Iya Bu Retno, Pak Sapto.. saya juga setuju dengan ucapan anak saya tadi." Tutur Eyang dengan senyum tulus, "karena Senja itu sudah ku anggap sebagai cucuku sendiri sejak kami bertemu beberapa tahun yang lalu," eyang menoleh pada Senja yang gelagapan mendengar penuturan eyang.


"Dia itu anak yang sangat baik, kami semua menyukainya, tak terkecuali dengan cucuku." Lanjut eyang menepuk pundak Angga agar bergeser tempat duduk, supaya beliau juga bisa ikut duduk disana. Hal tersebut di salah artikan oleh Senja serta kedua orang tuanya. Mereka mengira yang di sebut cucuku oleh eyang adalah Angga yang menyukai Senja.


Senja menelan salivanya dengan susah payah, ada perasaan bergemuruh di dada, manakala mengetahui jika eyang memasangkan dirinya dengan Angga. "Kenapa Pak Angga, Eyang? pria dewasa yang berwajah kaku seperti manekin itu. Apa Eyang gak tau kalau aku tertarik dengan cucu Eyang yang bandel dan manja. Astaghfirullah.. sadar Senja! Mas Andra kan udah mau nikah." Senja menghela nafas berat, wajahnya tertunduk lesu.


Bayu menangkap semburat kekecewaan pada raut wajah gadis di sampingnya itu. "Bukannya Senja juga suka sama Andra, terus kenapa dia kecewa gitu. Ah.. apa gara-gara tadi dia lagi berantem sama Bos Andra?"


"Bisa jadi tuh.." gumamnya secara tak sadar, Senja mengernyit dan memiringkan kepala ke arahnya, "apanya yang bisa Mas?"


"Tadi Mas Bayu bilang bisa jadi, apanya yang bisa jadi?"


"Oh.. bukan apa-apa kok, mending kita gabung sama yang lain disana." Tunjuk Bayu pada sekumpulan orang yang masih asyik dengan perbincangan mereka.


Pak Herman melirik jam tangan pada pergelangan tangannya, jarum pendek menunjukkan pukul 11, itu berarti malam sudah semakin larut. Ia menghentikan perkataan dua wanita terkasihnya yang saling bersahutan membahas kelanjutan tentang rencana berbesanan mereka. Beliau segera berpamitan kepada tuan rumah, yakni Pak Sapto, Bu Retno dan juga Senja.


"Selamat dan tunggu kedatangan kami kembali ya, Ndhuk." Bisik eyang pada Senja saat berpamitan dengaannya, Senja tersenyum kecut dan mendengarnya, lalu mengangguk pelan sebagi jawaban.


Setelah semua tamunya pergi, Senja dan orang tuanya membereskan dan merapikan tempat yang di gunakan tadi. Mereka saling diam dan hanya folus pada pekerjaan masing-masing. Bukan karena saling marahan atau semacamnya, tapi mereka bertiga sedang sibuk dengan pemikiran masing-masing. Hingga suara Senja mengaduh dan beristighfar membuyarkan fikiran ketiganya, lalu menjadi fokus mereka selanjutnya.


"Aduh, shhh.. Astaghfirillah," gumam Senja memegangi tangannya yang nampak memerah.

__ADS_1


"Ya Allah Gusti.. Senja, kenapa kamu Nak?" tanya Bu Retno sembari berlari kecil menghampiri putrinya. Begitu huga dengan Pak Sapto yang ikut mendekati keduanya.


"Ndak apa-apa Buk, cuma kena besi panas ini aja," jawab Senja tersenyum tipis sambil menunjuk panggangan sate kelinci di hadapannya.


Bu Retno menghela nafasnya panjang sebelum berucap, "kamu ini mikirin apa to *N*dhuk, sampai panggangan masih panas juga kamu pegang," khawatirnya menuntun Senja pada wastafel hang ada di sana untuk membasuk telapak tangan Senja yang semakin terlihat merah.


"Owalah Senja, seng ngati-ati to (yang hati-hati dong). Wes, ndang leren sek (sudah, istirahat saja dulu). Besok lagi saja beres-beresnya." Ucap Pak Sapto ikut menasehati.


Senja menatap kedua orangtuanya, ia tersenyum lirih, "njih (ya) Pak, Buk. Monggo istirahat dulu, ini biar Senja kasih salep saja nanti, insyaallah besok sudah sembuh."


"Yowes (ya sudah), ayo Buk.." ajak Pak Sapto kepada istrinya setelah melihat Senja berjalan memasuki rumah.


Kini Senja sudah berada di kamarnya, duduk pada kursi di depan meja belajarnya, ia telah selesai memberikan salep pada luka di telapak tangannya. Ia menghembuskan nafas gusar kala mengingat rencana keluarga yang akan memintanya untuk menjadi menantu mereka. Jika saja lelaki itu Andra, saat ini ia pasti tengah merasa senang karena berjodoh dengan lelaki yang memang belakangan ini sedikit menyita perhatiannya. Apalagi setelah menerima boneka hello kitty berbantal hati yang berisi ungkapan hati, ia semakin berharap saja jika pengagum rahasianya memanglah orang yang mengganggu fikirannya. Tapi kini semuanya seakan musnah saat mengetahui kenyataan pahit yang harus di hadapinya, Andra yang akan menikah, sedangkan dirinya malah akan di jodohkan dengan Angga, si manusia kaku menurut Senja.


.


.


Bersambung


Maafkan diriku yang hanya bisa berjalan sesuai alurnya ya.


Jangan lupa like, komentar positif sama dukungannya buat Autor ecek-ecek inih, biae semakin semangat buat ceritanya.


Makasih semua 😘😘

__ADS_1


__ADS_2