
...Selamat membaca😊...
...----------------...
Sampai di kediaman Eyang Kumala, semua orang menatap Andra yang masih diam melamun. Lelaki itu tak bergerak, tak bersuara, tak ber'ekspresi, dan hanya nampak seperti patung saja, membuat semua yang memandangnya heran sekaligus khawatir. Dalam pikiran mereka bertanya-tanya, apa yang salah sehingga membuat Andra seperti sekarang ini, bukankah dia seharusnya bahagia?
Bayu mengibas-ngibaskan kedua tangannya di depan wajah Andra sedari tadi, tapi sama sekali tak mendapat respon apapun dari lelaki itu. Para tetua hanya bisa geleng-geleng kepala melihat pemandangan aneh tersebut, lalu menyuruh Angga, Bayu dan juga Nick membawa Andra ke kamarnya agar bisa beristirahat. Memang wajah Andra menyiratkan kelelahan dan kantuk yang amat sangat hingga membuatnya tampak sayu, tapi dengan kejadian yang baru saja di alaminya apakah akan bisa membuatnya tertidur?
"Bos istirahat dulu ya, tidur yang nyenyak, biar besok bisa fresh lagi, oke?" Nasehat Bayu pada Andra saat mereka bertiga telah berhasil merebahkan tubuh Andra pada ranjangnya.
Angga dan Nick hanya diam dan tak habis pikir pula dengan saudaranya yang mendadak linglung itu. Tapi lama-lama mereka tak tahan juga ingin berpendapat tentang Andra.
"Dek, lo gak apa-apa 'kan?" Tanya Angga dengan menepuk pundak adiknya yang sudah berbaring tersebut. Ia ikut duduk di samping ranjang Andra dan mengelus kepala adik semata wayangnya itu. "Kalau ada apa-apa cerita aja sama Kakak, jangan di pendem sendiri," ucap Angga menasehati. Ia menghela nafas panjang dan bersandar pada sandaran ranjang tempatnya duduk, matanya menerawang melihat langit-langit kamar. Sedangkan Bayu dan Nick memilih duduk di sofa menunggui kedua kakak beradik itu.
"Ndra, Kakak minta maaf kalau selama ini Kak Angga kurang merhatiin kamu, kurang ngertiin kamu, dan malah sibuk dengan urusan Kakak sendiri. Kakak gak bisa menjadi kakak yang baik buat kamu, adikku satu-satunya. Justru malah orang lain yang selalu ada di samping kamu saat kamu butuh dukungan." Ucap Angga sambil merenungi sikapnya terhadap Andra selama ini.
"Kakak berharap, kamu bisa bahagia setelah ini, langgeng bersama dengan wanita pilihanmu. Dia gadis yang baik dan tulus, tidak seperti mantan istri Kak Angga dulu," Angga menjeda ucapannya, ada sesuatu yang menusuk ulu hatinya kala teringat masa lalunya. "Insyaallah kamu gak salah pilih. Jangan pernah seperti Kakak. Dan gak akan mungkin." Angga mengedip-ngedipkan mata dengan cepat, menghalau cairan yang menggenang di pelupuk mata.
Angga beranjak dari duduknya, "yaudah, lo istirahat gih.. untuk masalah pertunangan, lo tenang aja. Kak Angga yang bakal hendel semuanya," ucapnya sembari menepuk pelan kembali pundak sang adik lalu kakinya segera melangkah, tapi belum juga langkahnya berhasil menapaki lantai, tangannya sudah di genggam oleh Andra sehingga ia berhenti dan menoleh ke arah adiknya yang menatapnya sendu. Ia kembali duduk menunggu apa yang hendak di ucapkan oleh adiknya itu.
"Maafin Andra Kak," ucap Andra lirih, Angga mengernyit tak mengerti dengan maksud sang adik meminta maaf padanya. "Andra udah salah faham sama Kak Angga, kemarin Andra kira Kakak mau ngrebut Senja dari Andra, tetapi ternyata.."
"Hey adik kecil, lo ngomong apaan sih? gue ini Kakak lo, gue gak bakal ngrebut sumber kebahagiaan adek gue," sahut Angga cepat.
Andra beranjak dari tidurnya dan langsung meraih tubuh sang kakak dan memeluknya seperti saat kecil. "Dasar, udah gede kali lo. Masih aja kekanakan sama kayak waktu kecil," Angga terkekeh dan membalas pelukan sang adik dengan erat, " tapi buat gue, lo emang selalu jadi adik kecil gue, Ndra."
"Makasih Kak atas bantuannya,"
"Ekhem.." suara deheman membuat dua kakak beradik itu melepaskan pelukan teletabis mereka dan kompak menoleh ke arah sumber suara, dua pemuda menjadi penonton setia mereka dari tadi. "Kita juga bantuin loh, bukan Bang Angga doank. Ya gak, Nick?" Bayu berkata sambil berdiri dari duduknya. "Iya, betul" jawab Nick singkat.
"Sini lo berdua," Andra menunjuk kedua pria itu, setelah keduanya mendekat, ia segera menarik lengan keduanya sehingga mereka terjatuh telungkup di atas ranjang dengan sebagian tubuh menindih Andra, "makasih buat kalian semua.. tanpa kalian, mungkin gue masih aja jalan di tempat."
"So pasti Bro, kita kan saudara.. jadi harus saling membantu satu sama lain," Angga tak mau ketinggalan, dirinya ikut menindih ketiga saudaranya tersebut hingga membuat Andra berteriak minta tolong.
"Woii.. kalian tuh berat!"
"Bodo!"
__ADS_1
"Ampun dah, toloong.."
"Wah, beraninya tereak minta tolong lo," sahut Bayu tanpa berniat beranjak dari tempatnya.
"Eyang. . Ayah. . Bunda . . Andra di siksa..." Andra tetap berteriak berusaha mencari pertolongan.
"Dasar Andra tukang adu," Nick berkomentar.
"Lo berat Nick, gak nyadar tubuh elo se segede hulk gitu," Andra berkata dengan susah payah karena masih berada di bawah tumpuan tiga laki-laki yang tak mau berhenti menyiksanya.
Eyang, Pak Herman dan Bu Ratih sampai di kamar Andra dengan nafas ngos-ngosan karena berjalan cepat setelah mendengar teriakan dari si bungsu.
"Masyaallah.."
"Astaghfirullah hal adziim.."
"Ya ampun.." seru ketiganya bersamaan saat mendapati tingkah para lelaki dewasa yang bertingkah kekanakan tersebut.
"Kalian ini masih sama saja kayak dulu,"
"Iya, gak malu sama umur."
"Ya kan mumpung belum ada istrinya Eyang, besok kalau udah ada kan gak mungkin bisa kayak gini lagi," Angga beranjak dari atas ketiga adiknya itu lalu merengkuh tubuh sang eyang yang tingginya hanya sebatas pundaknya.
"Iya Eyang, betul kata Bang Angga.." Bayu berdiri, mengibas-ngibas bajunya yang kini nampak kusut karena pergulatan mereka baru saja.
"Betul, betul, betul.." Nick ikut menimpali dengan gaya bahasa seperti Upin dan Ipin, efek dari menonton video kartun tersebut di youtube.
"Kalian ini, sama saja.." ketiganya hanya merenges mendengar ucapan eyang.
Andra yang kini telah terbebas dari himpitan ketiga laki-laki tadi, langsung menghambur ke pelukan sang nenek dan mulai mengadu, sambil menampakkan wajah paling memelas yang dimilikinya. Yang lainnya tertawa melihatnya, dan juga merasa lega karena kini masalah kesalah pahaman Andra sudah usai. Andra pun sudah bisa bersaikap seperti sedia kala.
"Selamat ya yang udah habis lamaran sama pujaan hati.." Bu Ratih mendekat ke arah ranjang Andra dan mengelus kepala anak bungsunya tersebut.
Pak Herman pun turut mendekat dan duduk di samping eyang, "iya Ndra, selamat ya. Sekarang kamu harus lebih dewasa, dan belajar bertanggung jawab lebih. Karena sebentar lagi kamu akan bertunangan dan setelah itu menikah.."
Dengan perlahan Andra melepas pelukan eyang dan menoleh ke arah eyang dan orang tuanya secara bergantian, "makasih banyak Eyang, Ayah, Bun.. kalian the best. Insyaallah Andra akan selalu ingat pesan kalian, Andra akan jadi lelaki dewasa dan penuh tanggungjawab."
__ADS_1
"Bagus," Ayah Herman menepuk pundak Andra sebelum berdiri kembali. Lalu mengajak ibu serta istrinya untuk berlalu dari kamar putra bungsunya tersebut.
Belum genap dua langkah para tetua beranjak, sudah mulai terdengar suara-suara sindiran, bullyan, dari ketiga lelaki muda di belakang mereka.
"Ah yang bener.."
"Gue gak yakin,"
"Iya, manjanya saja seperti itu,"
"Hooh, tukang adu."
"Setuju. Lihat tuh dah mewek lagi.."
"Eyaaaang... " Andra kembali merengek mendengar kalimat-kalimat bullyan tersebut, membuat eyang menghentikan langkah yang secara otomatis anak dan menantunya ikut berhenti.
"Kalian itu bikin Eyang pusing. Sudah malam, balik ke kamar kalian masing-masing, tidur!" Kalimat berisi perintah dari eyang dengan suara setengah berteriak, membuat ketiga pembully tadi berhenti bercuit dan satu persatu mulai berbalik meninggalkan Andra yang tersenyum penuh kemenangan, sambil menjelek-jelekkan wajahnya meledek pada ketiga saudaranya.
"Kamu juga, cepet istirahat Ndra! Eyang gak tau kamu tidur atau gak seminggu ini." Andra langsung membaringkan tubuhnya mendengar perkataan eyang.
"*Awas aja lo Ndra, kita bakal kasoh hadiah buat lo."
"Gue bakal siapin surprise spesial buat lo, Boss."
"Aku harus balas ledekan kamu, Ndra*." Batin ketiga lelaki itu saat ekor mata mereka menangkap ledekan kemenangan dari Andra.
.
.
Bersambung
Waah, kira-kira apa ya surprise dari ketiga saudara Andra itu? Apakah sesuatu yang menyenangkan atau malah sebaliknya?
Kasih jawaban kalian lewat kolom komentar ya..
Komentar positif kasih dukungan penyemangat aja udah bikin othor seneng buanget kok, apalagi kalau di like , favorit sama kasih vote nya🤭, hihi ngarep.
__ADS_1
Alhamdulillah, akhirnya bisa up juga🤲.
Makasih buat semua yang udah baca🙏🤗