
"Emm.. Mas Andra mau maem apa? Adek bisa bikinin kok, InsyaAllah. Yang simpel-simpel aja tapinya, hihi.. " ucap Senja dengan tawa kecil diujung kalimat.
Andra yang baru saja selesai memakai pakaiannya menoleh, dahinya mengernyit. Semenjak menikah, baru kali ini Senja menawarinya ingin dimasakkan apa.
Karena selama dua bulan lebih ini, semua yang akan mereka makan sudah tersedia, Senja tinggal menyajikan di piring saja. Paling hanya menawari ingin makan pakai lauk apa, itu saja.
"Adek bisanya masak apa? " Andra mendudukkan dirinya di samping Senja.
Senja beranjak mengambil handuk kecil, lalu berinisiatif mengeringkan rambut Andra dengan handuk tersebut. Diperlakukan seperti itu oleh sang istri, tentu saja hati Andra melonjak kegirangan. Tau sendiri kan bagaimana buncis nya Andra terhadap Senja.
"Apa aja bisa sih sebenernya, cuma belum pernah ada kesempatan aja kan selama ini buat Adek masak, "
Andra mengangguk pelan, membanarkan ucapan istrinya. Karena memang eyang yang selalu melarangnya dengan alasan yang ada-ada saja menurutnya. Di rumah mbah putri pun sudah ada Bulik Asih. Di rumah mertuanya, pasti Bu Retno sudah dengan sigap menyiapkan semuanya terlebih dahulu.
"Mas nggak percaya ya, kalau Adek bisa masak? "
"Percaya kok, "
"Se tomboy apapun Adek, Adek ini tetap seorang perempuan, apalagi sekarang juga seorang istri. Jadi sudah sepantasnya Adek harus bisa masak, meski masak hanya untuk makan dan bertahan hidup, maksudnya bukan hobi, "
"Iya, Mas Andra tau, " balas Andra.
Andra meraih tangan Senja yang masih berada diatas kepalanya. Ditariknya kedepan tangan tersebut hingga tubuh Senja menempel sempurna pada punggungnya. Dikecup nya dengan lembut tangan tersebut.
"Mas Andra terima Adek apa adanya, bukan karena ada apanya, " bisik Andra ditelinga Senja.
Lalu dikecup nya pipi kiri sang istri yang merona itu. Pipi kiri Senja yang menempel pada pipi kanan Andra, membuat Andra dengan mudah mengecupnya hanya dengan menoleh saja.
"Makasih, Mas.. sayang Mas Andra banyak-banyak, "
Andra tertawa, "sayang Adek juga lebih banyak, "
"Sebanyak apa? "
"Sebanyak bintang di langit, pasir di pantai, air dan udara di bumi.. coba aja hitung kalau bisa, " balas Andra cepat.
"Yang bener? "
"Ya benerlah! Kalau nggak, Mas nggak bakalan nyariin Adek sampai kemana-mana.. ups! " Andra segera menutup mulutnya yang tak sengaja keceplosan.
Kening Senja mengerut, kembali teringat pada ucapan Bayu tadi yang terpotong oleh Andra.
"Maksudnya, Mas? Nyariin Adek ke mana-mana itu gimana ya? Terus tadi juga Kak Bayu pas ngomong tiba-tiba Mas Andra bekap gitu mulutnya. Apa ada sesuatu yang Mas sembunyiin? " tanya Senja berentetan dengan curiga.
Andra gelagapan melihat Senja yang tampak mencurigainya, "ah, eng-enggak! enggak ada apa-apa, "
"Mas? " Andra melengos.
"Ayo makan! " Andra beranjak dari duduknya, berusaha mengalihkan perhatian Senja.
"Mas belum jawab, ih! " rajuk Senja.
"Mas udah laper banget nih.. ayo maem! " Andra memasang wajah memelas, bertujuan agar Senja melupakan kecurigaannya.
__ADS_1
Tak tega melihat ekspresi Andra yang sudah seperti orang kelaparan, akhirnya Senja mengiyakan meski dengan agak terpaksa.
"Yaudah, ayo!"
"Huh. Selamat.. "
"Tapi janji, nanti di jelasin! "
Baru saja Andra akan bernafas lega, kembali dirinya dibuat cenut-cenut.
"Gara-gara Si Bayu rese tadi nih, Senja jadi curiga ma gue, "
"Iya-iya, InsyaAllah.. "
Keduanya berjalan menuju ruang makan, tapi Andra berhenti sebelum sampai di meja makan. Meski meja itu sudah di bereskan dan tak ada lagi menu belut disana, tapi Andra yang masih terbayang-bayang oleh hewan melata yang bergerak-gerak, tidak mau duduk disana.
"Kita makan di luar aja, yuk! "
"Kenapa? Itu masakan Bulik Asih masih loh. Tenang aja, belut nya udah nggak ada kok.. "
"Nggak deh.. Mas Andra masih kebayang-bayang soalnya, geli, "
Senja mengembuskan nafas, mencoba memaklumi phobia sang suami.
"Yaudah, Mas mau maem apa? Mau adek masakin atau gimana? Tapi kalau masak dulu lama, kan tadi katanya Mas udah laper banget? "
"Nggak usah masak! Kita maem diluar aja, " ucap Andra.
Lalu lelaki itu segera menggandeng tangan sang istri dan berlalu keluar.
Esok harinya kampung Karang Kembang di guyur hujan deras. Rencana yang sudah disusun Angga beserta yang lain gagal total. Angga berjalan kesana kemari sembari menyugar rambutnya kesal. Para orang tua sampai pusing dibuatnya.
Seakan tak menghiraukan keresahan yang tengah dialami sang kakak, Andra malah bermanis-manisan dengan sang istri. Hal tersebut membuat Angga semakin sebal saja.
"Duduk napa, Bang? Pusing gue lihat lo mondar mandir kek setrikaan, " ujar Bayu yang tengah asyik ngemil kacang rebus disela kunyahannya.
"Lo nggak ngrasain apa yang gue rasain, Bay. Mending lo diem deh, " balas Angga ketus.
Bayu mendesah, "emang gue nggak ngrasain yang lo rasain, tapi coba deh lo pikir! Apa dengan lo mondar mandir kayak gitu terus masalah lo bisa kelar sendiri gitu? enggak kan?! "
"Ck, " Angga berdecak sebal lalu mendudukkan bokongnya di samping mbah putri.
Mbah putri tersenyum sembari mengelus kepala Angga, diletakkannya kepala cucu sulungnya di pangkuannya.
"Istighfar Angga! Tenangkan hatimu.. yang dibilang sama Bayu itu benar, daripada kamu cuma mondar mandir ndak jelas, mendingan kamu mikir rencana lain untuk bisa menyembuhkan Seruni, " nasehat mbah Putri pada Angga.
"Astaghfirullo hal adziim.. " gumam Angga pelan.
"Maaf, Uti. Angga terlalu panik dan resah, "
"Ndak papa, Uti paham bagaimana perasaanmu, Le.. "
"Lebih baik juga kamu berdoa, Ngga.. biar ada keajaiban yang datang, dan mempermudah jalanmu dalam memperbaiki hubunganmu dengan Seruni, "
__ADS_1
"Aaamiin... "
Bagai peribahasa 'pucuk di cinta ulam pun tiba'. Usai mengusap wajahnya mengaminkan ucapan eyang. Bayu samar-samar melihat dari jendela yang terbuka, kelebat seseorang yang saat ini tengah jadi topik pembicaraan mereka di bawah derasnya guyuran air hujan.
Entah kenapa lelaki itu selalu sensitif tentang keberadaan Seruni, hingga bisa mengetahui kehadiran gadis itu disaat yang lain pun belum menyadarinya. Mungkin karena pertemuannya dengan Seruni yang penuh dengan kejutan, hingga membekas dalam ingatannya.
"Itu yang lo mau cari, Bang. Udah dateng duluan, " Bayu menunjuk Seruni dengan dagunya dengan tatapan lurus pada arah gadis itu.
Semua orang menoleh pada arah pandang Bayu, dalam jarak lima belas meter, dalam derasnya air hujan tampak seorang gadis sedang menari-nari dengan memegang ular besar menggunakan kedua tangan mungilnya. Tangan yang jauh lebih kecil dari ular yang di pegangnya.
Ya, itulah Seruni dengan membawa Banyu. Entah apa yang sedang dilakukan oleh gadis tersebut, sampai tak merasakan dinginnya guyuran hujan yang sangat lebat.
Angga beranjak dari duduknya, menyambar sebuah payung yang ada dan berjalan cepat ke arah Seruni, yang lain hanya diam memperhatikan apa yang akan diperbuat oleh Angga.
Semakin dekat jaraknya dengan Seruni, semakin pelan langkah lelaki itu. Tak dapat dicegah air mata yang kembali mengalir karena melihat keadaan orang terkasih seperti itu.
Seruni mendongak saat tak merasakan lagi guyuran hujan di tubuhnya, matanya mengerjab-ngerjab melihat sosok yang berdiri di sampingnya.
"Mas? " serunya girang.
"Runi.. " gumam Angga.
"Anak kita Banyu seneng banget main hujan-hujan, Mas.. makanya Runi temenin dia, " ucap Runi polos. Lagi-lagi dengan menyodorkan ular di tangannya pada Angga.
Untung saja Angga tak memiliki phobia terhadap ular seperti adiknya, jadi dia tetap tenang melihat hewan tersebut, meskipun masih terasa enggan baginya menyentuh peliharaan gadis tercintanya itu.
"Ya Allah.. kuatkan aku dalam menghadapi cobaan ini, seperti Engkau menguatkan Seruni, "
Angga menarik nafas dalam sebelum berucap, "main ujannya udahan ya.. hujannya makin deras, kasihan Banyu nanti kalau kedinginan, " ucapnya lembut dan penuh kehati-hatian agar Seruni tak tersinggung.
Seruni diam menatap mata Banyu (ular), seperti sedang berkomunikasi lewat telepati. Kemudian gadis itu mengangguk menurut.
Angga tersenyum lalu membimbing Seruni menuju rumah mbah kakung.
Andra yang melihat Seruni mendekat kearah mereka, langsung beranjak begitu saja dari duduknya. Bersiap untuk menghindar meski jarak mereka masih lima meter.
"Mas mau kemana? "
"Ke dalem..yang penting gak liat ular itu. Mana gede banget lagi ah.. " Andra bergidig melihat Banyu nyang melingka di leher Seruni.
"Iya juga sih.. " timpal Senja yang juga ikut beranjak.
Begitu sampai di teras, Seruni sudah berteriak menyapa semua orang yang ada di ruang tamu.
"Halo semua... kenalin ini Banyu, "
Entah bagaimana ceritanya ular berukuran sebesar betis orang dewasa itu terjatuh dan melata masuk ke dalam ruang tamu mendahului Seruni dan Angga.
"Kyaaaaakkk... " teriak Andra dan Senja bersamaan dan langsung berlari masuk ke rumah bagian dalam lagi.
Mulai pendekatan dulu lagi ya Bang Angga..
.
__ADS_1
.
Bersambung..