
...Selamat membaca😊...
......................
Mobil box yang dikendarai oleh Andra dan Senja berhenti tepat di halaman depan rumah mewah yang bergaya klasik jawa itu.
Hujan yang masih menyisakan rintik gerimis itu membuat Senja mengulurkan kakinya keluar mobil tanpa membawa payung lagi. Ia segera berjalan menuju belakang mobil untuk mengambil barang-barang pesanan sang pemilik rumah. Senja mulai menurunkan kotak box itu satu persatu dan membawanya ke teras rumah. Akan tetapi ia heran kepada sang supir, kenapa ia tidak ikut turun disaat Senja membutuhkan bantuannya. Sedangkan sejak siang tadi saja sang supir langsung membantu tanpa diminta.
Di dalam mobil, tampak Andra sedang merasa gamang. Antara galau dan bimbang, disatu sisi ia merasa tidak tega pada Senja dan ingin sekali membantunya. Tapi disisi lain, dia takut dikenali oleh pemilik rumah itu. Senja yang sudah selesai meletakkan semua box pesanan dimeja teras lalu menekan bel dan mengucapkan salam.
Ting tong
Ting tong
Ting tong
Assalamualaikuum
Begitu suara bell rumah yang baru saja ditekan oleh Senja. Yang kemudian masih disusul dengan suara salam dari Senja, meskipun bell tadi sudah secara otomatis membunyikan salam.
"Assalamualaikum. ." Ucap Senja setengah berteriak.
Tak lama kemudian, dari dalam rumah mulai terdengar suara langkah kaki mendekat dan disusul juga dengan jawaban salam.
"Waalaikumsalam. ." Sahut si empunya rumah.
"Nak Senja. . Akhirnya yang ditunggu-tunggu sejak tadi datang juga. Kok bisa sampai malam?" Tanya orang tersenut menyambut Senja dengan senyum sumringah.
Senja membalas dengan senyum manisnya. "Iya eyang, maaf ya Senja antar pesanan eyang terakir. . Soalnya pesanan eyang yang paling banyak, apa udah terlambat?" Senja nampak khawatir.
"Enggak. . Enggak! Nggak ada yang terlambat, eyang cuma udah kangen aja sama kamu." Jawab eyang.
"Ayo masuk, Ndok! Diluar dingin, itu nanti kotak boxnya biar dibawa masuk sama Santo." Lanjutnya sambil merangkul Senja.
"Tapi eyang. . Itu supirnya masih dimobil loh." Perkataan Senja mengehentikan langkah kaki eyang
__ADS_1
"Siapa to?"
"Senja sendiri juga nggak tau namanya eyang. Soalnya dia cuma diem aja daritadi siang. Kalau Senja nggak tanya dianya nggak mau ngomong."
"Ooh, supir mobil itu to? Yaudahlah biar dia nanti sekalian bareng si Santo masuknya." Eyang sudahblangsung menarik tangan Senja .
Senja hanya bisa pasrah ketika lengannya ditarik eyang dan diajak masuk kedalam rumahnya. Andra terkejut melihat si empunya rumah begitu akrab dengan Senja.
"Ini aku nggak salah lihat? Kenapa mereka kelihatan akrab banget gitu? Apa aku mesti turun ya?" Ucapnya pada diri sendiri. Andra melepas kacamata dan masker yang melekat pada wajahnya sejak tadi.
Beberapa saat menunggu, ia mulai gelisah.
"Turun. ."
"Enggak. ."
"Turun. ."
"Enggak. ."
"Apa aku turun aja ya buat nyusulin Senja? Tapi gimana kalau ada yang tau." Gumamnya.
Setelah memantapkan diri, ia pun memutuskan untuk turun. Tanpa diduga-duga sebelumnya, bertepatan dengan ia keluar dari dalam mobil. Muncul bapak paruh baya yang tadi dijumpainya di masjid.
"Mas Andra! Lho kok Mas Andra naik mobil box? Motor Mas Andra kemana?" Tegur bapak itu.
Andra kembali terkejut dengan adanya suara dari arah belakangnya.
"Eh, Pak Santo. Baru dari Masjid Pak?" Andra mengalihkan perhatian Pak Santo dengan bertanya juga.
"Iya Mas. Tadi ngobrol dulu sama Pak Bejo di depan sana. Mas Andra kenapa pulangnya pakai mobil box swalayan?" Ternyata Pak Santo tak terpengaruh dengan pengalihan Andra, ia tetap kembali bertanya perihal yang sama.
Andra terdiam, bingung harus menjab pertanyaan Pak Santo bagaimana. Tapi sesaat kemudian perhatian Pak Santo teralihkan dengan tumpukan kotak paket yang tadi diletakkan Senja dimeja teras.
"Lhoh. . Itu bukannya paket dari mbak Senja ya? Tapi mana motornya Mbak Senja? Kok ndak ada. . Kalau sudah pulang, tapi kok bapak ndak ketemu ya tadi dijalan." Tanya Pak Santo sambil celingukan mencari keberadaan motor matic Senja yang biasanya dipakai oleh Senja saat mengantarkan paket.
__ADS_1
Andra mengernyitkan dahi dan menaikkan satu alisnya mendengar pernyataan Pak Santo "Darimana bapak tau itu paket dari Senja olshop?"
"Warna boxnya itu lho Mas! Di boxnya juga ada logonya kok." Pak Santo menerangkan sambil menunjuk pada box Senja.
"Kok Pak Santo bisa sampai hafal sih paket dari Senja? Waah. . Ada apa ini. . Apa aku tanya langsung aja ya sama Pak Santo. Eh, tapi nanti dia malah jadi kepo lagi." Batin Andra.
"Mari Mas Andra, bapak mau bawa masuk paketnya ndoro dulu. Takutnya nanti sudah ditunggu sama ndoro." Pak Santo langsung mengangkut kotak-kotak box itu kedalam.
"Eh. Iya Pak"
Lalu Andra ikut masuk melalui pintu samping yang mengarah pada dapur dan langsung menuju lantai atas. Setelah Pak Santo membawa semua paket majikannya kedalam, ia lalu menemui sang majikan yang sedang duduk manis sambil bercanda ria dengan Senja. Pak Santo mengatakan bahwa cucu kesayangan dari majikannya itu pulang. Mendengar hal itu, eyang segera beranjak dari duduknya.
"Nak Senja. . Eyang ke kamar mandi sebentar ya? Kamu nikmati aja dulu kuenya, sambil nunggu Munah selesai masak! Oke?!" Ucap eyang yang langsung berlalu begitu saja, ia tidak mau mendengar jawabann dari Senja terlebih dahulu apalagi kalau itu sdalah sebuah penolakan.
Tanpa disadari oleh Senja juga eyang, beberapa saat tadi ada sepasang mata yang terus memperhatikan keakraban dari kedua orang yang berbeda generasi itu dengan tatapan kagum dan tak berkedip.
Ia merasa heran, sekaligus senang melihat keakraban dari keduanya. Semoga ini merupakan sebuah awal yang baik. Doa orang itu dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Siapakah kira-kira pemilik sepasang mata yang memperhatikan Senja dan eyang itu?
.
.
Bersambung😊
Mohon selalu dukungannya😍
Kritik dan saran juga boleh, tapi yang membangun ya🤗
Jangan lupa tinggalkan jejak Like👍
Dan Favoritkan juga❤
Maturnuwun🙏🙏
__ADS_1