
...Selamat membaca🤗...
...----------------...
" Lo curiga apa cemburu, Bos?" Bayu iseng bertanya sembari mencari nomor eyang di ponselnya dan segera menyambungkan video call, Andra mencebikkan bibirnya mendengar pertanyaan Bayu itu. Tak menunggu lama sudah ada sahutan dari eyang.
" Assalamualaikum Nona Manis.." sapa Bayu begitu wajah eyang terlihat di layar ponselnya.
Eyang tersenyum, " waalaikumsalam Abang Tampan.." Andra memutar bola mata malas melihat interaksi keduanya. "Assalamualaikum, Eyang.." Andra mengambil ponsel dari tangan Bayu.
"Waalaikumsalam, cucu kesayangan Eyang.."
"Apa Kak Angga dateng ke rumah, Eyang?" tanya Andra to the point karena sudah tak sabar.
Eyang nampak mengernyit kemudian menggeleng. "Endak, memangnya dia bilang mau datang?"
"Emm.. enggak sih Eyang, cuma tadi kayaknya Andra lihat Kak Angga di bawah."
"Coba biar Eyang telfon. Ini matiin dulu video callnya."
"Oke, wassalamualaikum, Eyang."
"Waalaikumsalam.." tut.
"Apa tadi itu bukan Kak Angga?" gumam Andra. "Udahlah Bos.. gak usah terlalu di fikirin." Sahut Bayu.
♡♡♡
Di tempat lain, tampak mobil Angga sudah memasuki halaman rumah eyang yang luas. Saat dirinya hendak turun dari mobil, ponselnya berbunyi. Ia tersenyum melihat nama yang tertera di layar ponselnya, "panjang umur eyang cantiik" gumamnya sendiri lalu mengangkat telfon tersebut.
Ucapan salam langsung terdengar setelah ia menggeser tombol hijau, "waalaikumsalam sayang.." jawabnya lembut. "Sayang.. sayang. Kamu dimana *L*aron sulung?" balas eyang jutek dengan memanggil julukan semasa kecil Angga. " Lhah Eyang.. di panggil sayang malah jawabnya kayak gitu." Angga mengerucutkan bibirnya yang tak terlihat oleh eyang.
"Mending Eyang keluar deh sekarang. Angga punya kejutan buat Eyang." Ucapnya sembari mengambil buket bunga krisan besar berwarna warni kesukaan eyang yang ia letakkan di kursi sampingnya, lalu ia mengapit ponsel pada telinga dan pundaknya. Ia segera turun dari mobil dan menunggu eyang di depan rumah, lama sekali aku tak berkunjung kesini. Ternyata keadaannya masih sama, hanya aku yang sudah berbeda sekarang, terutama statusku. Terakhir kali aku kesini sama... ia menggeleng pelan, mencoba membuyarkan memori kelam yang kembali hadir di pikirannya.
Ceklek
Pintu terbuka menampakkan eyang dengan senyum sumringah di wajah tuanya. " Laron sulungku.." eyang langsung berhambur ke pelukan Angga, yang di balas pelukan erat juga oleh Angga. Mereka saling melepaskan rindu setelah sekian lama tak bertemu.
__ADS_1
"Eyang cintaku.."
Keduanya berpelukan lama, Mbak Asih dan Pak Santo yang melihatnya ikut terharu. Setelah pelukan mereka terlepas, Angga menekuk sebelah kakinya dan berlutut di hadapan Eyang sembari mengulurkan bunga yang sedari tadi di genggamnya. "Ini bunga krisan yang cantik khusus untuk Eyangku yang paaling... cantik."
"Aa.. terimakasih. Kamu memang selalu romantis." Eyang menerimanya dengan kemayu.
Hanya dengan eyang lah Angga bisa kembali tersenyum lepas dan bersikap biasa, karena hanya eyang yang bisa mengerti dirinya, begitu menurutnya.
"Sudah, ayo masuk!" ajak eyang.
Angga menyalami Mbak Asih juga Pak Santo ketika berpapasan dengan mereka, "apa kabar, Mbak? Pak Santo?" sapanya.
"Baik, Mas Angga," jawab keduanya kompak.
"Waah.. Mas Angga makin gagah dan ganteng ya," puji Mbak Asih. Angga tersenyum mendengarnya, "setelah aku perhatiin, Mbak Asih juga makin cantik lho ternyata.." meskipun hanya dengan pembantu, tetapi mereka saling menghormati dan menghargai, itulah yang diajarkan oleh orang tua dan para sesepuhnya. 'Kita harus saling menghargai kepada sesama, karena manusia hidup itu tidak dilihat dari status sosialnya, melainkan tindak tanduknya.' Pesan itu selalu diingatnya hingga saat ini.
"Mas Angga bisa saja," Mbak Asih malu-malu bak ABG jatuh cinta. "Mau minum apa, Mas?"
" Jus aja yang seger, Mbak. Tolong antar ke gazebo belakang ya Mbak. Aku mau istirahat disana." Ucapnya sopan tanpa terdengar memerintah.
"Suasana damai rumah ini selalu kurindukan.." gumam Andra yang juga terdengar sampai telinga eyang. "Kalau rindu, kenapa lama banget ndak kesini?" sahut eyang, keduanya duduk di gazebo samping kolam renang.
Angga tersenyum miris, "Eyang pasti tau karena apa." ia menoleh ke arah eyang dengan mata berkaca-kaca. Eyang meraih pundak cucunya itu, memeluknya dan membelai lembut kepala Angga. Angga memejamkan mata, merasakan pelukan hangat serta ketulusan kasih sayang eyang. "Sabar, Nak. Semua kejadian pasti ada hikmahnya. Kamu ndak udah selalu merasa bersalah ataupun merasa di campakkan." Nasehat eyang pada Angga.
Angga membuka mata, melepaskan diri dari pelukan eyang dan menatap neneknya tersebut dengan tersenyum tulus. " Makasih banyak Eyang, atas pengertiannya. Cuma Eyang yang bisa mengerti perasaan Angga." Diraihnya tangan eyang dan diciumnya hingga membuat eyang terharu.
"Sudah ah mellow nya." Eyang mengahapus air mata yang sempat menggenang di pelupuk matanya. "Ada apa kamu tiba-tiba kemari tanpa memberi kabar dulu sama Eyang, sama Andra juga?"
"Ada suatu misi yang harus kita berdua jalankan, Eyang." Tutur Angga serius. Eyang mengernyit, "misi?" Angga mengangguk, "kamu baru aja dateng udah langsung membahas misi."
"Ini urgent, Eyang.. darurat."
Belumlah eyang menjawab, Mbak Asih datang membawa dua gelas jus dan beberapa cemilan untuk eyang juga Andra. "Silahkan di nikmati Mas, Ndoro.."
"Mkasih ya Mbak.."
Mbak Asih tersenyum dan mengangguk lalu pamit kembali mengerjakan pekerjaannya yang lain di dapur.
__ADS_1
"Ini apa, Eyang?" Andra mengambil keripik yang di sajikan oleh Mbak Asih di dalam toples.
"Oh.. itu kripik rumput laut, oleh-oleh Eyang kemarin lusa dari pantai di Gunungkidul. Coba saja, enak lho!"
Angga mencicipinya, lalu mengangguk-angguk. "Iya.. enak, dan renyah."
"Lhaiyo.."
"Kembali ke topik kita tadi ya, Eyang.." Angga tidak mau membuang waktu lagi, baginya waktu adalah bisnis. Jadi sekiranya bisa langsung di laksanakan, untuk apa ditunda. "Setelah ayah sama bunda lihat video Andra sama Senja yang virall kemarin itu, mereka jadi heboh banget di rumah, berisik." Angga berhenti untuk meneguk jusnya, "Terus?" Eyang mulai kepo.
"Mereka pengen cepet-cepet dateng kesini, untuk nglamar Senja buat Andra. Karena mereka gak mau kalau sampai Andra kehilangan Senja lagi, dan patah hati."
Eyang tergelak kecil, "ternyata mereka lebih nggegeri (antusias) daripada Eyang."
"Ya begitulah.. terus mereka cerita ke Angga tentang bagaimana keadaan Andra dulu waktu masa-masa mencari keberadaan Senja." Eyang mendengarkan cerita Angga, ia tersenyum masam. "Ya.. Eyang juga merasa bersalah sama adik kamu itu, soalnya Eyang ndak ada di sampingnya saat dia terpuruk dan membutuhkan banyak dukungan. Cuma Bayu yang selalu ada buat dia, ayah sama bunda kamu saja sibuk kerja."
"Itu juga yang Angga rasakan, Eyang. Disaat adikku satu-satunya membutuhkan bantuanku, Angga malah sibuk dengan urusan Angga sendiri. Mengejar sesuatu yang tak pantas untuk ku perjuangkan. Dan justru malah orang lain yang menjadi sandarannya," ungkap Angga penuh penyesalan. Eyang mengusap-usap punggung Angga, saling memberi kekuatan agar tak larut dalam penyesalan yang tak ada ujungnya.
"Berarti kita sama, Ngga.."
"Maka dari itu, Eyang. Sekarang lah kesempatan bagi kita untuk membantu Andra, menebus segala penyesalan kita." Tutur Angga dengan semangat.
"Maksudnya?"
Angga tersenyum misterius, "Angga punya ide Eyang, dan Angga sangat butuh bantuan dari Eyang."
"Oke,"
.
.
Bersambung..
Tunggu kelaniutannya, mohon dukungannya untuk karya ini ya🥰
Terimakasih🙏
__ADS_1