Pengagum Rahasia Senja

Pengagum Rahasia Senja
Apa Masalahnya? Siapa Mereka?


__ADS_3

"Kita pulang ke Jogja sekarang, Mas!" Ucap Senja tiba-tiba.


"Ada apa sebenarnya? Kenapa tiba-tiba ngajak pulang ke Jogja?" Banyak tanya di dalm benak Andra yang hanya mampu terucap dalam hati.


"Tunggu bentar ya, Mas Andra pesan taxi online dulu. Sekalian kita sholat maghrib dulu sambil nunggu mobilnya dateng, ya?"


Senja mengangguk menurut. Ia menghapus air matanya lalu menghembuskan nafas pelan untuk menetralisir rasa sesak di dada.


Usai melaksanakan ibadah sholat maghrib, bertepatan dengan taxi online yang dipesan oleh Andra tiba. Meskipun terkejut dengan perkataan Andra yang meminta mengantarkan mereka ke Jogja, namun sopir taxi tersebut akhirnya menyetujuinya karena tergiur dengan bayaran yang ditawarkan oleh Andra.


Meskipun bisa saja ia menghubungi Bayu ataupun Rudi untuk menjemput mereka ditempat tersebut lalu kemudian mengantarkan kembali ke Jogja. Tapi ia teringat ucapan Senja yang katanya mereka harus bisa sesekali menyelesaikan urusan mereka sendiri tanpa campur tangan dari sang asisten, Bayu.


Perjalanan dari Semarang ke Jogja yang terasa sangat lama, apalagi dengan keadaan perut yang belum sempat terisi membuat Senja merasa mual.


Andra sudah menawarkan Senja untuk memakan makanan yang dibungkus tadi, namun istrinya itu menolak.


Seharian berjalan-jalan, kemudian kehujanan, perut kosong ditambah dengan apa yang baru saja ia dengar dari telepon ibunya, membuat Senja seketika merasa tak enak badan. Ia meminta berhenti sebentar untuk mengeluarkan isi perutnya.


"Istrinya lagi ngidam ya, Mas?"


Andra yang sedang memijat tengkuk Senja terkejut, ia menoleh pada suara yang berada dibelakangnya. Suara tersebut berasal dari supir mereka.


Lelaki itu mengernyit, "maksudnya?"


Supir tersebut tersenyum memamerkan giginya.


"Soalnya istri saya juga begitu Mas pas awal-awal kehamilan. Sekarang sih sudah mendingan, makanya saya semangat banget dapet orderan dari Mas dan Mbaknya, bisa buat tabungan lahiran nanti," tutur sang supir dengan senyum mengembang.


Senja hanya diam tak menyahut karena masih merasakan mual di perutnya. Sedangkan Andra hanya tertawa sumbang dan mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Mau mampir cari minuman anget dulu atau gimana, Mas? Biar Mbaknya enakan, atau-" Supir itu mengambil sesuatu di dasbor mobilnya.


"Mbaknya di pakein ini punggung sama tengkuknya biar anget," ucap supir itu mengulurkan minyak kayu putih pada Andra.


Andra menerimanya, "makasih, Mas?"


"Lukman, Mas. Masnya?" Jawab sekaligus tanya sang supir yang bernama Lukman tersebut.


"Andra, istri saya Senja."


Lukman manggut-manggut, "kita langsumg lanjut atau gimana nih, Mas Andra?"


"Kamu gimana, Dek? Udah enakan atau perlu mampir cari jeruk anget dulu?"


"Kayaknya emang butuh minuman anget dulu deh, mual banget soalnya."


"Cari angkringan terdekat aja dulu, Mas."


"Oke," Lukman segera menjalankan mobil kembali dengan perlahan agar tak terlewat jika ada angkringan.


"Sini Mas bantu minyakin,"


Andra membaluri minyak pada pundak dan tengkuk Senja tanpa membuka ataupun menyingkap pakaian yang dikenakan istrinya, sebab disana ada Lukman juga.


Dengan telaten Andra memijat pundak Senja, lalu berpindah pada punggung yang ia raba sedikit-sedikit dari bawah bajunya. Senja diam merasakan kehangatan tangan Andra yang mengusap punggungnya, baginya ini pertama kalinya sang suami melakukan hal tersebut.


Karena pada saat di toko waktu itu, ia tengah tak sadarkan diri jadi tidak tahu menahu kalau sang suami pernah melakukan hal itu sebelumnya.


Terkahir Andra membaluri minyak kayu putih pada perut sang istri yang sebelumnya sudah ia selimuti dengan jaket yang ia kenakan. Dengan lembut ia mengelus area itu.

__ADS_1


Entah kenapa, hatinya merasakan sesuatu saat teringat perkataan Lukman tadi. Ia membayangkan jika hal itu benar, ia tersenyum sendiri dalam diamnya hingga suara Lukman membuyarkan khayalannya.


"Sudah sampai di angkringan, Mas, Mbak,"


Ketiga orang tersebut turun dan memesan minuman masing-masing. Andra juga membujuk istrinya untuk makan barang sedikit. Karena perjalanan yang akan mereka tempuh tidaklah sebentar, lagipula mereka juga belum makan malam.


Karena sedikit paksaan dan ancaman Andra yang juga tidak akan makan jika dirinya tak mau makan, akhirnya Senja mengalah dan membuka mulutnya untuk menerima suapan dari Andra.


Usai mengisi perut mereka dengan menu sederhana, ketiganya termasuk Lukman pun melanjutkan perjalanan mereka.


"Kalau ngantuk atau capek bilang, Mas. Nanti gantian sama saya," ucap Andra ketika mobkl mereka sudah mulai bergerak.


"Siap, Mas. Tapi alhamdulillah masih sangat-sangat semangat kok ini, udah abis di traktir kopi, makan, udah abis video call sama ayang juga," jawab Lukman cengengesan.


Andra dan Senja ikut tertawa, ternyata Lukman lucu dan apa adanya orangnya. Mereka jadi merasa aman sebab bertemu orang yang baik. Karena tau sendirah keadaan sekarang yang membuat orang-orang menghalalkan segala cara agar mendapatkan uang.


"Bagus kalau gitu."


"Tapi ngomong-ngomong, istri Mas Lukman nggak apa-apa ditinggal kerja sampai malam begini, katanya lagi hamil?"


Lukman tertawa sebelum menjawab, "dia malah seneng banget to, Mas. Kalau saya kerja, artinya bakal dapat uang. Kalau nggak kerja dia malah marah-marah,"


"Kenapa?"


"Ya kan jadi ndak punya uang, Mas. Bauat beli ini itu, apalagi kalau sudah pingin apa-apa harus dituruti. Bilangnya ngidam, tapi masak iya setiap saat dan semuanya ngidam. Itu ngidam apa kesempatan namanya,"


"Kesempatan bagaimana, Mas?"


"Kesempatan mengatasnamakan ngidam, biar apa-apa diturutin. Katanya kalau nggak, nanti anak kita bakalan ngiler,"


"Emang iya?"


"Katanya sih begitu, Mas."


"Emang kamu pengen apa, Dek? Apapun bakal Mas Andra turutin biar anak kita nggak ngeces," kata Andra menatap sang istri yang berada di sampingnya.


Senja melongo dibuatnya, "emang siapa yang ngidam?"


"Adek,"


"Kapan?"


"Segera," Andra terkekeh dengan ekspresi istrinya.


"Aamin," ucap Senja selanjutnya dan Andra pun mengikutinya.


Karena ucapan adalah doa, jadi ucapan yang baik harus di aminkan.


"Adek mau?"


"Apa?"


"Ngidam dalam artian hamil,"


"Mau'lah, istri mana yang nggak mau,"


"Alhamdulillah," Andr meraup wajahnya.


"Tapi gimana mau hamil, proyek aja nggak pernah. Eh, program, eh proses dink. Kenapa aku jadi kayak gini sih," Senja menoleh kearah jendela, ia menggigit bibir bawahnya salting.

__ADS_1


"Apa ini merupakan lampu hijau darinya, ya? Atau cuma asal jawab aja," Andra pun tak kalah salah tingkahnya.


Tak dapat dipungkiri hatinya yang berbunga-bunga mendengar ketersediaan sang istri untuk segera memiliki anak dengannya. Tinggal bagaimana caranya mereka akan memprosesnya saja mungkin. Begitu pikiran mereka kira-kira.


Lukman yang tak lagi ditanya hanya diam menyimak pembicaraan kedua penumpangnya sambil terus fokus menyetir.


Karena diisi dengan berbagai obrolan dan candaan, maka perjalanan mereka tak terasa membosankan. Senja juga sedikit melupakam sesak didadanya tadi saat mendengar suaravtangis tertahan sang ibu.


Begitupun Andra yang tak jadi menanyakan perihal masalah yang menyebabkan Senja mendadak meminta kembali ke Jogja, tepatnya ke rumah orang tuanya. Perjalanan itu terasa sangat cepat hingga tanpa disadari mobil tersebut telah memasuki gang yang menuju ke rumah Pak Sapto, ayah Senja.


Perjalanan yang ditempuh selama kurang lebih empat jam tersebut dapat dilalui dengan lancar tanpa kendala yang berarti. Sampai di depan rumah orangtua Senja, ternyata ada satu buah mobil yang terparkir. Pintu rumah itu pun masih terbuka lebar.


Turun dari mobil yang terparkir di pinggir jalan, Lukman yang hendak melanjutkan perjalanan kembali ke Semarang di hentikan oleh Andra. Senja juga turut mempersilahkan untuk mampir terlebuh dahulu. Jadi mau tidak mau, Lukman mengiyakan, karena badannya juga yang memang terasa lelah.


Entah kenapa, Lukman merasa mengenal mobil yang terparkir di depan rumah penumpangnya itu, atau hanya perasaannya saja.


"Assalamualaikum," sapa ketiga orang yang baru saja datang ketika sampai di depan pintu.


Semua orang yang ada di dalam menoleh dan kompak menjawab waalaikumsalam.


Pemandangan yang tak mengenakan langsung terpampang di mata Senja dan Andra. Ia melihat sang ibu yang masih menangis di pelukan sang ayah. Hatinya sungguh sakit menyaksikan kedua orang yang sangat berharga di hidupnya meneteskan air mata, meskipun sudah berusaha dihapus dan ditutupi oleh ibunya.


"Ba-" belum lagi Senja berucap. Sudah ada sebuah suara yang menyambar.


"Lukman? Kenapa kamu bisa ada disini? Apa Asih yang memberitahumu kalau kami ada disini?" Ucap seorang wanita paruh baya yang kira-kira usianya diatas Pak Sapto 5 tahun.


Senja mengenali wajah itu, meskipun sudah lama tak bertemu. Tapi ingatannya tak akan salah mengenalinya.


Lukman pun kaget, bagaimana bisa kedua mertuanya ada di tempat itu.


"Bapak? Ibuk? Asih nggak ngomong apa-apa, memang ada apa Bapak sama Ibuk disini?"


Bukannya menjawab pertanyaan dari menantunya, sang wanita malah kembali berucap.


"Jadi ini menantu yang kamu bangga-banggakan? Yang katanya anak orang kaya? Bahkan neneknya saja katanya orang terkaya di Jogja?"


Senja dan Andra mengerngit kaget, tak dapat lagi menyembunyikan keterkejutan mendengar ucapan bernada meremehkan yang keluar dari wanita itu. Keduanya mendekat kearah orang tuanya berada.


"Orang kaya kok perginya naik mobil sewaan, bahkan mereka kesini saja numpang sama menantuku,"


"Astaghfirulloh, Ibuk," tegur Lukman pada sang ibu mertua.


"Heh Nyonya! Kalau belum tau itu diem aja, daripada nanti malu sendiri!" Bukan Senja ataupun orangtuanya yang berkata, tapi Bude Wati yang tadi menelpon Senja dan menyampaikan hal tersebut.


Andra yang tak mengerti duduk permasalahannya mencoba tenang dan menanyakan hal tersebut baik-baik.


"Silahkan semuanya duduk terlebih dahulu! Mari kita bicarakan baik-baik. Sebenarnya ada apa ini, bisa tolong dijelaskan secara detail?"


Wanita tadi mendengus kasar, dengan terpaksa ia mendudukkan kembali bokongnya yang mungkin sudah terasa panas karena kelamaan menunggu kedatangan mereka sejak sore tadi.


"Jelaskan, To. Sama anak dan menantu kaya mu itu!"


"Astaghfirulloh hal adzim," gumam Pak Sapto agar tak ikut tersulut emosi.


"Begini masalahnya, Nak Andra, Ndok,"


Pak Sapto mulai menceritakan bagaimana mula terjadinya masalah yang tak pernah mereka anggap ada itu, yang tiba-tiba saja dibawa oleh sepasang suami istri yang masih merupakan kerabatnya.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2